My Untouchable Wife

My Untouchable Wife
Episode 12



“Kok bapak gak cerita?” Jati tersentak kaget.


“Owh, jadi kamu tahu semua tentangku dari bapak?” Heswa berhasil mendapatkan jawaban dari mulut Jati sendiri.


“Jadi kamu menjebakku, ternyata kamu lebih pintar dari perkiraanku.” Jati merasa kalah kali ini.


“Aku memang benar punya mantan mas, tepatnya satu tahun yang lalu!” Heswa mulai berani membuka diri pada Jati.


“Siapa? Berarti aku bukan orang pertama yang berhasil sama kamu?” Jati mendengus kesal.


“Bukan seperti yang kamu bayangkan mas. Dulu bapak pernah menjodohkanku dengannya. Awalnya dia hanya berniat baik padaku. Dia ingin mengembalikan buku catatan kuliahku. Dari situ bapak memintanya untuk


mendekatiku karena bapak melihat dia orang yang baik. Tetapi hatiku tidak pernah bisa menerima itu. Sampai pada akhirnya dia sudah tidak bisa menahanya. Dia memaksa menyentuh tangan dan pundakku. Dari situ aku mulai ketakutan lagi dan tidak mau menemui dia lagi.” Heswa menceritakan masa lalunya pada suaminya agar


tidak ada salah paham antara mereka.


“Tapi kamu tidak apakan saat kita bersalaman selama ini?” Jati merasa takut jika Heswa mendadak gelisah atau takut padanya.


“Tidak, malah sepertinya aku sudah mulai terbiasa bersalaman denganmu.” Heswa tersenyum lebar dan menatap mata suaminya.


“Ok, besok pas kita belanja kamu harus belajar berjalan beriringan denganku.” Jati menantang istrinya.


“Baiklah akan aku coba. Tapi kamu mau membantuku kan mas?” Heswa meremas tangannya sendiri karena merasa canggung dengan ucapannya.


“Tentu saja aku akan membantumu.” Jati tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


***


Keesokannya saat berbelanja di super market. Mereka turun dari mobil dan berjalan beriringan dengan langkah Heswa yang ragu ragu. Jati berusaha mngiringi langkah Heswa.


“Jangan tegang, coba Tarik napas yang dalam dan hembuskan secara perlahan.” Heswa menatap suaminya dan menganggukan kepalanya.


Mereka masuk ke pusat perbelanjaan dan segera mengambil troli belanjaannya.


"Mas, mau ayam atau daging?" Heswa menunjukan bawaanya pada Jati.


"Kita ambil semua saja, kan mbak Lastri baru masuk senin depan!" Jelas Jati.


"bukannya harusnya hari jum'at ya mas mbak lastri masuk?" Heswa merasa heran.


"Aku menambah liburnya, biar sekalian hari senin saja masuknya." Jati mengambil roti dari rak.


"Mas, pernah belanja sebelumnya?" Jati mengeryitkan dahinya dan berpikir sejenak.


"Pernah!" Jati mendorong troli mengikuti Heswa menuju rak bumbu dapur.


"Kapan terakhir mas belanja?" Heswa terus bertanya ke Jati agar lebih mengenal suaminya.


"Seminggu yang lalu" jawab jati membantu Heswa mengambil merica yang terletak di rak paling atas.


"Eh..kaget tau mas, jangan tiba tiba muncul dan mendekat gitu!" Heswa tak menyadari Jati meraih merica yang hampir dicapainya.


"Kamu harus terbiasa dengan ini!" Jati melihat istrinya yang melenggang meninggalkanya.


"Mas, belanja apa seminggu yang lalu?" Heswa penasaran.


"Aku belanja tanah untuk rumah kita nanti?" Jati menjawabnya enteng.


"Whatt?" Heswa merasa kaget karena Jati begitu enteng mengatakannya.


"Why?" Jati balik heran dengan pertanyaan dan ekspresi istrinya. Heswa menggelengkan kepalanya.


Tanpa mereka sadari troli penuh dengan kebutuhan mereka selama seminggu kedepan.Tanpa sengaja mereka melewati toko kue dan melihat blackforest, kue favorit Heswa.


"Kamu mau?" Heswa kaget saat Jati tiba tiba mendadak muncul disebelahnya dengan melipatkan kedua tanganya di dadanya. Heswa mengangguk antusias. Jati membeli sekotak Blackforest untuk mereka berdua. Mereka lalu menuju kasir dan membayar semua belanjaan dan pulang.