
Pagi ini matahari mulai menggeliat menampakkan dirinya. Maheswari yang disuguhkan mimpi Indah harus beranjak bangun dari tidurnya. Ujian semester kuliahnya pagi ini sudah menantinya.
"Heswa...bangun!!!" seru bu Sari dari balik pintu kamarnya.
"hoam.... Iya bu" Heswa membuka mata seraya menguap.
Maheswari adalah seorang Mahasiswa semester 6 jurusan arsitektur. Hari ini adalah hari terakhir ujian semesternya.
"Pak, hari ini bapak masih dinas?" Tanya bu Sari pada suaminya.
"Iya bu! Ini kan masih hari jum'at." Jawab Pak Hasan sambil memakai kaus kakinya.
"Nanti sore jangan lupa antar ibu belanja ya pak." pinta bu Sari.
"Siap nyonya" ledek pak Hasan mendekati meja makan yang penuh makanan.
"Heswa.. Dara.. Ayo Sarapan" panggil bu Sari agar anak anaknya segera sarapan.
***
Waktu mulai menunjukan pukul 07.00 tapi ojol yang dipesan belum juga kelihatan. Heswa tidak ingin hari ini kacau cuma gara gara ojol telat. Sekitar 10 menit berlalu akhinya Heswa mendapat Ojol yang dia order. Sesampainya di kampus Heswa bertemu dengan dua sahabtnya yaitu Tia dan Selvi.
"Heswa!! Duduk sini cepet" teriak Tia sambil melambaikan tangannya.
"Untung Kalian udah cariin aku tempat, thanks ya! " Heswa tersenyum semanis mungkin depan kedua sahabatnya.
"Besok jalan yuk!! " Selvi mulai penat dengan semua ujian yang sudah dan akan dijalani.
"Mau kemana dulu? Aku gak mau kaya yang dulu udah siap ujung ujungnya ke mall lagi" gerutu Tia yang suka suasana alam.
Heswa yang sedang asik membaca bukunya diganggu oleh kedua makhluk ini. Belum sempat Heswa menjawab sudah datang dosen beserta kertas Ujian yang menumpuk dikedua tangan dosen itu.
Dua jam berlalu semua Mahasiswa mulai keluar dari ruangan itu termasuk tiga perempuan yang sudah muali beruap otaknya.
"Ayo ke kantin dulu kita beli yang seger seger" rengek Selvi pada kedua sahabatnya.
Mereka bergegas menuju kantin dan kembali keruangan untuk ujian selanjutnya. Karena hari itu hari jum'at jadi semua selesai tepat pukul 11.30.
"akhirnya selesai juga" Heswa mengeluarkan napas lewat mulutnya.
"Datang kerjakan, Pulang lupakan" ucap Tia memotong langsung pembicaraan Selvi yang belum terima dengan basil kerjanya.
Drrrt...Drrrrt....Drrrt... Hp Heswa bergetar tanda pesan masuk.
Bapak: Heswa, hari ini jangan pulang terlalu sore. Ada yang bapak mau bicarakan.
Pesan singkat Pak Hasan membuat Heswa harus bergegas pulang.
Heswa: Bicara soal apa pak? Serius banget kayanya?
Bapak: Iya.. Nanti kita bicarakan di rumah.
Heswa: Iya pak.
"emh aku pulang duluan ya.. Soalny ada urusan." Heswa pamit dan bergegas pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
***
Sesampainya dirumah Heswa segera pergi kekamar sembari menunggu bapaknya pulang. Selang dua jam menunggu terdengar suara mobil bapaknya parkir di halaman rumah.
Semua anggota keluarga berkumpul di meja makan ada Pak Hasan, bu Sari, Dara (adik Heswa) dan Heswa.
"Heswa, maafkan bapak sebelumnya ya.. Bapak mau menikahkanmu dengan putra teman bapak!" ucap pak Hasan gamblang.
"Lo bapak kok gitu? Kenapa bapak tidak tanya dulu sama Heswa?" Tanya Heswa penuh kecewa dan amarah.
"Bapak kan tau kondisi Heswa bagaimana." Heswa memperjelas kondisinya selama ini.
"Bapak tahu betul selama ini kamu masih trauma dengan laki-laki. Tapi bapak tidak mau sampai kamu menyimpang atau bahkan tidak mau menikah. Ini demi masa depanmu Heswa" tegas pak Hasan pada Heswa.
"Heswa...kamu harus bisa melawan ketakutanmu nak" Bu Sari mencoba menenangkan Heswa. "Kamu ingat dulu ada teman bapak yang sering datang kesini dan mengajak istri bulenya? Anak mereka yang akan dijodohkan denganmu" sambung bu Sari mengenalkan anggota keluarga calon besannya.
"Tapi kan Heswa belum pernah bertemu anak mereka bu" Heswa menyangkal agar kedua orang tuanya memahami.
"Heswa dia pernah datang saat meninggalnya kakakmu. Mereka orang baik Heswa." Bu Sari berusaha meyakinkan Heswa.
Air mata Heswa mulai bercucuran seakan tak terima dengan keputusan kedua orang tuanya.