My Untouchable Wife

My Untouchable Wife
Episode 15



Heswa menghela napas panjang. Menatap dalam wajah sahabatnya yang dia kenal baik dari sejak SMA itu. Tia tahu betul sifat Heswa yang selalu profesional. Dia tidak pernah mau mencampuri urusan pribadi dengan urusan kuliah ataupun pekerjaannya kedepan.


"it's ok, kamu mendaftarkan aku sebelum kamu tahu semuanya ya. Aku malah terima kasih kamu udah bantu aku. lagian belum tentu juga kan perusahaan besar itu menerima mahasiswa seperti kita." Heswa tersenyum hangat  dan mengusap punggung sahabat baiknya.


"Thanks ya Wa, kamu memang paling the best." Tia mengacungkan dua jempolnya kearah Heswa.


"Kalau misal kamu keterima di sana gimana wa?" Tanya Selvi dengan wajah serius.


"Hehehe, itu aku juga belum tahu. Yang pasti aku tidak mau masuk ke perusahaan raksasa itu dengan embel embel istri mas Jati." Heswa tersenyum lebar dan merasa percaya diri.


"Ting!" suara chat masuk di ponsel Heswa. Heswa mengusap layarnya dan tertera nama "Mas Jati".


Mas Jati**: Udah pulang?


Heswa : Belum.


Mas Jati : Udah makan? Aku lagi pengen masakan kamu


Heswa : Udah. Tunggu nanti malam aku masakin buat kamu mas.


Mas Jati: Pulang jam berapa?**


Heswa senyum senyum sendiri membalas pesan dari suaminya. Tia dan Selvi yang melihatnya merasa iri dengan kerhamonisan pengantin baru itu.


"Cie...pengantin baru kita lagi kasmaran. jadi iri" Selvi menggoda Heswa yang buru buru menutup ponselnya.


"Selvi ihhh...KEPO banget sih..." Heswa mencubit lengan Selvi dengan gemas.


"Dasar miss KEPO" Tia membela Heswa dengan menjewer telinga Selvi


"Aw..aw..aw..aw.. sakit tau, awas kalian ya." Selvi menyengir kesakitan akibat ulah kedua temannya.


"Mau pulang sekarang?" Tia mengajak teman temannya pulang karena sudah mulai sore. Mereka akhirnya memutuskan pulang. Heswa pulang dengan menumpang motor Tia.


***


Jati terus menunggu balasan dari Heswa. Dia membolak balik berkas berkas yang berada di atas meja. Sudah hampir setengah jam Jati menunggu. Tanpa berpikir panjang dia segera mendial nomor istrinya.


"Halo! Kamu di mana?" Jati sedikit panik


"Kenapa tadi tak balas chat-ku?" Jati menggaruk dahinya yang tidak gatal.


"Maaf mas, tadi Selvi kepo sih jadi aku buru buru masukin HP ke tas." Heswa memberi penjelasan.


"Ya sudah kamu istirahat. Aku lanjutkan pekerjaanku dulu baru." Jati tersenyum lega.


"Iya!" Heswa segera menutup sambungan teleponnya.


Adrian masuk keruangan Jati dan mengantarkan berkas yang harus segera di tanda tangani. Membuyarkan semua lamunan Jati. Jati segera menyelesaikan semua pekerjaannya untuk hari ini.


"Aku mau pulang Yan, besok aku masih di masa cuti. Jangan ganggu dulu." Jati meraih kunci mobil dan ponselnya.


"Yes, sir. Tumben Jat kau pulang buru buru." Adrian bingung dengan tingkah temannya sekaligus atasannya itu.


"Mau lihat pemandangan indah!" Jati terkekeh memberikan jawaban yang berhasil membuat Adrian penasaran.


***


Di rumah, Heswa sudah siap berada di dapur.  Lagi lagi Heswa mengikat rambutnya ke belekang dan memasang celemek. Baru saja Heswa mau memulai memasak ternyata ponsel yang terletak di meja makan berdering nyaring. "Ibu" nama yang selalu Heswa tunggu.


"Halo! bu...Apa kabar?" Heswa sumringah saat menerima telepon itu.


"Baik Wa, kamu gimana? lagi apa sekarang?" Suara bu Sari yang hangat dan merindukan.


"Alhamdulillah bu baik. Aku lagi mau masak buat nanti malam!" Heswa duduk santai di atas kursi makannya.


"Bagaimana kabar Jati? dia lagi kerja ya?" Heswa mengeryitkan dahinya karena takut ibunya kecewa kalau tahu Jati memang sedang bekerja.


"Mas Jati baik juga kok bu. Iya hari ini mas Jati lagi kerja. Tadi katanya ada kerjaan penting yang gak bisa ditinggal. Tadi aku juga ke kampus jadi memang kita udah harus jalani kegiatan lagi." Heswa menjelaskan semua ke bu Sari.


"Ya sudah. Kamu masak yang enak buat Jati. Perempuan bisa menunjukkan rasa cinta dari masakannya. Karena setiap mereka memasak tidak hanya memikirkan racikan bumbunya tapi juga memikirkan orang yang akan menikmatinya. Ya sudah ya, ibu mau melanjutkan pekerjaan rumah ibu." Bu sari segera menutup teleponnya setelah memberi wejangan ke Heswa.


Heswa kembali kedapur dan memasak untuk Jati dan dia nanti. Belem selesai memasak Jati sudah membuka pintu dan bergeas menuju dapur. Jati melihat pemandangan yang indah menurutnya di dapur itu. Saat asik memandang istrinya ponsel Jati berdering nyaring dan membuyarkan semuanya.