My Untouchable Wife

My Untouchable Wife
Episode 3



Pagi ini semua tampak sibuk mempersiapkan lamaran Heswa. Ibu dan Dara sibuk bergelut dengan peralatan masaknya di dapur. Pak Hasan membersihkan rumah dan halaman depan. Heswa masih dalam keadaan termenung didalam kamar sembari menatap baju batik yang nanti ia harus kenakan.


'ting..' suara chat yang masuk di notif Heswa membuyarkan semua lamunannya.


Grup 3 srikandi:


Selvi: girls jalan yukkk... 😊


Tia : males ah.. Palingan juga ke mall nemeni si ratu rempong belanja.


Selvi: ish... Tiaaaa


Heswa: sorry. I can't. Aku mau ada lamaran.


Tia: Lamaran kerja?


Selvi: serius dong... Pengen pergi sama kalian nih...


Heswa: Aku dijodohin ya... Bkan lamaran kerja.


Tia: what???? Serius wa? Apa kamu yakin wa??


Selvi: Heswa.... Terus kamu gimana? Kalau dia tau kondisi traumamu gimana?


Heswa: Dia udah tau. Doakan saja teman kalian ini bisa lari dari kenyataan. 😢


Selvi dan Tia : semangat Heswa semoga jadi yang terbaik.


Heswa: thanks girls...


Heswa mengakhiri chat dengan kedua sahabatnya dan bergegas menuju dapur untuk membantu ibu dan adiknya.


"Danurdara!!" teriak ibunya yang dari tadi sedang bergelut dengan bumbu dapurnya saat melihat Ayam yang digoreng Dara hampir gosong.


"sini biar mbak aja yang goreng. Kamu bantu ibu tuh blender bumbunya." Heswa segera merebut alat penggorengan yang dibawa Dara.


"fokus Dara, hari ini ada tamu penting" bu Sari mulai ngomel dari pagi. Dara yang mendapat siraman qolbu dari ibunya dari pagi hanya bisa mengerucutkan mulutnya sambil terus berusaha membantu. Heswa terkekeh terus saat netranya melihat kekacauan dapur akibat ulah Dara.


"sabar bu... Kalau ibu bisa tenang pasti Dara juga bisa bantu ibu dengan bener." Heswa berusaha meredam emosi ibunya. Ibunya berusaha menarik napas panjang dan mengeluarkan dengan perlahan.


"memang mereka datang jam berapa sih bu?" Dara mencoba mencairkan hati ibunya. Heswa yang penasaran ikut memperhatikan dengan memasang telinganya lebar lebar.


"nanti jam 11.30 katanya" jawab bu Sari sembari terus memotong dan menyiapkan semua bumbu.


Mereka asik memasak di dapur tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10.15.


"makananya udah mateng?" tanya pak Hasan memecah konsentrasi tiga orang itu.


"udah pak. Tinggal tunggu nasinya aja." jawab bu Sari yang masih sibuk merapikan dapur Dan alat masaknya.


"Heswa kamu stop dulu. Kamu harus siap siap sekarang." perintah pak Hasan tegas.


"Tanggung pak, bantu ibu cuci piring dulu." Heswa menunjukkan tangannya yang penuh busa air sabun cucian.


"Sekarang." perintah pak Hasan tak bisa dibantah.


Heswa bergegas mencuci tangannya dan lari menuju kamar untuk mengambil perlengkapannya.


Jam dinding terus berdetak menunjukkan angka 11.15. Semua sudah siap di rumah dengan pakaian rapi menanti tamu penting hari ini.


Heswa masih termenung didalam kamar. Dia berusaha menahan gugup yang ia rasakan. Rasanya dadanya akan meledak dengan hebat.


'tenang Heswa, semua akan baik baik saja' gumamnya dalam hati.


Tak terasa tamu yang ditunggupun tiba dikediaman mereka yang terbilang sederhana. Keluarga Joyoutomo sudah mulai masuk kerumah. Mereka datang ber empat ada pak Hermanto Joyoutomo, bu grace Joyoutomo, Ardina Joyoutomo (adik Jati) dan yang pasti Jati Joyoutomo yang paling mereka tunggu. Mereka masuk dan duduk diruang tamu sembari bercengkrama.