My Roommate Is My Neighbour

My Roommate Is My Neighbour
Diizinkan



"Gimana kuliahnya, Cia?" Hendra, ayah Cia, sedang bertanya pada putrinya yang kini sedang makan malam bersama. Ya, Minggu ini Cia bisa pulang ke rumah. Bersama Kenzo tentunya.


"Banyak tugas, agak pusing, ya gitu deh, Pah," jelasnya, sambil memotong daging di atas piring itu.


Klara terkekeh mendengarnya. "Jadi kamu udah berani tinggal sendirian, ya?"


"Kan ada Kak Kenzo."


"Iya juga, yah. Pasti Cia ngerepotin Kak Kenzo terus."


"Hehe iya. Tapi ada Oliv juga yang nyewa di apartemen yang sama. Jadi kadang aku juga ngerepotin Oliv."


"Awas ya, jangan sampe salah pergaulan di sana," peringat sang ayah.


"Ih, boro-boro. Jam delapan aku belum pulang aja udah disusulin sama Kak Kenzo," kesal gadis itu, mengingat mereka saling berbagi aplikasi pelacak di ponselnya, membuat Kenzo bisa menemukan lokasinya dimanapun. "Jam malem aku jam delapan coba, Pah! Temen-temen aku baru keluar rumah, aku udah harus pulang."


Hendra dan Klara tertawa. Ternyata Kenzo bahkan lebih ketat dari mereka mengenai jam malam.


"Kalo keluarnya sama Kak Kenzo, baru deh, mau pulang jam berapa aja juga gak jadi masalah."


"Kak Kenzo cuma jagain Cia. Dia takut Cia kenapa-napa," kata Klara.


"Iya, Cia ngerti, Ma. Cia juga gak masalah, kok." Karena ya, bagi Cia, menghabiskan waktu di apartemen bersama Kenzo rasanya lebih menyenangkan daripada berkumpul dengan teman-temannya.


"Ngomong-ngomong, Kenzo punya pacar, gak?" tanya Klara.


"Enggak. Kalo pun punya, pasti aku udah dilabrak lah."


"Hah, kok gitu?" tanya Klara.


"Iya lah. Pacar mana yang bolehin pacarnya satu apartemen sama cewek lain. Meskipun aku dianggep adik, tapi tetep aja aku bukan adik kandungnya."


"Satu apartemen?" tanya Hendra, memastikan. Lalu dilihatnya putrinya mengangguk.


"Kan udah disewain unit sebelah. Papa minta Kenzo yang ngurus sejak kamu dateng ke sana. Kamu gak pindah?"


Cia bahkan terkejut mendengar itu. Ia tidak pernah mendengar apapun soal itu lagi sejak Kenzo memutuskan untuk membiarkannya tinggal bersama. Cia kira, unitnya tidak jadi diambil. Tapi ternyata sudah disewa oleh ayahnya. Lalu, kenapa Kenzo diam saja? Kenapa Kenzo masih membiarkannya tinggal bersamanya?


"Iya, aku gak berani tinggal sendirian. Jadi aku masih tinggal sama Kak Kenzo."


Cia merasa ia harus mengatakan itu pada sang ayah.


...----------------...


Dua hari berada di Bandung, mereka akhirnya kembali ke Jakarta. Masih di perjalanan tanpa percakapan. Bahkan tidak ada suara musik juga. Entah mengapa Cia merasa suasana hati Kenzo tidak begitu baik sejak kemarin. Cia sampai tidak berani mengajaknya bicara.


Apakah Kenzo bertengkar dengan Tante Iren? Apakah ini soal dirinya?


"Kak Kenzo?" panggil Cia. Nada suaranya sangat berhati-hati.


"Kenapa, Cia?"


"Kak Kenzo kenapa?"


Kenzo menoleh padanya dengan kedua alis terangkat. "Maksudnya?"


"Keliatannya kaya kesel banget."


"Masa sih keliatan?" tanya Kenzo sambil bercermin pada kaca depan.


"Iya. kenapa? Berantem sama Tante Iren?"


"Papa Mama."


"Hah, kenapa?"


"Bukan apa-apa. Kayaknya Kakak gak akan pulang lagi. Tapi kalo Cia mau pulang, nanti Kak Kenzo anter."


"Masalahnya serius ya, Kak? Kak Kenzo diusir dari rumah?"


Kenzo malah tertawa, meraih tangan Cia dan menggenggamnya erat. Seakan ia takut kehilangan genggaman itu suatu hari nanti.


"Enggak, kok. Kak Kenzo cuma males pulang aja, karena pasti cuma akan berdebat lagi."


Cia akhirnya merangkul lengan Kenzo. Mengusap lengan itu dengan lembut. "Cape yah, jadi dewasa. Ada aja masalahnya," gumamnya.


Kenzo tak menjawab, namun ia menolehkan wajahnya untuk mencium puncak kepala Cia. Hal itu membuat Cia mendongak sambil tersenyum.


"Aku sayang banget sama Kak Kenzo."


"Kakak juga sayang sama Cia."


"Gak pake banget?"


Cia tertawa merasa senang. Sekali lagi Kenzo mencium puncak kepalanya, membuat kupu-kupu di perut Cia berterbangan. Rasanya menyenangkan. Kenzo juga tersenyum manis. Wajahnya sudah tidak bertekuk kesal seperti tadi. Cia berhasil menghilangkan seluruh kekesalan itu dan menggantinya menjadi senyuman di wajah Kenzo.


...----------------...


"Kak, katanya temen Kak Kenzo sering dateng ke sini. Kok sejak aku di sini, gak ada satupun yang dateng?"


"Iya, Kakak gak bolehin."


"Loh, kenapa?"


"Gak papa."


Kenzo masih sibuk dengan laptopnya, duduk di kursi meja makan guna menemani Cia yang ada di dapur dan sedang membuat jus mangga dengan mesin blender itu.


"Atau aku bisa keluar dulu kalau Kakak mau bawa temen Kakak ke sini. Aku bisa ke tempatnya Oliv."


"Gak usah, gak papa. Kakak juga gak terlalu suka kalau mereka dateng. Bikin berantakan."


"Gitu, yah?"


"Hm."


"Kalo aku bawa temen aku, boleh?"


Sekarang Kenzo mengangkat wajahnya untuk menatap Cia. "Siapa?" tanyanya.


"Oliv."


"Oh, boleh kalo Oliv. Dia kan temen kamu sejak SMA. Lagian unitnya ada di bawah, kan?"


"Iyah. Oh iya, Kak."


"Kenapa?"


"Aku mau keluar nanti malem, boleh, gak?"


"Kemana? Jam berapa? Sama siapa?"


Cia mengerjapkan mata. Satu pertanyaannya langsung dijawab tiga pertanyaan seperti itu, membuat nyalinya untuk lanjut bicara jadi menciut.


"Gak jadi, deh. Aku di rumah aja."


Kenzo menyadari bahwa terkadang ia menjadi sangat posesif kalau Cia ingin pergi keluar malam. Namun itu juga bukan tanpa alasan. Mengingat bagaimana kehidupan anak kuliahan seusianya di ibu kota ini, Kenzo takut kalau Cia akan ikut terjerumus dengan hal-hal buruk bila bergaul dengan teman sebayanya.


Namun, ia juga tahu kalau kekangannya selama ini membuat Cia tidak memiliki banyak teman. Selalu nama Oliv yang Kenzo dengar. Lingkup pertemanan Cia tidak berkembang. Dan itu karenanya. Lagipula, kenapa Cia sangat menurut padanya? Padahal dengan orang tuanya saja kadang dia membangkang.


"Karena besok libur, kamu boleh pulang jam sepuluh kalau mau keluar," ucap Kenzo akhirnya.


Cia melotot terkejut, tak menyangka bahwa sepertinya dia mendapatkan izin dari Kenzo. Ia mendekati Kenzo untuk memeluknya, mencium pipinya sebelum berlari ke arah kamar untuk mengambil ponsel dan mengabari Oliv. Meninggalkan Kenzo yang mematung di tempatnya.


Bukan kali pertama memang Cia seenaknya mencium pipinya seperti itu. Namun, ketika Cia melakukannya, Kenzo selalu saja dibuat terpaku.


...----------------...


"Serius lo diijinin, Ci?" tanya Oliv ketika sudah masuk ke kamar Cia. Tadi yang membukakan pintu untuknya adalah Kenzo, dan mempersilakannya masuk. Sepertinya sudah beberapa minggu sejak Oliv melihat Kenzo, dan setiap melihatnya lagi, Oliv akui bahwa ketampanan Kenzo tidak pernah bosan untuk dilihat. Pantas saja Cia sangat sulit untuk berpindah hati. Apalagi Cia harus melihat tampang itu setiap hari.


"Iya, serius, Liv."


"Emang lo bilangnya apa?"


"Bilang mau keluar aja malem ini."


"Gak bilang kalo mau party?"


"Gak, lah. Pasti gak bakal diijinin kalo bilangnya gitu."


"Anjir, terus kalo ketauan gimana? Gue pasti kena getahnya. Nanti dikira bawa pengaruh buruk buat lo."


"Ih udah sih, baru sekali ini aja, kok."


Cia membalut dress nya dengan kardigan tebal. Ia bahkan niat memakai celana jeans panjang hanya untuk dilepasnya nanti ketika mereka sudah di mobil.


"Lo nih cari-cari penyakit aja, sih."


"Liv, gue pengen ngerasain sekaliiii aja. Abis ini udah deh gak lagi-lagi. Lagian party nya kan di rumah juga. Bakal ada apa, sih?! Yang penting jam sepuluh pulang."


Cia memang tidak tahu tentang party party seperti itu. Di bayangannya adalah banyak hiasan balon, bunga, permainan meja yang seru seperti Ludo atau ular tangga, makanan manis dan kue-kue, serta minuman manis berwarna-warni. Lagian ini kan Indonesia, tidak mungkin seliar party yang sering ia lihat dalam film barat itu.


Iya, kan?!