My Roommate Is My Neighbour

My Roommate Is My Neighbour
Rasanya Manis



Akhirnya, hari yang mereka tunggu tiba. Kenzo mendatangi rumah sakit itu lagi bersama dengan Cia, juga wanita yang diketahui bernama Esmeralda, Kenzo sendiri bahkan tidak yakin kalau itu nama asli. Namun wanita itu tak membawa bayinya, katanya ia menitipkannya pada temannya. Kenzo pun tak banyak bertanya lagi.


Hasil itu telah keluar dan Kenzo yang memegangnya untuk mereka lihat bersama. Langsung saja yang Kenzo baca adalah tulisan yang ditebalkan pada bagian bawah, "Disimpulkan bahwa probabilitas Kenzo Nataprawira sebagai ayah biologis dari Sultan Maheswara adalah 0%."


"YEEEEEYYY."


Teriakan bahagia itu bukan dari Cia, apalagi Kenzo. Ya, itu dari wanita itu. Anaknya tidak punya ayah, tapi dia malah nampak senang dan gembira. Kenzo dan Cia sampai saling pandang kebingungan.


"Mbak, terus bapaknya siapa?" tanya Cia dengan polosnya.


"Gak tau. Yang jelas gue seneng kalo bukan dia," ujarnya sambil menuding Kenzo. Sekali lagi ia katakan, kalau ia tidak mau kalau ayah anaknya ternyata membencinya. Mending sekalian dia jadi single parents saja. Sesungguhnya Esmeralda tidak suka jika hidupnya penuh dengan drama. "Udah ya, gue sibuk banyak urusan. Lo lo pada jangan banyak drama, deh. Kawin aja udah kalo saling cinta," lanjutnya sebelum pergi meninggalkan kedua orang itu. Bahkan sambil jalan dia masih sempat mengomel, "Dasar tukang drama. Jadi artis aja sana lo pada."


Cia dan Kenzo hanya bisa meringis karena memang mereka cukup tersindir dengan ejekan itu. Meski begitu, tidak dipungkiri kalau kini mereka merasa lega. Mereka saling berpelukan untuk menyalurkan perasaan satu sama lain.


"Aku seneng, tapi aku juga kasian sama bayinya, dia gak tau bapaknya siapa," ujar Cia.


"Biarin aja, itu urusan mamanya." Pelukan itu terurai. "Ayo pulang," ajak Kenzo.


Mereka bergandengan tangan sambil berjalan.


"Nanti kita kasih tau orang tua Kak Kenzo, yah."


"Iya. Tapi sebaiknya kita gak perlu ceritain soal ini ke mama papa Cia."


"Iya, gak papa. Yang penting aku udah tau dan lagipula masalah ini gak jadi panjang." Ya, Cia juga tidak ingin cerita ini sampai ke orang tuanya. Lagipula, ini adalah aib Kenzo, tidak baik jika menceritakannya pada orang lain.


"Makasih ya, Sayang."


Cia masih belum terbiasa mendengar Kenzo memanggilnya seperti itu. Namun tentu ia sangat menyukai panggilan itu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau perjalanannya untuk sampai di titik ini harus dengan melewati masalah penuh drama dulu. Benar katanya, akan ada pelangi setelah badai.


Tapi, akankah benar hanya ini badai yang harus mereka terjang?


***


Karena tidak bisa pulang ke Bandung hari ini juga dan masih lama jika harus menunggu libur lagi, Kenzo akhirnya memberitahu orang tuanya melalui telfon. Karena ia tidak ingin menundanya lagi. Ia mengatakan pada mereka bahwa bayi itu bukanlah anaknya, orang tuanya juga merasa lega. Apalagi ketika Kenzo bilang bahwa Cia masih mau menerimanya, mereka pun ikut senang.


Tapi Kenzo masih belum bilang bahwa selama ini ia tinggal seatap dengan Cia. Yang orang tuanya tahu, Cia tinggal pada unit di sebelahnya. Dan sekarang sepertinya Kenzo harus mempertimbangkan soal itu. Ia tidak bisa tinggal satu atap bersama Cia dengan status mereka sebagai sepasang kekasih. Sebagai pria muda yang masih normal, Kenzo takut khilaf. Apalagi Cia kadang suka seenaknya keluar masuk kamarnya.


"Ini kunci apartemennya."


Cia melongo, tak mengerti kenapa tiba-tiba Kenzo datang, duduk di sebelahnya dan memberikan kunci apartemen lain.


"Maksudnya, Kak?"


"Kita tinggal sebelahan aja, yah? Jangan satu atap."


"Apa? Kenapa?"


"Cia masa gak ngerti," ucap Kenzo dengan lembut. Ia menyelipkan untaian rambut Cia yang tergerai ke balik daun telinganya. Cia nampak cemberut tak terima mendengar ucapannya barusan.


"Aku gak mau. Aku mau di sini aja," kekeuhnya sambil menyerahkan kunci itu kembali pada Kenzo.


"Cia, Kakak takut bikin kesalahan lagi," kata Kenzo, meminta wanitanya mengerti.


Namun Cia malah melipat tangannya di bawah dada, lalu menyandarkan punggungnya pada lengan sofa itu hingga menjadi setengah berbaring.


"Kan kalo sama aku jadinya bukan kesalahan."


Kenzo mengerti kemana arah pembicaraan gadis ini. Tapi tidak. Itu tetap saja akan menjadi kesalahan karena mereka belum menikah. Lagipula, Cia baru mulai kuliah, perjalanannya masih panjang dan masih banyak hal yang harus dia raih. Kenzo tidak mau merusak masa depannya.


"Jangan ngomong kaya gitu," peringat Kenzo.


"Iihh, Kaak. Aku gak akan masuk kamar Kakak, deh."


"Tetep aja, Cia."


Ditengah kekhawatiran Kenzo, Cia malah tersenyum seraya memajukan tubuhnya pada pria itu.


"Katanya gak ada yang bisa dilihat," godanya, membuat Kenzo mengingat ucapannya saat Cia baru tiba di apartemennya.


"Ish, kamu ini," Kenzo kesal diledek seperti itu. Ia mencubit gemas pipi Cia. Sudah pasti ketika mengatakan hal itu Kenzo hanya sedang membohongi dirinya sendiri.


"Pokoknya minggu depan pindah, nanti Kakak bantuin beres-beresnya."


Cia mencebik, namun ia tidak bisa berkomentar lagi karena keputusan Kenzo nampaknya sudah bulat.


"Apa? Gak bisa, dong!"


"Kenapa, sih? Biasanya aja kita tidur bareng."


"Beda, Sayang. Waktu itu kan kamu pikir, Kakak gak punya perasaan apa-apa sama kamu. Tapi pas kamu masih mikir kaya gitu aja, kamu udah sering godain Kakak. Apalagi sekarang kita udah pacaran."


Cia terkekeh. "Tapi Kakak hebat, yah. Bisa nahan diri selama tidur sama aku."


"Gak usah dibahas," kata Kenzo sambil mengibaskan tangannya.


"Ayo nikah aja, Kak," ajaknya kemudian, sampai Kenzo terkejut mendengarnya.


"Astaga, kamu baru beberapa bulan masuk kuliah."


"Loh, emangnya kenapa? Kuliahku gak akan kehambat meskipun aku menikah. Lagian nikah cuma sehari doang, kok, gak sampe tujuh hari tujuh malem."


Kenzo sampai memijat pelipisnya. Ya meskipun itu benar, namun bukankah terlalu muda bagi Cia untuk mengambil keputusan tersebut. Lagipula umurnya masih tujuh belas tahun, sedangkan Kenzo sendiri sekarang dua puluh tiga tahun. Bisa-bisa ia dikira melakukan grooming pada Cia.


"Cia tau kan, kalo Kakak sayang banget sama Cia?"


Cia langsung mengangguk.


"Kakak juga cinta sama Cia. Kakak janji apapun yang terjadi, Kakak akan selalu ada untuk Cia. Lagipula, umur Cia baru tujuh belas tahun, belum legal buat menikah. Jadi sabar ya, tunggu sebentar lagi," jelasnya dengan sayang. Ia bahkan mengusap kepala Cia.


Ya, memang selembut itulah Kenzo pada Cia. Hanya pada Cia. Karena wanita lain —sebut saja namanya Esmeralda, sampai bedoa setiap hari agar ayah dari anaknya bukanlah Kenzo, karena Esmeralda sangat tidak menyukai sikap dingin Kenzo.


Sedangkan dengan Cia, Kenzo menjadi pria paling baik dan lemah lembut. Meski kadang posesif, itu pun pasti ada alasannya.


Cia mengulum bibirnya nampak kecewa, namun ia juga mendengarkan Kenzo. Menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.


"Jadi, Kakak punya rahasia apa lagi?" tanya Cia kemudian. Pasalnya, Kenzo sudah menyembunyikan banyak hal selama ini padanya. Jadi Cia penasaran, apakah ada yang pria itu sembunyikan lagi.


"Udah gak ada lagi, Sayangku."


Dipanggil seperti itu membuat Cia menyengir. "Masa sih, sayangku?" tanyanya, mengikuti nada bicara Kenzo yang lembut.


Kenzo tertawa pelan, mengangkat pinggang Cia kemudian ia berbaring, hingga Cia kini ada di atasnya.


"Ada, sih," kata Kenzo. "Masih satu rahasia lagi," lanjutnya.


Cia membulatkan mata. "Tuh kan, tuh kan! Apalagi, Kak? Tolong jangan bikin aku jantungan lagi."


"Waktu malem kamu mabuk, inget gak kamu ngapain?"


"Hah, emang aku ngapain?"


Cia ingin bangkit dari posisinya. Namun tangan Kenzo menahan tubuhnya untuk tetap berada di atas tubuh pria itu.


"Sini!"


Kenzo memintanya untuk mendekat, sepertinya akan berbisik. Padahal di sana hanya ada mereka berdua saja, untuk apa juga berbisik. Namun meski begitu, Cia tetep menurut, mendekatkan telinganya di bibir Kenzo.


Sampai akhirnya rahasia itu dikatakan, Cia menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut.


"SUMPAH?" tanya Cia, pandangannya jatuh pada bibir Kenzo.


Pria itu mengangguk dengan senyuman manisnya.


Tak bisa dipercaya, ternyata ia dan Kenzo sudah berciuman. Cia agak kesal karena ia tidak ingat.


"Ayo reka ulang, Kak."


"Apa?" Kenzo takut salah dengar.


"Aku gak inget, ayo cepet reka ulang!" pintanya, bahkan sudah memajukan wajahnya membuat Kenzo menutup mulut Cia. Sepasang alis Cia turun nampak kesal.


Sampai akhirnya Kenzo membalik posisi mereka, dan kini Cia yang berada di bawahnya. Bukannya takut, Cia malah tersenyum, mengalungkan tangannya di leher Kenzo.


"Rasanya manis," kata Kenzo tiba-tiba.


"Apanya?" tanya Cia tak mengerti.


Tak perlu menjelaskannya dengan kata-kata, Kenzo memberitahukan apa yang terasa manis lewat tindakannya. Cia terkejut hingga matanya melotot, namun perlahan ia terpejam dan membiarkan Kenzo mendominasi ciuman mereka.