My Roommate Is My Neighbour

My Roommate Is My Neighbour
Tidak akan melepaskan



Kenzo tak pernah sedetikpun melepaskan tangan Cia dari genggamannya. Ketika pingsan di rumah sakit tadi, Kenzo terlihat sangat panik, menggendong Cia dan berteriak memanggil dokter di koridor rumah sakit. Wanita yang baru melahirkan itu sampai terkejut melihat bahwa pria yang sangat dingin padanya sejak awal ternyata memiliki sisi hangat seperti itu kepada sosok yang dicintainya. Ia jadi menyesal sudah berada di antara hubungan mereka. Bahkan wanita itu ikut berharap bahwa anak yang dilahirkannya bukan hasil dari perbuatannya dengan Kenzo. Ya, dia juga sebenarnya tidak mau mendapat fakta bahwa calon ayah dari anaknya sangat membenci dirinya. Itu seperti mimpi buruk.


Namun sayangnya, ia benar-benar tidak tahu dan tidak ingat juga siapa saja yang melakukannya dengannya sebelum akhirnya ia menemukan bahwa dirinya hamil. Sejujurnya dia memilih menghubungi Kenzo karena dia paling suka dengan Kenzo dari para pria yang pernah tidur dengannya. Dan tentu tidak tahu menahu kalau hal seperti ini akan terjadi. Meski begitu, ia tetap tidak punya niatan untuk menggugurkan kandungannya. Bahkan jika harus mengurusnya sendiri, ia akan tetap melahirkannya karena anak itu tidak bersalah. Ia sudah tahu sejak awal kalau resiko dari pekerjaannya bisa membawanya dalam situasi seperti ini. Dan ia berjanji akan bertanggung jawab dengan dirinya sendiri kalaupun prianya tidak mau memberikan pertanggung jawaban. Dan lagipula, setelah ia lihat putranya tadi, anaknya itu sangat tampan. Tapi kalau dipikirkan lagi, ia memang punya standar sendiri untuk seorang pria.


Balik lagi ke Kenzo yang sudah membawa Cia ke apartemennya sejak dokter bilang bahwa Cia tidak perlu dirawat. Cia hanya kelelahan dan stress, itulah yang membuatnya pingsan. Jadi dia hanya diberi obat dan dibolehkan pulang.


"Kak Kenzo."


Akhirnya Cia terbangun . Ia melihat Kenzo duduk di samping tempat tidurnya dengan kepala tertunduk.


"Cia, maafin Kakak."


Cia mencoba untuk bangun, Kenzo pun membantunya dengan perlahan. Menyadarkan punggung Cia pada kepala ranjang itu.


"Om sama Tante udah tau?" tanya Cia, mengingat akhir-akhir ini Kenzo dan orang tuanya tidak begitu akur. Pasti masalah ini yang menjadi alasannya. Dan dilihatnya Kenzo pun mengangguk.


"Kak Kenzo bener-bener menyesal. Itu murni cuma kesalahan."


"Aku gak tau harus bilang apa, Kak."


Raut kecewa Cia membuat Kenzo semakin ketakutan.


"Jangan tinggalin Kakak."


Cia mengepalkan tangannya yang tak digenggam oleh Kenzo. Meski dadanya sesak, meski hatinya hancur, meski ia sangat kecewa, namun tetap saja, ia tidak akan bisa meninggalkan Kenzo. Apalagi, Kenzo terus berkata maaf, menyesal dan semua ini hanyalah kesalahan. Bahkan tangannya tak dilepas sama sekali oleh Kenzo. Lalu bagaimana Cia bisa meninggalkannya begitu saja?


"Kakak tau ya, kalau selama ini aku cinta sama Kak Kenzo?" tanya Cia akhirnya.


Namun Kenzo nampak terkejut. Sepertinya dia tidak tahu itu. Cia terkekeh getir.


"Iya, aku cinta sama Kakak, makanya aku sampe kaya gini. Aku gak mau percaya, aku kira tadi cuma mimpi dan saat bangun semuanya baik-baik aja. Tapi ngeliat kakak merasa bersalah kaya gini, aku sadar kalau semuanya nyata."


"Sejak kapan kamu cinta sama Kakak, Cia?" Dari semua ucapan Cia, itu yang membuat Kenzo sangat penasaran.


"Gak tau. Udah lama. Kayanya sejak SMP."


Kenzo tampak terkejut lagi. Sungguh dia tidak menyadarinya. Karena mereka memang selalu dekat selama ini, tak pernah berjarak.


"Cia, sebenernya, Kakak punya alasan. Semua motivasi Kakak untuk punya hidup yang baik, untuk punya pekerjaan yang bagus, untuk punya penghasilan yang cukup, itu adalah untuk Cia."


Sekarang, Cia yang sangat terkejut mendengar fakta itu.


"Waktu Kakak berangkat ke Jakarta, Kakak udah sampein sama Mama dan Papa, kalau nanti Kakak mau ngelamar Cia. Mereka ngedukung Kakak. Tapi, setengah tahun Kakak di sini, Kakak udah bikin masalah seperti itu. Akhirnya, Kakak malu buat ketemu Cia lagi. Kakak gak berani buat berhadapan sama Cia. Kakak gak tau apa yang harus Kakak bilang sama kamu. Sampai akhirnya kamu dateng ke sini. Kakak sampai mikir kalau itu cuma mimpi. Tapi paginya waktu Kakak bangun, kamu ada di pelukan Kakak. Dan Kakak sadar kalau Kakak gak akan pernah bisa ngelepasin Cia."


"Tapi Kakak takut kalau Kakak akan ngelakuin kesalahan yang sama kaya yang kakak lakuin sama wanita itu ke Cia. Apalagi kita sering tidur bareng dan Cia memang bukan anak kecil lagi. Makanya Kakak minta kamu buat beda unit sama Kakak. Tapi ternyata, semakin lama semakin berat buat Kakak kalau Kakak gak liat kamu sebentar aja. Jadi, Kakak gak bilang kalau sebenernya unit sebelah udah disewa sama papa Cia untuk Cia. Maafin Kakak."


"Aku udah tau soal unit itu. Tapi aku juga seneng karena itu artinya Kakak mau aku tetep tinggal sama Kakak. Tapi soal ngelamar Cia... Kenapa Kakak gak bilang?"


"Cia masih sekolah, gimana Kakak bisa bilang?"


"Ya... Gak papaaa. Kan aku bakal lulus juga!" Sulit dipercaya bahwa sekarang wajah Cia bersemu. Mendengar bahwa Kenzo ingin melamarnya, membuat Cia lupa dengan fakta menyakitkan beberapa saat lalu. Memang ya, cinta itu sungguh buta.


"Rencananya, Kakak mau bilang di hari kelulusan kamu. Tapi seperti yang Kakak bilang, Kakak gak berani berhadapan sama kamu karena masalah ini. Seenggaknya sampai kakak bisa membuktikan kalau itu bukan anak Kakak."


Akhirnya Cia teringatkan lagi. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Cia hanya bisa menerima kenyataan ini.


"Jadi hasil tes DNA nya keluar hampir sebulanan, yah?" tanya Cia.


Kenzo mengangguk. Meski ia belum menjelaskan soal tes DNA itu, sepertinya Cia bisa menebaknya sendiri.


"Cia, kamu masih mau terima Kakak?" tanya Kenzo, hati-hati.


Cia menghela napas berat. "Ini gak seperti Kak Kenzo selingkuh atau berkhianat. Ini murni kesalahan. Jadi iya, aku maafin Kakak dan udah pasti tetep terima Kakak."


Langsung saja Kenzo membawa Cia dalam pelukannya. Hatinya yang gelisah sejak tadi akhirnya kini terasa lega. Bersama air matanya yang terjatuh Kenzo mengucapkan terima kasih untuk kesempatan yang Cia berikan padanya.


"Kak Kenzo jangan nangis, aku jadi ikut nangiiiss."


Akhirnya Cia juga ikut menangis dalam pelukan Kenzo.


Ia tidak tahu apakah jika wanita lain yang ada di situasi seperti ini maka ia akan memaafkan kesalahan Kenzo. Namun, karena ini terjadi dengannya, maka ya, ia sudah pasti memaafkan Kenzo. Lagipula, selama ini Kenzo tidak pernah melakukan kesalahan dan selalu membuatnya bahagia. Jadi, jika satu masalah ini saja membuat Cia benci dengan Kenzo, itu sangat tidak mungkin.


Kenzo adalah bahagianya. Bahkan meski ia berduri dan tajam, Cia tetap akan memeluknya dengan erat. Tidak peduli apakah dirinya akan terluka atau kesakitan, Cia tetap tidak akan melepaskannya.