
"Kak Kenzo kok baru pulang?" tanya Cia sambil memperhatikan Kenzo yang berjalan mendekatinya. Kenzo sendiri tak terkejut lagi melihat penampakan gadis yang berbaring di tempat tidurnya seakan ini adalah ruangannya sendiri. Cia memang sudah sering melakukan itu, menunggunya pulang di dalam kamar. Kesibukannya di masa kuliah membuat Kenzo jadi sering pulang telat dan jarang ada waktu lagi untuk Cia.
Setelah meletakkan tasnya sembarang di atas lantai, Kenzo ikut merebahkan diri di samping Cia, menghirup harum bayi dari Cia. Menenangkan. Semua rasa lelahnya meluap seketika. Matanya sampai terpejam karena rasa nyaman yang ia dapati hanya karena berada di dekat Cia.
"Mandi dulu, ih. Masa langsung tidur."
"Sebentar lagi. Kakak capeeee banget."
"Abis apa, sih?"
"Kerkom. Kerkom lebih cape daripada ngerjain tugas sendirian."
"Kata si introvert," cibir Cia. Lantas Kenzo terkekeh, mengulurkan tangannya untuk memeluk Cia supaya lebih dekat dengannya. Yang dipeluk agak protes karena Kenzo belum mandi, namun ia juga tidak berusaha menyingkirkan tangan Kenzo yang melingkar di perutnya.
"Kamu kok masih bau bayi sih, Cia?" tanya Kenzo. Jujur saja dia memang penasaran soal itu. Ternyata jawabannya, "Iya, aku masih pake minyak telon. Soalnya aku suka baunya."
Kenzo tersenyum, menempatkan wajahnya di ceruk leher Cia. "Kakak juga suka."
Cia mengerjapkan matanya memandangi langit-langit kamar sementara tangannya memainkan jemari Kenzo yang ada di atas perutnya. Cia tahu sebentar lagi Kenzo akan tertidur jika lima menit saja posisinya tetap seperti ini tanpa ada pembicaraan. Lantas, Cia pun membuka suara lebih dulu.
"Kak Kenzo."
"Hm?"
"Aku ditembak cowok hari ini."
Tidak Cia sangka kalau Kenzo akan langsung mengangkat kepalanya hingga dalam posisi ini jarak wajah mereka begitu dekat. Mungkin hanya sejengkal. Cia sampai harus menahan napasnya karena entah mengapa dia merasa gugup.
"Terus kamu terima?" tanya Kenzo.
Cia menggeleng. "Dia mantannya sahabat aku. Jadi aku gak terima."
Kenzo nampak menghela napas lega. Lalu kembali pada posisinya semula lalu berkata, "Gak usah punya pacar!"
"Kenapa? Temen-temen aku pada punya pacar, kok. Bahkan sejak SMP."
"Terus apa hebatnya? Toh, akhirnya mereka putus juga."
"Iya juga, sih."
"Iya, makanya."
"Tapi kayanya seru kalo punya pacar, Kak. Bisa jalan bareng, pergi nonton, dikasih hadiah, dianter jemput—"
"Kakak juga bisa. Kamu bisa jalan sama Kakak, pergi nonton, Kakak kasih hadiah, Kakak anter jemput, makan di restoran, nongkrong di kafe, Kakak peluk kalo nangis, Kakak dengerin kalau cerita. Kalau Cia punya pacar, Cia gak bisa kaya gitu lagi sama Kakak."
Benar juga, pikir Cia. Ia kan sudah mendapat semua itu dari Kenzo. Lantas untuk apa dia butuh pacar?
"Iya juga yah."
Cia merasa Kenzo semakin erat memeluknya dengan lengannya yang entah sejak kapan terlihat lebih kekar dari terakhir Cia memperhatikannya.
"Iya, jadi jangan punya pacar. Gak ada yang boleh peluk Cia selain Kakak."
***
"Cia, Cia, bangun, Sayang."
"Kenzo, bangun."
Mereka terbangun karena ada yang membangunkan. Iren yang membangunkan keduanya karena ketiduran sejak sore tadi dan sekarang sudah pukul delapan malam.
"Udah malem, Cia dicariin sama mama tuh," ucap Iren, memberitahu.
Kenzo menarik tangannya dari atas tubuh Cia, membiarkan gadis itu bangun.
"Atau mau makan malem di sini dulu?"
"Enggak usah, Tante. Mama juga pasti udah siapin makan malem. Nanti ngomel-ngomel kalo gak Cia makan."
"Haha iya."
Cia turun dari tempat tidur. Sementara Kenzo nampaknya lanjut memejamkan matanya lagi. "Kalau gitu Cia pulang dulu ya, Tante," pamitnya. Namun sebelum pergi, ia mencubit pinggang Kenzo sambil menyuruhnya bangun. "Bangun dulu makaan!"
"Sshhh sakit, iihh."
Cia melarikan diri sebelum Kenzo membalasnya. Namun sebelum berhasil menjauh dari ruangan itu, Cia mendengar ucapan Iren yang membuatnya jadi berhenti berjalan.
"Kenzo, kamu udah gak boleh loh kaya gitu lagi! Mama udah peringatin berkali-kali."
"Kaya gitu apa, sih, Ma? Orang Kenzo ketiduran."
"Ya tapi jangan sambil meluk anak gadis orang. Cia udah dewasa. Dia bukan anak kecil lagi, Kenzo."
"Ya ampun, Ma. Cia baru aja lulus SMP. Dewasa apanya?"
"Ya tetep aja, dia udah SMA, dan kamu udah kuliah! Kalian gak boleh tidur berduaan kaya gitu di dalem kamar. Apalagi pintunya kamu tutup. Nanti dikira yang enggak-enggak."
"Cia udah kaya adik aku sendiri, Ma. Gak mungkin kita ngapa-ngapain."
"Tetep aja dia bukan adik kamu, Kenzo!"
"Udah lah, Ma. Aku gak mau bahas ini lagi."
"Nanti Mama omongin juga sama Tante Klara."
"Omongin apa, sih?"
Cia mendengar nada kesal pada ucapan Kenzo barusan.
"Mama kaya gak tau aku sama Cia udah ngapain aja selama ini. Mandi bareng aja kita udah sering. Masalah kaya gini aja dibesar-besarin."
"Astaga, Kenzo. Kamu kaya yang gak tau aja. Dulu sama sekarang ya pasti fisik Cia udah berubah. Dan kamu juga sama. Jadi jelas kalau tidur satu ranjang bisa jadi masalah besar buat kalian sekarang."
"Udah lah, Ma. Aku gak mau denger lagi."
Akhirnya Cia benar-benar pergi. Dan sebenarnya Cia tahu apa yang Iren khawatirkan. Namun seperti Kenzo, Cia juga tidak mau hal tersebut menjadi masalah. Lagipula, bagaimana bisa menghilangkan kebiasaan yang sudah dilakukan sejak mereka kecil? Lagipula, itu hanya pelukan pengantar tidur. Apa yang membuatnya menjadi begitu bermasalah?
***
"Kak Kenzo."
"Kenapa, Cia?"
"Kak Kenzo diliatin."
"Hah, sama siapa?" Kenzo menoleh untuk melihat ke sekelilingnya. Begitu banyak orang di kafe ini saat ini. Wajar saja karena sekarang adalah malam minggu. Dan ya, bukannya menerima ajakan teman-temannya untuk nongkrong bareng, Kenzo lebih memilih menghabiskan malam minggunya bersama Cia. Karena menurut Kenzo, dia sudah lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman kuliahnya.
"Ituuuu, sama teteh-teteh yang rambutnya silver."
Cia menunjuk salah seorang pengunjung kafe, membuat Kenzo mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Jangan nunjuk orang gitu!"
"Iya tapi... Haaahh," Kenzo hanya bisa menghela napas.
"Pergi, yuk. Udah abis kan, makannya?"
"Udah, mau kemana emang?"
"Ke tempat yang lebih sepi aja." Karena Kenzo juga menyadari beberapa lelaki melirik Cia berkali-kali. Itu membuatnya merasa panas. Ia butuh udara segar.
Untungnya Cia mengangguk meski sebenarnya ia sedang menikmati live music yang sedang menyanyikan lagu kesukaannya.
Kenzo mengemudikan mobilnya ketika sudah memastikan Cia memakai sabuk pengaman. Tidak bertanya, namun Cia tahu kalau arah yang dituju oleh Kenzo adalah jalan menuju villa keluarganya yang ada di bukit.
"Kak, nanti kita pulangnya kemaleman loh kalo ke sana. Sekarang aja udah setengah sepuluh."
"Besok libur, kan?"
"Iya lah, kan besok Minggu."
"Yaudah santai aja. Kalo perginya sama Kakak, papa sama mama Cia gak akan marahin Cia."
"Iya juga, sih. Tapi Tante Iren—"
"Biarin aja."
Bahkan Cia belum menyelesaikan ucapannya. Tapi sepertinya Kenzo sudah tahu apa yang ingin Cia katakan.
"Kenapa yah, Tente Iren gak bolehin Kakak deket-deket sama Cia lagi?"
"Bukannya gak boleh deket-deket. Cuma pikiran Mama masih kuno aja. Dikiranya kalau tidur bareng pasti bakal ada apa-apa."
Cia memandangi Kenzo beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Selanjutnya mereka hanya saling diam sampai akhirnya tiba pada bangunan bercat putih yang terkesan modern itu.
"Emang bawa kuncinya?" tanya Cia.
"Bawa."
"Kakak emang ada niat ke sini apa gimana?"
Kenzo hanya terkekeh sebelum akhirnya keluar dari dalam mobil. Cia mencebik dan menyusul turun dari kendaraan beroda empat itu.
"Langsung ke atap aja, nanti Kakak bawain cokelat panas sama camilan," kata Kenzo ketika mereka sudah berjalan masuk.
Cia tak banyak bicara dan menaiki tangga untuk menuju atap. Dimana terdapat beberapa sunbed yang memang biasa digunakan ketika mereka sedang menempati villa tersebut. Ada juga sofa dan ayunan di sana. Atap Villa itu di dekor sedemikian rupa supaya nyaman untuk dijadikan tempat berkumpul keluarga. Villa itu merupakan salah satu milik ayah Kenzo yang tidak pernah disewakan karena khusus untuk keluarga atau kerabat saja.
Cia menyeret satu sunbed agar bisa mendapatkan pemandangan langit-langit alih-alih kanopi yang melindungi sunbed ini dari hujan. Setelahnya ia langsung berbaring dan menghela napas panjang, melihat langit malam yang tak berbintang karena kabut tebal.
"Wah wah udah rebahan aja. Mana sunbed Kakak?"
Cia terkekeh seraya membalik posisi tidurnya menjadi tengkurap untuk melihat Kenzo yang datang membawa nampan berisi dua gelas cokelat panas dan camilan di toples kaca.
"Mau aku tarikin tapi beraaaat."
Kenzo meletakkan nampan bawaannya di atas meja kecil di dekat pintu masuk. Lalu ia menyeret satu sunbed, menempatkannya tepat di sebelah Cia tanpa jarak. Kemudian balik lagi untuk mengangkat meja kecil itu ke samping sunbed Cia. Ia mengambil gelasnya sebelum berjalan ke arah sunbed miliknya dan duduk di sana.
"Dingin, gak?" tanya Kenzo. Namun belum juga mendapat jawaban, ia lebih dulu meletakkan gelasnya dan pergi lagi. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa dua bantal dan selimut, membuat Cia tersenyum senang.
"Kak Kenzo love language nya acts of service, yah?"
"Gak tau. Tapi yang pasti bukan word of affirmation."
Kalo itu sih bener banget. Kenzo bukan orang yang suka banyak omong soalnya. Tapi seperti kata Cia tadi, Kenzo lebih bisa dilihat dari aksinya daripada kata-katanya. Sekarang saja ia sedang menyelimuti Cia, memastikan kalau gadis itu tidak akan kedinginan.
"Kenapa tiba-tiba Kakak pengen ke sini?"
"Udah lama gak ngobrol sama Cia. Kalo pulang pasti langsung ke rumah masing-masing."
"Iya juga sih. Abisnya kakak sibuuuuk banget."
Kenzo meringis. "Kakak pengen lulus cepet, jadi ambis."
"Ah, kakak mah memang ambis sejak masa sekolah. Maunya peringkat satu terus. Kenapa kaya gitu, Kak? Emang kalo gak pinter, dimarahin sama Om, yah?"
"Enggak juga. Kakak gak dituntut apa-apa. Cuma seru aja rasanya kalau belajar dan terus nyari tahu sesuatu yang Kakak tahu nantinya bakal berguna buat hidup Kakak di masa depan."
Cia mengulurkan kedua tangannya di atas kepala Kenzo, lalu seakan sedang meraup sesuatu dan mengusapnya pada kepalanya sendiri.
"Ngapain, sih?" tanya Kenzo sambil menahan tawa melihat kelakuan Cia.
"Biar ketularan mindset Kakak."
Tawa Kenzo berurai lalu ia mengusap puncak kepala Cia hingga membuat rambut gadis itu berantakan. "Cia juga kan pinter, selalu masuk tiga besar."
"Tapi gak pernah rangking satuuu."
"Kalo gitu belajar lebih keras."
"Tapi maleees, aku gak punya motivasi, Kak."
"Dasar," ucapnya sambil menarik gemas hidung Cia.
Setelah menghabiskan setengah gelas cokelat panasnya dan sudah malas memakan camilan manis itu, Cia pun merebahkan dirinya. Ia sudah mengantuk karena sepertinya sekarang juga sudah larut.
"Tidur aja kalo ngantuk, nanti Kakak gendong kalo mau pulang."
Cia memiringkan posisi berbaringnya, menghadap Kenzo. "Kayanya gak usah pulang deh, Kak. Udah kemaleman juga. Bilang aja ke Papa aku kalo kita tidur di villa."
Untuk terakhir kalinya Kenzo meminum cokelat itu lalu ikut berbaring berhadapan dengan Cia. Kakinya ia masukkan dalam selimut.
"Kenapa ya, papa sama mama Cia percaya banget sama Kak Kenzo?" tanya Kenzo.
"Karena Kak Kenzo gak pernah kecewain mereka."
"Bukannya akan selalu ada yang pertama kali?"
"Apa?"
Kenzo tersenyum mengulurkan tangannya di bawah selimut itu untuk berada di atas pinggang Cia.
"Gak papa. Ayo ke dalem aja, makin dingin."
"Gendoooong."
"Maleees."
Kenzo sudah bangun lebih dulu.
Cia memekik karena Kenzo menggulungnya dengan selimut. Kemudian pria itu menggendongnya seperti karung beras sambil membawanya masuk dan tertawa mendengar protesan Cia di sepanjang jalan menuju kamar.