
"KENZO, BILANG MAMA KALAU INI BOHONG!"
"Ma, belum tentu dia hamil anaknya Kenzo." Kenzo merutuki wanita ular itu yang memberitahukan persoalan ini kepada orang tuanya. Padahal sejak awal Kenzo bilang bahwa ia tidak mau bertanggung jawab karena yang lebih dulu menggodanya adalah wanita itu. Sialnya teman-temannya sengaja membuat wanita itu untuk mengantarnya pulang karena Kenzo tidak bisa menyetir dalam keadaan mabuk.
Dan ketika sampai di apartemen, keagresifan wanita itu membuat Kenzo tidak bisa menahan dirinya lagi. Semuanya terjadi begitu saja.
"TAPI GAK MELUPAKAN FAKTA KALAU KAMU UDAH BERHUBUNGAN SAMA WANITA ITU!"
Iren begitu marah sampai sang suami, Rakha, tak kebagian porsi untuk memarahi putra kebanggaannya itu. Setidaknya sebelum ia membuat masalah seperti ini.
"KAMU BILANG KAMU MAU MENIKAHI CIA NANTI. KALAU UDAH KAYA GINI, MAU DITARUH DIMANA MUKA MAMA SAMA PAPA DI DEPAN TANTE KLARA SAMA OM HENDRA."
"Aku salah," lirih Kenzo, jatuh berlutut dengan air mata yang terjatuh. "Tolong jangan bilang masalah ini ke mereka. Kenzo akan sampein sendiri kalau semuanya udah jelas."
Iren tak sanggup bicara lagi, ia memeluk suaminya dan menangis tersedu. Mereka sekarang ada di apartemen Kenzo karena kedua orang tua itu memang yang menghampiri Kenzo sejak Kenzo tak lagi pulang ke rumah. Kenzo mencoba menyelesaikan masalah ini sendiri.
"Kalau pun itu anak Kenzo, Kenzo akan menafkahi dia, tapi Kenzo gak akan menikahi wanita itu."
"TERUS APA? KAMU TETAP MAU MENIKAHI CIA? KAMU PIKIR DIA MAU MENERIMA KAMU SETELAH KAMU BUAT KESALAHAN SEPERTI INI?"
Tidak tahu. Kenzo tidak tahu apa yang akan terjadi jika Cia mengetahui persoalan ini.
"Tolong rahasiain ini dari Cia, Ma, Pa. Kenzo mohon."
Kenzo sampai menundukkan kepalanya. Meskipun ia tahu, bahwa suatu hari nanti, rahasia ini harus ia katakan juga pada Cia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan ini adalah harinya.
Tangan Kenzo berkeringat namun juga terasa sangat dingin di genggaman Cia. Pria itu terus menggenggam tangannya sepanjang menyusuri koridor setelah bertemu dengan seorang suster yang menunjukkan mereka jalan menuju ruangan berisikan banyak bayi. Mereka melihatnya dari balik kaca. Cia tidak tahu bayi siapa saja yang sedang mereka lihat.
"Cia, tunggu di sini sebentar, yah," pinta Kenzo sambil mendudukkan Cia pada kursi.
"Kakak mau kemana?" tanya Cia, menahan tangan Kenzo agar tak terlepas darinya.
"Sebentar aja."
Akhirnya, mau tak mau genggaman itu terlepas. Dan Kenzo pergi dengan seorang suster, entah kemana. Cia menunggu, dan terus menunggu. Sebentar yang Kenzo maksud ternyata adalah hampir satu jam lamanya. Namun Cia tetap menunggu dengan sabar meski jantungnya sudah berdebar tak karuan. Ia hanya bisa menebak-nebak apa sebenarnya yang sedang terjadi, apa yang Kenzo lakukan dan rahasia apa yang akan terbongkar.
Semuanya hanya berupa pertanyaan yang tak bisa Cia temukan jawabannya.
"Cia."
Kenzo sudah tiba, duduk di sisinya dan langsung menggenggam tangannya lagi.
"Kakak abis apa?"
"Kakak gak tau harus cerita mulai dari mana sama kamu," lirih Kenzo. Kepalanya tertunduk, ia tak berani menatap mata Cia yang dipenuhi dengan rasa penasaran.
Kemudian Kenzo berdiri, Cia pun mengikutinya.
"Biar orang lain yang ngejelasin seperti apa kejadiannya."
"Kak, Kakak bikin aku takut."
"Kamu gak tau setakut apa Kakak saat ini. Kakak takut kehilangan kamu."
Mata Kenzo yang memerah dan rautnya yang nampak sendu membuat hati Cia sakit.
"Aku gak akan ninggalin Kakak."
Bahkan Kenzo hanya tersenyum tipis padanya. Akhirnya Kenzo membawanya berjalan ke salah satu ruang rawat seseorang. Cia tak banyak bertanya lagi dan hanya mengikuti.
Di ruangan itu, ia menemukan seorang wanita yang sedang berbaring sambil memainkan ponselnya. Kemudian melihat ada yang datang, wanita itu duduk dengan perlahan.
"Udah selesai tes nya?"
"Udah. Hasilnya bisa keluar dua sampai empat minggu."
"Lo pasti Cia, yah?"
"Gak usah basa-basi, jelasin semuanya."
Cia agak dikejutkan dengan sikap dingin Kenzo pada wanita itu. Sedingin tangannya yang masih menggenggamnya dengan erat. Seakan benar-benar takut akan kehilangannya.
"His, judes banget, ampun deh gue," wanita itu sedang mengomeli Kenzo.
"Cia, maaf banget sebelumnya gue harus ceritain ini. Cowok lo gak berani cerita sendiri sama lo karena dia tahu kalau ini pasti bakal nyakitin lo banget."
"Kak Kenzo bukan—"
"Pokoknya gue gak peduli sama status kalian. Jadi gue baru lahiran, dan kemungkinan itu anaknya Kenzo."
"A-apa?"
Cia pasti salah dengar. Atau, wanita itu mungkin salah bicara. Ucapan itu pasti tidak benar. Itu mungkin hanya candaan saja.
Dibalik semua kalimat-kalimat elakan itu, tetap saja kaki Cia sekarang begitu gemetar.
"Sedari awal emang gue yang salah. Gue yang godain Kenzo dan nganter dia ke apartemennya dengan tujuan itu. Ya abisnya dia ganteng banget, ya kan! Mana lagi galau terus mabuk. Jadi gue manfaatin situasinya. Bahkan saat ngelakuin itu pun yang dia sebut bukan nama gue, sialan."
"Hei!" Kenzo memperingati.
"Ya pokoknya intinya, meskipun anak yang lahir itu adalah anak Kenzo, dia gak akan nikahin gue. Tapi dia janji buat nafkahin anaknya. Udah, the end."
Tunggu dulu, semua ini harus Cia proses dengan baik. Ia juga harus meyakinkan dirinya kalau ini bukan mimpi.
Bruk
Sial, ini bukan mimpi. Cia jatuh terduduk dengan tetap kosong ke arah lantai. Satu tetes air matanya terjatuh. Ia bahkan tidak bisa mendengar apa yang sedang Kenzo ucapkan meski ia bisa melihat bahwa pria itu sedang bicara.
Tidak mungkin.
Pria yang dicintainya sudah tidur dengan wanita lain dan bahkan mempunyai seorang anak.
Tidak mungkin, ini pasti mimpi buruk.
Kak Kenzo-nya bukan orang seperti ini.
"Gak mungkin kan, Kak? Ini bohong kan Kak?"
"Cia, maafin Kakak."
"Hahahaha gak mungkin. GAK MUNGKIN KAN KAK KENZO?!"
Cia meremas pakaian Kenzo. Ia ingin mendengar dari Kenzo bahwa ini hanya kebohongan belaka. Tolong katakan kalau ini hanya candaan saja.
"Please, Cia, jangan kaya gini."
"Sakit, Kak. Sakit banget."
Cia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Kenzo memeluknya sambil terus mengatakan maaf. Bahkan Cia juga melihat bahwa Kenzo menangis. Menunjukkan betapa ia merasa bersalah.
Namun tetap saja. Tetap saja itu tak menghilangkan fakta bahwa pria yang dicintainya ini sudah tidur dengan seorang wanita dan memiliki seorang anak. Pemikiran itu terus terngiang dalam kepala Cia.
Membuatnya tak hanya sesak namun juga kepalanya yang sudah pusing sejak pagi kini terasa semakin sakit.
Cia tersenyum pedih. Karena kalau dipikirkan lagi, tidak ada alasan bagi Kenzo untuk tidak melakukan hal seperti ini. Toh, memangnya Cia siapa? Bukan kekasih atau memiliki hubungan asmara dengan Kenzo. Bukannya sejak dulu dan sampai kini Kenzo hanya menganggapnya seperti adik? Harusnya Kenzo tidak perlu menjelaskan ini pada Cia, kan? Ini tidak ada hubungannya dengan Cia.
Tapi bagaimana dengan perasaan cintanya sekarang? Rasanya hati Cia sangat hancur. Sakit sekali ketika ia membayangkan Kenzo tidur dengan wanita lain. Meskipun Cia tidak ada hak untuk cemburu, namun tetap saja.
Cia tidak tahu lagi.
Ia tidak tahu perasaan seperti apa lagi yang harus ia rasakan untuk Kenzo.
Yang pasti karena keterkejutannya dengan kabar ini, ditambah rasa sesak dan sakit di kepalanya, Cia menjadi tak sadarkan diri di tengah tangisannya dalam pelukan Kenzo.