
"Kenzo, Tante Klara udah lahiran loh, mau ikut liat, gak? Mama mau ke rumahnya, nih."
Kenzo lekas meletakkan pensil warna yang semula tersemat diantara jemarinya dan bangun dari posisi tengkurapnya.
"Mau ikuutt," pekiknya riang. Anak lelaki berusia enam tahun itu lantas mengikuti sang ibu untuk pergi ke rumah tetangganya. Dia membawa bungkusan kado yang sedari awal sudah disiapkan oleh ibunya, berisi selimut karakter yang lembut dan sarung tangan bayi.
"Anaknya laki-laki atau perempuan, Ma?" tanyanya saat tiba di pelataran rumah tetangga mereka.
"Perempuan, lucuuu banget."
"Oh yah? Kenzo jadi gak sabar pengen liat."
Akhirnya mereka masuk ke dalam dan Kenzo bisa melihat bayi yang masih kemerahan itu tidur dengan tenang di atas tempat tidur bayi. Bibirnya yang merah, hidungnya mungil tapi mancung. Pipinya berisi seperti bakpao mini. Dan baunya sangat harum. Kenzo sangat suka melihatnya namun dia tidak berani menyentuhnya, hanya berani melihatnya dari dekat. Ia takut bila bayi ini disentuh, ia akan menangis. Jadi Kenzo hanya memandanginya saja.
"Namanya siapa, Tante?" tanyanya pada Klara.
"Allicia Jane."
"Aku panggil Cia, yah?" tanyanya.
"Iya, sayang."
"Mah mah, Mama kok gak punya bayi?"
Iren terkesiap mendengar pertanyaan itu. Lantas ia tersenyum dan menjawab, "Kan ini bayi Mama udah besaaar," Sambil mencubit pipi Kenzo. Yang dicubit cemberut.
Tak menghiraukan mamanya yang mulai mengobrol dengan Tante Klara, Kenzo lebih sibuk memperhatikan manusia mungil di depannya. Tak habis pikir kalau dulu dia sekecil ini juga. Terlihat sangat lemah dan rentan. Tanpa sadar, Kenzo mengulurkan tangannya. Telunjuk kecilnya mencolek pelan pipi chubby bayi itu. Dan benar saja, seperti dugaan awalnya, bayi itu wajahnya semakin memerah kemudian suara tangisnya terdengar.
Tante Klara langsung mengangkatnya dan menyusuinya hingga dia diam lagi. Sementara Kenzo mengerjapkan mata dan menyadari, "Cengeng banget," katanya yang terdengar oleh Iren.
"Namanya juga bayi. Semua bayi itu cengeng," jelas Iren.
Kenzo mengulum bibirnya. "Ma, Kenzo boleh sering main sama Cia?"
Iren melotot kaget. "Lah, Cia belum bisa diajak main. Dia bukan boneka, jangan buat mainan, yah." Dibayangannya, sering main yang dimaksud Kenzo adalah memperlakukan Cia seperti boneka. Padahal, "Ih, enggak. Kenzo suka liat Cia, terus haruuum lagi."
Lantas Iren dan Klara tertawa.
"Iya, boleh. Kenzo sering-sering main ke sini, yah," kata Klara.
Anak lelaki itu pun mengangguk dengan semangat.
Hari-hari berlalu, dan Kenzo menepati janjinya untuk sering datang. Namun di jam tertentu saja, seperti sore hari. Waktu dimana Cia sudah dimandikan dan sangat wangi. Kenzo biasa datang pukul empat dan pulang pukul setengah enam. Selalu seperti itu. Karena paginya dia harus sekolah, dan pulang sekolah dia main dengan teman-temannya. Sedangkan malamnya dia harus mengerjakan PR. Ya, anak itu membagi waktunya untuk bertemu Cia.
Bayi merah yang belum bisa bicara itu hanya bisa menangis dan tersenyum. Namun sungguh Kenzo menyukainya. Apalagi ketika bayi itu tersenyum. Terlihat sangat lucu.
Kemudian beberapa bulan tak terasa telah berlalu, bayi itu tak hanya bisa tersenyum dan menangis saja. Akhirnya dia juga bisa tertawa. Kenzo semakin senang datang untuk menemuinya, ia bahkan membeli boneka Barbie di sekolahnya dan membawakannya untuk Cia. Ia mengerti Cia tak bisa memainkannya. Namun Kenzo tak kehabisan akal.
Tahun terus berlalu. Akhirnya Cia masuk sekolah. Saat itu Kenzo kelas 6 SD dan Cia masuk TK. Tidak menghentikan kebiasaanya, Kenzo selalu menjemput Kia saat Kia pulang sekolah. Padahal, ketika itu dia sudah memiliki adiknya sendiri. Namun, bayi merah yang ada di rumahnya nampaknya tak begitu menarik karena Cia masih mengambil alih sebagian besar waktunya. Apalagi adiknya bukan perempuan, melainkan laki-laki, Kenzo jadi menganggapnya sebagai saingan.
***
"Selamat yah Kak Kenzooo," ujarnya ceria sambil memberikan buket bunga yang berisi cemilan bar kesukaan Kenzo. Kenzo yang gemas melihatnya langsung memeluk Cia seraya mengucapkan terima kasih karena sudah datang di acara perpisahan sekolahnya. Cia sangat senang, ia merasakan wajahnya begitu panas dan jantungnya berdebar-debar. Lalu mereka pun berfoto bersama, dimana Kenzo merengkuhnya dan mereka tersenyum bahagia ke kamera.
Hingga tahun berikutnya, Kenzo menyempatkan dirinya dari sibuknya tugas kuliahnya untuk datang di hari perpisahan sekolah Cia.
"Kak Kenzoooo."
Cia melambaikan tangannya pada lelaki yang membawa buket boneka dan lembaran uang ratusan ribu itu. Gadis itu nampak bersemangat sampai melompat kecil di tempatnya. Kenzo pun tak kalah senang melihatnya, lelaki itu berlari untuk segera menghampirinya lalu memeluknya erat sampai membuat tubuh Cia terangkat dan berputar dalam pelukannya.
"Selamat, yaaa. Udah lulus sekolah aja," kata Kenzo sembari menurunkan tubuh mungil Cia dari pelukannya. Cia menyengir lebar. Gadis yang lulus dari sekolah menengah pertama itu nampak sangat bahagia hari ini. Ia menerima buket bunga dari Kenzo dengan hati riang.
Mereka pun mengambil foto berdua untuk mengabadikan momen. Seperti biasa, Kenzo merengkuh pinggangnya. Namun kali ini, Cia tak hanya menyengir ke kamera. Pada hitungan ketiga dari sang photographer, Cia merangkul leher Kenzo, menariknya mendekat agar ia sampai untuk mencium pipi lelaki itu. Alhasil ekspresi Kenzo di foto itu terlihat sangat lucu. Ia nampak kaget dengan mata membulat dan mulut yang sedikit terbuka. Namun, foto itu lah yang Kenzo jadikan pajangan di atas nakas di kamarnya, begitupula dengan Cia. Membuat keduanya selalu tersenyum ketika mereka baru saja bangun tidur di pagi hari karena pemandangan foto menggemaskan itu.
Sampai akhirnya, hari kelulusan Kenzo tiba. Kenzo menyelesaikan kuliahnya hanya dalam waktu tiga tahun dimana kala itu Cia masih kelas dua SMA. Dan fakta bahwa ia akan pergi merantau ke Jakarta karena lulus seleksi interview dan mulai bekerja di ibu kota, membuat hati Cia hancur.
"Udah dong, jangan nangis lagi."
Kenzo kembali mengusap air mata dari pipi lembut nan putih dari gadis itu. Di matanya, Cia masih terlihat seperti bayi merah yang cengeng. Dan Kenzo selalu menghadapinya dengan sangat lembut.
"Kan kita masih bisa telfon atau video call. Lagian dari Bandung ke Jakarta gak jauh, kok," ujarnya menenangkan. Sementara waktu keberangkatannya adalah besok. Itulah kenapa seharian ini Cia mogok makan karena mood nya sangat jelek. Ia hanya mengurung diri di kamarnya dan Kenzo yang mengetahui itu langsung mendatanginya sore ini di kamar Cia.
Namun kedatangannya malah semakin membuat Cia menangis sesenggukan. Sampai Kenzo tak tega melihatnya dan berpikir mungkin sebaiknya dia pulang pergi saja dari Bandung ke Jakarta, tidak usah menyewa di sana. Tapi itu pasti akan sangat merepotkan. Apalagi Jakarta sangat terkenal dengan kemacetannya, entah dia harus berangkat jam berapa dan hanya bisa tidur berapa jam setiap harinya.
"Maaf ya kak, Cia masih aja cengeng," lirih Cia sambil berusaha menyudahi tangisnya. Menatap sendu ke arah Kenzo yang kini berlutut di depannya. Sementara Cia sendiri kini duduk di tepian ranjangnya.
Pria itu kini tersenyum manis dan menangkup wajah Cia dengan kedua tangan besarnya. Remaja yang saat ini duduk di bangku kelas dua SMA bukanlah seorang anak kecil apalagi bayi yang tak mengerti dengan apa yang dirasakannya sekarang. Dengan jantung yang berdebar-debar, rasa panas di wajahnya dan nyeri di hatinya karena akan ditinggal pergi membuat Cia yakin kalau ia memiliki perasaan lebih pada lelaki yang selalu ada bersamanya bahkan sejak dirinya lahir. Namun, Cia mendapati di mata Kenzo, dirinya masih lah seorang anak-anak.
"Gak papa, Cia boleh cengeng, Cia boleh nangis kalau ada Kakak. Biar Kak Kenzo yang hapus air mata Cia. Jadi, kalau Kakak gak ada sama Cia, Cia jangan nangis, yah."
Mendengar itu, Cia langsung berhambur memeluk Kenzo, membuat pria itu hampir terjungkal ke belakang. Cia menyukai harum maskulin Kenzo. Dan bukan hanya itu sebenarnya. Selain fisiknya yang sangat menarik, Kenzo juga sangat pintar, terbukti dari cepatnya dia lulus dan menjadi salah satu lulusan terbaik di kampusnya. Selain itu, Kenzo bahkan tidak pernah memiliki seorang pun pacar meski sangat baaanyak wanita yang mengantri untuk mendapatkannya. Itu juga lah yang membuat Cia sedikit percaya bahwa mungkin Kenzo juga menyukainya.
Namun, kepercayaan diri Cia perlahan memudar ketika akhirnya Kenzo tidak pernah menghubunginya lagi setelah empat bulan dia tinggal di Jakarta. Bahkan, selama itu juga Kenzo tidak pernah pulang. Dan keluarganya yang datang ke sana untuk menjenguknya. Lalu, Cia pun bertanya pada Tante Klara apakah Kenzo menanyainya atau tidak. Tante Klara bilang Kenzo menitip salam padanya dan meminta Cia untuk mencari belajar dengan giat.
Tapi itu tidak terdengar seperti Kenzo. Kenzo yang dia kenal seharusnya menghubunginya jika hanya sekedar mengatakan itu. Namun tidak sekalipun Kenzo menelfon atau mengirimnya pesan. Bahkan telfon Cia pun tidak pernah diangkat dan chat nya tidak pernah dibalas.
Jadi, Cia bertekad untuk mendatangi Kenzo ke Jakarta. Bagaimana caranya? Bagaimana dia bisa mendatangi ibu kota yang orang-orang selalu bilang bahaya jika dia pergi ke sana hanya seorang diri.
Akhirnya, Cia menemukan ide brilian. Ya, ia dapat meyakinkan orang tuanya untuk pergi kuliah ke Jakarta dan Kenzo akan menjaganya di sana.
Lantas, tanpa sepengetahuan Kenzo, Cia pun pergi ke Jakarta berbekal alamat yang diberikan oleh Tante Klara. Ia pergi seorang diri karena ingin memberikan kejutan pada Kenzo.
Namun sayangnya, reaksi yang ia dapati ketika ia sampai, tidak seperti yang Cia bayangkan.