My Roommate Is My Neighbour

My Roommate Is My Neighbour
My Baby Girl



Sudah pukul setengah sebelas malam, namun Cia belum juga pulang. Ditelfon pun tidak diangkat, di chat tidak dibalas. Alhasil, kini Kenzo sudah berada di dalam lift menuju basemen berniat menjemput Cia. Yang dari lokasi ponselnya, ia berada pada salah satu kawasan perumahan elit di Pondok Indah. Setidaknya itulah yang dilihatnya beberapa saat lalu sebelum lokasinya tidak bisa dilacak lagi, yang berarti ponselnya mati.


Perasaan Kenzo jadi tidak enak. Sepertinya terjadi sesuatu. Kalau tidak, tidak mungkin Cia mengabaikan telfon dan pesannya begitu saja.


Lift akhirnya terbuka.


Kenzo mematung, sementara kedua orang di hadapannya nampak terkejut. Satunya lagi, sepertinya sudah hampir tak sadarkan diri karena mabuk. Ia dipapah oleh seorang pria karena tak mampu lagi berjalan dengan baik.


"Kak K-Kenzo," Oliv terbata. Panik. Padahal niatnya, ia akan membawa Cia ke apartemennya saja, lalu mengirim pesan pada Kenzo kalau Cia akan tidur dengannya. Namun kalau sudah ketangkap basah begini, mau bagaimana lagi. Nyemplung saja sekalian.


Rahang Kenzo mengeras, kepalanya terasa panas karena terkejut dan emosi. Diraihnya Cia dari papahan Denis, ia peluk dengan erat gadisnya yang tak berdaya. Kenzo mengepalkan tangan. Hampir mau melayangkan pukulannya kalau saja pikirannya tidak lagi bisa berpikir jernih. Setidaknya ia ingin mendengarkan penjelasan dulu sebelum meluapkan emosinya secara cuma-cuma.


"Masuk! Kalian harus jelasin ini." suruhnya pada Oliv dan Denis. Namun Oliv pikir, ide buruk bagi Denis untuk masuk juga. Ia khawatir Kenzo akan salah paham. Lantas ia menahan Denis yang hampir mau ikut masuk ke dalam lift. Denis benar-benar seorang gentleman. Meski tahu bahwa kemungkinannya dia bisa saja dipukul, dia bahkan tak takut untuk menghadapi Kenzo.


"Denis lo pulang aja, makasih ya udah jemput kita," kata Oliv.


"Oke, kabarin gue kalo ada apa-apa ya, Liv."


Oliv mengangguk dan langsung masuk ke dalam lift sebelum lift tersebut tertutup. Buru-buru Oliv menjelaskan secara singkat kepada Kenzo yang nampak seperti ingin mengunyahnya itu.


"Maaf ya, Kak. Aku gak bisa jagain Cia. Terus aku bingung bawa Cia pulang gimana karena dia terlalu mabuk. Jadi aku minta Denis buat jemput kita dan bawa kita pulang."


Kenzo bersyukur dia tidak lebih dulu menghakimi pria tadi.


"Cia kenapa sampe bisa kaya gini?"


"Itu... Dia main TOD tapi gak mau ngikutin dare, jadi minum banyak. Terus kaya gitu."


Kenzo menghela napas panjang. Ternyata memang gadis ini yang nakal. Mau bagaimana lagi. Di usianya yang sekarang, Cia pasti ingin mencoba dan mengetahui banyak hal. Tapi bukan seperti ini juga. Kalau tahu Cia akan pergi ke pesta, Kenzo tentu tidak akan memberinya izin.


Kenzo akhirnya menggendong tubuh Cia karena wanita ini bahkan tidak bisa berdiri dengan baik. Kenzo yakin tadi Cia keluar dengan memakai kardigan dan celana jeans panjang. Tapi yang dilihatnya sekarang hanya dress selutut tanpa lengan yang melekat pada tubuh Cia. Sejak kapan sih Cia jadi selicik ini?


"Aku duluan ya, Kak."


Kenzo hanya bergumam. Oliv bersyukur lantainya ada di bawah lantai Kenzo, jadi dia bisa keluar lebih dulu dan lepas dari situasi mencekam itu.


Di dalam lift, Kenzo memperhatikan wajah Cia. Dari tadi Cia meracau namun tidak jelas dia bicara apa. Pipinya memerah dan matanya begitu sayu. Bau alkohol sangat tercium dari napasnya.


"Cia, nakal kamu sekarang," omel Kenzo.


Mendengar suara itu, Cia langsung bicara, "Kak Kenzoooo."


"Kakak mau marah, tapi percuma kalau keadaan kamu kaya gini. Besok aja marahnya."


Gadis itu malah tersenyum dengan polosnya. Kenzo berjalan menuju unitnya, sedikit kesulitan saat membuka pintu.


"Kaaak, tadi aku main truth or dare."


Cia menangkup wajah Kenzo agar pria itu menatapnya. Kenzo pun hanya bergumam sambil terus berjalan menuju kamarnya.


"Terus pas pilihan truth ku udah habis, aku dikasih dare."


"Apa dare nya? Sampe kamu lebih milih minum sebanyak ini?"


"Pertama, aku ditantangin buat nyebur ke kolam renang, aku gak mau, dingiiin. Jadi aku minum aja. Rasanya gak enak pait tapi ada manisnya sih, tapi bikin pusyiing. Terus aku ditantangin apa lagi yah, lupa. Ah iya, ada yang aku disuruh cium Kak Rafa, aku gak mauuu."


Mendengar semua itu, Kenzo jadi sangat menyesal, sungguh. Tidak seharusnya ia memberikan izin pada Cia. Gadis polos ini sekarang sudah terkontaminasi oleh dunia luar yang kejam.


"Ada yang pegang-pegang Cia, Cia takuuut."


Cia menyembunyikan wajahnya di depan dada Kenzo. Pria itu mengusap punggung Cia dengan lembut, seakan ingin meyakinkan Cia kalau sekarang dia sudah aman bersamanya.


"Maafin Kakak, yah. Seharusnya Kakak gak izinin Cia pergi. Harusnya Cia di rumah aja."


"Aku gak mau pergi pergi ke pesta lagiii."


"Kakak juga gak akan ngizinin kalau tau kamu pergi ke acara kaya gitu."


"Peluk aku, Kak!"


Kenzo langsung memeluknya dengan erat, merasakan tubuh Cia gemetar dalam pelukannya membuat hatinya terasa seperti teriris. Entah apa saja yang terjadi di tempat itu hingga membuat Cia gemetar seperti ini. Harusnya Kenzo lekas menjemputnya saat Cia tidak mengangkat telfonnya. Karena Cia tidak pernah sekalipun mengabaikan telfon darinya.


"Siapa yang pegang-pegang Cia? Cia inget?" tanya Kenzo dengan lembut.


"Kak Rafael, dia peluk-peluk Ciaaaa terus. Cia risih."


Akan Kenzo ingat namanya dengan baik. Dia juga akan bertanya pada Oliv siapa Rafael dan seperti apa tampangnya. Karena Kenzo yakin, jika dalam keadaan sadar, Cia tidak akan bicara lebih banyak.


"Nanti Kakak kasih pelajaran kalau ketemu orangnya."


"Cium-cium Cia juga."


"Apa? Apa yang dicium?" Kenzo nampak tak terima. Kepalanya terasa berapi mendengar itu. Bahkan rasanya ia ingin segera mendatangi sialan Rafael itu dan menghajarnya habis-habisan.


"Ini ini ini."


Cia menyentuh bahunya, punggung tangannya dan pelipisnya. Saat itu ia tidak bisa mengelak karena dirinya sudah mabuk. Dan Rafael yang duduk di sampingnya selalu mencuri-curi kesempatan ketika Cia sedang lengah.


Kemudian suara kecupan-kecupan terdengar. Bibir Kenzo menyentuh tempat-tempat yang tadi di tunjuknya. Namun sekarang, Cia tidak merasa risih, dia tersenyum dengan mata sayu yang memandang penuh cinta ke arah Kenzo.


"Kak Kenzooo, aku gak mau cium Kak Rafael."


"Iya, jangan."


"Aku gak mau cium laki-laki lain."


Kenzo menyurai rambut Cia untuk bisa melihat parasnya dengan leluasa. Mengusap pipinya yang kemerahan dengan lembut.


"Aku mau Kak Kenzo."


"Hm?"


"Ciuman pertamaku."


Mata Kenzo membulat. Merasakan Cia mengalungkan tangan di lehernya dan mulai mendekatkan wajahnya.


"Cia..."


Kenzo tak bisa berkata apa-apa lagi. Tubuhnya seakan membeku ketika bibir lembut itu menyentuh miliknya, ia mengerjapkan mata. Detik selanjutnya, tak ada yang terjadi lagi karena nampaknya Cia sudah tertidur.


Lantas Kenzo tersenyum, sedikit menurunkan wajah hingga keningnya menyatu dengan kening Cia.


"Sweet dream, my baby girl."