
"Wah, Mas sama Mbaknya pengantin baru, yah."
Baru saja mau menjawab bukan, Cia sudah lebih dulu menggandeng lengannya sambil menjawab dengan ceria, "Iyaa. Minta diskon dong, Mbaaa. Nanti kita pasti ke sini lagi kalau mau beli perabotan lain."
Kenzo hanya tersenyum dan membiarkan Cia melakukan apapun yang dia mau. Selesai membeli kasur, meja belajar dan lemari dengan harga diskon, mereka pun memutuskan untuk pergi makan siang. Sushi Tei menjadi pilihan Cia, dan Kenzo hanya mengikut saja.
"Pasti kita keliatan kaya pasangan yang serasi, ya, kan?!" Ujar Cia sambil bercermin.
"Ya namanya masih muda-mudi, kebanyakan pasti dikira pengantin baru kalau beli kasur."
Cia tak mendengarkan elakan Kenzo. Ia malah beranjak ke topik lain.
"Kak Kenzo masuk kerja jam berapa?"
"Masuk jam sembilan pulang jam lima."
"Wah, kalo gitu nanti bisa anterin aku dulu, dong. Aku berangkat jam tujuh." Yang dimaksud Cia adalah nanti ketika dirinya sudah mulai berkuliah.
"Iya, Cia."
"Kak Kenzo?"
"Kenapa, Cia?"
"Nanti kita cari photo booth dulu sebelum pulang dari sini, yah."
"Mau apa?"
"Foto doong. Kita kan udah lamaaa banget gak punya foto berdua."
"Yaudah, iya."
Bisa Kenzo lihat betapa senangnya wanita itu dari senyuman dan binar matanya. Dia bahkan melanjutkan makannya dan mengunyah tanpa menghilangkan senyumnya. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk karena menyukai makanan yang hancur di mulutnya itu. Ia terlihat seperti anak kecil yang lucu. Sudah Kenzo bilang, kan, kalau Cia itu belum dewasa.
***
Mereka sudah berbelanja beberapa pakaian dan sepatu karena Cia hanya membawa sedikit dari rumahnya. Tak lupa juga melakukan photo booth yang Cia minta tadi. Dan sekarang waktunya pulang. Sambil memakan es krim, sesekali Cia melihat ke arah jalan. Sementara belanjaannya dibawakan oleh Kenzo. Dan tebak siapa yang membayar semuanya! Ya tentu saja Kenzo. Kata Cia, hitung-hitung traktirannya selama setahun. Dan Kenzo juga tidak keberatan.
"Ken?"
Kenzo menoleh merasa namanya terpanggil. Seorang pria yang dikenalinya dan seorang wanita yang sepertinya adalah kekasihnya yang kini Kenzo dapati di hadapannya. Kenzo agak terkejut melihat pria itu.
"Eh, Nan," ucapnya menjawab panggilan tadi.
"Wah, ternyata bener Kenzo. Gue takut salah orang, sih."
"Ekhm ekhm," Cia berdehem. Minta diperkenalkan pada seseorang yang sepertinya adalah teman Kenzo. Namun Kenzo menanggapi lain.
"Eh, gue duluan yah, Nan. Buru-buru, nih."
"Oh, oke." Kenzo mendapati temannya itu melirik ke arah Cia. "Kapan-kapan nongkrong bareng, yah."
"Oke."
Kenzo lekas merangkul pinggang Cia dan membawanya berjalan menjauhi pria yang dipanggil Nan itu.
"Siapa tadi, Kak?"
"Temen kuliah."
"Wah, berarti udah lama dong gak ketemu?"
"Iya."
"Kok kaya gak seneng gitu?"
"Masa, sih? Biasa aja, kok."
"Iya, loh. Padahal tadi aku ngasih kode minta dikenalin, kan biar tau siapa aja temennya Kakak. Eh malah dikira ngajak buru-buru."
"Gak usah kenalan sama temen Kakak."
"Kok gituuu?"
"Nanti mereka pasti neror kakak buat minta nomor kamu."
"Ya gak papa kalau dianya masih jomlo. Aku juga jomlo."
"Udah deh kuliah aja yang bener."
"Ish, Kakak, nih."
"Gak usah mikirin cowok."
"Kakak sama Papa samaaa aja. Terus gimana nanti aku mau nikah kalo mau kenalan sama laki-laki aja gak boleh? Aneh. Nanti tiba-tiba lulus kuliah udah ditagih kapan nikah."
Kenzo diam saja. Akhirnya Cia pun diam saja sampai akhirnya mereka masuk ke dalam mobil Kenzo.
"Kak, pinjem dompetnya, dong."
"Buat apa?"
"Sebentar aja."
"Kak Kenzo, ini foto aku, yah?"
Kenzo melirik sekilas karena dia harus keluar dari parkiran dan fokus menyetir.
"Iyah," jawabnya.
Cia pun tersenyum manis. Untung fotonya kecil, jadi masih ada ruang untuknya memasukkan hasil foto yang tadi diambil, namun Cia harus melipatnya agar bisa pas dalam dompet. Ada tiga pose dalam foto itu. Pertama, mereka sama-sama tersenyum lebar ke arah kamera. Yang kedua, Kenzo menangkup wajah Cia hingga membuat wajah Cia nampak cemberut sementara ekspresi Kenzo dipenuhi tawa. Yang ketiga, mereka melakukan pose hati dengan masing-masing mengangkat tangan kanan dan kiri. Tentu saja pose itu adalah arahan dari Cia. Kenzo menurut saja.
"Aku seneng banget."
Cia menggandeng lengan Kenzo, menyandarkan kepalanya pada pundak pria itu. Kenzo pun tersenyum. Tangannya yang dirangkul melepas setir untuk mengusap sisi wajah Cia.
"Makasih ya, Kak Kenzo."
"Buat apa, hm?"
"Buat hari ini."
"Liat kamu seneng, Kakak juga seneng."
Cia memejamkan matanya masih sambil memeluk erat lengan Kenzo.
"Tidur aja, nanti kakak bangunin kalau udah sampe."
Cia hanya bergumam. Dan ya, dia pun tertidur di atas pundak yang nyaman itu. Cia tidak tahu akan berakhir seperti apa hubungannya dengan Kenzo. Namun Cia harap, ia akan selalu berada sedekat ini dengan Kenzo.
***
Akhirnya, malam ini Cia bisa merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya sendiri. Tapi ia juga sedih karena tidak bisa tidur dalam pelukan Kenzo. Dan lagi, kemana pria itu pergi? Sejak sore dia sudah keluar dan kini sudah pukul delapan namun belum juga sampai rumah. Urusan apa yang membuatnya pergi begitu lama?
Cia mengambil ponsel dan menelfon sahabatnya. Tak perlu menunggu lama panggilan video nya itu sudah diangkat, menampilkan seorang wanita yang seluruh wajahnya tertutup masker berwarna hijau.
"Iiihhh mau ikut maskeran jugaaa," Cia merengek sementara wanita di sebrang sana terkekeh.
"Yaudah sana, gue juga baru maskeran, nih."
"Oke oke, tungguin, yaaah."
Cia beranjak dengan cepat untuk mencuci wajahnya lalu mengambil masker stick berwarna abu dari dalam tas skincare nya. Tidak menunggu lama ia sudah berbaring kembali di tempat tidurnya dan mengobrol lagi dengan Oliv, sahabatnya.
"Lo udah berangkat belum, Liv?"
"Belum, gue masih di rumah. Lusa paling berangkat ke Jakarta. Lo gimana? Udah ketemu sama Kak Kenzo?"
"Udah dooong. Gue tinggal di apartemennya." Cia melirik ke arah pintu sebelum melanjutkan, "Gue tidur seranjang sama Kak Kenzo," bisiknya.
"Bukannya udah sering, yah? Dari dulu kan begitu." Oliv sudah tidak heran lagi.
"Iya juga, sih. Tapi mungkin karena udah setahun gak ketemu, rasanya jadi beda."
"Gimana-gimana? Kak Kenzo *****-***** lo?"
Cia melotot kaget. "ENGGAK, IIHHH."
Ia langsung bangkit mencari airpods nya. Khawatir Oliv bicara macam-macam lagi dan didengar oleh Kenzo. Meski memang sekarang orangnya belum pulang.
Oliv tertawa di sebrang sana melihat kepanikan Cia. Dan tentu Oliv sudah tahu seperti apa perasaan Cia kepada Kenzo.
"Mana ada di *****-*****, dia aja masih nganggep gue anak kecil, Liv. Kata dia gak ada yang bisa dilihat. Terluka nih harga diri gue."
"Nyebelin yah lama-lama. Kalo dia mikirnya masih kaya gitu terus, lo gak bakal ada kemajuan, Ci."
Cia memajukan bibirnya, nampak berpikir. "Iya ya, Liv. Gimana, yah?"
"Dia jealous gak sih kalo tau lo jalan sama cowok?"
"Gak tau. Tapi yang pasti dia marah karena dia kan posesif."
"Mau dicoba, gak?"
"Maksudnya?"
"Lo jalan sama cowok."
"Siapa dulu cowoknya?"
"Ya cari lah nanti kalo kita udah mulai masuk kuliah. Pasti banyak yang naksir sama lo, gue jamin. Si Denis aja masih ngejar-ngejar lo, nih. Buktinya sampe ngikut lo kuliah ke Jakarta. Atau lo jalan sama Denis aja, Ci?"
"Ih, jangan ah, Denis kan mantannya Ayu. Lagian Denis beneran suka sama gue dan gue udah kenal dia dari lama. Gue gak mau kasih dia harapan kosong. Kasian."
"Iya juga, yah. Tapi soal dia mantannya Ayu, menurut gue gak masalah, sih. Ayu aja udah punya pacar lagi."
Sekedar informasi, Ayu juga merupakan sahabat mereka. Jadi, menurut Cia adalah salah kalau ia dekat dengan laki-laki yang merupakan mantan pacar sahabatnya.
"Iya juga, siihhh."
"Atau kalo lo merasa takut cuma ngasih harapan kosong, kenapa gak lo coba serius aja? Lagipula Denis anaknya baik, kan? Dia putus sama Ayu pun bukan karena salah Denis. Gak kalah ganteng juga dari Kak Kenzo. Daripada lo nungguin Kak Kenzo yang gak jelas."
"Andaikan semudah itu, Liv. Lo tau kan yang namanya perasaan gak bisa diatur maunya gimana. Kalo gue bisa, gue juga gak mau jatuh cinta sama orang yang masih anggep gue seperti adiknya yang masih kecil."