My Roommate Is My Neighbour

My Roommate Is My Neighbour
Kesalahan Kenzo



Cia pikir ia lebih baik mencopot kepalanya saja sekarang. Pagi ini dia terbangun, rasanya sangat pusing dan sakit. Baru kali ini ia merasakan kepalanya seperti ditimpa batu tepat setelah ia bangun. Beruntung Kenzo datang membawakannya obat dan membantu memijat kepalanya. Jadi saat ini kepala Cia berada di atas pangkuan Kenzo dan sudah merasa lebih baik.


"Kapok, gak?" tanya Kenzo, membuat Cia cemberut.


"Apa yang menurut orang lain seru, belum tentu seru juga buat kita. Malah rasanya bisa jadi kaya mimpi buruk."


Cia mengangguk setuju. Itu benar. Kata orang, berpesta itu sangat menyenangkan dan seru. Tapi baginya yang sudah merasakan secara perdana semalam, rasanya seperti neraka. Banyak orang yang tak dikenal. Ia merasa ada yang menyentuh namun entah siapa. Ia juga merasa diperhatikan begitu intens. Semua pengalaman itu membuat Cia merasa sangat ketakutan. Ia tidak mau lagi berada di situasi seperti itu.


"Kakak jemput aku?" tanya Cia. Ya, dan yang lebih menyebalkannya lagi, Cia belum bisa mengingat apa saja yang terjadi ketika ia sudah mabuk. Ia bahkan tidak tahu bagaimana dirinya bisa sampai di apartemen dan tidur dalam pelukan Kenzo semalaman.


"Enggak, Denis yang jemput."


Sekarang Cia langsung terduduk. Mengabaikan sakit kepalanya. "Denis yang jemput?"


"Iya. Kamu gak inget apa-apa soal semalem?"


Cia menggeleng menjawab pertanyaan Kenzo. Membuat Kenzo bisa sedikit menghela napas lega karena Cia juga pasti tak ingat semalam mereka berciuman. Ya, meski hanya bibir yang menempel sebentar, bukankah sama saja?!


Menyadari bahwa ia banyak melupakan sesuatu, Cia jadi bertanya-tanya, "Aku ngapain aja ya, semalem?" Ia memeluk dirinya sendiri dan tampak parno. "Aku masih perawan gak ya, Kak?"


Ucapannya itu membuatnya mendapat cubitan dari Kenzo di hidungnya. Kenzo menariknya lagi untuk kembali berbaring dan meletakkan kepalanya untuk di pijat di atas pangkuan Kenzo.


"Gak usah mikir yang aneh-aneh. Kakak jadi ikutan pusing."


"Abisnya aku gak inget apa-apa, Kaaaak. Goblok banget aku setuju ikut main TOD. Padahal udah tau kalau mereka pasti bakal yang aneh-aneh. Yang lebih parah tuh, masa ada yang—"


"Gak usah diinget-inget!"


Cia menutup mulutnya rapat-rapat. Namun Kenzo malah jadi salah fokus dengan bibir tipis yang kini basah itu. Merutuki dirinya karena teringat kejadian semalam. Padahal ia bahkan tidak bisa menyebut itu sebagai ciuman. Sial.


"Aku harus bilang makasih ke Denis."


"Iya, Kakak juga. Dia udah bawa kamu aman sampe ke pelukan Kakak."


Suara ponsel tiba-tiba berdering dari atas nakas itu. Ponsel Kenzo, karena ponsel Cia masih lowbet dan belum di charge. Bahkan masih ada di dalam dompet pestanya.


"Siapa yang telfon?" tanya Cia, melihat Kenzo mengernyitkan kening ketika melihat layar ponselnya.


"Gak tau, nomor gak dikenal."


"Coba angkat, loudspeaker, aku mau denger. Siapa tau tukang tipu ya, kan, kita bisa kerjain bareng-bareng." Otak usil Cia bekerja.


Kenzo pun menjawab panggilan itu. Namun yang mengejutkannya, adalah suara wanita yang muncul di seberang telfon dan langsung menyebut nama Kenzo.


"Kenzo?"


Kenzo mengerjapkan mata. Sepertinya mengenali suara ini. Ia mematikan loudspeaker nya dan meminta Cia mengangkat kepalanya karena ia mau bangun.


Cia memandang penuh penasaran karena Kenzo sampai menjauh darinya untuk mengobrol dengan penelfon itu.


Siapa wanita itu? Bukankah Kenzo tidak punya pacar? Kenapa ia tidak boleh mendengar percakapan mereka?


Beberapa saat kemudian, Kenzo kembali namun tatapannya nampak kosong. Lantas Cia bertanya, "Kenapa, Kak?"


"Cia," panggil Kenzo, dia terlihat sangat kebingungan.


Cia tak pernah melihat Kenzo seperti ini sebelumnya. Kenzo terlihat seperti sangat tak berdaya. Bibirnya pucat padahal tadi Cia lihat masih kemerahan. Sebenernya apa yang dikatakan wanita di telfon itu?


Tanpa diminta dua kali, Cia langsung turun dari tempat tidur dan memeluk Kenzo dengan erat. Tubuh Kenzo terasa hangat dan berat. Ia seakan meminjam tubuh Cia untuk menjadi topangannya karena dirinya tak sanggup lagi berdiri dengan kokoh.


"Kenapa?" tanya Cia lirih.


"Kakak sayang banget sama Cia," ujar Kenzo tak kalah lirinya. Ia membelai rambut Ciya dengan sayang.


"Cia tau."


"Tolong percaya sama kakak, ya."


"Iya, aku percaya sama Kak Kenzo."


"Kakak minta maaf kalau Kakak kecewain Cia nanti."


"Kakak ngomongin apa, sih?"


"Bisa ikut Kakak ke rumah sakit?"


Cia langsung mengurai pelukannya. "Apa? Kenapa? Kakak sakit? Kakak sakit apa?" Matanya sudah berkaca-kaca, ia mencoba memeriksa tubuh Kenzo, mencoba mencari dimana letak sakitnya. Cia sangat ketakutan. Ia takut terjadi sesuatu pada Kenzo.


"Enggak, Kakak gak sakit. Kakak mau ketemu seseorang."


Setiap ucapan Kenzo hanya membuat jantung Cia terus berdebar lebih cepat. Ia tahu bahwa Kenzo selama ini menyimpan rahasia karena banyak hal yang Kenzo simpan sendiri dan sifatnya yang sedikit berubah. Namun, Cia pun tidak ingin tahu rahasia apa yang Kenzo sembunyikan. Karena alasan Kenzo merahasiakannya pasti karena itu akan menyakitkan jika Cia mengetahuinya.


Namun entah mengapa, sekarang Cia merasa bahwa Kenzo ingin memberitahukan rahasianya padanya.


"Apapun yang terjadi nanti, tolong percaya sama Kakak."


Namun Cia memutuskan untuk mengangguk, tanpa tahu apa yang akan ia hadapi nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sembilan bulan yang lalu.


Kenzo terbangun dengan seorang wanita di ranjangnya, di apartemennya sendiri. Ia telah melakukan kesalahan. Meskipun semalam mabuk, Kenzo ingat dengan kekhilafan yang dilakukannya. Mengacak rambutnya frustasi, Kenzo duduk bersandar pada kepala ranjangnya, berkali-kali bersumpah serapah untuk dirinya sendiri. Merasa menyesal. Matanya memerah karena ingin menangis.


Ada satu orang dalam pikirannya yang membuatnya merasa tak akan punya wajah lagi untuk berhadapan dengannya. Cia. Kenzo merasa tak akan bisa menghadapi Cia lagi setelah apa yang dilakukannya dengan wanita yang bahkan tak ia kenali ini. Wanita yang sudah menghabiskan malam dengannya saat ia mabuk dan tidak bisa berpikir dengan baik. Ia menyesal dan merasa bodoh. Tentu yang dipikirkannya semalam bukanlah wanita ini. Itu juga yang membuat Kenzo jadi membenci dirinya sendiri. Ia berpikir melakukannya dengan Cia, seseorang yang bahkan sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Kenzo merasa jijik dengan dirinya sendiri. Rasanya ia ingin menghancurkan kepalanya sendiri ke dinding.


"Pergi!" usir Kenzo ketika wanita terbangun.


"Eeungh sebentar lagi."


"PERGI GUE BILANG!"


Wanita itu tersentak. Akhirnya kesadarannya terkumpul sepenuhnya dan dia duduk dengan memakai selimut untuk menutupi dadanya.


"Gak usah panik gitu, gue gak lagi masa subur."


"Lagipula, apapun yang terjadi, jangan tuntut gue buat bertanggung jawab. Lo yang sejak awal godain gue sejak dari club!" kesal Kenzo. Ia berjanji tidak akan pernah datang lagi ke tempat sialan itu.


Wanita itu memutar bola matanya. "Ok, fine!"


Lalu dia pergi setelah memakai pakaiannya. Dan Kenzo tidak pernah menemuinya lagi.


Sampai akhirnya dua bulan setelah kejadian itu, wanita itu mendatanginya dan memberitahu bahwa dia hamil. Sejak saat itu lah Kenzo memutus kontaknya dengan Cia.