
Satu bulan telah berlalu. Cia sudah mulai masuk kuliah dan dia disibukkan dengan itu. Kabar baiknya, Oliv tinggal di satu gedung yang sama dengan apartemen Kenzo, meskipun beda lantai, namun tetap saja Cia senang karena dia bisa kapanpun datang bermain dengan Oliv sambil curhat soal Kenzo. Karena ya, hanya Oliv yang ia ceritakan perihal perasaannya dengan Kenzo. Ia tak ingin rahasia ini diketahui lebih banyak orang. Satu saja cukup.
Di dalam kamar, pria yang sudah rapih dengan setelan kerjanya itu malah terduduk di tepian ranjangnya. Di tangannya ia memegang sebuah kunci unit. Tak terasa sudah sebulan Cia tinggal bersamanya. Harusnya hari ini, kunci yang sedang dipegangnya ia berikan pada Cia. Namun, bukan itu yang ia lakukan, melainkan menyimpannya kembali ke dalam laci nakasnya sambil menghela napas panjang.
Ia berjalan keluar, menemukan gadis kuliahan itu sudah duduk di kursi sambil memakan sarapannya yang berupa roti dengan selai kacang. Sementara mata dan satu tangan lainnya fokus pada ponsel. Dia masih berpakaian rumahan, berupa kaus crop top pendek dan celana pendek hitamnya yang ketat, itulah yang menjadi alasan mengapa Kenzo tidak lagi membolehkan temannya datang ke apartemen ini.
"Gak kuliah, Cia?" tanyanya, membuat Cia menoleh ke arahnya.
"Nanti, agak siangan." Cia memiringkan kepalanya seraya tersenyum lebar pada Kenzo untuk mengutarakan pujiannya, "Kak Kenzo kasep pisan."
Membuat Kenzo tersenyum lalu duduk di hadapan Cia. "Tiap hari perasaan."
"Saya suka kepercayaan diri Anda, Tuan."
Kenzo hanya tertawa. "Kamu berangkat sama Oliv?"
"Iya paling."
"Kuliahnya gimana sejauh ini?"
"Belum pusing-pusing amat."
"Ada yang menarik?"
"Ada. Senior aku menarik."
Cia tahu kalau ia akan langsung dapat bombastic side eyes dari Kenzo kalau membahas soal itu. Dan ya, Cia memang sengaja melakukannya untuk melihat respons Kenzo.
"Apa, sih?"
"Jangan pacaran!" titahnya sambil menunjuk Cia dengan sendok selai.
"Enggak, dih. Orang aku cuma bilang menarik, kok."
Kenzo tak merespons. Namun ia nampak terlalu serius untuk orang yang sedang mengolesi selai di atas roti.
Cia jadi bingung dengan pria itu. Sebenarnya Kenzo ini benar-benar menganggapnya sebagai adik, atau apakah dia punya perasaan yang lain? Kenapa kadang-kadang Cia melihat Kenzo seperti orang yang cemburu ketika Cia membahas pria lain.
Sedang sibuk memikirkan Kenzo, tiba-tiba ponsel di genggamannya berdering. Telfon masuk dari Denis. Cia tak langsung mengangkatnya, dia bahkan lebih memilih menelungkupkan ponselnya di atas meja, membuat Kenzo mengernyitkan kening.
"Kenapa gak diangkat?" tanya pria itu.
"Gak papa, gak penting aja."
"Siapa emang?"
"Ada deh."
"Dia gangguin kamu?"
"Enggak, kok."
"Terus?"
"Gak papa, Kak."
"Kalo gak papa, kenapa gak diangkat? Orang nelfon pasti karena penting."
Cia menatap Kenzo untuk beberapa saat sebelum mengambil benda pipih yang kembali berdering. Masih Denis yang menelfon. Jadi, seperti apa yang Kenzo bilang tadi, Cia pun mengangkatnya.
"Halo, Denis. Kenapa?"
Meski Cia kini berbicara dengan orang di sebrang telfonnya, namun tatapannya tak beralih dari Kenzo yang juga balas memandanginya sambil mengunyah roti lapisnya.
"Aku berangkat sama Oliv."
"Okee."
"Iya, daaah."
"Iya. Aku lupa bilang kalau dia juga kuliah di tempat yang sama, sama aku."
"Dia masih ngejar-ngejar kamu?"
"Iya. Tapi aku tanggepinnya biasa aja."
"Lebih baik gak usah ditanggepin."
"Udah. Tapi tetep aja dianya ngajak aku ngomong terus. Kan gak baik keliatannya kalau aku diemin juga."
"Mau Kakak bantu omongin ke dia?"
Cia panik. "Ih, gak usah. Mau omongin apa, coba?"
"Jangan deketin kamu lagi!"
"Jangan!"
"Kenapa? Kamu suka sama dia?"
"Enggak. Kan udah dibilang kalau aku tanggepinnya biasa aja. Lagipula dia baik. Enggak yang maksa-maksa juga buat aku bales cintanya. Jadi aku gak keganggu. Aku bisa tetep temenan sama dia."
"Gak bisa cuma temenan kalau yang satunya jatuh cinta, Cia."
Cia tertegun. Lalu, bagaimana dengan situasinya kini? Bisakah ia tetap menganggap Kenzo seperti kakaknya padahal dirinya sudah jatuh cinta pada pria itu?
"Pilihannya cuma dua, jauhin atau terima."
"Kenapa cuma itu pilihannya?"
"Karena kalau kamu tetep ada di deket dia tanpa niat buat nerima cintanya, itu cuma akan nyakitin dia aja. Sedangkan kalau kamu tegas untuk menjauh, dia bisa move on dan cari yang lain."
Apakah memang semudah itu untuk move on dan cari yang lain? Apakah bisa melakukannya dengan cara itu? Menjauhi Kenzo dan mencari yang lain?
"Enggak," lirih Cia. "Enggak semudah itu untuk move on dan cari yang lain, Kak. Meskipun hati ini sangat ingin buat ngelakuin itu, meskipun tiap hari harus tersiksa karena cuma bisa ada di deket dia tanpa bisa memiliki, tapi itu jauh lebih baik daripada harus menjauh. Ngebayangin gak bisa liat orang yang kita cintain sehari aja, rasanya tersiksa banget. Sesak karena rindu."
Satu tetes air mata Cia terjatuh tanpa ia sadari.
"Jadi, meminta orang yang lagi jatuh cinta buat menjauh dari kita itu gak akan ada gunanya. Karena meskipun dia merasa sakit karena gak bisa memiliki, seenggaknya dia bisa melihat orang yang dicintainya setiap hari. Itu udah lebih dari cukup."
Tidak kah harusnya Kenzo mengerti dengan setiap kata yang Cia ucapkan?
Cia menghapus air matanya. Merutuki dirinya karena sudah mengatakan semua itu. Ia takut Kenzo menyadari perasaannya lalu menjauh darinya. Ya, mendengar apa yang tadi Kenzo katakan, Cia yakin kalau itulah yang akan Kenzo lakukan ketika mengetahui perasaan Cia. Dengan alasan tidak ingin menyakiti Cia, Kenzo pasti akan menjauh darinya.
Bayangan Kenzo menjauh dan tak bisa dilihat lagi membuat hati Cia terasa sakit.
"Cia—"
Cia berdiri, mengabaikan Kenzo yang memanggil namanya.
"Aku mau siap-siap buat kuliah."
"Mau Kakak aja yang anter?"
"Gak usah, aku sama Oliv aja."
Tanpa menunggu Kenzo bicara lagi, Cia langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Jujur saja, selama sebulan bersama Kenzo, Cia tidak lagi menemukan sosok Kenzo yang dulu selalu bersamanya? Apakah benar kalau Kenzo sudah dewasa sehingga dia menjadi lebih serius dan menyebalkan. Apakah waktu satu tahun bisa mengubah kepribadian seseorang begitu banyak? Tak jarang Cia merasa Kenzo begitu menjaga jarak darinya. Saat Cia memegang tangannya saja Kenzo langsung menarik tangannya seakan tidak mau disentuh. Kenzo juga terus mendorongnya ketika Cia memeluknya.
Tidak seperti dulu, saat dimana Kenzo yang selalu mencium puncak kepalanya ketika Cia memeluknya, atau menggenggam erat tangannya ketika Cia menyentuh jemarinya. Atau mencubit gemas pipinya ketika Cia cemberut dan kesal padanya. Kenzo tak lagi seperti itu.
Kenzo sudah berubah.
Meskipun setiap hari ada bersamanya, Cia merasa Kenzo sudah menghilang.