My Roommate Is My Neighbour

My Roommate Is My Neighbour
Tinggal Bersama



Cia sudah membunyikan bel namun belum ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Gadis cantik yang memakai jaket Hoodie kebesaran dan celana jeans panjang itu kembali menekan bel. Wajahnya yang kecil nampak tenggelam dalam tudung hoodienya. Sementara rambutnya yang semula tercepol rapih dari rumah sudah sedikit berantakan dengan anak rambut yang menjuntai di dekat telinganya.


"Bener kok ini alamatnya," gumamnya setelah melihat kembali alamat dalam secarik kertas itu. Dan lagi, sekarang sudah pukul delapan malam, masa iya Kenzo belum pulang kerja. Tapi bisa jadi dia lembur.


Cia menghela napas, hampir menyerah dan sudah menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping pintu apartemen itu. Namun, tepat sebelum ia menelfon ayahnya, suara pintu apartemen itu lebih dulu menyita perhatiannya.


Cia langsung berdiri di tempatnya semula tepat di hadapan pintu itu dan menunggu orang di dalam muncul untuk memastikan kalau dia adalah Kenzo. Dan benar saja, ketika yakin penglihatannya tak salah, ia langsung berhambur memeluk pria itu sampai membuat sang pria melangkah mundur selangkah karena tak siap dengan terjangan gadis yang kini mendekapnya erat.


"Kak Kenzooo, akhirnya ketemuuu."


Dari suaranya saja, Kenzo tahu meski kini ia belum melihat wajah gadis yang tiba-tiba memeluknya.


Cia dapat merasakan dinginnya kulit Kenzo dan baru menyadari kalau pria ini masih basah dan bahkan bertelanjang dada. Namun siapa peduli. Cia sangat merindukannya dan ingin memeluknya erat-erat. Meski entah kenapa... Kenzo belum juga membalas pelukannya.


"Cia, kamu... Sama siapa?"


Cia mendongak hingga akhirnya Kenzo bisa melihat tampang sendu yang selalu bisa meluluhkannya. Apalagi ketika bibir merah itu mengerucut dan matanya berkaca-kaca.


"Sendirian."


"A-apa?"


Kenzo mencoba untuk melepaskan Cia dari memeluknya. Sekarang hoodie berwarna cokelat miliki Cia nampak basah.


"Kamu sendirian ke Jakarta?"


Dia mengangguk beberapa kali sampai membuat tudung hoodienya turun dari kepalanya. Kenzo mengerjap beberapa kali, kemudian melirik ke arah koper yang cukup besar di depan pintu apartemennya ini.


"Ngapain bawa koper?"


"SURPRISEEEEE," pekik Cia dengan riang sambil merentangkan kedua tangannya. "Aku mau tinggal sama kak Kenzooo."


"APA?"


Sekarang Cia terkesiap sampai hampir terjungkal karena baru kali ini mendengar suara Kenzo sekeras itu padanya.


"Maafin Kakak," ucap Kenzo melihat reaksi Cia karena nada suaranya tadi. Pria itu pun mengambil koper Cia dan menariknya masuk. Tak lupa ia memegang tangan gadis itu dan juga membawanya masuk.


"Duduk dulu," pintanya ketika tiba di ruang tengah berisikan sofa dan televisi, sementara di belakangnya langsung menembus dapur.


Kenzo nampak masuk ke dalam ruangan yang ada di sebelah kanan letak televisi itu berada. Pandangan Cia tak lepas dari tubuh Kenzo yang nampak begitu bagus. Otot perut dan punggungnya terbentuk dengan sangat baik. Cia baru tahu memang karena terakhir kali melihat Kenzo bertelanjang dada adalah saat lelaki itu masih SMA. Sekarang Kenzo sudah berubah begitu banyak dan bahkan terlihat semakin tampan.


"Halo Om, tau dimana Cia sekarang?"


Sepertinya Kenzo menelfon ayahnya. Cia pun menajamkan pendengarannya untuk ikut mendengarkan karena pintu kamar itu tak tertutup.


"Apa? Kok Om bisa sih percayain Cia buat pergi sendirian? Kalau emang mau ke sini, kan bisa minta tolong Kenzo buat jemput Cia. Gimana kalau ada apa-apa?"


Cia mengulum senyumnya mendengar Kenzo ternyata mengkhawatirkannya.


"Iya, Cia udah sampe di sini. Barusan."


"Om izinin Cia kuliah di sini?"


"Astaga, Om. Gimana kalau ada apa-apa sama Cia? Dia masih kecil loh, Om."


Cia cemberut sambil melipat tangan di bawah dadanya. Kok bisa sih Kenzo masih saja berpikir dirinya masih kecil? Ini buktinya sudah mau kuliah, umurnya sudah tujuh belas tahun. Masih saja Kenzo mengatainya anak kecil. Dan pastinya, ayahnya juga setuju dengan pernyataan itu. Karena yang membuatnya bisa berhasil berkuliah di kota ini adalah izin dari ibunya. Dan ibunya tentu membujuk ayahnya.


"Yaudah, Om. Iya, Om."


Sepertinya Kenzo sudah selesai menelfon. Dan beberapa saat kemudian pria itu keluar dari kamar dan sudah memakai kaus. Padahal Cia suka dengan pemandangan tadi. Sebelum mulai mengintrogasi, Kenzo duduk pada sofa lain di ruangan itu.


"Jadi, kamu kuliah di Jakarta?"


Cia mengangguk.


"Motivasinya?"


"Kak Kenzo."


Bahkan sebenarnya Kenzo sudah bisa menebak jawaban itu. Sekarang pria itu hanya bisa menghela napasnya saja.


"Kak Kenzo gak dateng ke perpisahan Cia," lirih Cia, membuat Kenzo jadi merasa bersalah. Dan menelan omelannya kembali.


"Maaf yah, Kakak sibuk."


"Sibuk terus sampe gak bisa angkat telfon dari Cia, yah? Atau bales chat Cia. Atau nanyain kabar Cia ke Tante Klara pas Tante dateng ke sini."


Semua kalimat itu menohok Kenzo sampai membuatnya kesulitan menelan ludah.


"Cia cuma akan makin sedih kalau kita sering komunikasi. Jadi makin sering inget sama kakak nanti."


"Aku lebih sedih Kak Kenzo cuekin aku selama ini. Memangnya aku salah apa?"


"Cia gak salah apa-apa. Kak Kenzo yang salah."


"Jahat," gumam Cia. Kepalanya tertunduk dan air matanya sudah terkumpul di pelupuk mendengar jawaban tak memuaskan Kenzo yang ternyata memang sengaja tidak mau berkomunikasi dengannya.


Hatinya sangat sakit.


Lalu, ia terpikirkan sesuatu.


"Kak Kenzo punya pacar, yah?" tanyanya, tanpa sadar menatap tajam ke arah pria itu.


"Enggak."


Cia menyembunyikan senyumnya dengan menundukkan kepalanya lagi. Setidaknya, ia masih punya harapan, kan?


"Kamu gak bisa tinggal sama Kakak, Cia."


Atau tidak.


Cia mengangkat wajahnya lagi dengan cepat. "Apa? Kenapa?"


Kenzo menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ia kesulitan menjelaskan alasannya pada gadis kecilnya ini.


"Kenapa gak boleh tinggal sama Kak Kenzo? Aku gak berani tinggal sendirian."


Kenzo menghela napas lagi.


"Temen kakak kadang dateng ke sini, nanti kamu gak nyaman."


"Gak papa, nanti aku di kamar aja kalau temen kak Kenzo dateng."


"Cia," panggil Kenzo dengan lembut. "Kak Kenzo udah dewasa—"


"Aku juga." Cia memotong.


"Mana ada!" Namun nampaknya Kenzo tak terima. Jadi sebenarnya yang Kenzo takutkan ini apa? Cia jadi bertanya-tanya.


"Iihh, emangnya aku jadi anak-anak terus selamanya? Aku udah tujuh belas tahun, tau. minggu depan udah mulai kuliah!"


Seakan baru tersadar dengan fakta itu, Kenzo tertegun dan menatap Cia tanpa berkedip. Tak percaya. Ia yakin baru kemarin melihat Cia yang berumur satu hari, dimana pipinya terlihat seperti bakpao mini dan Cia menangis ketika pipinya dicolek sedikit. Mana mungkin sekarang sudah sebesar ini.


"Enggak! Buat Kakak, kamu masih anak kecil." Lantas Kenzo membantah fakta itu.


Cia memutar bola matanya. Namun kemudian, ia terpikirkan sesuatu. "Yaudah kalau gitu apa masalahnya? Kalo Cia masih anak kecil buat Kak Kenzo, harusnya gak masalah kalo Cia tinggal di sini."


"Masalahnya, Kak Kenzo cuma punya satu kamar tidur."


"Itu," tunjuk Cia pada sebuah pintu di sisi kiri televisi.


"Gak ada kasurnya."


"Yaudah, nanti Cia beli kasurnya."


Kenzo mencari akal untuk bisa mendebatnya lagi.


"Padahal enakan di apart sendiri. Mungkin nanti kamu mau ajak temen-temen kamu dateng, atau mau ngapain aja bebas kalau di tempat sendiri."


"Cia tauuu, tapi Cia gak beraniii. Cia gak berani tinggal sendirian."


"Takut apa, sih?"


"Hantu, ih."


"Astaga. Kalau gitu ngapain nekat pergi kuliah ke Jakarta kalau mentalnya aja belum siap gini?"


Mendengar itu, bibir Cia kembali cemberut dan matanya berkaca-kaca.


"Yaudah, satu bulan. Kamu bisa tinggal di sini sampe kamu berani tinggal sendiri. Untuk jaga-jaga, apartemen sebelah sebaiknya disewa aja mulai besok, takut keburu diisi sama orang lain. Nanti Kak Kenzo kabarin papa Cia."


"Ish."


"Kenapa lagi?"


"Gaaaaakkkkk."


Cia sudah malas ngomong sama Kenzo. Padahal dulu, Kenzo selalu menuruti permintaannya. Tapi sekarang, Kenzo sudah banyak mendebatnya.


Tapi sekali lagi, Cia tak kehabisan akal.


"Berarti nanti kalau Cia punya pacar—"


"Kamu punya pacar?"


Padahal belum juga selesai bicara. Tapi reaksi dingin Kenzo tampak menyeramkan saat bertanya seperti itu.


"Eng-gak, maksudku tuh misalnyaaa."


"Gak ada misalnya-misalnya. Gak boleh bawa pacar ke apartemen, kamu juga jangan mau kalau diminta buat dateng ke tempatnya dia."


"Kenapa?" tanya Cia dengan polosnya.


"Astaga." Kenzo terlihat frustasi sampai ia menjambak rambutnya sendiri. "Yaudah kalo gitu kamu tinggal sama kakak aja, besok kakak beliin kasurnya."


Cia tersenyum kemenangan. Bahkan rasanya ia ingin melompat saking girangnya.


Kenzo berdiri. "Malem ini tidur di kamar Kakak dulu. Biar kakak tidur di sofa," ucapnya sambil menarik koper Cia dan membawanya ke dalam kamar. Cia pun mengikuti di belakangnya, melihat kamar Kenzo yang didominasi dengan warna abu gelap.


"Tapi kasurnya besar. Kayanya muat tidur berdua di kasur juga," celetuk Cia, membuat Kenzo langsung menoleh padanya.


"Cia, kan Kakak bilang, Kakak udah dewasa—"


"Terus? Kakak bilang aku masih kecil? Apa yang Kak Kenzo khawatirin?"


Kenzo malah terdiam. Cia mengabaikan pria itu untuk berjalan menuju nakas. Senyumnya terbit kala melihat foto perpisahannya masih menjadi pajangan bagi Kenzo untuk bisa dilihat setiap pagi. Cia senang.


"Yaudah."


Cia menoleh ke arah Kenzo. Tidak mengerti maksud kata yaudah itu.


"Yaudah apa?"


"Yaudah kakak juga tidur di sini. Lagipula kakak gak bisa tidur di sofa," jelasnya. Sekarang Cia malah merasa gugup.


Padahal dulu ia terbiasa tidur seranjang dengan Kenzo. Bahkan hal itu masih dilakukan saat Kenzo sudah masuk kuliah. Tapi kenapa satu tahun tidak bertemu rasanya menjadi begitu canggung dan sangat mendebarkan. Tapi di sisi lain, Cia juga merasa senang.


"Hoodie kamu basah tadi bekas meluk kakak."


Cia sedikit menunduk untuk melihatnya. Luarnya memang nampak basah. Namun tidak sampai tembus ke dalam karena ketebalannya. Lantas Cia pun meloloskan hoodie tersebut dari tubuhnya. Menyisakan kaus crop hitam polos yang tidak menutup bagian pinggang rampingnya dengan sempurna.


"Aku boleh titip di keranjang kotor kakak, gak?"


Kenzo yang semula disibukkan dengan koper besar itu kini beralih menatap ke arah Cia yang menodongkan hoodie padanya. Namun bukan itu yang menarik perhatiannya. Hoodie kebesaran yang semula menutup seluruh lekuk sampai ke paha kini sudah tanggal dan pria mana pun dapat melihat daya tarik dari tubuh wanita itu.


Sial, ternyata bayi merah itu memang sudah dewasa.