My Roommate Is My Neighbour

My Roommate Is My Neighbour
Pemenangnya



Kenzo datang ke sekolah Cia untuk mengambil raport gadis itu. Dikarenakan ayah Cia sibuk, dan ibunya sedang sakit, jadi mereka meminta tolong pada Kenzo. Sedangkan Cia tidak tahu menahu soal itu. Cia sudah khawatir kalau ia tidak akan bisa mengambil raportnya hari ini. Ia hanya bisa menunggu di luar kelas, duduk pada kursi taman sekolahnya sambil makan permen kaki, sementara teman-temannya yang lain sibuk mengantarkan orang tua mereka ke kelas masing-masing.


Tapi tiba-tiba saja ponsel yang sedang digunakannya untuk scroll Tiktok bergetar. Panggilan masuk dari Kenzo. Tak mau membuat Kenzo menunggu, Cia langsung mengangkatnya.


"Ada apa, Kak?"


"Cia, kamu dimana?"


"Di sekolah. Ada apa, Kak?"


"Kakak nyasar nih kayaknya, kelas kamu dimana, ya?"


Cia langsung berdiri. "Kakak di sekolahku? Ngapain?"


"Ambil raport, kan?"


"Iya. Jadi Kakak yang ambilin?"


"Iya. Jemput Kakak dong. Kakak di... Depan kelas dua belas IPS dua."


"Nyasarnya jauh banget. Beda gedung sama kelas aku."


"Yaudah sini susulin."


Sambil terkekeh, Cia mengiyakan Kenzo dan lekas membuang permennya. Ia bukan lagi berjalan, melainkan berlari untuk segera menghampiri pria itu. Padahal hanya hal sederhana, mengambilkan raport, tapi Cia merasa sangat bahagia.


Beberapa menit berlari sampai beberapa kali tak sengaja menyenggol orang-orang di sepanjang jalannya, akhirnya Cia dapat melihat Kenzo. Pria itu berdiri bersandar pada tiang bangunan, kepalanya tertunduk melihat ponsel, meski Cia yakin dia melakukannya hanya untuk terlihat sibuk. Penampilannya yang semi formal dengan kemeja hitam lengan panjang yang terlipat dan celana jeans hitam ditambah sneakers putih, selalu membuat Cia terpana. Padahal sederhana, namun jika Kenzo yang memakainya, ia seperti seorang model yang sedang melakukan sesi pemotretan.


Menyadari ini adalah koridor kelas dua belas dan anak kuliahan di sana nampak keren sekaligus luar biasa tampan, membuat Cia kembali berlari untuk menghampirinya dan langsung memeluknya. Ia tidak mau Kenzo jadi target kakak kelasnya yang cantik nan centil itu.


Harumnya.


Itu yang Cia rasakan ketika ia sudah ada di dekat Kenzo. Kepalanya mendongak untuk melihat wajah pria itu. Akhirnya wajah Kenzo dihiasi senyuman.


"Kakak kaya anak ilang dari tadi di sini," keluhnya, membuat Cia tertawa.


Cia mengurai pelukannya dan menggandeng lengan Kenzo, membawanya untuk mendatangi kelasnya.


"Kenapa ganteng banget sih, Kak? Ngambil raport doang. Mau sekalian tebar pesona, yah?"


"Apasih? Apa yang beda coba? Cuma pake kemeja doang, biasanya kaosan. Yakali ke sekolah pake kaos."


"Yaudah, kenapa emang? Kaya bakal diusir aja."


"Ya kan biar keliatan sopan, Deeek."


"Iihh, jangan panggil aku Dek!" Cia paling benci kalau Kenzo memanggilnya seperti itu.


Dan Kenzo juga mengerti. "Iya, maaf."


Sebenarnya bukan tanpa alasan. Meskipun Cia tahu Kenzo menganggapnya seperti adiknya selama ini, namun Cia tidak mau kalau hal itu sampai benar-benar terjadi. Maksudnya, jika Kenzo memanggilnya seperti tadi, Cia jadi merasa tidak punya harapan sama sekali.


Cia menuntun Kenzo berjalan, tidak melepas gandengannya pada lengan pria itu. Sesekali ia juga menjelaskan tentang sekolahnya dan ruangan-ruangan yang pintunya dilewati. Tidak penting memang, tapi Kenzo juga suka mendengarkan Cia menceritakan semuanya. Sampai akhirnya Kenzo salah fokus dengan isi mulut gadis itu.


"Kamu abis makan apa, sih?"


"Kenapa emang?"


"Lidahnya merah."


"Oh, hehe, makan permen."


"Ish, ngeyel. Sakit gigi lagi baru tau rasa."


"Iihh orang gigi yang sakit udah dicabut sama dokter. Gak usah nakut-nakutin, deh."


"Orang diingetin juga."


"Udah ah sana masuk!"


Ya, mereka sudah tiba di depan kelas Cia. Kenzo mendongak guna melihat papan di atas yang bertuliskan Sepuluh IPA satu.


"Jangan kemana-mana, yah. Tungguin Kakak keluar!"


"Kenapa? Takut nyasar lagi?"


"Iya."


Cia tertawa sambil menganggukkan kepalanya. Kenzo pun masuk ke dalam kelas itu. Untung guru yang akan membagikan raportnya belum datang. Cia berdiri di pinggiran pintu, memperhatikan Kenzo. Di dalam kelas itu, meski Kenzo satu-satunya yang memakai baju hitam, namun Kenzo juga lah yang nampak paling bersinar diantara yang lainnya. Setidaknya itulah yang dilihat oleh Cia.


Kenzo memperhatikan Cia yang berdiri di samping pintu masuk itu. Lantas ia mengulum senyum. Tidak sampai ada seorang siswa yang mendekati gadis itu, kemudian mereka berbincang sebentar, dan Cia ikut pergi dengannya. Alis Kenzo bertaut, ia langsung mengirimkan pesan.


Cia, mau kemana?


Sebentar ya, Kak. Nanti aku balik lagi


Kenzo pun menunggu. Dan seperti yang Cia katakan, ia memang kembali, namun sesuatu di tangannya membuat Kenzo tak senang.


***


"Kamu dikasih bunga?" tanya Kenzo, di punggungnya terdapat tas Cia yang berwarna merah muda. Namun pria itu tak malu untuk memakainya karena Cia yang memintanya untuk dibawakan tasnya. Setelan hitam dan tas pink, dia sudah menjadi black pink.


"Iya, dari Kak Fatah tadi."


"Siapa lagi itu?"


"Kakak kelas aku, lulus tahun ini."


"Nembak kamu?"


"Iya, tapi gak aku terima."


"Tapi bunganya diterima?"


"Gak papa, ini buat salam perpisahan aja, kan kita gak bakal ketemu lagi. Lagipula, bunganya cantik. Bunganya juga gak ada salah apa-apa. Daripada dia buang karena patah hati, mending aku ambil aja."


"Nanti dia kira kamu kasih harapan."


"Enggak. Aku udah tegasin kok kalau aku gak bisa terima dia."


Kenzo membukakan pintu mobilnya untuk Cia. Gadis itu pun masuk ke dalam. Disusul oleh Kenzo beberapa saat kemudian. Pria itu menaruh tas Cia di jok belakang. Diliriknya sekali lagi setangkai mawar merah yang Cia pegang dan sesekali gadis itu cium. Menghela napas sebentar, Kenzo pun mulai melajukan mobilnya.


"Cia dapet peringkat dua."


"Waaaah ada kemajuan." Cia sampai lupa untuk bertanya soal peringkatnya. Lantas Kenzo tersenyum padanya, terlihat bangga.


"Pertahanin ya, atau semoga bisa lebih baik lagi."


"Iya iyaaa. Kakak mau kasih apa, niih?"


"Hmm apa, yah? Cia mau apa?"


"Jalan-jalan aja." Karena bagi Cia, quality time dengan Kenzo lebih berharga daripada apapun.


"Oke, Cia mau kemana?"


"Camping, yuuuk."


"Camping? Serius?"


"Iyaaa. Kayaknya seru gak, siihh?"


"Ribet," kata Kenzo yang sudah pernah. "Banyak yang dibawa. Tenda, matras, kompor, lagian serem juga, gelap di hutan."


"Ih, jangan di hutan, doong!"


"Loh, namanya juga camping."


"Di yang rame-rame aja, Kak."


"Cia mau camping di pasar?"


"Ih, Kak Kenzooo."


Kenzo jadi ikut tertawa. "Terus dimana dong, Cia? Oh, mau ke Ranca Upas aja? Bisa camping juga di sana, ada penangkaran rusa, loh."


"Mau mauuu."


"Yaudah, lusa yah," kata Kenzo.


"Tapi tidurnya gak harus sendiri-sendiri, Kan?" Itu adalah salah satu kekhawatiran terbesar Cia.


"Enggak, dong. Nanti Cia ditemenin rusa kalau gak berani tidur sendirian."


Cia langsung memukuli lengan Kenzo sambil meneriaki namanya. Merasa kesal karena Kenzo meledeknya terus dari tadi.


Namun belum juga sampai rumah, tiba-tiba saja Kenzo menepikan mobilnya.


"Tunggu sebentar, yah."


"Mau kemana?"


"Sebentar aja."


Cia pun mengiyakan dan membiarkan Kenzo keluar. Ia menunggu sambil memainkan ponselnya, melihat chat di grup kelasnya yang ramai mengajak makan bersama karena mereka akan pisah kelas. Cia hanya menyimak, tidak ikut nimbrung. Mereka masih merundingkan tempatnya. Bendahara kelasnya juga membicarakan tentang uang kas. Dia meminta pendapat baiknya dibagikan saja atau untuk membayar makan bersama nanti. Cia akhirnya ikut membalas, ia minta dibagikan saja, karena mungkin dia tidak akan ikut makan-makan bersama.


Dug dug


Cia dikejutkan dengan ketukan di kaca mobil itu. Hp nya hampir saja terlempar. Ia kira pengemis atau pengamen, tapi ternyata itu adalah Kenzo.


"Iseng banget, sih," kesal Cia sambil menurunkan kaca mobil itu. Namun melihat senyuman manis Kenzo dan kemudian sebuket mawar merah yang tiba-tiba dikeluarkan dari balik punggung pria itu membuat Cia tak bisa berkata-kata.


"Camping nya masih lama. Jadi, Kakak kasih bunga dulu, yah." Dengan manisnya Kenzo berkata seperti itu.


Cia mengulurkan tangan, mengambil bunga itu. Masih tak tahu harus mengatakan apa, namun air matanya tak bisa dicegah untuk terjatuh.


"Cia, kok nangis?"


Kenzo membuka pintu, membungkuk di samping Cia duduk dan segera menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Aku terharuuu," jujur Cia, membuat Kenzo tersenyum. Apalagi ketika dilihatnya setangkai bunga yang sedari tadi Cia pegang kini sudah disisihkan. Kenzo mengambilnya dan membuangnya tanpa sepengetahuan Cia, karena gadis itu kini sedang memejamkan mata menghirup dalam-dalam aroma bunga segar yang juga sedang membuat hatinya berbunga-bunga.


"Makasiiihh, Kak Kenzo yang terbaik," pekiknya tepat setelah Kenzo masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan pulang, Cia terus memeluk bunga itu. Dia bahkan lupa dengan bunga yang sedari sekolah ia bawa. Dan senyum kemenangan Kenzo terbit.


Kenzo tidak tahu saja, kalau dalam hidup Cia, Kenzo memang akan selalu menjadi pemenangnya.