My Roommate Is My Neighbour

My Roommate Is My Neighbour
Larangan & Perintah



"Cia, kamu gak boleh keluar pakai baju kaya gitu!" Ujar Kenzo yang terdengar seperti larangan sekaligus perintah.


Ia sudah mengambil hoodie dari tangan Cia dan memasukkannya ke dalam keranjang kotor yang ada di sudut kamar.


"Kenapa?" tanya Cia.


"Jangan banyak tanya, kalau Kakak bilang gak boleh, ya gak boleh."


Cia malah tersenyum. "Kalau di apartemen?"


"Terserah," kata pria itu sambil berjalan masuk menuju ruang ganti untuk mengambil sesuatu.


Cia pun berjalan ke arahnya.


"Jadi maksudnya, orang lain gak boleh lihat, tapi Kak Kenzo boleh?" tanyanya, memancing.


Kenzo mengambil salah satu pakaiannya, berjalan ke arah Cia yang sosoknya sedang tersenyum manis.


"Lihat apa?" tanya pria itu. "Gak ada yang bisa dilihat," lanjutnya sambil menutup kepala Cia dengan sweater besar miliknya. "Pake itu kalo mau tidur. Besok aja bongkar kopernya."


"Iihh, nyebelin."


Tak menggubris Cia, Kenzo mendorong pundak wanita itu ke arah kamar mandi.


"Ganti bajunya, siap-siap tidur!"


Kenzo menutup pintunya ketika Cia sudah masuk ke dalam. Memijat pelipisnya sambil berjalan ke pinggiran tempat tidur dan mengirimkan pesan pada papa Cia.


Om, Cia gak papa tinggal sama aku?


Bukan balasan pesan yang ia dapat, melainkan telfon masuk. Kenzo pun langsung menjawab panggilan itu.


"Halo, Om."


"Iya, Kenzo. Om titip Cia, yah. Cuma kamu yang bisa Om percaya buat jagain Cia di sana."


"Kenzo gak keberatan sih, Om. Tapi apa gak sebaiknya kita pisah apartemen aja? Kebetulan di sebelah aku unitnya kosong. Aku bisa tetep jagain Cia."


"Kamu kan tau sendiri Cia penakutnya minta ampun. Om rasa dia gak bakal mau buat pisah unit sama kamu. Tapi buat jaga-jaga, Om minta tolong buat sewain apartemen nya yah, nanti Om transfer uangnya ke Kenzo."


"Oke boleh, Om. Karena Cia udah berani pergi sampai ke sini, ada baiknya juga kalau dia sekalian belajar mandiri."


"Iya, kamu bener. Makasih ya, Kenzo. Tolong jagain Cia di sana, yah."


Sosok yang sedang dibicarakan akhirnya keluar dan muncul di hadapan Kenzo dengan pakaian yang tadi Kenzo berikan. Namun sial, Kenzo memang hanya memberikannya baju, tapi bukankah tadi dia memakai celana? Kenapa sekarang seperempat paha sampai ke bawah tidak tertutup apapun? Kaki jenjangnya yang putih dan mulus dibiarkan terekspos dan nampak kontras dengan sweater berwarna navy itu.


"Halo, Kenzo?"


"Oh, i-iyah, Om."


Kenzo tidak tahu sudah berapa lama dia bengong.


"Oke, Om."


Sambungan telfon terputus. Kenzo meletakkan ponselnya dan berdiri menghampiri Cia yang baru saja menaruh pakaian kotornya ke keranjang cucian.


"Cia."


"Ya?"


"Kamu gak pakai celana?"


Cia berbalik, sedikit terlonjak karena entah sejak kapan Kenzo sudah berdiri di belakangnya.


"Ya pake, lah!" Gadis itu menarik ke atas sweater yang membungkus tubuhnya. Dan ya, dia memang memakai celana pendek. Membuat Kenzo menghela napas panjang.


"Kamu harus lebih hati-hati."


"Maksudnya?"


"Kalau ada temen Kakak ke sini, pokoknya jangan pakai kain sepotong," titah Kenzo, terdengar kesal.


"Iya ih, bawel."


Cia menggamit lengan Kenzo, menggandengnya dan membawanya berjalan menuju tempat tidur.


"Aku udah lama gak ketemu Kak Kenzo, pengen cerita banyak. Kak Kenzo juga besok libur, kan? Jadi kita begadang yah, malem ini."


Kenzo hanya menurut saja saat tubuhnya yang lebih besar diseret oleh tubuh mungil Cia.


"Mau cerita apa?"


Cia melompat ke tempat tidur lebih dulu, berbaring tengkurap dan menepuk sisinya. Kenzo membenarkan bantal ke kepala ranjang untuk membuatnya duduk bersandar.


"Kamu gak mau istirahat aja? Memangnya gak capek?"


"Capek nya ilang setelah ketemu Kakak."


Tangan Kenzo terulur untuk menarik hidung Cia karena gemas. "Mana ada kaya gitu."


"Beneran, tauuu."


"Gimana kabar Cia?" jadinya malah Kenzo yang tanya-tanya, Cia menahan ceritanya dulu.


"Aku baik. Sekolahku juga baik, nilaiku bagus dan aku lulus seleksi SNMPTN loh, Kak."


"Hebat," puji Kenzo sambil menepuk pelan puncak kepala Cia. Yang diperlakukan seperti itu kini tersenyum lebar dan kedua kakinya bahkan berayun-ayun. Seperti anjing kecil yang menggoyangkan ekornya ketika merasa senang.


"Yang rajin kuliahnya, yah."


"Pasti, doong. Nanti kalau udah lulus, aku mau kerja di tempat Kak Kenzo, biar kita tetep sering ketemu."


"Emang susah yah masuknya?"


"Iya."


"Kalo gitu," Cia bangun, berlutut di samping Kenzo lalu tangannya terulur menepuk puncak kepala Kenzo seperti yang Kenzo lakukan padanya tadi. Lalu Cia berkata, "Kak Kenzo juga hebat."


Kenzo tertawa lagi. Tangannya menarik pinggang Cia hingga wanita itu jatuh ke pangkuannya. Lalu Kenzo memeluknya, atau sebenarnya ia ingin melakukan hal itu sejak pertama kali melihat Cia di depan pintu apartemennya. Namun rasa terkejutnya membuatnya menunda melakukan hal itu.


"Kakak juga kangen banget sama Cia," gumamnya, menyandarkan dagunya pada pundak Cia. "Maafin Kakak, yah."


Cia membalas pelukan itu sambil berusaha menahan tangis. Entah kenapa ia menjadi sangat cengeng kalau sudah bersama dengan Kenzo.


"Selama kakak gak ada, siapa yang nemenin Cia jajan?" tanyanya, merenggangkan pelukannya hingga bisa melihat paras mungil Cia yang cantik dan lucu.


"Kenzie."


Alis Kenzo mengernyit keheranan. "Yang bawa mobil?"


Kenzie adalah adik Kenzo yang berusia tiga belas tahun.


"Kenzie bawa motor."


"Ya ampun, kan bahaya. Kenzie juga belum punya SIM. Emang dibolehin sama mama papa?"


"Gak papa, tuh."


"Masa sih?"


"Diomelin, sih. Abisnya gimana lagi. Tapi kadang aku juga ajak temen kalo Kenzie lagi gak bisa."


Kenzo menghela napas berat. Menyurai rambut Cia lalu menyelipkan anak rambutnya ke balik daun telinga. Cia memang tidak bisa membawa motor atau mobil. Mungkin itu karena Kenzo selalu memanjakannya dulu dan selalu bersedia kapanpun jika Cia butuh dijemput atau diantar. Jadi gadis itu tidak mau belajar berkendara sampai sekarang. Akhirnya dia yang repot sendiri kalau kemana-mana.


"Kak Kenzo beneran belum punya pacar?"


"Bener."


"Kenapa? Gak mungkin kan kalau modelan gini gak laku."


"Modelan gini gimana maksudnya?"


"Ya kaya Kak Kenzo gini. Ganteng, keren, pinter, baik lagi. Mana ada perempuan yang gak mau."


Kenzo berdehem, pujian itu sebenarnya membuatnya sedikit salah tingkah. Namun ia segera mengenyahkannya. "Kakak gak ada waktu. Tau sendiri dari zaman sekolah sampe kuliah, kakak udah ngebagi waktu kakak, dan gak ada waktu lain buat pacaran."


"Tapi sekarang udah kerja?"


"Terus?"


"Ya kan waktunya cuma buat kerja, gak ada kegiatan lain lagi. Berangkat pagi, pulang sore, weekend libur, bahkan Kakak gak pernah pulang. Kukira selama ini Kakak jalan sama pacar, ternyata masih jomlo juga. Kalo gitu kenapa coba gak pulang aja? Aku kan pengen jalan-jalan sama Kakak. Traktir aku kek pas Kakak gajian. Kak Kenzo pelit banget giliran udah kerja. Dulu aja, punya uang dikit langsung bawa aku jajan."


Bukannya menjawab ucapan Cia. Kenzo malah memandangi wajah Cia lamat-lamat lalu memeluknya lagi. Kali ini, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu, mencari harum bayi yang selalu membuatnya merasa tenang. Cia juga harusnya sudah terbiasa dengan kelakuan Kenzo yang seperti ini. Ya, dari dulu, Kenzo kerap kali memeluknya dengan posisi seperti ini bahkan sampai ketiduran.


Namun sekarang rasanya berbeda. Cia masih merasa nyaman dan tentu senang. Namun, ia juga merasakan hal lainnya. Apalagi ketika deru napas hangat Kenzo menyapu kulit lehernya.


"Kak," panggilnya lirih.


"Kakak kira ini cuma mimpi. Tapi denger cerewetnya Cia, Kakak jadi tau kalau ini bukan mimpi."


"Kalau Kakak kangen banget sama aku, kenapa kakak gak pulang aja?"


"Nanti berat rasanya buat ninggalin Cia lagi. Cia pasti nangis lagi."


Ternyata itu alasan sebenarnya.


"Pokoknya sekarang Cia gak mau jauh-jauh dari Kak Kenzo lagi," putus gadis itu sambil merangkul Kenzo dengan erat seakan tidak ada hari esok.


Kenzo terkekeh dan menghadirkan rasa geli yang membuat Cia menggeliat menjauhkan lehernya dari wajah Kenzo


"Geli, Kak," jujurnya. Kenzo memperhatikan wajah Cia yang memerah. Lantas ia merengkuh pinggang wanita itu dan menurunkan Cia dari pangkuannya.


"Ayo tidur," ajaknya, menarik selimut yang terlipat di bawah kaki mereka.


"Ih, aku aja belum cerita."


"Besok aja. Kan besok Kakak libur. Sekalian kita jalan-jalan dan beli kasur."


Cia bersorak senang dan langsung merebahkan dirinya. Kenzo pun membenarkan posisi bantalnya agar ia bisa berbaring dengan nyaman.


"Selamat tidur, Kak Kenzo."


"Selamat tidur, Cia."


Kenzo menepuk tangannya hingga membuat lampu utama mati dan menyisakan lampu nakas yang menyala. Kemudian ia merasakan Cia memegangi ujung kausnya. Kenzo tahu betul sebenarnya kalau Cia takut gelap atau ruangan yang redup. Namun, Cia juga tahu kalau Kenzo tidak bisa tidur kalau ruangannya terang. Jadi Cia tidak banyak protes. Toh, selagi ada Kenzo bersamanya, ia bisa berpegangan pada ujung kaus Kenzo.


Namun Kenzo menawarkan lain. "Mau dipeluk?"


Dengan cepat Cia menjawab, "Mauuuu."


Kenzo pun memiringkan tubuhnya, menenggelamkan Cia dalam pelukan hangatnya.


"Dulu Kakak bahkan gak berani pegang kamu karena kamu kecil banget dan takut kamu nangis. Sekarang, Kakak bisa peluk kamu kaya gini."


"Kan udah dibilang kalau aku udah besaaar."


Kenzo terkekeh lagi. Memeluk Cia lebih erat dan mencium puncak kepalanya sambil bergumam, "Enggak. Sampe sekarang kamu masih bayi kecilnya Kak Kenzo."


Dia masih menolak kenyataan itu.