
Di waktu ini, harusnya langit sudah cerah dan matahari sudah muncul dari ufuk timur. Namun, karena sejak pukul tiga dini hari hujan turun hingga saat ini, membuat ruangan itu masih remang karena tak ada cahaya yang menyelinap dari sela tirai jendela. Langit begitu gelap dan hujan masih begitu deras di luar. Bahkan beberapa daerah sudah terendam banjir.
Dua sejoli di dalam kamar itu masih berbaring di atas ranjang yang empuk dan nyaman. Meski yang satunya sebenarnya sudah bangun, namun masih tidak mau beranjak dari tempat tidur dan sibuk mengamati sosok yang semalam tidur seranjang dengannya.
Diperhatikannya wajah yang terlihat tenang itu. Hidung mungil yang mancung, bibir tipis yang merah dan bulu mata lentiknya yang lebat membuatnya kadang terlihat seperti boneka hidup. Apalagi ketika matanya terbuka dan netra cokelat terangnya seakan bisa menghipnotis siapapun yang melihatnya.
Kenzo tak bisa membayangkan ada berapa banyak pria yang sudah dibuat jatuh cinta sekaligus patah hati oleh pemilik paras ini. Beruntungnya, hanya dirinya yang bisa begitu dekat dan menyentuh boneka hidup ini. Sekarang saja, Kenzo masih mengapit Cia dalam pelukannya. Membelai kepalanya dengan lembut dan merasakan betapa harumnya kulit Cia.
"Eengh... Kak Kenzo."
"Hmm?"
Kenzo kira Cia terbangun. Tapi ternyata gadis itu hanya melantur dan masih lanjut tidur. Sepertinya dia memang kelelahan karena perjalanan kemarin. Apalagi, itu adalah perjalanan pertamanya yang dilakukan seorang diri. Pasti sepanjang jalan sebenarnya dia merasa gugup dan khawatir. Namun Cia berhasil melewatinya dan kini berada dalam dekapannya.
"Engh berraat."
Kenzo terkekeh, menurunkan kakinya dari menindih kaki Cia yang sosoknya mulai meronta.
"Kak Kenzo."
Sekarang dia benar-benar terbangun. Dengan mata sayunya ia menatap Kenzo yang memandanginya tanpa suara.
"Jam berapa?" tanyanya dengan suara serak.
"Jam delapan. Tidur lagi aja, diluar hujan dari semalem. Pasti banjir dimana-mana. Kita gak jadi jalan-jalan kali ini. Besok Kakak masih libur, besok aja, yah."
Cia melenguh lalu mengangguk dan kembali menyembunyikan dirinya dalam dekapan hangat Kenzo. "Aku mau bangun siang."
Kenzo tersenyum, menarik selimut dan menutup tubuh mereka kemudian ikut terlelap kembali.
***
Pukul satu siang. Setelah selesai makan, akhirnya Cia membongkar isi kopernya dan menaruh isinya di dalam lemari Kenzo. Numpang dulu untuk sementara karena di kamarnya memang belum ada apa-apa. Mereka juga batal keluar hari ini karena melihat di berita kalau ada beberapa titik banjir yang disebabkan oleh hujan semalaman. Sekarang bahkan masih mendung dan gerimis.
"Masih muat, kan?" tanya Kenzo yang baru masuk ke dalam ruang ganti.
"Masih, kok. Aku gak bawa baju banyak."
"Tumben. Biasanya liburan aja bawa bajunya dua koper."
"Soalnyaaa kali ini aku pergi sendirian. Ribet bawa banyak-banyak."
Betul juga, pikir Kenzo. Biasanya kalau pergi liburan, meski Cia yang paling banyak membawa koper, tetap saja yang dibawanya hanya sling bag saja. Karena kopernya akan dibawa Kenzo dan ayahnya. Ya, Cia adalah Ratu bagi mereka.
Kenzo keluar dari ruangan itu dan membiarkan Cia merapihkan barang-barangnya sendiri. Cia menggantung beberapa dress nya dan menaruh pakaian yang dilipat di bawahnya. Sementara ********** ia masukkan dalam laci yang sudah dikosongkan oleh Kenzo sebelumnya. Setelah selesai dengan pakaiannya, Cia menyeret kopernya lagi menuju ke meja nakas di samping tempat tidur. Pertama, ia meletakkan foto berbingkai yang sebenarnya sama dengan foto pada nakas satunya. Lalu mengeluarkan buku-bukunya, alat tulisnya dan macbook nya.
Cia membuka laci nakas itu dan menaruh barang-barangnya di sana.
"Ciaaa, mau nonton film bareng, gak?"
Cia menoleh untuk menjawab pekikan itu, "Mauuu."
"Yaudah buruaaan!"
"Sebentar lagiii."
Belum sempat membereskan semuanya, Cia menempatkan kopernya di samping nakas dan berlari keluar. Ia mendapati Kenzo sudah duduk di sofa dengan semangkuk popcorn yang sepertinya dia panggang sendiri.
"Nonton apa?" Cia duduk di sebelahnya, merebut popcorn dari tangan Kenzo.
"Gak tau. Nonton apa, yah?"
"Yang penting jangan horor."
"Udah tau. Makin nanti kalo nonton horor, ke kamar mandi aja minta ditungguin."
Cia berdecak sambil melempar popcorn pada Kenzo. Namun dipungutnya popcorn itu dan Kenzo makan.
"Romance aja," saran Cia. "Cocok suasananya nih, lagi ujan-ujan."
"Romance apa?"
"Yang After Ever Happy aku belum nonton," celetuk Cia membuat Kenzo langsung menatapnya terkejut.
"Heh, kamu nontonin itu?"
Seakan baru ketahuan mencuri, Cia meringis dan berusaha menyembunyikan dirinya di balik mangkuk popcorn. "Seru tau, Kaaak."
Kenzo berdecak-decak sambil menggelengkan kepala.
"Lagian aku udah cukup umuuur. Aku nontonnya pas udah tujuh belas tahun, kok." Cia mencoba membela diri. "Kakak udah nonton juga kan filmnya gimana."
"Kakak kan udah dewasa."
"Aku juga udaaah." Entah berapa kali Cia harus mengatakan itu. Mulutnya sampai pegal rasanya.
Kenzo menghela napas berat. Dan tentu saja dia tidak memilih film yang Cia sebutkan. Ia khawatir suasananya akan menjadi canggung. Akhirnya mereka lebih memilih untuk menonton film action berjudul Ghosted yang diperankan oleh Chris Evans dan Ane de Armas.
"Udah pernah nonton ini?"
"Belum."
"Kakak juga belum."
Film dimulai. Cia menaruh mangkuk popcorn itu di atas meja. Kenzo pun mengambilnya dan gantian ia yang memakannya. Cia mengambil bantal sofa, meletakkannya di atas pangkuan Kenzo dan dilanjut dengan kepalanya yang diletakkan di atas bantal itu. Kenzo hanya membiarkannya saja.
"Ganteng banget ya Mas Evans."
"Mas Mas, sok akrab banget."
"Ceweknya juga cantik, yah." Kenzo ikut berkomentar.
"Biasa aja, tuh."
"Hilih."
"Udah deh makan popcorn aja!"
Kenzo menyuapi mulut Cia dengan popcorn. Wanita itu mengernyitkan kening namun tetap mengunyah suapan popcorn dari Kenzo. Mereka terus menonton tanpa suara selama beberapa saat. Sampai akhirnya Cia menyadari sesuatu, "Bisa-bisanya ketemu di pasar terus langsung ngajak ngedate."
"Namanya juga film."
"Iya sih. Tapi, aku juga kalo yang ngajak kencan macem Chris Evans, walaupun ketemunya di pasar ikan, pasti aku iyain— mmh."
Lagi-lagi Kenzo menyumpal mulutnya dengan popcorn.
"Kak Kenzo ih, nyebelin."
"Udah, nonton aja!"
Akhirnya Cia fokus nonton kembali. Namun tetap saja dia tidak bisa diam. "Ceweknya juga keren banget."
Kenzo diam saja kali ini. Sampai akhirnya kedua pemeran itu duduk pada ayunan dan tokoh wanita itu menceritakan bagian sedih hidupnya. Kedua sejoli itu fokus menonton hingga tiba pada adegan ciuman yang membuat Cia langsung memutar kepala untuk melihat Kenzo.
Kenzo yang menyadari itu langsung tertunduk untuk menatap balik Cia yang sepertinya memiliki pertanyaan untuknya. Terlihat jelas dari sorot penasarannya itu.
"Apa?" tanya Kenzo.
"Kak Kenzo pernah ciuman, gak?"
Kenzo memutar bola matanya dan menutup mulut Cia. "Dah nonton aja!"
Dan tentu saja mendapat jawaban yang tak diinginkan itu membuat Cia jadi semakin penasaran. Ia menarik tangan Kenzo yang menutupi mulutnya kemudian bertanya lagi, "Pernah, ya, Kak? Sama siapa? Gimana rasanya?"
Meski sebenarnya hati Cia perih mengetahui fakta itu. Namun ia juga tidak bisa menjadi egois. Karena hubungannya dengan Kenzo saja sangat tidak jelas. Jadi tidak sepantasnya ia merasa cemburu.
"Biasa aja. Gak ada rasa apa-apa."
Cia langsung terduduk bersila menghadap Kenzo. "Jadi udah pernah ciuman?" tanyanya lagi untuk memastikan. Matanya tertuju pada bibir Kenzo yang berwarna merah muda dan terbelah di bagian bawahnya. Sialan, sudah ada yang mencoba bibir sexy Kenzo sebelum dirinya. Cia jadi kesal.
"Udah deh, gak usah tau-tau, masih kecil." Kenzo menarik Cia untuk berbaring lagi seperti tadi.
Gadis itu nampak cemberut namun tidak berkomentar apa-apa lagi dan kembali fokus menonton. Namun saat adegan mesra dan panas kedua pemeran itu kembali, Kenzo menutup mata Cia. Cia mencebik kesal, memutar kepalanya ke arah Kenzo lagi alih-alih ke arah tv namun matanya ditutup.
"Katanya gak punya pacar. Tapi udah ciuman," omelnya, yang tentu dapat didengar oleh Kenzo.
"Nanti juga kamu ngerti."
"Maksudnya?"
"Ada hal-hal yang gak bisa kakak jelasin sama kamu."
Cia tahu bahwa setiap orang pasti memiliki rahasia. Begitu pun dengan Kenzo. Namun, rasanya sedih kalau Kenzo bahkan merahasiakan sesuatu darinya. Apa alasannya? Apakah rahasia itu bisa menyakiti dirinya? Kalau iya, maka benar kalau Cia juga tidak mau mendengar rahasia Kenzo.
"Aku cuma pengen tau gimana rasanya. Tapi yaudah, seperti kata Kak Kenzo, nanti juga aku ngerti." Cia menolehkan kepalanya lagi ke arah televisi sambil terus mengoceh, "Lagian bentar lagi juga aku kuliah. Nanti aku punya pacar, bisa ciuman sama dia."
Setelah mengatakan itu. Tangan besar seseorang menangkup wajah Cia untuk menolehkan kepalanya menghadapnya. Cia tertegun melihat ekspresi dingin Kenzo dan tatapnya yang lurus namun tak terbaca.
"Apa?" tanya Cia. Ia tahu kemana tatap Kenzo pergi. Bibirnya. Dan itu sukses membuat wajah Cia terasa panas.
"Gak boleh."
"Gak boleh apa?"
"Gak boleh punya pacar."
Cia mengernyitkan keningnya. "Kenapa?"
"Kuliah yang bener. Gak usah pacaran. Katanya mau kerja di tempat Kakak kerja?"
Benar juga. Ia kan harus fokus belajar.
"Yaudah, nanti sama orang random aja, gak usah pacaran."
"Apanya?"
"Ciumannya."
"Hah?!"
"Buktinya kakak aja bisa ciuman walaupun gak pernah punya pacar."
"Astaga, Cia."
Cia bangun dari posisinya. Malas mendengarkan omelan Kenzo selanjutnya.
"Udah ah, aku mau nonton sendirian aja."
"Mau nonton apa? After?"
"Terserah Cia."
Wanita itu langsung melenggang pergi menuju kamar. Ia pasti akan menonton film di MacBook nya. Di tempatnya duduk, Kenzo menyurai rambut dan meremasnya. Sejak kapan bayi kecilnya jadi sekeras kepala ini? Cia memang memiliki rasa penasaran yang besar dan sering bertanya sejak ia kecil. Bahkan kebiasaan itu masih terus dipelihara olehnya. Namun, semakin dewasa ini, Kenzo semakin sulit untuk menjawab setiap pertanyaannya.
Dan apa katanya tadi? Dia akan berciuman dengan orang random? Lihat saja siapa yang akan berani menyentuh bibir Cia. Siapapun pria itu, dia pasti sudah siap untuk kesulitan makan dengan mulutnya.