
"Cia, aku anter pulang, yah?" Denis berhasil mengejar Cia yang sudah lebih dulu keluar dari kafe tempat mereka berunding untuk memutuskan dimana akan melakukan kerja kelompok yang baru dibagi tadi. Sekalian membagi tugas masing-masing.
"Kak Kenzo udah mau jemput."
Denis nampak muram. "Kak Kenzo udah jalan, yah?"
Cia memeriksa ponselnya, melihat dimana lokasi Kenzo sekarang. "Iya, udah mau sampe," ujarnya.
Denis tak mengatakan apa-apa lagi, namun masih berdiri di samping Cia. Sesekali Cia meliriknya dan berpikir berkali-kali untuk menyampaikan pertanyaan yang sudah lama tersimpan di kepalanya.
"Denis?" panggilnya, ragu. Yang dipanggil langsung menanggapi dengan cepat.
"Iya, Cia?"
"Kamu gak cape ngejar-ngejar aku?"
"Aku gak ngejar-ngejar kamu."
"A-apa?"
Malu. Cia merasa sangat malu. Harusnya ia simpan saja pertanyaan itu untuk selamanya. Apakah sebenarnya Denis sudah tidak menyukainya dan hanya ingin berteman baik dengannya saja? Jawaban Denis barusan seakan mengatakan itu. Namun, penjelasan Denis selanjutnya malah membuat Cia merasa malu karena tersipu.
"Aku sekarang berdiri di samping kamu. Bukan lagi ada di belakang. Itu artinya ada sedikit kemajuan, bukan?"
Bahkan pria itu tersenyum manis pada Cia sampai kedua matanya menyipit. Kalau dilihat-lihat lagi, benar kata Oliv bahwa Denis tidak kalah tampan dari Kenzo. Dan yang pasti, Denis punya tujuan yang jelas kenapa mendekatinya.
"Denis—"
Tiin tiinn
Mobil Kenzo sudah tiba.
"Kamu mau ngomong apa?"
"Cia, ayo masuk!"
Berhenti tepat di depan Cia.
"Aku pulang dulu yah, Denis."
"Oh yaudah, hati-hati, yah."
Cia hanya tersenyum menanggapi itu dan segera masuk ke dalam mobil dimana sang pengemudinya masih memberi sorot tak menyenangkan ke arah pria yang masih berdiri di tepian jalan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Katanya kerja kelompok?"
"Iya, kok."
"Cuma berdua?"
"Enggak. Temen-temen aku masih di dalem kafe. Aku mau pulang duluan, terus Denis nyusulin nawarin nganter aku pulang. Aku bilang Kak Kenzo udah jemput."
"Jadi selain satu kampus, ternyata Denis juga satu jurusan sama kamu. Terus sekarang satu kelompok juga?"
"Iya." Seakan baru sadar akan itu, Cia pun nampak terkejut. "Eh, iya ya. Kok bisa, yah? Kebetulan banget."
Cia mendapati ponselnya berbunyi tanda masuk pesan. Ternyata orang yang sedang mereka bicarakan yang mengirim pesan padanya.
Kamu tadi mau ngomong apa?
Denis pasti penasaran dengan ucapan Cia yang terpotong tadi. Padahal Cia cuma mau bilang untuk jangan mendekatinya lagi. Tapi sekarang, Cia membalas lain.
Gak papa, bukan apa-apa kok.
"Cia?"
Cia terkesiap saat tangannya diambil oleh Kenzo sambil pria itu memanggilnya. Jantungnya jadi berdebar-debar dan ia merasa sangat gugup.
"Kenapa, Kak?"
"Cia udah lebih sibuk ya sekarang. Lebih sibuk dari Kakak."
Akhirnya Cia memasukkan ponselnya ke dalam tote bag nya. Melepas tangannya dari genggaman Kenzo untuk menggandeng lengan pria itu, lalu menggenggam tangan Kenzo kembali. Tangan yang selalu membuatnya hangat.
Kembali mendapati perhatian Cia sepenuhnya membuat Kenzo mengulum senyuman.
"Iya. Capeeee banget banyak tugas."
"Namanya juga kuliah. Nanti Kakak ajak pergi healing kalo kamu udah mulai liburan semester."
"Ih, seriiuus?!! Kemana?"
"Kemana aja, terserah Cia. Nanti Kakak ambil cuti."
"Aaaaaa makasiih. Kak Kenzo emang yang terbaik."
Akhirnya di sepanjang jalan diisi dengan nyanyian riang Cia karena lagu yang ia suka diputar oleh Kenzo di dalam mobil itu. Terlihat sekali kalau suasana hati Cia sangat-sangat baik sore itu.
***
Mereka akhirnya pulang setelah makan malam diluar. Ya, tadi setelah menjemput Cia, mereka tidak memutuskan langsung ke apartemen karena hari juga mulai gelap. Alhasil sambil menunggu waktu makan malam, mereka pergi menonton film ke bioskop. Sekarang sudah pukul sepuluh dan mereka baru saja sampai.
"Kak, shower di kamar mandiku gak nyala," lapor Cia, padahal dia sudah membayangkan mandi air hangat lalu tidur dengan nyenyak.
"Yaudah besok dibenerin. Pake kamar mandi Kakak dulu aja."
"Yaudah Kakak dulu, deh."
"Kamu dulu aja."
"Gak papa Kakak dulu." Soalnya saat Cia masuk kamar itu, Kenzo terlihat sudah akan memasuki kamar mandi. Tapi sekarang Kenzo malah berjalan lagi ke tempat tidur.
"Cia duluan aja. Abis itu langsung tidur."
Cia tersenyum jahil mendekati Kenzo dan menggenggam satu jarinya. "Mandi bareng aja."
Terlihat jelas ekspresi terkejut Kenzo dan Cia merekamnya baik-baik dalam ingatannya. Sampai sedetik kemudian Cia tertawa dan berlari ke kamar mandi. "GAK JADI, DEH. NANTI KAK KENZO MENANG BANYAK."
Kenzo hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lihat, kan! Cia memang tidak pernah menjadi dewasa. Gadis itu masih saja suka bermain-main. Meski sebenarnya, tadi Kenzo sungguh sangat terkejut dengan ajakan itu. Apalagi melihat Cia begitu serius saat mengatakannya.
Kenzo menghela napas, membaringkan dirinya dan memainkan ponsel sambil menunggu Cia selesai mandi. Ia ternyata mendapat pesan dari ibunya yang bertanya kapan dirinya pulang. Kenzo membalas dia akan pulang bersama Cia minggu depan.
"KAK KENZOOO?"
"APAAA?"
"CIA PAKE SABUNNYA YAAAH?"
"IYAAA."
"SIKAT GIGINYA JUGA."
Kenzo melotot tak percaya mendengar itu. Pasti Cia bercanda, kan?
"YA JANGAN SIKAT GIGI JUGA, CIAAA!"
"TELAAAT, UDAH CIA PAKEE."
Kenzo sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi. Maka apalagi sekarang yang tidak ia bagi dengan Cia kalau sikat gigi saja sudah sampai dipakai bersama?! Bahkan sejak tinggal bersama, Cia tak segan-segan memakai pakaian miliknya. Sweater dan hoodie nya yang sering hilang dari lemarinya dan berpindah ke lemari wanita itu.
"Udah, sana mandi!" suruhnya pada Kenzo yang baru menoleh ke arahnya. Kenzo pun berdiri sambil menanggalkan kemejanya yang kancingnya memang sudah ia buka sejak ingin masuk ke kamar mandi.
Cia yang masih berdiri di depan pintu malah mematung dan kesulitan mengalihkan pandangannya dari pemandangan menggoda iman di hadapannya ini. Sekarang Cia tidak heran darimana munculnya setiap kotak di permukaan perut Kenzo karena setiap hari libur, Kenzo menyempatkan waktu untuk pergi ke gym.
"Jadi, siapa yang menang banyak?"
Cia terkesiap, akhirnya mengalihkan pandangannya dan mendongak melihat wajah Kenzo yang dihiasi senyuman kemenangan. Membuat Cia mencebik lalu buru-buru mendorong pria itu agar masuk ke dalam kamar mandi. Meski begitu tawa menyebalkan Kenzo masih dapat ia dengar.
Cia yakin parasnya sangat merah sekarang.
Cia sudah berjalan hendak menuju kamarnya. Namun, ponsel Kenzo yang menyala di atas tempat tidur itu membuat Cia penasaran. Ia mendengar suara gemercik air di dalam kamar mandi, jadi Kenzo pasti tidak akan keluar. Akhirnya Cia mendekati tempat tidur, meletakkan pakaian kotornya di ujung ranjang dan duduk meraih ponsel itu.
Ternyata yang membuat ponselnya menyala adalah pesan masuk dari ibunya Kenzo, Tante Iren.
Bunyinya begini,
Kamu gak tidur bareng sama Cia kan di sana, Kenzo? Jangan mentang-mentang apart kalian sebelahan ya
Cia mengernyitkan kening. Apakah Kenzo berbohong pada ibunya? Tapi ada baiknya juga sih Tante Iren tidak tahu bahwa selama ini mereka tinggal bersama. Kalau tahu, Cia yakin Tante Iren akan langsung datang ke sini dan memisahkan mereka. Padahal orang tua Cia saja tidak masalah kalau dirinya tinggal dengan Kenzo. Karena mereka percaya dengan Kenzo. Tapi mamanya sendiri malah tidak percaya dengan putranya.
Sudah dibilang Kenzo hanya menganggap Cia seperti adik saja. Meskipun Cia juga sangat kesal dengan fakta itu. Dan Cia bahkan yakin kalau Kenzo tidak bernafsu padanya. Tapi sulit sekali meyakinkan Iren soal itu.
Ada pesan masuk lagi dari kontak bertuliskan Mama.
Mama ingetin sekali lagi ya Kenzo, Cia udah dewasa, jangan tidur seranjang lagi sama Cia!
Cia jadi kesal membaca pesan itu. Alhasil, jemari Cia bergerak untuk membalas pesan itu.
Kenzo gak nafsu sama Cia Maaaaa
Cia mendengus kasar setelahnya. Melempar ponsel itu dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, tak lupa menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia sangat kesal. Kesal dengan Iren, lebih kesal juga dengan Kenzo. Pria sialan yang ia cintai itu tak pernah menganggapnya sebagai wanita.
Sampai kapan hubungan kakak beradik ini akan berlangsung?
Apakah memang tidak ada kesempatan bagi Cia?
Haruskah Cia membuka hatinya untuk pria lain?
Cia banyak memikirkan perihal hubungannya dengan Kenzo sampai tanpa terasa dia tertidur dengan pulas.
Beberapa saat kemudian Kenzo keluar dari kamar mandi dan mendapati ada sesuatu bersembunyi di dalam selimutnya. Tidak perlu dibuka juga Kenzo tau apa alias siapa yang ada di dalam selimutnya.
Ia mengeringkan rambutnya dan memakai pakaiannya sebelum mendekati tempat tidur. Namun, melihat segumpal pakaian kotor di sudut ranjangnya membuatnya terpaku sesaat. Berpikir sepertinya Cia belum sama sekali pergi ke kamarnya sendiri untuk sekedar memakai baju kalau pakaian kotornya saja masih ada di sini. Kenzo mengambil pakaian kotor itu dan menaruhnya dalam keranjang miliknya.
Wanita ini benar-benar tidak memiliki kewaspadaan.
Kenzo duduk di pinggiran tempat tidur, menarik sedikit bagian selimut itu untuk melihat Cia. Ternyata wanita itu sudah tertidur pulas.
"Cia," panggilnya sambil menepuk pelan pipi Cia.
Cia melenguh dan membuka sedikit matanya.
"Pindah kamar sana, Kakak mau tidur."
Bukannya bangun, gadis itu malah berguling memberikan ruang lebih banyak di sisinya. Karena berguling seperti itu, tubuhnya jadi tergulung dengan selimut.
"Cia mau tidur sinii."
Kenzo terdiam sesaat, menggaruk belakang lehernya lalu berdiri.
"Yaudah, kalo gitu kakak yang tidur di kamar Cia, yah."
Mata yang sudah terpejam akhirnya terbuka lagi. Menatap heran ke arah Kenzo. "Kenapa? Kenapa gak tidur sama Cia?"
Kenzo kesulitan menjawabnya. Meski memang ia menganggap Cia seperti adiknya sendiri, namun kalau keadaannya seperti ini, ia juga jadi mengkhawatirkan hal-hal yang bisa saja terjadi.
"Seenggaknya kamu pakai baju dulu," kata Kenzo akhirnya.
Cia mengerang malas. Meski begitu ia tetap terbangun dan mengeluarkan dirinya dari dalam selimut, membuat Kenzo menunduk guna mengalihkan pandangan. Seperginya Cia dari tempat tidur, barulah Kenzo naik ke atas ranjang itu, membenarkan selimutnya yang berantakan karena ulah Cia.
Namun melihat arah berjalan Cia bukannya ke pintu keluar, membuatnya harus kembali memanggil wanita itu.
"Cia, itu bukan pintu keluar."
Cia bahkan tak mendengarkan. Ia masuk ke dalam ruang ganti kamar itu. Membuat Kenzo lagi-lagi membuang pandangannya ketika tali bathrobe yang harusnya terikat ke depan sudah menjuntai di setiap sisi pakaian itu. Jantungnya berdebar. Kenzo menarik napas panjang, seraya memijat pangkal hidungnya. Ia tak habis pikir. Apa sebenarnya yang Cia pikirkan?
Kenzo mencari-cari dimana ponselnya yang baru saja berbunyi. Ternyata ada di ujung tempat tidur. Rasanya tadi dia tidak menaruhnya di sana.
Ternyata pesan masuk dari ibunya yang bunyinya sangat ambigu.
Yakin kamu?
Kenzo akhirnya membuka room chat dengan sang ibu. Melihat balasan yang ia kirimkan dan sudah pasti bukan dia yang mengirimnya. Pasti Cia.
Kenzo gak nafsu sama Cia Maaaaa
Yakin kamu?
Kenzo membaca ulang terus menerus pesan itu. Sampai akhirnya sosok yang dibicarakan sudah keluar dari ruang ganti memakai sweater miliknya dan celana pendeknya yang dipakai Cia hingga menutup sampai lututnya. Wajahnya masih tampak mengantuk, sementara rambut panjangnya tergerai sedikit berantakan. Kenzo memandanginya, tak berkedip. Cia berjalan ke tempat tidur dan menjatuhkan dirinya dengan mata yang langsung terpejam begitu saja.
Namun sepertinya merasa bahwa Kenzo masih memperhatikannya, mata Cia yang sayu kembali terbuka. "Kenapa?" tanyanya dengan suara lemah.
"Kamu bales chat mama?"
Cia langsung cemberut. "Iya. Tante Iren nyebelin."
Kemudian ia mendekati Kenzo dan memeluknya. "Gak seneng kalo aku deket-deket Kak Kenzo."
Akhirnya Kenzo meletakkan ponselnya ke atas nakas. Mengangkat tangan Cia dari atas perutnya. Membuat Cia mengernyitkan kening karena Kenzo tidak mau dipeluk olehnya.
"Mama Kakak cuma khawatir sama Cia."
"Aku tau. Makanya aku bales gitu biar Tante Iren gak khawatir."
Cia mendapati Kenzo memiringkan tubuh berbaring menghadapnya. Tangannya masih ada di genggaman pria itu.
"Memangnya Cia gak khawatir?"
"A-apa?"
Bukannya menjawab, Kenzo malah tersenyum. Mendekatkan wajahnya di ceruk leher Cia dan lengannya merengkuhnya seperti kebiasaannya selama ini. Harum Cia kali ini tak seperti bayi. Namun, entah bagaimana sabun yang biasa dipakainya beraroma lebih manis di kulit Cia.
"Kak Kenzo?"
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti aku menikah," Cia memberi jeda karena tubuhnya sampai tertarik merapat pada Kenzo karena lengan Kenzo lebih erat memeluknya. "Kakak gak bisa peluk aku kaya gini lagi."
"Cia baru masuk kuliah udah ngomongin nikah."
"Kalo gitu aku ganti, deh. Kalo Kakak udah nikah—"
"Kakak belum ada rencana buat nikah."
Cia berdecak kesal. Susah emang ngodein si Kenzo. Dah lah Cia cape. Mau tidur aja. Ia memutar posisinya membelakangi Kenzo, membuatnya berjarak namun tak lama Kenzo menariknya lagi hingga tubuh mereka merapat.
Lalu, bagaimana caranya Cia bisa berpikir untuk mencari yang lain kalau Kenzo nampak tak bisa menjauh darinya sama sekali?