
"KAK KENZOOOO."
Cia berteriak dari sejak kakinya menyentuh teras rumah itu. Seragam SMA nya masih melekat di tubuhnya. Ya, dia belum ganti baju padahal hari sudah sore. Dan alasannya mendatangi rumah itu adalah untuk meminta Kenzo mengantarnya ke gerai Mixue, Cia pengen makan es krim.
Karena yang di pikirannya sejak tadi hanyalah Kenzo, Cia tidak terlalu memperhatikan kalau di luar tadi ada begitu banyak sepatu.
Cia terus masuk ke dalam sampai akhirnya tiba di kamar Kenzo. Bahkan dia tidak mau repot mengetuk dan langsung membuka pintunya, kebiasaannya yang seperti itu memang tidak bisa dihilangkan. Alhasil, semua orang termasuk dirinya kini terpaku dan saling pandang.
Selain Kenzo, di kamar itu ternyata ada tiga pria lainnya. Sepertinya teman kuliah Kenzo. Mereka nampak menghadapi laptop masing-masing. Cia meringis malu.
Sementara Kenzo langsung bangkit dan berjalan mendekatinya, menutup pintunya saat ia sudah diluar bersama Cia.
"Ada apa, Cia?"
"Hehe gak papa. Yaudah Kakak lanjut aja, aku pulang dulu."
"Emang mau apa cari Kakak?"
Cia menautkan tangannya, ragu untuk bicara, namun karena Kenzo memaksa, ya gimana lagi. "Mau minta anter beli ice cream."
"Eeumm..." Kenzo nampak berpikir. "Bisa nunggu sebentar lagi, gak? Sebentar lagi selesai."
Cia langsung tersenyum senang, dan mengangguk dengan semangat.
"Yaudah aku tunggu sambil nonton TV di bawah, yah."
"Tunggu rumah Cia aja, yah. Nanti Kakak jemput."
"Oke deh."
Seperginya Cia, Kenzo masuk lagi ke dalam kamar, mendapati tatapan penasaran dari ketiga temannya.
"Apaan?" tanya Kenzo merasa tidak nyaman.
"Siapa tuh?" tanya Cahya.
"Adik gue," jawab Kenzo. Dia memang selalu menjawab seperti itu jika temannya ada yang bertanya siapa Cia. Namun tentu saja mereka tidak akan percaya.
"Mana ada, spek chindo kaya gitu."
"Enak aja, Bandung ori itu."
"Masih SMA, yah? Kelas berapa?"
"Gak usah banyak tanya! Kerjain tugas maneh!"
"Yaelah pelit banget. Bagi kontaknya bisa kali, Keeen. Atau punya Kakak gak dia?"
"Gue kakaknya bangsat, mau apa lo?!"
"Astaghfirullah, kasar sekali mulut tuan muda kita." Cahya hampir jantungan rasanya. pasalnya ia tidak pernah melihat Kenzo tiba-tiba marah seperti itu.
Kenzo nampak kesal. Ia memang tak suka jika ada laki-laki yang bertanya-tanya tentang Cia padanya. Ia tak berniat membagi Cia dengan siapapun. Cia hanya miliknya.
...****************...
Kenzo menjemput Cia ke rumahnya untuk menepati janjinya tadi. Meski kini hari sudah malam, namun belum larut. Namun Cia juga tak merasa keberatan. Ia tetap merasa senang karena Kenzo mau pergi dengannya untuk membeli es krim. Sekarang baru pukul tujuh, jadi Cia mau makan di tempat saja, Kenzo pun mengikuti kemauannya. Mereka kini duduk saling bersebalahan dengan Cia yang sibuk makan es krim, dan Kenzo yang sibuk dengan ponsel Cia.
Bukan hal aneh jika Kenzo memeriksa ponsel Cia. Dari isi galeri, kontak, aku sosial media sampai ke WhatsApp. Tak ada yang Kenzo lewatkan. Dalam seminggu, bisa dua atau sampai tiga kali Kenzo melakukan pemeriksaan itu. Cia juga tak keberatan. Begitupula dengan Kenzo, dia membolehkan Cia memeriksa ponselnya juga. Namun karena di ponsel Kenzo tidak ada yang bisa dilihat karena isinya hanya chat tugas dan bahkan dia tidak begitu aktif di sosial media, membuat Cia mendownload game saja dan bermain dengan ponsel itu.
Kenzo sendiri masih sibuk membaca deretan direct massage di Instagram Cia. Akun Cia memang di privasi, dan ada ratusan orang yang tidak dia konfirmasi. Bahkan yang difollow hanya ada satu akun saja, ya, akunya Kenzo yang nyatanya sangat jarang online.
Kenzo pernah bertanya, kenapa Cia tidak menerima permintaan mengikuti orang-orang itu. Dan alasannya karena dia terlalu malas melakukannya. Dan Kenzo agak bersyukur dengan kemalasan itu. Cia bahkan tidak membaca pesan-pesan yang masuk. Kenzo juga menyesal membacanya karena ia jadi kepanasan. Banyak sekali yang mencoba mendekati adiknya ini.
"Cia, mending gak usah pake foto profil, deh."
"Apanya?" tanya Cia karena ia sibuk makan es krim dan tidak begitu memperhatikan apa yang sedang Kenzo lakukan.
"Instagramnya."
"Ih, jangan dong. Nanti dikira akun bodong."
"Yaudah biarin, gak usah dikonfirmasi. Lagian aku gak bacain DM. Kurang kerjaan banget."
Kalau dipikir-pikir iya juga, sih. Tapi tetap saja Kenzo tidak suka melihat akun Cia seramai ini.
"WA kamu juga. Kamu gak save nomor temem-temen sekolah kamu, yah? Kok yang chat pada gak ada namanya, sih?"
"Aku save yang cewek aja, sama guru-guru. Kalo cowok enggak."
Diam-diam Kenzo tersenyum. Namun dia juga penasaran, "Kenapa?"
"Ya gak papa, gak ada urusan aja."
Adiknya memang yang terbaik.
"Denis apa kabar?"
"Maksudnya?"
"Masih ngejar-ngejar kamu?"
"Enggak yang ngejar-ngejar banget, Kak. Cuma dia tuh cukup nunjukin aja kalau dia suka sama aku. Orangnya kalem, jadi ngedeketinnya gak agresif gitu. Jadi aku gak yang gimana-gimana sama dia."
Sedang fokus bicara, tiba-tiba ibu jari Kenzo mengusap sudut bibirnya, ternyata ada es krim di sana, Cia memang agak berantakan kalau makan es krim. Tapi yang membuat Cia sampai menganga dan berhenti bicara adalah saat Kenzo memasukkan ibu jarinya itu ke mulutnya sendiri.
"Ih, jorok," tuding Cia.
"Apa?"
"Tadi, itu dari aku malah dimasukin ke mulut."
"Jorok apanya? Emangnya kamu najis?"
"Iiihh, gak gitu juga Kak Kenzoo."
Cia yakin pipinya kini bersemu. Kadang tingkah Kenzo memang diluar nurul. Cia kan jadi baper.
"Yaudah jangan diladenin si Denis."
"Enggak, kok."
"Iya, pinter."
Kenzo menepuk-nepuk puncak kepalanya sekarang. "Jangan deket-deket sama laki-laki, yah. Brengsek semua."
"Kak Kenzo juga laki-laki."
"Kamu juga boleh jauhin Kakak kalau kamu ngerasa Kakak brengsek."
Cia langsung mengamit lengan Kenzo. "Enggaaak," rengeknya. "Walaupun Kakak jadi orang paling jahat se-dunia, aku gak akan jauhin Kakak."
Kenzo tersenyum geli. "Ya jangan se-dunia juga, Cia. Yang ada nanti kita malah dipisahin sama jeruji besi."
"Ih iya juga yaah, jangan deeh."
"Yaudah abisin es krimnya. Mau kemana lagi abis ini?"
"Boleh kemana-mana dulu? Gak langsung pulang?"
"Boleh. Masih jam delapan, kok. Cia mau kemana?"
"Kemana aja sama Kak Kenzo gak masalah buat aku."
"Bilang aja gak tau mau kemana terus mau muter-muter gak jelas sambil konser di dalem mobil."
"Hehehe kan seru loh kaya gitu, Kaak."
"Iya iyaaa. Apapun buat Cia."
Iya, apapun buat Cia. Selama Kenzo masih bernapas, tentu ia akan memberikan apapun yang diinginkan Cia. Selama itu membuat Cia bahagia dan tak membahayakan dirinya.