My Roommate Is My Neighbour

My Roommate Is My Neighbour
Party



"Wah, Ciaaa."


"Eh, Cia dateng."


"Cia, tumben."


"Cia."


"Cia."


Cia tidak tahu kalau ternyata dirinya seterkenal ini. Alias, banyak yang menyapanya padahal hanya beberapa saja yang Cia kenal. Dan lagi, ternyata pestanya tak seperti apa yang ia bayangkan.


Masih ada balon memang, makanan manis juga ada, tapi minuman warna-warni itu Cia rasa tidak bisa dia minum dengan sembarangan. Satu lagi, permainan meja yang mereka lakukan membuat Cia meringis. Bukan Ludo atau ular tangga. Melainkan TOD dan pertanyaaan serta tantangannya sangat tabu menurut Cia.


Juju saja, Cia jadi agak menyesal sudah datang meski belum ada setengah jam ia berada di pesta itu.


"Hei."


Ada yang menyapanya. Pria jangkung berambut cokelat yang Cia tahu adalah seniornya. Tubuhnya yang bertelanjang dada terlihat basah karena dia baru saja keluar dari kolam renang. Tubuhnya terbentuk dengan bagus. Namun tetap saja, bagi Cia tidak ada yang semenarik Kenzo di tempat ini.


"Cia, yah?"


"Iyah, Kak."


"Gue Rafa."


Cia sudah tahu. Seniornya ini memang cukup terkenal, apalagi di kalangan para gadis. Namanya Rafael, dan dia playboy cap badak.


"Dateng sama siapa, Cia?"


"Sama Oliv, tapi gak tau sekarang dia dimana. Tadi katanya mau ambil minum, tapi ngilang."


Senyuman dari bibir tipis Rafael biasanya mampu menyihir wanita mana pun yang melihatnya. Setidaknya akan membuat jantung berdebar dan salah tingkah. Namun nyatanya itu tak mempan bagi Cia.


"Aku cari Oliv dulu, ya, Kak."


"Biarin aja, gak usah dicari."


Cia merasakan dingin di lengannya yang di pegang oleh Rafa. Alarm bahaya berdengung di kepalanya.


"Boleh pinjem kardigannya?"


"Buat?"


Rafa memeluk dirinya sendiri sambil berkata, "Dingin." Terlihat juga dari tubuhnya yang gemetar. Akhirnya Cia melepaskan kardigan yang dipakainya itu, menyisakan dress peach tanpa lengan yang membuatnya menyesal memakainya. Cia memang nampak manis dengan itu. Namun di tempat seperti ini dengan pakaian yang cukup terbuka membuat Cia merasa gugup.


Kemudian Cia menyadari, dengan Rafael berdiri di dekatnya, tidak banyak pria yang tak dikenalnya mendekatinya seperti tadi. Sepertinya mereka cukup segan dengan seniornya yang satu ini.


"Makasih, yah."


"Iya, jangan lupa dibalikin."


Rafa terkekeh. Kulitnya yang eksotis serta tubuhnya yang berotot dibalut kardigan berwarna merah muda itu malah terlihat lucu. Cia bahkan ikut tertawa setelah memperhatikannya baik-baik.


"Kenapa?" tanya Rafa.


"Haha gak papa, lucu aja liat kak Rafa pake kardigan pink."


"Masa?"


"Iya."


"Lebih lucu yang punya kardigan ini, sih."


"Gombal."


Rafa tertawa, mengeratkan kardigan tebal itu dan memperhatikan Cia yang nampak menoleh kesana kemari. Sepertinya masih mencari keberadaan sahabatnya.


"Masuk, yuk."


"Aku mau cari Oliv."


"Mungkin Oliv ada di dalem."


Bisa jadi. Pasalnya, Cia tidak bisa menemukannya di luar sini.


"Kamu gak pernah dateng ke acara kaya gini, yah?"


"Keliatan, yah?"


"Iya. Kayanya gak nyaman."


Cia meringis dan mengangguk. Bagaimana mau merasa nyaman, kalau di beberapa sudut ia bisa melihat pasangan bercumbu dan saling menyentuh tanpa mempedulikan sekitar. Cia tidak bisa menyaksikan live action yang seperti itu. Ia risih.


"Mau ke atas?"


"Emang boleh? Kayanya gak ada yang ke atas, deh."


"Ya emang gak boleh ke atas, sih. Tapi kalo yang punya rumah udah nawarin, ya gak papa."


Cia terkejut lagi. Sumpah, dia datang ke pesta ini tanpa tahu siapa pemilik pestanya. Ternyata eh ternyata...


"Sorry ya Kak, aku gak tau kalau yang punya pesta Kak Rafa."


"Haha gak papa. Santai aja. Jadi, mau ikut, gak? Nanti Kakak bantu cari Oliv."


Cia mencoba memikirkannya. Kalau dia tetap di lantai bawah, bukan tidak mungkin ada pria yang menghampirinya lagi. Jadi, "Ikut, deh."


Mereka akhirnya menaiki tangga rumah besar itu. Yang dijadikan tempat berpesta memang area lantai satu saja sampai ke halaman belakang. Tidak ada yang boleh naik sampai lantai dua. Namun sepertinya Cia mendapat pengecualian.


"Kakak mau ganti baju dulu."


"Gak nyebur lagi nanti?"


"Kamu mau masuk ke kolam juga emang?"


"Enggak, ah."


Itu benar. Cia agak terharu karena Rafa mengerti akan hal itu.


"Makasih, Kak. Nanti kalo Oliv udah ketemu, aku mau pulang aja."


"Kok buru-buru, sih?"


"Daripada aku malah buat Kak Rafa jadi guardian aku. Kak Rafa jadi gak bisa seneng-seneng di pesta sendiri."


"Pesta kaya gini bisa ada tiap minggu. Tapi Cia nya belum tentu bisa selalu dateng, kan?"


"Haha, iya."


Mereka tiba di salah satu pintu ruangan. "Kakak mau ganti baju dulu. Mau masuk atau..."


"Tunggu sini aja."


"Oke. Jangan kemana-mana, yah."


Cia mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum manis. Rafa membalas senyuman itu dan terlihat gemas.


Seperginya Rafa, Cia berbalik dan berpegangan pada pagar pembatas lantai dua itu. Suara musik dari atas sini lumayan teredam. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam dompet panjangnya. Sudah pukul sembilan malam, waktunya hanya tinggal sejam lagi. Ia mencoba menelfon nomor Oliv, untungnya sahabatnya itu langsung mengangkat panggilannya.


"Liv, dimana, sih?"


"Lo yang dimana, Ci? Gua nyariin lo, nih. Kalo ada apa-apa sama lo, abis pasti gue sama Kak Kenzo."


"Gue di lantai dua."


"APA? Kok bisa? Gak boleh ke sana, tau!"


"Gak papa, gue naik sama Kak Rafa."


"WHAT? Udah cepet turun!"


"Apa sih? Kenapa?"


"Kita pulang aja, Ci."


"Cia."


Cia dikejutkan dengan tangan yang melingkari pinggangnya. Sosok yang melakukan itu kini berdiri di sampingnya. "Kardigannya aku kasih besok, yah. Basah."


"Oh iya, gak papa, Kak."


Cia kembali bicara dengan Oliv yang masih tersambung di telfon. "Gue turun, nih, Liv."


"Oke oke."


Cia menjauhkan diri supaya terlepas dari rangkulan Rafa. "Oliv ngajak aku pulang juga."


"Yaudah, ayo turun."


Cia mengernyitkan kening. Heran kenapa Oliv terdengar sangat waspada pada seniornya ini. Padahal Rafa kelihatan sangat baik, bahkan menjaganya. Sekarang mereka kembali menuruni tangga untuk menuju lantai pertama.


"Oliv buru-buru?"


"Gak tau, tuh. Kakak tau Oliv?"


"Tau. Temen Kakak kayanya lagi deket sama dia."


"Namanya Daffa?"


"Iya, kamu tau Daffa?"


"Enggak, sih. Cuma Oliv curhat aja, katanya lagi deket sama Kak Daffa."


"Kalau Cia?"


"Apa?"


"Punya pacar?"


"Enggak. Tapi ada orang yang aku suka. Cuma orangnya gak peka-peka."


"Ngapain nungguin yang gak peka."


"Gimana yah? Kalau udah cinta, susah sih, Kak."


"Iya juga, sih."


Mereka akhirnya tiba di lantai bawah dan di keramaian itu. Langsung saja seorang lelaki menghampiri Rafael untuk mengajaknya bergabung di sebuah sofa yang dipasang melingkar dengan sebuah meja bundar di tengahnya.


"Rafael, dicari-cari dari tadi lo. Udah mau mulai nih. Ayo buru!"


"Ayo ikut Cia!" ajak Rafael. Merangkul pinggang Cia dan turut membawanya.


"Aku gak ikutan deh, Kak."


"Gak papa, sebentar aja."


Sumpah, Cia pengen pulang. Matanya mengedar mencari keberadaan Oliv. Dan sial, nampaknya Oliv juga ikut di tarik ke lokasi yang sama dengannya oleh seorang pria yang Cia tebak pasti itu yang namanya Daffa.


"Cia gak usah ikutan," kata Oliv. Meminta pengertian mereka.


"Gak papa ya Cia, TOD doang, kok."


Cia bimbang dan merasa disudutkan. Di sisi lain, ia juga melihat Oliv tidak bisa melakukan apa-apa. Apalah daya para junior yang kini dikelilingi oleh senior. Apalagi para kakak senior wanitanya itu meliriknya dengan sinis karena kini ia duduk berdekatan dengan Rafael. Mereka nampaknya ingin seru-seruan. Kalau tiba-tiba Cia pergi, takutnya itu akan menjadi masalah di kemudian hari.


"Yaudah deh, aku ikut."


"Mati gue, Ci," gumam Oliv.


Permainan pun dimulai.