My Love King of Darkness

My Love King of Darkness
Bab 36 MLKOD



Luci menatap dirinya di cermin yang ada di ruangan Layla. Ia memegang rambut yang sudah tertata begitu rapi. Senyum terbit di wajah manisnya. setetes air mata tak terasa jatuh di pipinya. Ini pertama kalinya Luci berdandan seperti ini setelah kematian orang tuanya.


Bayangan masa lalu saat orang tua Luci masih hidup kembali teringat. Membuat wanita itu semakin terisak, Layla yang kaget melihat gadis di depannya menangis memeluknya. Menepuk punggung Luci memberikan ketenangan.


"Apa yang membuatmu bersedih?" tanya Layla masih mengusap punggung Luci.


"Tidak ada." Luci melepaskan pelukan Layla mundur selangkah menjauh dari Layla, tangannya menghapus air mata yang ada di kedua pipi.


Luci menatap Layla ada perasaan canggung saat wanita itu paruh baya itu memeluknya. Sedangkan Layla menatap telapak tangannya, rasa hangat menjalar di tubuhnya. Layla beralih menatap wajah Luci yang memalingkan wajahnya saat kedua mata mereka bertemu.


Layla menatap Luci dari kaki hingga rambut, merasa ada perasaan aneh yang mengganjal dihatinya, terutama setelah memeluk Luci.


Ada apa sebenernya, siapa dia?. Batin Layla masih


menatap intens Luci yang kini menatap ke lantai.


Layla mendekati Luci dan mengelus rambut Luci yang sudah tertata rapi, membuat Luci mendongakkan kepala memandang wajah Layla.


"Apa yang Nyonya lakukan?" tanya Luci saat Layla kembali memeluknya. Namun, Luci diam menerima pelukan Layla.


Debaran di jantung Layla berpacu begitu cepat, merasa ada suatu ikatan yang menarik dari wanita yang sedang ia peluk.


"Maaf," ucap Layla kemudian melepaskan pelukannya yang cukup lama itu.


"Mari kita keluar," ajak Layla sembari melangkah dan membukakan pintu, Luci tersenyum tipis dan mengangguk.


"Terima kasih nyonya," ucap Luci sopan sembari membungkuk sedikit badannya.


"Tak perlu memanggilku nyonya, panggil Bibi saja," tutur Layla menatap intens wajah Luci.


Luci berjalan menghampiri Silvana yang duduk di balik meja kasir. Wanita itu sesekali tertawa kecil melihat kekasihnya yang Luci ketahui bernama Gerald itu sedang menahan kesal terlihat dari raut wajahnya.


Luci sudah berdiri tepat disamping Silvana yang , masih tak menyadari keberadaan orang di sampingnya. Luci menarik kursi yang tak jauh berada di tempatnya. membuat Silvana menoleh kearah sumber suara dari derit lantai yang beradu dengan kaki kursi yang terbuat dari besi itu.


"WOW." Silvana berdiri sambil bertepuk tangan. "Kau sangat cantik Luc,"


"Terima kasih, tapi aku merasa tak pantas seperti ini," ucap Luci ragu sembari menyengir.


Silvana memperhatikan Luci yang kini tampak sangat cantik. kenapa aku merasa matanya terlihat sama seperti bibi ya?. Batin Silvana.


Silvana menoleh kearah pintu ruangan Bibi Layla, matanya menangkap sosok perempuan paruh baya itu sedang memperhatikan Kearahnya dan Luci. Tak lama kemudian masuk ke dalam ruangannya kembali.


Silvana merasa ada sesuatu yang aneh tapi tak ingin terlalu memikirkannya, wanita itu justru pergi melangkah cepat meninggalkan meja kasir setelah menyuruh Luci diam menunggu di situ. Silvana datang bersama Luiz yang merasa bingung. Silvana terus tersenyum melihat Luci yang ketahuan salah tingkah saat melihat Luiz berjalan di sampingnya mendekat kearah meja kasir.


"Kak, kenalkan ini temanku, Luci." Silvana menunjuk ke arah Luci yang masih duduk dengan kepala menunduk.


"Luiz," ucap Luiz datar.


Silvana hanya menggelengkan kepala.


"Kak, setidaknya perkenalkan dengan ramah, atau kalau perlu kakak harus tersenyum,"


"Baik," Luiz melihat Luci yang masih menunduk itu. tangannya terulur. "Hai, kenalkan aku, Luiz," ucap Luiz sembari tersenyum tipis.


Luci menatap wajah pria yang ada di depannya. rasa tak suka muncul di hati Luci, namun di tahannya. Luci menjabat tangan Luiz sebagai perkenalan diantara mereka.


Silvana meninggalkan Luci dan Luiz di meja kasir dan menghampiri Gerald yang membawa nampan berisi minuman. sesekali melirik kearah Luiz dan Luci.


"Kau bisa kembali," ucap Luci menatap Luiz yang duduk disampingnya.


"Kembali kemana? kau tuli!. Dia menyuruh ku untuk menemani mu disini dan itu adalah perintah." Luiz berucap sangat tegas dan tajam.


"Maafkan aku," lirih Luci


"Permisi aku mau ketoilet" ucap Luci meninggalkan Luiz.


Luci menatap cermin yang ada di depannya. menahan amarah. Satu hal yang ia yakini saat ini, bahwa ia harus membalas dendam pada pria yang ada didepannya. Air matanya menetes saat teringat kematian kedua orang tuanya.


*bersambung


maafkan aku ya man teman😂 aku hanya bisa up sedikit. terimakasih buat kalian yang sabar menunggu ku selama ini. semoga tanganku masih mampu ngetik😂😂..


terima kasih banyak untuk para readers tersayang ku. 🥰