My Love King of Darkness

My Love King of Darkness
part 22 klan penyihir



Eudora menatap tajam dengan tatapan membunuh, berjalan mendekati Lorren.


"Siapa dia, kenapa kau sampai begitu marah?" tanya Lorren yang sudah terbatuk mengeluarkan darah.


"Kau menyentuh orang yang salah!"


"Dia Ratu Silvana Efarton Ratu diatas segala klan yang ada, ratu untuk Yang Mulia Gerald!


"A-a-apa?Aku ti-"


"Sudah terlambat!" potong Eudora sembari menatap tajam dan langsung menancapkan tombak di tangannya tepat di jantung Lorren membuat wanita itu mati.


**


Leo tiba di hutan X setelah mengurus sesuatu. pria berjalan mendekati Eudora yang baru saja menancapkan tombak tepat di jantung Lorren.


"Eudora, maaf aku terlambat," ucap Leo menatap Eudora


"kau terlalu lama. aku sudah membunuhnya," jawab Eudora menarik tombak itu dan beberapa detik kemudian tombak tersebut hilang.


"Pergilah, bawa Ratu kembali ke istana. Yang Mulia Gerald sudah menunggunya," ucap Leo berjongkok tepat di samping Lorren.


"Biar aku yang mengurusnya," lanjut Leo.


"jaga dirimu baik-baik," balas Eudora berbalik mendekati Silvana dan membawa gadis itu pergi.


****


Leo sudah berada di gerbang kediaman klan penyihir. para perajurit menyerang Leo saat melihat pria itu membawa Lorren yang sudah tak bernyawa.


pertarungan tak terelakkan, Leo sudah kehabisan tenaga menghadapi hampir seluruh perajurit klan penyihir. Hingga Raven raja dari klan penyihir dan Ratu Esmeralda berada tepat di hadapan Leo.


swosh!


Brugh!


Leo terpental jauh akibat sinar biru yang menghantamnya, Raven menggeram marah, melihat putrinya,Lorren sudah tak bernyawa. Raven mengucapkan sebuah mantra hingga Leo berteriak merintih kesakitan. Dua sinar biru sudah berada tepat di atas kepala Leo.


"Matilah Kau!"


Cratsss


Sinar biru itu meledak, Raven menggeram menahan marah. Raven menatap tajam pada Pria yang berada tepat di depan Leo yang masih merintih. Ledakkan itu nyatanya tak melukai Leo sedikitpun karena kehadiran Gerald.


"Berani kau melukainya." Gerald menatap tajam pada Raven.


"Aku harus membunuhnya. Karena dia sudah menghabisi anakku!" balas Raven tegas tatapannya menunjukkan permusuhan.


"Dia pantas mati," ucap Gerald, matanya beralih menatap Lorren yang tak bernyawa didekatnya terdapat Esmeralda yang menangis.


"Dia sudah berani menyakiti Ratuku, bahkan hampir membuatnya mati!" Gerald berucap tajam, kilatan marah terlihat dari matanya.


Raven dan Esmeralda tertegun mendengar perkataan Gerald. Esmeralda bangkit dan membungkukkan badannya.


"Maafkan kami, Yang Mulia. tolong ampuni kami," ucap Emeralda. Raven yang melihat Esmeralda membungkuk terlihat murka.


"Jangan pernah memohon padanya, dia sudah membunuh anak kita!" Marah Raven tak terima melihat Esmeralda justru memohon ampunan Gerald.


Esmeralda mengangkat kepalanya, dan menggelengkan kepalanya.


"Sudah, ini memang kesalahan Lorren," ucap Esmeralda.


"Ia pantas menerimanya, karena sudah menyakiti Yang Mulia Ratu," ucap Esmeralda.


Raven meramalkan sebuah mantra sinar merah berukuran besar mengelilingi Gerald. Monster besar muncul dan berjalan ke arah Gerald.


Esmeralda yang sudah melihat Gerald mengeluarkan taring beserta Sayapnya, tampak takut. wanita itu ikut merapalkan mantra.


Cratss!


angin berhembus kencang, Sinar biru tepat mengenai Raven membuat Pria itu merintih.


"Apa yang kamu lakukan, Ratuku?" tanya Raven melihat Esmeralda justru menyerangnya.


"Berhentilah atau kita semua akan mati." Esmeralda berucap tegas menatap marah pada Raven.


Raven mengalihkan pandangan memperhatikan perubahan yang terjadi pada Gerald, pria itu terkejut. kembali merapalkan mantra hingga sinar Merah dan Monster yang mengarah pada Gerald menghilang.


"Tolong Ampuni kami Yang Mulia" Raven berlutut bahkan kini sudah bersujud.


"Yang Mulia, tolong ampuni kami." Esmeralda ikut bersujud


Raven meninggalkan kediamannya setelah Gerald pergi membawa Leo. Amarah dan kebencian terlihat dari raut wajahnya.


"Aku pasti menghancurkan mu." geram Raven mengeraskan rahangnya.


Raven sudah berada di kediaman klan Lucifer, dirinya yang sudah mendapat persetujuan menemui Alexander yang menunggu di ruang utama.


"Apa yang membawamu datang kesini?" tanya Alexander begitu melihat Raven.


"Aku ingin kau membantuku menghancurkan Gerald," ucap Raven raut wajahnya masih menampakkan kemarahan.


"Kau ingin menghancurkannya? haha ..." Alexander tertawa mengejek mendengar perkataan Raven.


"Kita bisa musnah sebelum kita bisa menyerang dan menghancurkannya." sorot mata Alexander berubah tajam.


"Aku sudah memiliki rencana untuk menghancurkan dirinya tapi aku butuh bantuanmu."


"Apa yang membuatmu begitu marah?" selidik Alexander memperhatikan Raven.


"Anakku telah dibunuh!" Raven berucap penuh amarah.


"Aku ingin kau menghabisi Leo dan seluruh klan Wolves." Raven menggeram mengingat kematian anak satu-satunya.


"Tentu, aku akan membantumu," ucap Alexander tersenyum sinis.


"Lalu, apa rencanamu?" tanya Alexander menatap Raven.


*Bersambung


hai readers dan teman-teman tersayangku. terus dukung aku ya, jangan lupa like dan komen. hadiah dan iklannya juga boleh.


maaf ya besti kali ini Up nya sedikit karena diriku 2 hari ini sungguh sibuk dan ini aku sempatkan menulis. besok aku bakal double up ya. doakan aku semoga aku tidak sibuk hehehe...


readers tercinta dan teman-teman tersayang sambil menunggu aku up baca karya temenku juga ya. ceritanya menarik dan seru.


blurb.


Miriam adalah putri duyung berambut merah yang pekerjaan sehari-harinya membantu seorang dukun untuk menolong langganannya. Setelah menolong, mereka akan jadi budak siluman.


Sampai suatu hari, Miriam tak sengaja menolong manusia yang tenggelam karena percobaan pembunuhan. Alih-alih mengoda pria itu, Miriam jatuh cinta padanya hingga berniat jadi manusia. Hades putra duyung yang menyukainya, tak rela karena dengan itu Miriam harus menjual jiwanya pada Penyihir siluman ular laut yang licik dengan perjanjian 30 hari harus bisa membuat pria itu jatuh cinta atau jiwanya akan jadi milik Penyihir siluman ular laut itu. Sanggupkah Miriam memenuhi tantangan itu?


Hades pun berjuang untuk menyelamatkannya.


Akankah Miriam mendapatkan cinta Max, si bule tampan dan kaya itu atau menerima cinta Hades yang mencintainya apa adanya?