
Silvana meninggalkan Luci yang masih duduk sambil mengamati Luis diam-diam. Silvana masuk ke dalam ruangan Layla. wanita dengan rambut Pirang itu baru saja merebahkan tubuhnya di sofa untuk merenggangkan otot-otot yang terasa sangat pegal.
Layla masuk ke dalam ruangannya merenggangkan otot-ototnya. hari ini cafenya sangat ramai pengunjung hingga banyak yang rela antri di cafe nya. semua berkat ide Silvana, Ratu kerajaan Vinhart. Layla merebahkan tubuhnya ke atas sofa panjang. belum ada 5 menit tubuhnya menempel diatas sofa, Silvana datangan mengagetkan, membuat dirinya langsung bangun dan menunduk hormat.
"Ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia Ratu?" tanya Layla
"Apa aku mengganggu waktumu, Bibi?" tanya Silvana sambil tersenyum tipis.
"Tentu tidak, Yang Mulia,"
"Panggil Silvana saja, Bi. Bukankah sudah kukatakan kalau aku lebih nyaman di panggil Silvana," Silvana mendekati Layla.
"Bi, apa aku boleh meminta bantuanmu?" tanya Silvana
"Apa yang bisa aku bantu?" Layla mengerutkan keningnya menunggu jawaban Silvana.
"Bisakah Bibi membantu merias sahabatku seperti dulu Bibi meriasku. Aku ingin sahabatku tampil memukau hari ini," pinta Silvana dengan wajah memohon.
Layla langsung mengiyakan permintaan Silvana. Layla keluar dari ruangannya bersama Silvana, kemudian pergi meninggalkan Cafe. Silvana sendiri duduk kembali di dekat Luci.
Sementara Gerald sudah menghela napas kasar, saat dirinya harus membawa nampan berisi makanan dan di serahkan pada Luis, Eudora ataupun Leo. Semua terlihat sangat kerepotan dengan ide Silvana. Silvana terkikik geli saat ada beberapa wanita yang mengajak Gerald foto namun selalu di tolak oleh Gerald.
"Luc, aku kesana sebentar ya." Silvana menunjuk ke arah Gerald berada.
"Iya, aku disini saja tidak apa-apakan?" tanya Luci tak enak hati.
Silvana menganggukkan kepala dan meninggalkan Luci untuk menghampiri Gerald. Silvana langsung merangkul lengan Gerald mesra. dan tersenyum menatap ketiga wanita yang sejak tadi berusaha meminta foto Gerald. sebenarnya banyak yang meminta foto pada Gerald namun di tolak dan pria itu selalu mengatakan sudah mempunyai istri bahkan Leo, dan Luis menawarkan diri untuk foto menggantikan Gerald. Dan ternyata mereka menerimanya karena baik Leo dan Luis sama sama tampan.
"Permisi, Maaf Nona-Nona. Ini suami saya tidak bisa menerima Foto bersama wanita lain," ucap Silvana tersenyum ramah.
Ketiga wanita yang melihat itu pun merasa iri melihat kecantikan Silvana dan betapa beruntungnya memiliki Suami yang super tampan seperti pelayan di depan mereka.
Silvana yang melihat tidak ada reaksi dari ketiga wanita itu kembali berkata. "Bagaimana kalau minta Foto dengan Pria itu." Tunjuk Silvana pada Leo yang masih Foto bersama 2 gadis muda.
"Pria itu, single," lanjut Silvana lagi.
ketiganya pun tersenyum lebar dan menganggukkan kepala. Silvana memanggil Leo. Gerald hanya tersenyum melihat kejahilan Ratunya.
"Mereka ingin foto denganmu, kau dahulukan mereka ya, aku mau bersama suamiku dulu," jelas Silvana dengan menahan tawa.
Leo menaikkan alisnya menatap ketiga gadis yang ada di depannya. melihat Leo yang ingin protes Silvana kembali berkata. "Setidaknya berikan waktu 5 menit untuk mereka," membuat Leo tak bisa menolaknya.
Silvana menarik lengan Gerald menuju meja kasir, wanita itu tertawa saat melihat pipi Leo di cubit gemas oleh ketiga wanita itu.
"Kenapa kau begitu usil, Ratuku," ucap Gerald tersenyum manis sembari mencubit gemas hidung Silvana.
Luci yang melihat kemesraan antara Silvana dan Gerald ikut tersenyum senang. matanya beralih menatap sekeliling mencari keberadaan Luis. Tapi, dirinya terkejut saat sebuah tangan menarik lengannya. Luci menoleh melihat sudah ada wanita berambut pirang di sampingnya.
"Ayo ikut aku," ajak wanita itu yang ternyata Layla.
"Kemana? Dan nyonya siapa?" tanya Luci menyipitkan matanya.
"Aku Layla, Bibi dari Leo. Silvana menyuruhku untuk membantu menghias wajahmu," jelas Layla. Luci menaikkan sebelah alisnya dan memandang Silvana yang masih asik bersama kekasihnya.
"Ayo," ajak Layla lagi membuat Luci tak punya pilihan selain mengikutinya.
Dengan kecepatan kilat dan tangan ajaibnya, Layla merubah Luci menjadi bak princess yang sangat cantik. Layla memicingkan mata saat melihat kalung dengan bandul permata berwarna biru. Luci menyimpan kalung itu kedalam tasnya. selama ini Luci memang memakai kalung hanya saja tali kalung itu begitu panjang di tambah pakaian Luci yang selalu tertutup hingga tidak memperlihatkan bandul kalungnya.
"Kalung itu, kamu dapat dari mana?" tanya Layla menatap penasaran pada Luci.
"Emm ... Ini kalung dari ibuku," jawab Luci pelan sembari menunduk.
"Ibu-" ucapan Layla terhenti.
"Ibuku sudah lama tiada," potong Luci dengan suara lirih. Membuat Layla mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.
**Bersambung
hai hai balik lagi nih. maaf ya gaes kemaleman. baru pulang bestieku.
terima kasih aku ucapkan untuk readers tersayang ku yang sudah setia membaca karya recehku ini.jangan lupa terus dukung aku ya. dengan like komen dan subscribe. bagi yang punya vote jangan lupa Vote diriku juga ya🥰