
Eudora menatap Valir dan menganggukkan kepala, kemudian membentangkan sayapnya dan melebarkan sayap satunya untuk melindungi Silvana. Valir terbang dan menggerakkan tangannya ke bawah, kesebuah portal putih yang berisi banyak manusia. Mata Valir sudah berubah lu merah dengan api biru yang bercampur dengan sedikit petir hingga menjadikan sebuah kilat.
"Kau perg-"
Brangg!
Ucapan Valir terhenti seiring tubuhnya yang terpental jauh. Sebuah cahaya hitam menyeret tubuh Valir hingga jarak yang cukup jauh dari Eudora dan Silvana. Rosaline tertawa keras melihat tubuh Valir yang terpental dan terseret oleh kekuatannya.
“Kau lengah, Valir.” Ucap Rossaline berdiri tak jauh dari Valir.
“Rosaline ….” Valir bangun dan berdiri tegap.
Valir menatap Eudora yang tengah berbicara pada Silvana. Rosaline mengikuti arah pandang Valir dan tersenyum senang.
“Ah, ada Ratu Silvana ternyata. Maaf tak menyapamu terlebih dahulu, malah aku langsung membuatmu takut.” Rosaline mengucapkan itu dengan sinis dan tertawa mengejek.
“Kau bahkan tak pantas untuk menjadi Ratu untuk Gerald,” Rosaline menatap Silvana dengan senyum sinisnya.
“Cih, kau yang tak pantas untuk berbicara dengan Ratu, Rosalin!” Eudora balas menatap Rosaline dengan sengit.
“Lama tak berjumpa, kau semakin lancang ternyata, Eudora!” Rosaline terlihat kesal dengan Eudora.
“Itu karena kau tak pantas untuk dihormati, Rosaline,” Valir menjawab dengan tersenyum sinis pada Rosaline.
“Lakukanlah kak. Aku bisa menjaga diriku, aku berjanji aku akan baik-baik saja.” Silvana meyakinkan Eudora.
“Tidak, Yang Mulia. Aku tetap harus berada melindungi mu,” tolak Eudora dengan raut wajah khawatir.
Valir yang sudah bangkit dan berdiri tegap berjalan dan terbang tinggi. Eudora menatap Valir sebentar dan bersiap untuk menahan dan melindungi Silvana dari musuh.
Valir lalu memejamkan matanya dan membukanya secara perlahan. Mata Valir telah berubah merah seiring dengan rambutnya yang ikut berubah dan sayap yang telah berkembang secara sempurna. Valir mengulurkan tangannya kebawah, menatap pada portal putih yang ia ciptakan.
“Aku, Valir Duton Pattius … dengan ijin dari Gerald Dutton Pattius sang penguasa kegelapan, memerintahkan untuk menyegel semua kekuatan yang akan merusak bumi, tempat di mana seluruh manusia berada …,”
“Aku Valir Duton Pattius … dengan darah Yang sama dimiliki oleh Yang Mulia Gerald di dalam tubuhku, akan menyegel semua ingatan manusia atas kejadian hari ini. Hilang dan kembali normal lah pada jalan yang semestinya.”
Kilatan petir menyambar dan bergemuruh sangat kencang. Angin kencang berhembus dengan membawa seluruh sinar merah dari tubuh Valir. Menyelimuti semua portal putih yang Valir ciptakan. Perlahan seluruh bekas serangan dan ingatan manusia akan hari ini memudar. Mereka semua bingung, dengan keadaan jalan yang ramai tanpa ada suatu kejadian apapun. Lalu semua kembali normal seperti semula.
Kini Valir dan Rosaline bertarung dengan sekuat tenaga, Valir terbatuk pelan dan mengeluarkan darah, itu semua karena Valir masih mempertahankan kekuatanya untuk menyegel. Melihat Valir yang lengah membuat Rosaline hendak menyerang Valir, tapi berhasil di gagalkan oleh Eudora.
Rosaline kembali bertarung tetapi hanya melawan Eudora karena valir hanya mampu diam dan menahan Kekuatannya untuk menyegel tempat itu. Eudora lengah karena menatap Valir yang kembali batuk dan mengeluarkan darah. Saat itu juga Rosaline tersenyum senang dan langsung mengerahkan seluruh kekuatannya tepat di jantung Eudora. Kilatan petir menyambar Rosaline sesaat, namun detik berikutnya, Eudora jatuh terduduk dan ambruk. Eudora terluka parah.
Rosaline tertawa keras menatap Silvana yang mematung menatap tubuh Eudora. Perlahan air matanya mengalir dan rasa amarah menguasainya. Silvana menatap Rosaline yang hendak menancapkan sebuah pedang merah ke tubuh Eudora. Dengan cepat Silvana berlari dan mendorong tubuh Rosaline dari belakang dengan kuat. Membuat Rosaline terjatuh dan terjerembab.
“Kau … berani menyerangku manusia lemah!” Rosaline bangun dan menatap benci Silvana yang mengangkat kepala Eudora ke pangkuannya.
“Kenapa jika aku lemah? Kau kira aku akan takut, hah?!” Teriak SIlvana tanpa memperhatikan Rosaline.
**** Bersambung
hai readers tersayang sambil menunggu aku up baca karya temenku juga ya.
Jangan lupa like dan komen ya biar aku makin semangat up nya. terima kasih 🤗🤗
blurb.
Haura mengalami kecelakaan didepan rumah sakit tempat ia bekerja.
Ketika dia tidak sadarkan diri, di dalam alam bawah sadarnya, ia bertemu sosok pria yang menawarkannya sebuah bantuan, agar Haura bisa menjadi dokter yang sesungguhnya.
Haura melakukan perjanjian dengan arwah seorang dokter, namun sebelum perjanjian itu dibuat, arwah dokter itu memberikan beberapa syarat kepada Haura.
Apakah syarat itu dan setujukah Haura dengan syarat yang diajukan kepadanya?