
Gerald melongo tak percaya pada pakaian yang di pegangnya. Berbanding terbalik dengan Luis dan Leo yang diberikan pakaian seorang raja atau pangeran. Gerald justru diberi pakaian perajurit. Silvana menahan tawa melihat reaksi dari Gerald.
Gerald menaikan sebelah alisnya, saat melihat tawa Silvana. Silvana menarik tangan Gerald menuju ruangan yang di jadikan tempat ganti.
"Ratu, Kamu serius menyuruhku menggunakan pakaian ini?" tanya Gerald memastikan.
"Benar, Suamiku," jawab Silvana sembari membelai pipi Gerald.
Gerald terkejut melihat perbuatan Silvana, juga merasa senang karena Silvana memanggilnya dengan sebutan suami.
"Aku tunggu di depan, ya," Silvana mengecup bibir Gerald dan berlari kecil.
"Hati-hati, Kamu bisa tersandung nanti, Ratuku," ucap Gerald sembari memegang bibirnya.
Gerald sudah berada di ruangan yang sama dengan Silvana, Eudora, Luis, dan Leo. Silvana menatap kagum pada Gerald, karena ketampanan Gerald sama sekali tidak berkurang. Sedangkan Eudora, Luis, dan Leo melongo tak percaya Raja mereka menggunakan pakaian yang di gunakan perajurit biasa.namun, kemudian kesadaran mereka kembali. Leo menahan tawa, Eudora dan Luis menunduk tak berani menunjukkan ekspresinya.
"Jika kalian ingin tertawa, tertawalah," ucap Gerald menatap ketiga pengawalnya.
"Mohon ampun, Yang Mulia," ucap ketiganya menunduk hormat.
Silvana berjalan mendekati Gerald dan mengecup pipi Gerald dan tersenyum manis.
"Ternyata Suamiku ini tetap tampan dengan pakaian apapun itu," ucap Silvana.
Gerald menarik pinggang Silvana hingga dada Silvana menempel di dada Gerald. Gerald mengelus pipi Silvana.
"Tentu," bisik Gerald kemudian mengecup pipi Silvana.
cafe kembali di buka dengan Leo dan Eudora yang berdiri di depan cafe. Gerald dan Luis yang menjadi pelayan dan Silvana yang menjadi kasir. Roland dan Layla ikut membantu. bahkan pasangan itu merasa takut saat melihat Raja dan Ratu kerajaan Vinhart justru menjadi pekerja di cafenya.
Luis dengan sigap mengantarkan menu yang dipesan para pengunjung. tak jarang ada yang meminta untuk foto bersamanya. Silvana yang melihat itu tersenyum dan langsung mengambil spidol warna. Berjalan keluar dan mendekati papan promosi yang ada di luar cafe.
Makan di sini gratis Foto bersama Pelayan tampan.
Silvana tertawa kecil saat selesai menulis membuat Eudora dan Leo yang berdiri tak jauh menghampiri Silvana. Eudora langsung tertawa setelah membacanya. Leo sendiri sempat terkejut namun dengan cepat mengubah reaksinya menjadi seperti biasa. Justru ia membayangkan reaksi Luis yang selalu kaku itu.
Cafe sudah ramai terisi pengunjung, membuat semua terlihat kewalahan. Silvana terkikik geli saat Luis harus berkali-kali harus foto dengan beberapa pengunjung yang ingin berfoto bersamanya. Sedangkan Leo tampak menikmati foto bersama para pengunjung bahkan pria itu sudah tebar pesona.
Lisa yang baru saja tiba di cafe yang di beritahu oleh Silvana itu memandang tak percaya pada keadaan cafe. Silvana menghampiri Lisa yang diam mematung di dekat pintu.
"Lis," Silvana menepuk pundak Lisa pelan hingga membuatnya menoleh.
"Hai, Sil," sapa Lisa
"Ayo, jangan diam disini," ajak Silvana menarik tangan Lisa.
Sebelumnya Silvana sudah mengabari Lisa untuk bertemu di cafe milik Roland dan Layla. Silvana dan Lisa duduk di depan meja kasir, Lisa ikut tertawa saat Silvana menjelaskan apa yang terjadi saat ini. Lisa memandang Luis dari tempatnya.
Silvana yang memperhatikan mata Lisa yang selalu melirik ke Luis yang tampak sibuk melayani permintaan foto dari pengunjung.
***Bersambung
hai hai... maaf yaa kita balik lagi dengan karya recehku ini. dengan adegan yang tipis-tipis. ini namanya nulis mode kebut😂. baru dapat waktu buat nulis. 🤧
terima kasih banyak untuk para readers tersayang ku. selalu dukung aku ya dengan like komen dan subscribe jangan lupa juga Vote bagi yang masih memiliki vote. 🤗ðŸ¤