
Sementara di tempat lain Leo terus berlari mengejar seseorang yang diketahui sebagai pengawal kepercayaan raja Alexander. Hingga dirinya sampai pada sebuah hutan. Disana Alexander telah menunggu dan menatap lurus. Menatap Leo yang baru saja datang.
“Kau datang juga ternyata, Leo” sapa Alexander.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Leo menatap tak suka pada Alexander.
“Aku menginginkan nyawamu!”
“Habisi dia sekarang!” perintah Alexander kepada Verdo pengawal setianya.
“Baik, Yan Mulia,” Verdo membungkukkan badan.
“Cih … kau kira kau bisa melenyapkanku dengan begitu mudah,” Leo membalas tatapan sinis Raja Alexander.
“Kau-” ucapan Alexander terhenti.
Spalsssshhhhh! Sinar dan kabut putih menyelimuti seluruh area bening yang mereka pijaki. Membuat Alexander, Verdo, dan Leo saling memandang.
“Sinar ini,” gumam Leo ragu.
“Apa yang terjadi? Lalu sinar apa ini …,” gumam Leo lagi memandang ragu kesekelilingnya.
Semua peri kecil yang hidup di dalam hutan yang bersembunyi keluar. Terbang dan menari serta mengeluarkan kekuatan. Menahan dan menyegel semua kekuatan yang dapat merusak bumi. Mengelilingi tubuh Alexander, Verdo, dan Leo secara bersamaan. mereka terus mengelilingi tubuh Alexander, Verdo, dan Leo hingga semua kekuatan mereka netral. Mereka bertiga saling memandang dengan pikiran yang tak dapat diucapkan.
“Ratu peri … ini kekuatan Ratu peri,” ucap Alexander menatap Verdo.
“Ratu peri telah ditemukan dan tengah memerintah semua peri? Siapa Ratu peri yang selama ini dianggap hanya khayalan para peri, bagaimana dia bisa muncul sekarang?” tanya Alexander kemudian berlari dan mencari arah sumber kekuatan sinar putih yang menyelimuti bumi.
Verdo yang melihat Raja Alexander berlari ikut mengejarnya, sedangkan Leo yang sempat tertegun itu akhirnya ikut berlari menyusul Alexander hingga akhirnya mereka sampai pada sebuah portal kuat yang tak dapat ditembus sama sekali. Mereka semua menatap tak percaya pada seluruh perbuatan yang Silvana lakukan. Melindungi, mengembalikan dan menyegel kekuatan Rosaline. Mereka semua menyaksikan dari luar portal.
Alexander dan Verdo menelan air ludahnya saat mengetahui apa yang terjadi di depannya. Mereka berdua saling memandang menatap tak percaya.
“Sil-Silvana adalah Ratu peri? Dan dia baru saja menyegel kekuatan terkuat yang Rosaline miliki hingga bersatu dengan jiwanya. Hal yang kami semua takutkan perlahan terjadi. Silvana … jadi dialah wanita yang akan membantu Raja Gerald mengusai dunia!” Alexander berlari bersama Verdo meningalkan tempat itu.
“Cukup Ratu, kau menyakiti dirimu sendiri demi melindungi semuanya,” ucap Leo berkata lirih saat melihat lelahnya tubuh Silvana.
“Ratu, kami sanggup melindungi diri kami sendiri, padahal sudah tugas kami untuk melindungimu. Tapi kau bahkan rela berusaha agar kami tak terluka,” Luis yang sudah berada disana menatap sembuhnya luka Eudora dan pulihnya kekuatan Valir. Menatap mereka yang juga menatap takjub pada kekuatan yang dimiliki Silvana.
Leo menoleh menatap Gerald yang ternyata juga tengah menonton semua yang Silvana lakukan. Leo menundukkan badannya hormat pada Gerald, lalu kembali beralih menatap Silvana. Menatap Silvana yang kembali terbang dan mengulurkan tangannya ke bawah. Sinar biru keluar dengan cepat. Mendominasi sinar putih yang menyelimuti bumi.
“Aku Ratu para peri, memerintahkan seluruh peri untuk melepaskan segel seluruh klan iblis maupun klan yang berusaha merusak bumi ini. Kembalikan mereka pada Raja klan mereka. Katakan … aku datang untuk melindungi semua hal yang akan mereka rusak dan musnahkan!” perintah Silvana, mata Silvana sudah berubah abu-abu seiring tunduknya para peri menjalankan semua perintahnya.
Perlahan semua sinar yang menyelimuti bumi memudar. Portal SIlvana melemah dan kembali menjadi portal merah yang Valir ciptakan. Dua sayap Silvana menghilang seiring dengan melemahnya tubuh Silvana. Tubuh Silvana terjatuh dengan cepat dari ketinggian.
Gerald langsung masuk menembus portal dan terbang lalu meraih tubuh Silvana dalam pelukannya. Membawa Silvana turun dan memeriksa semua keadaan Silvana. Setitik air mata Gerald mengalir. Eudora, dan Valir mendekat. Leo dan Luis juga langsung mendekati Gerald. Sedangkan Alexander dan Verdo yang sudah pergi dari sana memandan dari jarak jauh.
“Cukup Ratuku, kau melakukannya dengan sangat baik. Apa yang membuatmu sangat marah hingga kau kehilangan kesadaraan seperti ini? Hentikan Ratu, semua sudah usai. Kau sudah melindungi mereka dengan sangat baik,” ucap Gerald memeluk tubuh Silvana yang tak sadarkan diri dengan erat.
“Kau sudah membangunkan semua peri yang tertidur di seluruh kehidupan ini untuk melindungi dunia saat darah Peri belum terlalu kuat dan sempurna dalam tubuhmu. Itu pasti sangat menyakitkan untukmu, Ratuku. Sekarang semua sudah usai, kendalikan amarahmu dan kembalilah menjadi Ratuku. Menjadi Ratu kerajaan Vinhart yang lemah lembut dengan senyum manis yan selalu terpancar diwajahmu, dengan cinta yang kau punya menatap kami dengan begitu lembut dan tulusnya,” Gerald mengusap rambut panjang Silvana dan mengusap pipi Silvana berkali-kali.
Eudora dan Valir menitikkan air mata. Menyadari semua hal yang telah Silvana lakukan untuk melindungi mereka. Ratu yang harusnya mereka lindungi kini tengah berjuang meraih kesadarannya kembali. Mencoba menetralkan semua darah peri yang tiba-tiba mendominasi tubuhnya. Mencoba melawan sakit antara perang dalam tubuhnya.
“Yang Mulia, ampuni kami …,” ucap Eudora dan Valir bersamaan.
“Angkat kepala kalian. Ratu sudah mempertaruhkan nyawanya demi melindungi kalian. Jangan tunjukkan wajah itu di depan Ratu. Dia pasti akan merasa sangat kecewa,” Gerald berucap sembari menatap meraka semua bergantian.
“Kalian tahu? Ratu sangat menyayangi kalian semua. Kalian begitu penting untuk hidupnya hingga dia begitu marah saat ada yang menyakiti kalian, dan berpikir tak dapat melindungi kalian semua dengan baik. Amarahnya membangkitkan darah perinya hingga diambang batas tubuhnya,” lanjut Gerald memberi penjelasan.
Semua terdiam dalam pikiran masing-masing. Menatap wajah Silvana yang terlihat begitu lelah. Namun, detik berikutnya mereka mengangkat kepala dan tersenyum penuh arti.
“Ratu terima kasih telah memberikan begitu banyak cinta untukku hingga aku merasakan ingin hidup selamanya demi melindungimu Ratu,” ucap Eudora tersenyum penuh arti.
“Semua hal yang Ratu berikan, itu cukup lebih dari cukup untuk membuatku mengerti … bahwa kami hidup untuk melindungi Ratu dan Raja seumur hidup kami,” Leo ikut berucap sembari menarap Silvana dengan wajah penuh arti.
“Ratu SIlvana … Ratu Vinhart dan Ratu para peri di dunia ini. Kami akan melindungi dunia ini bersamamu. Terima kasih telah menjadikan kami begitu penting dalam hidup, Yang Mulia Ratu.” Luis tersenyum dan menatap wajah SIlvana yang mulai kembali pulih.
“Ratu Silvana … terima kasih kau telah memberikan cinta keluarga yang tak pernah terlupakan, aku mengucapkan begitu banyak syukur atas apa yang telah kau berikan pada kami. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu selamanya,” Valir ikut tersenyum dan memandang Eudora dan Leo.
*** bersambung
hai bsok aku libur ya readers tersayang ku. kepalaku jedag jedug. kurang sehat diriku🤧