
Gerald menatap Silvana yang berada di pangkuannya. tangan Gerald terulur mengusap lembut pipi Silvana yang masih memejamkan matanya. sembari tersenyum tipis.
Eudora, Leo, dan Luis. membulatkan mata lebar saat melihat sinar merah keluar dari tubuh Ratu mereka.
"Yang Mulia-"
Gerald meletakkan telunjuknya di atas bibir, kemudian menatap Luis sesaat dan kembali menatap wajah Silvana.
"Kalian tenanglah, Ratu baik-baik saja. kalian persiapkan mobilnya. Ratu akan segera sadar, dan antarkan Ratu. Aku akan kembali ke Vinhart terlebih dahulu, ada penyusup dari klan penyihir," jelas Gerald.
Mereka menunduk hormat dan menganggukkan kepala. Luis kembali menunduk hormat dan berjalan mundur meninggalkan ruang tamu, dan bergegas ke bagasi mobil. Menyiapkan mobil yang akan di kendarai. Gerald kembali mengusap pipi Silvana. Hingga kelopak mata Silvana bergerak, dan tak lama kedua mata Silvana terbuka. Silvana melihat kesekeliling.
"Apa yang terjadi?" tanya Silvana.
"Tidak ada, Ratu. Kau hanya tertidur dan menjadikan pahaku sebagai bantalan hingga kakiku terasa kram," gurau Gerald sembari tersenyum tipis
"Benarkah? Tuan, maafkan aku. pasti kamu sangat tidak nyaman, maafkan aku. harusnya kamu membangunkan ku," Silvana tampak khawatir dan memegang paha Gerald. membuat pria di sampingnya tertawa.
"Aku hanya bercanda, Ayo kita berangkat sekarang," ajak Gerald tersenyum
"Iya,"
Eudora, Luis, dan Leo memandang satu sama lain. Mereka merasakan Aura yang begitu kuat dari diri Silvana. Silvana dan Gerald masuk kedalam mobil yang telah di siapkan oleh Luis. Eudora dan Leo masuk ke dalam mobil yang lain. Dan ikut meninggalkan kediaman Silvana.
Silvana merema,s tangan nya menyalurkan rasa gugupnya. Gerald yang melihat itu menggenggam tangan Silvana sembari tersenyum memberikan ketenangan. Membuat Silvana menatap wajah tampan Gerald.
Sementara para pemegang saham sudah hadir dan duduk di kursi masing-masing. mereka tampak berdiskusi mengenai kedatangan Silvana. pemilik saham terbesar.
Derap langkah kaki yang terdengar pasti dan saling bersautan, langkah kaki dari Silvana, Gerald yang bergandengan tangan. di ikuti dengan Eudora, Luis dan Leo di belakangnya.
Suara derit pintu ruang rapat terbuka, semua para pemegang saham melihat ke arah tersebut. Luis membukakan pintu untuk Gerald dan Silvana sembari menunduk hormat saat Gerald dan Silvana melangkah masuk.
Dengan santai Gerald menarik kursi untuk Silvana duduk. Silvana duduk dan tersenyum menatap Gerald. Gerald mengelus puncak rambut Silvana dan meninggalkannya. Silvana menatap Eudora, Luis dan Leo bergantian lalu tersenyum.
"Selamat pagi semuanya," Silvana menyapa semua orang yang berada di ruangan rapat.
"Pagi," hanya dua orang yang menjawab sapa Silvana.
Silvana memandang kedua orang itu dan tersenyum. Luis sudah maju selangkah tapi di tahan oleh Eudora. wanita itu menggelengkan kepala.
"Kalau kau tahu sebaiknya serahkan semua pada Carrie yang jelas lebih mengerti soal perusahaan!" Janson berucap sinis.
Bruk! Leo menggebrak meja, membuat para pemegang saham terlonjak kaget. Silvana pun ikut terkejut namun detik berikutnya wanita itu tersenyum.
"Jaga ucapan kalian!" Bentak Leo dengan menatap tajam Jason.
"Tenanglah, Kak," ucap Silvana menyentuh punggung tangan Leo.
"Ah kurasa kita belum berkenalan, Aku Silvana Efarton. Anak kandung dari Brondon Efarton," Silvana beranjak dari tempatnya dan menghampiri tempat Jason.
"Ah ... aku lupa memberi tahu kalian semua, bahwa, Carrie hanya Anak Tiri dari ayahku," Silvana sengaja menekankan kata anak tiri. semua yang ada di ruangan tertegun melihat Silvana. wanita yang selama ini mereka ketahui dari Bu Lyna atau Pak Brondon sebagai anak yang pemalu dan mudah takut ternyata justru kebalikannya.
"Aku lupa memberitahumu ... Carrie sudah mati," bisik Silvana pelan tepat di telinga Jason. Membuat pria paruh baya itu menelan ludah.
"Apa yang ketahui tentang perusahaan, yang ada perusahaan akan bangkrut jika memiliki CEO sepertimu!" sentak pria tak jauh dari wanita yang menyambut sapaan Silvana.
"Benar," ucap orang-orang yang menentang Silvana.
"Diam kalian semua!" Luis ikut marah.
"Hormat pa-" ucapan Luis terhenti oleh Silvana.
"Kakak, biar aku yang menyelesaikan semuanya," Silvana tersenyum menatap wajah Luis.
"Baiklah, Kita akan melakukan pemungutan suara, 1 jam lagi," ucap Silvana kembali duduk di kursinya.
"Aku ingin melihat apa keputusan yang akan kalian buat selama 1 jam ke depan," Silvana berucap sembari menopang dagu dengan kedua tangannya, dan tersenyum miring.Gunawan menunduk saat tatapan matanya beradu pada Silvana.
Eudora, Luis, dan Leo menatap takjub pada Silvana yang berubah kepribadiannya. Terutama Leo menatap dengan binar di matanya, karena Leo cukup tahu bagaimana kepribadian Silvana dulu.
** bersambung
hai readers jangan lupa like komen dan subscribe ya karya recehku ini. terima kasih untuk kalian semua.
seperti biasa masih yang tipis-tipis dulu ya🤧