
Raven sampai di lembah Nahnani. Raven berjalan menyusuri sisi lembah. Raven melempar sinar ungu saat ular piton raksasa menyerang kan, dalam sekejap ular itu meledak.
Raven tiba di sebuah rumah tua, pria itu langsung masuk ke dalam. dan menghampiri seorang wanita yang duduk di kursi sembari meminum segelas darah, tercium sangat amis.
"Dimana mereka?" tanya Raven berdiri tepat di belakang gadis itu.
"Mereka sedang mencari buruan. kau tunggu saja di sini," ucap gadis itu setelah menoleh menatap Reven.
Raven duduk disalah satu kursi yang ada. menatap wanita yang ada di depannya. memperhatikan setiap perubahan yang terjadi pada wanita itu setelah meminum segelas darah. kulitnya yang mengering kembali terlihat segar, bibir yang memucat kembali merah.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya wanita didepan Raven.
"Ahh ... kau pasti penasaran kenapa aku masih meminum ini." wanita itu berkata lagi sembari mengangkat gelasnya, saat melihat Raven diam.
"Ya, kau benar." jawab Raven menyilang kan kakinya.
"Aku tidak menyangka Ratu terdahulu, Rosaline masih meminum darah kotor seperti itu." Raven tertawa mengejek.
"Diam kau!" bentak Rosaline sembari memecahkan gelas yang dipegangnya.
"Haha ... tenanglah. Aku hanya ingin memberitahu mu, bahwa Gerald sudah mempunyai ratu baru." Raven melirik ke arah Rosaline. Raven tersenyum miring melihat Rosaline menggeram.
"Ini semua salah Dekka jika saja aku tidak termakan rayuannya. aku pasti masih bersamanya." ucap Rosaline menggeram marah.
"Tenanglah, jika kau tidak bisa memiliki Gerald kembali, kau bisa melenyapkan wanitanya, bukan."
Raven sengaja berkata seperti itu memancing Rosaline.
"Tidak mungkin, dia pasti lebih hebat dariku." Rosaline kembali duduk
"Dia hanya manusia biasa,"
-------
-------
-------
Silvana melongo tak percaya melihat kelakuan Gerald yang kembali menyuruh para pelayan untuk mengubah penampilan Silvana. pakaian kebesaran seorang Ratu tercetak jelas dari yang dikenakan.
"Apa harus seperti ini, Tuan?" tanya Silvana menyentuh mahkota yang ada di kepalanya.
"Iya, Ratuku." balas Gerald mencium kening Silvana.
------
------
Silvana hanya bisa pasrah menerima perlakuan yang diberikan Gerald padanya. Silvana sudah berada di ruang makan. Makanan yang begitu banyak khusus disediakan untuknya.
Silvana menyuruh Leo dan Eudora bergabung bersama dengan dirinya dan juga Gerald. melihat Gerald mengangguk dan tersenyum keduanya ikut duduk.
"Kalian semua harus ikut menemani ku menghabiskan makanan ini." Silvana mengambil salah satu hidangan yang tersedia.
"Tapi, Ratuku-"
"Aku tidak menerima penolakan, aku akan sangat sedih kalau kalian menolak permintaanku," Silvana memotong perkataan Gerald, sembari menundukkan wajahnya. Silvana tersenyum senang merasa seperti mempunyai keluarga yang sebenarnya saat diirnya makan bersama.
Eudora menemani Silvana di dalam kamarnya atas permintaan Silvana.
"Kak, bagaimana kamu bisa menemukan ku di hutan itu?" tanya Silvana yang duduk di sudut kasur.
“Carrie yang memberitahu,” jawab Eudora tenang.
“Aku kira dia benaran tega meninggalkanku dan ingin aku mati,” ucap Silvana tersenyum merasa bersyukur adik tirinya masih mau menolongnya dengan memberi tahu Eudora. Eudora hanya diam tanpa menjawab.
“Lalu bagaimana dengan Carrie, Kak?” tanya Silvana lagi.
“Aku tidak tahu,”
“Kenapa, Kak?” Silvana merasa aneh dengan jawaban Eudora. Bukankah seharusnya Eudora menjawab bahwa Carrie baik-baik saja.
“Leo yang mengurus Carrie,” jawab Eudora membuat Silvana semakin mengerutkan kening dengan alis yang bertautan.
“Kak, katakan apa yang kamu lakukan pada, Carrie?” Silvana menyipitkan matanya meminta jawaban dari pria yang sejak tadi diam.
“Cepat katakan, Kak.” Silvana kembali bersuara melangkah mendekat Leo.
“Maafkan aku.” Leo berlutut tepat dihadapan Silvana membuat gadis itu tertegun.
---
---
---
Leo dan Eudora mencari keberadaan Silvana yang sejak tadi tidak terlihat, terakhir Silvana izin untuk ke toilet. Namun, sampai saat ini wanita itu belum juga menampakkan dirinya, bahkan Leo dan Eudora sudah mencari di seluruh kampus.
Pikiran Leo tertuju ada Carrie yang tidak terlihat, Leo bergegas menuju ke rumah Silvana dan Carrie, nyatanya wanita itu pun tak ada di rumah. Leo dan Eudora mencari keberadaan Vanessa dan Livia mungkin wanita itu bersama keduanya.
------
------
Carrie tercekat merasakan sakit dipunggung akibat tubuhnya yang membentur tembok dan rasa sakit di lehernya membuat wanita itu tak bisa berteriak akibat Leo yang mencekik Carrie hingga kakinya sudah tak menapak di tanah. Leo yang mengetahui Carrie yang sedang berkumpul bersama Livia dan Vanessa di salah satu Caffe yang tak berada jauh di rumah Livia, mendengar obrolan mereka.
“Akhirnya aku berhasil menyingkirkan gadis cupu itu.” Carrie tertawa setelah mengatakan itu.
“Memangnya apa yang kamu lakukan padanya?” tanya Vanessa penasaran
“Carr, kau tidak takut dengan ancaman Leo?” tanya Livia yang masih merasakan takut akan ancaman yang tadi pagi dilayangkan Leo.
“Kau tenang saja, Loe atau pun perempuan sok cantik itu juga tidak tahu bahwa aku yang membawa Silvana.” Carrie tersenyum sinis pandangannya menerawang saat melihat SIlvana ketakutan menangis.
“Tapi bagaimana jik-” belum sempat Livia melanjutkan perkataannya, wanita itu terkejut melihat Leo yang tiba-tiba muncul dan langsung menghantam tubuh Carrie ketembok dan mencekiknya. Membuat gadis itu mematung.
Para pengunjung café berlari bubar saat melihat kejadian itu. Sedangkan pemilik café dan karyawan café tak dapat berkutik saat Eudora menatap tajam mereka dan mengeluarkan bola api merah dari tangannya.
“Jika kalian ingin tetap hidup tutup mulut dan mata kalian smua.” Eudora berkata dingin tapi tatapan matanya begitu tajam. Mereka semua mengangguk dan menutup mata, mengikuti perintah Eudora.
Sementara Leo menggeram marah dan semakin mengencangkan cengkeraman tangannya pada leher Carrie, rasanya pria itu ingin segera mematahkan leher perempuan dihadapannya.
“Dimana Silvana berada?” Leo bertanya dengan tatapan membunuhnya.
Carrie menepuk tangan Leo agar mengendurkan cengkeraman tangan yang ada di lehernya.
Uhuk! Uhuk!
“Dia ada di hutan X, wanita bernama Lorren menyuruhku membawa Silvana ke hutan itu, atau dia akan membunuhku.” Jawab Carrie masih terbatuk. Wanita itu berharap dengan menjelaskan seperti tu, Leo akan melepaskanya. Namun, Leo justru semakin mengeratkan membuat Carrie semakin merasakan sesak.
“Kau pergilah, aku akan mengurusnya.” ucap Leo menatap Eudora yang berada tak jauh darinya. Eudora mengangguk, kemudian menghilang membuat Livia dan Vanessa melongo tak percaya.
*Bersambung
Hai readers tersyangku baca karya temanku juga ya. Sambil menunggu aku untuk update lagi. Terima
kasih untuk kalian semua. terus dukung aku ya dengan memberikan like dan komen biar aku makin semangat up nya.
Blurb
Rico Dominico, masuk ke ruang bawah tanah di rumah tua milik kakeknya. Dia melihat sebuah buku yang tersimpan secara terpisah. Begitu dibuka ada cahaya yang keluar dari buku itu dan menyeret dirinya ke dimensi dunia lain.
Kini Rico berada di dunia antah berantah, yang dimana para penghuninya memiliki kekuatan sihir dan bisa memanggil hewan suci sebagai pelindung mereka.
Rico mengucapkan sebuah mantra yang bisa memanggil Raja Naga yang legendaris. Hal ini membuktikan kalau dirinya punya kekuatan yang sangat besar. Akibatnya, dia diburu oleh banyak orang yang menginginkan kekuatan
dirinya.
Rico dan teman-temannya melawan Raja Didio yang kejam dan sangat kuat untuk membebaskan negeri Eleanor.
Akankah Rico bisa selamat dari incaran mereka?
Apakah dia juga akan bisa kembali ke dunia aslinya?