
Rosaline tertawa keras menatap Silvana yang mematung menatap tubuh Eudora. Perlahan air matanya mengalir dan rasa amarah menguasainya. Silvana menatap Rosaline yang hendak menancapkan sebuah pedang merah ke tubuh Eudora. Dengan cepat Silvana berlari dan mendorong tubuh Rosaline dari belakang dengan kuat. Membuat Rosaline terjatuh dan terjerembab.
“Kau … berani menyerangku manusia lemah!” Rosaline bangun dan menatap benci Silvana yang mengangkat kepala Eudora ke pangkuannya.
“Kenapa jika aku lemah? Kau kira aku akan takut, hah?!” Teriak SIlvana tanpa memperhatikan Rosaline
Uhuukkk!
Valir kembali terbatuk dan mengeluarkan darah segar. Silvana melihat ke atas tempat valir berada. Rosaline tertawa keras dan memandang Silvana remeh.
“Kau lihat? Dia sudah mulai lemah karena menyegel banyaknya kekuatan iblis yang aku keraskan. Belum lagi menyegel ingatan manusia dan mengembalikan semua keadaan seperti semestinya. Dia akan mati jika bertahan terlalu lama, walaupun dia memiliki darah dan sebagian kekuatan dari Gerald, Dia tidak akan mampu menahannya lagi,” Rosaline tertawa keras sembari menatap remeh pada Silvana.
Silvana menggelengkan kepalanya dan menangis. Mencoba kuat dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
“Itu tidak akan terjadi,” ucap Silvana yakin tatapan matanya begitu dalam.
Rosaline tertawa dan mengeluarkan kekuatannya dan mengarahkannya ke tubuh Valir.
“Kenapa tidak? Aku akan mempercepat kematiannya lalu aku juga akan membunuhmu, Ratu Silvana yang lemah!”
Bhoommm!
Satu serangan dari Rosaline tepat mengenai Valir. Membuat tubuh Valir semakin lemah. Kedua sayap Valir tak dapat terbang dengan sempurna. Valir turun dengan cepat namun berusaha kembali untuk terbang dan menahan semua serangan Rosaline.
“Tidakkk! Hentikan itu semua. Cukup Rosaline!!!”
Rosaline tertawa puas melihat Silvana yang menangis histeris. Hal itu membuat Rosaline merasa sangat senang.
“Kenapa? Apa kau juga belum mengerti mengapa meraka merasakan itu semua? Itu semua terjadi karena mereka memiliki Ratu lemah sepertimu! Harusnya kau yang melindungi mereka, bukan malah membuat mereka celaka. Jadi … ucapkan salam perpisahan pada mereka yang terus melindungi mu!” Rosaline hendak melemparkan pedang di tangannya kea rah Valir, namun terhenti saat Silvana bangun dan berdiri tepat di hadapan Rosaline.
Silvana menatap wajah Eudora yang sudah pucat. Kemudian beralih menatap Valir yang berusaha mempertahankan pelindung itu dengan kondisi yang sudah cukup sampai diambang batas. Bukan kekuatan Valir yang terbatas namun kondisi tubuhnya yang sudah terkena serangan dari Rosaline hingga tak mampu menahan semua beban dari semua kekuatan yang ada.
“Kenapa? Kenapa kau begitu ingin membunuhku dan menghancurkan semuanya?” Silvana berucap dengan tatapan datar melihat Rosaline.
Rosaline tersenyum sinis akan pertanyaan Silvana.
“Karena kau manusia lemah tak pantas kau menjadi Ratu Vinhart! Dan karena kau memiliki darah suci aku ingin mengambil seluruh darahmu,”
“Aku ingin melenyapkan mereka semua yang menentang dan tak lagi mendukungku!” Rosaline tersenyum sinis dengan mata yang menatap benci Silvana.
“Kenapa? Kenapa kau begitu mudah berkata membunuh seseorang? Apa begitu menyenangkan untukmu membunuh seseorang? Apa kau pantas membunuh mereka semua?” Silvana menatap Rosaline yang menatap benci padanya.
“Kau tak per-“ ucapan Rosaline terhenti karena tatapan tajam Silvana dan bola mata yang berubah biru.
“Apa kuasamu atas nyawa seseorang!!!” Silvana berteriak sangat kencang.
Petir menyambar dan di atas kepala Silvana muncul sebuah mahkota yang bersinar sangat terang. Rosaline tak percaya melihatnya. Rosaline mundur perlahan dan menatap nanar pada tiga cahaya yang ada di mahkota Silvana. Silvana memejamkan matanya sesaat. Perlahan kesadaran Silvana hilang, rambut panjang Silvana sudah berubah memutih dan ada dua sayap putih mengkilau keluar dari punggung Silvana.
“Kau bahkan tak pantas atas nyawa seseorang!!!” Silvana tak mampu lagi menahan amarahnya, tangan silvana terulur mengusap air mata yang ada di pipinya. Silvana menatap Eudora dan Valir bergantian.
Brakkkk!
Valir sudah terjatuh karena kelelahan namun tetap mempertahankan semuanya. Silvana berjalan dan menghampiri Valir dan air mata kembali menetes, Silvana tersenyum dalam tangis menatap Valir yang sudah tampak lelah. Membuat Rosaline tersenyum sinis dengan semua perlakuan lembut Silvana.
“Aku akan membantu membebaskan rasa sakitnya dengan cara melenyapkannya,” ucap Rosaline
Silvana mengalihkan pandangannya menatap tajam Rosaline kemudian kembali menatap wajah Valir. Silvana menyentuh wajah Valir dan membersihkan darah yang ada di wajah Valir.
“Cukup, Kak! Biar aku yang mengambil alih semuanya. Kalian sudah cukup melindungiku,” ucap Silvana dengan senyum dan air mata yang mengiri di wajahnya.
Valir terhenyak dan menatap Silvana tak mengerti, Valir begitu terkejut melihat perubahan yang terjadi pada Silvana.
“Ra-ratu … apa maksud Ratu? Dan bagaima-” ucapan Valir terhenti
“Istirahatlah, Kak, aku yang akan melindungi kalian semua.” Silvana bangun dan berjalan menuju Rosaline.
“Cih … sudah selesai kalian bernostalgianya? Apa ada pesan yang belum kau ucapankan sebelum kematianmu?” Rosaline sudah mengeluarkan kekuatan di tangannya.
“Tidak aka nada yang mati di sini tanpa seijinku, Rosaline! Kau sudah cukup membuatku menahan semuanya. Aku muak dan benci pada seseorang yang selalu merasa dirinya paling kuat!” Silvana berucap sangat tajam.
Rosaline menggeram marah, rasa bencinya semakin membesar melihat Silvana yang berani untuk melawannya. Rosaline mengulurkan kedua tangan yang sudah dipenuhi oleh kekuatan dan mengarahkan pada Silvana.
Braaaanggg! Braangggg!
*Bersambung...
hai readers tersayang ku terima kasih atas dukungannya ya. terus dukung aku dengan memberi like dan komen ya. gift dan iklan serta vote untukku ya...
sambil nunggu aku update baca karya dari temenku yang kece ini ya, ceritanya menarik juga loh..
Blurb:
Tersasar di hutan, membuat Tresi bertemu dengan pria yang menjadi impiannya. Pria itu bahkan menolongnya dari kumpulan serigala liar. Tresi pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanpa basa basi, Tresi menyatakan cinta pada pria yang baru dikenalnya tadi.
Sayang, pria itu menolaknya. Tak pantang menyerah, Tresi memilih mencium pria itu. Saat itu, mutiara kehidupan milik Bima, pria yang Tresi cium, berpindah padanya. Mau tidak mau, Bima harus mengambilnya lagi. Jika tidak, hidupnya akan berakhir dalam satu tahun.
Bagaimana cara Bima mengambil kembali mutiara kehidupannya? Apakah Tresi akan tetap mencintai Bima, jika ia tahu Bima adalah manusia serigala? Akankah takdir mempersatukan mereka?