
..." Dersik angin yang bising menyuarakan kegelisahan, rerumputan memohon untuk meminta air Tuhan, merombak habis jangkar kapal nelayan yang kunjung berkarat. Memulai saling membawa gunting untuk memutuskan, memulai saling membawa pisau untuk memotong. Memutuskan hubungan, memotong jalinan kasih yang sempat dulu disambung dengan rasa kecintaan. Hanya berpisah, mungkin adalah jalan terbaik yang terpilih untuk kisah kita. Sudilah perasaan kita menjadi kisah klasik yang abadi, amerta, selamanya." (Prolog)...
[FLASHBACK]
Kabar burung mengisyaratkan kebimbangan, kepiluan, dan ketidaktahuan akan kejelasan sebuah berita. Dengan menyongsong harapan yang tidak ber peri kebahagiaan untuk seorang insan.
Ayam tetangga ricuh berkokok, belimbing ranum jatuh bersama dengan hujan semalam, mencari jawab mengenai hati yang penuh kegelisahan.
(Bel masuk)
..." Rajin bener lu udah di kelas der, nyantai dulu ngapa di depan kek. " Berkata Andre....
..." Ah lagi males gua ndre. " Jawabku....
..." Pasti gara-gara cewe lagi nih. " Berkata Andre....
..." Hahaha, udah lah. " Jawab ku dengan tertawa....
Sementara itu, sedikit demi sedikit aku mulai tertarik dengan seseorang, seseorang yang pertama kali aku kenal. Seorang yang sangat bisa membuat ku benar-benar tau akan arti sebuah keindahan.
Fany, ya memang dia. Dahulu aku sebenarnya sering bertemu dengannya tapi aku belum mengetahui siapa namanya. Bertemu di gerbang sekolah, papasan di kantin, lewat di depan perpustakaan sekolah, sampai tiap hari senin dia ikut serta mengibarkan bendera. Aku sekedar suka dengan Fany, hanya mengagumi, hanya sebatas oh iya memang dia sungguh anggun sebagai seorang perempuan.
Waktu pemilihan anggota kelas diselenggarakan, kacau nya aku menjadi wakil ketua kelas yang harus memanggil guru ketika pelajaran dimulai, malas rasanya. Sementara Fany menjadi bendahara di kelas. Sebetulnya kalau memang tidak ada apa-apa dengan Fany, mengapa aku selalu salah tingkah dengannya. Oleh karena nya, aku selalu menyuruh Andre untuk menitipkan uang tabungan ku kepadanya. Padahal aku dengan Fany duduk dengan bersebrangan, sampai-sampai teman kelas mulai mencurigakan hal-hal yang menjurus ke arah perasaan.
..." Ciieee.. Ciieee, Ya ampun temen gua ada yang lagi kasmaran nih. " Berkata Evi sambil menepuk pundak ku....
Evi, teman ku, teman cewe yang kelakuannya seperti laki-laki, gak tau malu, sangat tomboi, sampai - sampai gak tau kenapa dia pengen aku menjadi kakaknya. Aneh rasanya, tapi sudah lah, dia seperti pendengar ku, dia tau semua tentang cerita ku.
..." Hahahaha gak tau kasmaran, gak tau lagi kebingungan. " Saut Andre....
..." Yaelah, hahahaha. " Jawab ku sambil tertawa....
(Bel Pulang)
..." Ayok bro, nongkrong dulu warung depan ah. " Berkata andre....
..." Ayoklah, gua ada perlu juga sama lu ndre. " Jawabku sambil menggendong tas ku....
Terik matahari sangat terasa oleh kulit, terasa membakar hawa dingin yang ada, semilir angin berlomba-lomba menyejukkan udara di tepi campuhan. Berharap angin yang memenangkan pertandingan.
..." Ndre, gua serius ngomong sama lu kali ini, apa memang bener dila, pacar gua, deket sama dodi temen lu itu. " Bertanya ku sambil meminum teh....
..." Bro, kali ini gua ga becanda, lu tau gua orang nya suka becanda tapi kali ini bener-bener serius der. Gua juga kaget ternyata elu cowoknya dila, salut gua sama lu der. " Jawab Andre sambil menghisap rokok ditangan nya....
Semakin mendengar penjelasan dari andre, semakin tertusuk hati ini, semakin retak hati ini, ingin tidak percaya tapi memang seperti nya benar. Aku sudah menutup semua penglihatan dan pendengaran ku mengenai dila, mungkin itu sampai sekarang menjadi kunci kesetiaan ku terhadap nya. Tapi kali ini aku sudah curiga, mungkin sudah buruk sangka, aku takut ini hanya perasaan bosan dan kehadiran fany yang membuat ku memikirkan untuk berpisah dengan dila. Oh Tuhan, aku minta tolong boleh kan?
Bergulir waktu, berhari-hari bahkan berbulan-bulan hubungan ku dengan dila semakin diambang keretakan. Di samping itu, aku mulai sering dijodoh-jodohkan oleh Evi dan guru-guru sekolah dengan Fany. Aku sebenarnya bingung, dahulu hanya sebatas mengagumi, sekarang rasanya lebih meningkat, faktor sering bertemu mungkin yah? ditambah lagi tempat duduk aku dengan Fany bersebrangan.
Malam minggu pun tiba, aku memutuskan untuk menemui dila walau hati berkata tak bisa. Tapi, aku masih menghargainya. Walaupun begitu aku belum benar-benar bisa membuktikan bahwa apa yang dikatakan andre dan ihsan itu benar.
Berjanjian bertemu di sebuah alun-alun di desaku, di sebuah tempat yang amat indah untuk dikenang, di sebuah tempat yang mungkin paling menyedihkan ataupun mengharukan.
Tibalah aku sudah di tempat yang biasa aku dengan dila bertemu, aku mulai memesan teh manis hangat, aku duduk sambil memandangi temaram desa dengan gerimis sebagai peluknya. Tak lama kemudian, Fany datang dengan penampilan berbeda, dengan penampilan yang benar-benar baru dan amat sangat baru aku lihat. Dengan tanpa jilbabnya, rambut rapih terikat menjulur kan keindahan. Semesta, aku minta tolong, aku gak bisa berpaling darinya.
..." Gimana? Kamu suka gak? " Jawab nya sambil tersenyum manis....
..." Iya sih, tapi aku pengen keindahan kamu itu cukup buat aku saja. Kamu ga boleh kasih juga untuk orang lain. " Jawab ku sambil terpana melihatnya....
..." Ya sudah, sini duduk dulu deh. Kamu mau minum apa? " Tambah ku....
Aku baru kali ini melihat Dila secara langsung dengan tanpa jilbabnya, biasanya hanya cukup sebuah gambar yang dikirimnya. Hari semakin malam, bintang pun semakin terang, mendung mulai perlahan menghilang, gerimis pun perlahan mereda. Canda tawa menghiasi indahnya malam itu, menutup pikiran kotor ku mengenai dia dan si dodi itu.
Tak lama kemudian, telefon dila berdering.
(Kring.. Kring.. Kring)
Suara nya seperti ada panggilan, refleks aku melihat telefon Dila yang terletak di atas meja. Aku baca sekilas, tertulis nama pemanggil itu ialah dodi.
..." Dil, kamu mau jujur sama aku ngga abis ini? " Tanyaku sambil menatap matanya....
..." Maksud kamu apa derry? " Jawab Dila....
..." Kamu angkat dulu panggilan dari dia, jangan lupa besarkan volume nya, aku juga pengen dengar. " Jawabku....
Aku sebenarnya ga percaya sih, tapi ternyata yang dikatakan andre dan ihsan benar. Mungkin orang seandainya menanyakan tugas pun hanya lewat SMS juga cukup. Tapi ini lain maksud seperti nya.
..." Assalamu'alaikum Dil, Hallo.. " Berkata dodi lewat panggilan....
Dila seketika diam, gemetaran tangannya, mulai berkaca-kaca matanya.
..." Cepet jawab dong Dil, itu dodi nungguin. " Saut ku dengan nada kecil....
..." Wa'alaikumsalam Dod, Kenapa yah? " Jawab Dila lewat panggilan....
..." Kamu lagi free ngga? Ayo kita ketemu lagi di tempat itu nanti aku jemput kamu lagi yah? Jangan lupa pakai sepatu yang aku kasih waktu itu. " Berkata dodi....
Mulai berkaca-kaca mata ku, mulai bergetar seluruh organ dalam ku, mulai sakit terasa seperti terpanah oleh busur baru. Dila pun mulai meneteskan air matanya, mulai merasa bersalah, mulai merasa gak mau kejadian ini terjadi.
..." Dil... Dil.. hallo? " Berkata dodi....
.......
.......
.......
.......
Bagaimana perasaan Derry setelah itu? Bagaimana hubungan Derry dan Dila?
Sampai Jumpa Di Next Episode Yah.
...Happy Reading...