
"Beberapa hal dapat diselesaikan dengan cara balik telapak tangan, beberapa hal juga dapat diselesaikan dengan harus berdiskusi dengan alam. Tak ada salahnya menahan, tak ada salahnya memendam. Hanya merasa sakit, hanya merasa pahit. Sesak, tersedak, tertabrak sejenak. Luka yang membuat lara, luka yang membuat bara. Sebergejolak itu kau hati punya." (prolog)
Keesokan harinya, aku terbangun dengan mata sembab dan badan terasa sakit. Mungkin ini efek tadi malam, kenapa sih harus overthinking pada hal yang begitu saja. Lagian, yang mau nge test kan aku, kok malah aku sendiri yang sering memikirkan. Entahlah, mungkin hari itu aku terbawa suasana kerja yang begitu rumit kemarin, sehingga ya membuat suasana hati jadi tidak tenang.
Ku lihat jam pada HP ku menunjukkan jam 06:20, ada 9 panggilan dari Fany pun tak terjawab, Emang sih tiap hari, Fany selalu membangunkan ku tiap pagi lewat telvon genggamnya. Mata sembab dan sakit badan seketika hilang, wajah lusuh dan badan lemas seketika segar bugar, bergegas ku ke kamar mandi. Orang bilang, mandi itu minimal 5 gayung, bodohnya, itu aku lakuin. Ah sudahlah, pantas saja, aku sudah mengira, biasanya terik pagi langsung menyilaukan mata, ternyata hari itu cuaca lagi mendung, lagi ga cerah kaya biasanya.
Sesampainya di kantor, aku kembali bertemu dengan Frisia, dengan tampilan berbeda, dengan model jilbab yang mungkin makin menarik untuk dilihat. Yang benar saja, aku masih sama seperti waktu pertama bertemu dengannya, tetap tidak memalingkan mata kepada nya. Setiap dia menatap balik kepada ku, aku berusaha memalingkan pandangan ku dan seakan-akan aku sedang berbicara sama partner kerjaku.
Tak lama kemudian, Frisia datang menghampiri ku, dengan tatapan yang manis, dengan buku yang ia genggam dengan kedua tangannya, dengan senyuman yang tertutup oleh masker, ia bertanya:
..."Kak, kita mau belajar apalagi hari ini?"...
..."ha-hah? aa-apa? iya kita mau belajar.. apalagi ya? hehe" jawabku dengan terbata-bata....
..."Katanya Kak Derry mau ngetest aku tentang materi yang sudah dipelajari? Aku sudah siap kak." dengan ekspresi gembira nya dia bertanya....
..."Iya Frisia, tar aku test ya, tapi aku harus kerjain ini dulu sebentar. "...
Alih-alih aku mengerjakan sesuatu, padahal menurut ku itu gak penting, tapi bagaimana pun, ya itung-itung bisa menyiapkan mental terlebih dahulu,
..."Ampun dah, ini perasaan aku lagi kenapa sih? padahal kita baru kenal, kok bisa-bisanya ada rasa ingin memiliki." berkata ku dalam hati....
Sambil menunggu pekerjaan ku selesai, aku curi-curi tengok dia sedang apa, ya begitulah, namanya juga anak baru, pasti sering memerhatikan sekitar, itung-itung buat adaptasi kan diri. Hal yang sama aku lakuin, ketika dia mulai menengok balik ke arahku, langsung aku palingkan wajahku, mungkin dia merasa aneh kali ya terhadapku, ia pun bertanya:
..."Ada apa kak? kok kayanya ada yang kakak sembunyikan?"...
..."ng-ng-ngga ada kok fris." gugupku jawabnya....
..."Oh ngga ada kak, yaudah deh, jadi kapan nih katanya mau ngetest aku? "...
..."Test nya tanya jawab aja yah kak, aku bisa kok." tambah nya....
Setelah Frisia mencoba negosiasi tentang metode test, aku pikir-pikir terlebih dahulu, aku bertanya pada diriku terlebih dahulu, apakah aku siap? apakah aku tidak kenapa-napa abis ini? Ya ampun lagi-lagi aku se pecundang itu.
..."Kayanya tetep deh Fris, aku pengen kamu jawab di kertas selembar, soalnya takut hari ini aku sibuk jadi bisa ku periksa entar lepas kerja."...
Ada saja alasan yang ngebuat diriku terselamatkan, tapi mau sampai kapan aku terus begini, memendam keterkaguman yang sudah menjerat di hati, memendam perasaan yang seharusnya dapat diungkapkan. Tapi, ngga etis rasanya, aku terlalu terburu-buru ngga sih kalo menyampaikan keterkaguman ke dia? terlalu tergesa-gesa ga sih menyampaikan perasaan sebenarnya ke dia? Takutnya malah nambah membebani pikiran dia, ditambah lagi dia sekarang masih harus belajar bagaimana kinerja buat kedepannya disini. Gapapa deh, aku jangan egois, mending aku pendam saja sampai tiba waktunya, sampai tiba saatnya, sampai tiba dimana aku siap, siap mengungkapkan hal sebenarnya, siap mengungkapkan hal yang seadanya.
Bising suara mesin selalu jadi makanan hari-hari ku di sini, ya apapun itu aku harus bersyukur, demi mencapai tujuan ku aku harus berusaha keras.
Tiba saatnya aku memulai mengetest Frisia,
..."Frisia, kamu sudah siap kan? "...
..."Sudah dong, jangan susah susah yah Kak..hehe"...
..."Okeee Kak. " Saut gembiranya....
Akhirnya, setelah Frisia mengerjakan semua pertanyaan yang aku kasih, aku langsung mengecek nya,
..."Ya.. it's Oke lah, overall semua benar, mungkin ada sedikit keliru di bagian ini dan ini yah. "...
..."Oke deh kak, nanti aku betulkan. "...
Huuuffftttt.. Lega ku hela nafas, menghindar sejenak dari dia, mulai mengerjakan pekerjaan ku yang sempat terabaikan, mulai menyibukkan diri biar tidak kelihatan bahwa aku sedang tidak percaya diri, lagi dan lagi aku se pecundang itu.
Di sela kesibukan pekerjaan ku, tiba-tiba ku teringat perkataan ibu,
..."Diar, nanti kamu sama Fany mau jagain ibu kan kalo nanti ibu sudah tua? mau kan? Ibu cuma punya kamu satu-satu nya, ibu ngga bisa ngandelin siapa-siapa lagi, siapapun yang bakal kamu jadiin istri, ibu minta tolong, ibu pengen nanya dua hal saja, bahwa, 'Seorang laki-laki itu walaupun sudah menikah, masih tetaplah ia milik ibunya, jadi seandainya derry masih lebih berat ke ibu, apakah kamu akan cemburu? lalu apakah kamu mau mengurus ibu kelak?' sudah, sudah, ibu cuma minta itu aja ya dari kamu, pertemukan ibu dengan calon pilihanmu, ibu pengen mengungkapkan demikian."...
Suasana hati jadi tidak karuan, yang tadi bahagia sekarang lara, yang tadi berbunga sekarang berduka, yang tadi baik-baik saja sekarang murung, diam, enggan untuk berbicara. Sejungkir balik itu hati ku punya saat itu. Sedih berlarut sampai ku pulang dan pejamkan mata di rumah.
Esok pagi pun menjelang, tiba di kantorku tepat jam 7 pagi. Dari tiap sudut ruangan, kok sepertinya ada yang kurang, ada yang sakit kah? ada yang tidak masuk kah? Dari tiap-tiap kepala aku amati, dari tiap-tiap seragam aku lihati, kemana kah si Frisia itu? Apakah dia telat hari ini? Aneh saja, biasanya setiap ku baru datang, Frisia selalu datang menghampiri ku dengan buku yang ia genggam dengan kedua tangannya. Yah, bisa dibilang, ini adalah gaya yang paling ku suka darinya.
Tiba-tiba suasana hati jadi bimbang, aku coba tanya sana-sini ternyata tidak ada satupun melihat nya. Sempat terlintas berpikir,
..."Kok aku malah nyariin dia? Kenapa?"...
..."Kok seperti yang merasa kehilangan?"...
..."Kok seperti yang perhatian takut dia kenapa-napa?"...
..."Hah? aku bingung, aku panik, aku. . ."...
.......
.......
.......
.......
Kemanakah Frisia hari itu? Bagaimana perasaan Derry setelah ini?
Sampai bertemu di next episode yah.
...Happy Reading...