
..." Cinta adalah misteri, cinta adalah anugerah, cinta adalah suci, cinta adalah hati ke hati. Misteri yang tidak pernah terungkapkan, anugerah yang tidak pernah dipintakan, suci yang tidak disembahkan dan hati yang tidak pernah diketahui. Bagai batu karang yang rela dihantam ombak, bagai bahtera megah yang dihamparkan di penjuru lautan, bagai lebah yang diindahkan matanya oleh bunga, bagai gula yang dikerumuni oleh induk-induk serangga. Demi semesta, aku minta maaf, aku benar-benar mengaguminya. " (prolog)...
Aku resah, aku gelisah. Aku gundah, aku risau. Aku diam, lemas, bingung bak anak gajah ditinggal induknya. Kemanakah si Anggun yang tiap pagi mendatangi ku? Kemanakah si Manis peredam piluku? Kemanakah? Bulan, apakah kamu tau? Bintang apakah kamu tau? Matahari? Langit? Angin? Bahkan semesta pun aku tanya satu-satu mereka bilang tidak tahu.
Aku merasa hilang, aku merasa kurang. Rona wajahnya selalu teringat di ingatanku, Lentik matanya selalu terbayang di otak dalamku, jenis racun apa ini? Bertahun-tahun aku belajar kimia di bangku sekolah, masih ada zat yang belum aku ketahui sampai saat ini. Lembaran demi lembaran telah ku baca, buku demi buku telah ku dalami, aku tidak menemukan zat apa ini di buku Albert Einstein, tetapi ku menemukan di sebuah buku milik sang Pujangga, "Ini adalah zat dimana engkau mulai mengaguminya. "
Hari itu aku bekerja sangat tidak bersemangat, tidak bergairah seperti biasanya. Tumpukan buku-buku seakan menertawakan ku, meja dan kursi seakan mengejekku, " Sialan " keluh ku waktu itu. Tangan terasa kaku, kaki terasa lumpuh, badan seperti tidak memiliki penopang, pengen cepet-cepet pulang, pengen cepet-cepet bilang, "Semesta.. Kalo begitu, Aku juga pengen hilang !!! "
..." Kak Gemoy kenapa? biasanya Kak Gemoy sering bikin kita ketawa, kok sekarang jadi pendiem gini, males Zahra, males sama Kak Gemoy, sini ngobrol atuh. " celoteh si Zahra....
Zahra ini partner kerja ku juga, dia lucu, periang, sangat menggemaskan, tiap hari gak sedikit aku merasakan risih atas kelakuan dia yang seperti anak kecil, bagaimana pun ya itu mewarnai suasana kantor dari berbagai kesumpekan. Zahra ini selalu memanggilku dengan sebutan 'Kak Gemoy'. Sudah berkali-kali aku ingat kan jangan pakai panggilan itu, tapi dia menolaknya, dia beralasan karena panggilan itu lucu ujarnya. Ya mungkin disebabkan dengan kondisi berat badan ku yang sedikit over, tapi tak apalah, biar kita jadi lebih akrab toh gak ada salahnya.
..." Iya nih Moy, Lu kenapa sih? udah, ni minum dulu mungkin butuh beberapa cairan pagi-pagi. " Tambah si Teh Laura....
Teh Laura juga partnerku di sini, bisa dibilang dia sebagai senior di sini. Dia bawel, cerewet, dewasa, tapi dia enak buat diajak bertukar pikiran. Tak sedikit aku kena omelnya, namanya juga emak-emak yah, sekalinya dia ngomel jarum jam dinding pun nunggu dia berhenti baru bisa jalan lagi, berasa ada pembatas kaya rel kereta api, gak ada berhenti nya, gak ada remnya, tapi dibalik itu dia peduli sama rekan-rekan nya.
..." Iya Zahra, gak kenapa-napa kok, lagian ini masih pagi, biasalah ngumpulin nyawa dulu. " Jawabku....
..." Iya Teh, makasih ya, emang bener nih emak-emak satu ini, hehehe.." Tambah ku....
..." Alesan banget lu moy. " sambung si Mona....
..." Ya ampun, pada ga percayaan ni pada. "...
Tak lama berbincang, Pak Andri, Leader dari kantorku datang ke ruangan kerja kami,
..." Pak Andri, masa Kak Gemoy diem mulu dari pagi, dia keliatan murung, ga mau ngobrol sama kita. " berkata Zahra....
" Iya tuh Pak, aneh banget lagian, huuuuu.. " Saut Teh Laura dan Mona sambil menyoraki.
..." Lu kenapa der? jangan-jangan lagi mikirin anak baru itu ya? Tenang kok aman, tenang. Tapi awas aja loh kalo sampe diapa-apain, anak orang loh itu hehehehehe.. " Tanya Pak Andri....
Lah, kok Pak Andri tau, tapi mungkin ini sebuah kebetulan saja, terlepas dari itu dia hanya menembak saja.
..." Ng-nggak Pak. " Jawab ku....
..."Tuh kan, kelihatan banget nih. " saut Pak Andri dengan ekspresi senyum nyebelin....
..." Wah bener nih moy? " sambung Teh Laura dan Mona....
Saat itu aku merasa terpojok, tersudut, terkurung gak bisa kemana-mana, aku gak mau mengakui bahwa aku sedang memikirkan dia.
..." Hari ini, gak ada problem apapun kan? " sambung Pak Andri....
Huuuffftttt... Untung terselamatkan oleh lontaran pertanyaan Pak Andri, bagaimana jadinya seandainya Pak Andri tidak langsung mengalihkan pembicaraan, mati aku. Harusnya, mereka bisa mendengar suara degup jantung ku yang begitu kencang. Harusnya, mereka juga bisa melihat tangan ku gemetar yang begitu hebat. Astaga, semisteri ini mengenai hati.
Lagi-lagi ku tengok jam terasa lama, apa gara-gara Teh Laura abis ngomel? oh engga deh kayanya, aduh, ampun, kerja berasa lama banget, jenuh, mau ngerjain apapun terasa malas.
(*suara bel istirahat)
..." Ayok, mau makan apa kita hari ini? " Sambung Zahra. ...
..." Aku lagi pengen makan ramen nih, gimana OK ngga guys? " Saut Teh Laura. ...
..." Aku mah ngikut aja deh. Aku laper banget tapi ini. " saut Mona dengan memegang perutnya. ...
Waktu break telah tiba, menuju kantin dengan beberapa teman kerjaku. Makan pun tak ada napsu, mungkin ketika singa betina sedang lapar, kijang lewat depannya pun tidak akan di kejar. Begitu mungkin ku rasa saat itu.
Matahari sudah melipir di ufuk barat, bel pun berbunyi, ku bergegas untuk segera pulang. Alangkah girangnya, mendengar bel pulang dan menerima pesan gaji bulanan datang. Itu adalah dua hal yang paling menggembirakan dalam dunia pekerjaan.
..." Kalian.. Aku pulang duluan ya.." Berkata ku dengan melambaikan tangan. ...
..." Kak Gemoy ga mau makan bakso dulu? " jawab si Zahra. ...
..." Next aja ya Zahra, aku masih ada urusan. " ...
..." Hati-hati di jalan ya Moy. " Saut Teh Laura. ...
Heran, emang dari dulu mereka sering mengajak ku botram, kalo soal makan-makan mereka gada yang ditahan-tahan. Gak sedikit aku sering ditraktir sama mereka. Ya apapun itu, demi menjalin kekeluargaan dan kekompakan kita sebagai tim di area kerja.
Malam pun terlihat cerah, beribu bintang mengundang ku untuk berdiskusi, bulan jadi moderator, dan suara ayam berkokok menjadi akhir dari keputusan. Tak lama, dering HP ku berbunyi, ternyata Fany menghubungi ku,
..." Sayang, kamu dimana sekarang? jangan-jangan lagi nongkrong di loteng ya, Hati-hati ya ntar kepleset jatoh loh, turun dulu makan bareng yuk, aku sudah siap ni, aku tau kamu belum makan, kita makan sambil video call aja yah? " Berkata dengan nada riangnya. ...
..." Iya sayang, aku masih di loteng, kali ini aku gak bisa nemenin kamu makan malam yah, aku masih pengen di sini dulu, sebentar aja, lagian aku belum nyiapin makanannya sayang. " Jawabku. ...
..." Kamu kenapa sayang? kok akhir-akhir ini kamu sedikit berbeda? kalo ada yang salah dari aku tolong bilang yah, biar aku bisa perbaiki. " ...
Seketika nada suara Fany terlihat bersedih, aku pun menyadarinya, aku takut kalau dia tau aku sedang mengagumi seseorang selain dirinya.
..." Derry, hallo.. Sayang.. kalau kamu dengar, tolong jawab pertanyaan ku. " Tambahnya. ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
Apakah Fany akan mengetahui bahwa derry sedang mengagumi seseorang? Ataukah Derry akan memberi tahu mengenai perasaan dia yang sebenarnya ke Fany? Kemanakah Frisia selama ini?
Sampai Jumpa di Next Episode ya.
...Happy Reading...