My Diary Is Our Diary

My Diary Is Our Diary
Aku dan bunga mawar ditanganmu 3



..." Hanya air hujan yang aromanya menjadi penenang, hanya kamu yang aromanya menjadi pemenang. Hujan dan kamu, berbeda yang jatuh, berbeda yang tumbuh. Hujan datang menjatuhkan air, kamu datang menjatuhkan rasa. Hujan menumbuhkan rumput kecil, kamu menumbuhkan rasa ingin. Hujan mengambil kembali air yang ia jatuhkan, kamu malah meninggalkan rasa yang dulu kamu jatuhkan, hingga tumbuh berkembang menjadi mawar. Ah, kali ini yang benar-benar saja. "...


[FLASHBACK]


Kalian tau tidak? Aku baru tau, kalau mawar itu punya duri. Aku baru tau, kalau duri mawar itu sakit ketika jari kita tertusuk. Aku baru tau, kalau mawar itu tidak tumbuh dengan liarnya. Aku baru tau, kalau mawar pasti ada pemiliknya. Demi dahan dan ranting, aku baru tau.


Aku pikir ini adalah kesalahan, kekeliruan. Aku pikir ini hanya candaan, gurauan. Tapi sayangnya, tidak semua yang aku pikir itu benar. Aku terlalu berpikir positif, terlalu berpikir hal-hal baik. Aku lupa, dunia ini bukan hanya soal positif, ada kalanya juga hal negatif. Baru sebentar saja, aku melupakan Dila. Aku seharusnya sudah banyak belajar dengan Dila, kalau sebegini lagi caranya sepertinya aku sia-sia.


Pagi buta burung gereja berlomba-lomba mencari jerami, dibawanya satu-persatu dan disusun menjadi tempat untuk berteduh. Rengek jeritan bayi-bayi burung mengisyaratkan tidak sabarnya ia meminta makan. Senyaman itu keluarga kecil yang burung gereja miliki.


Hari senin adalah hari dimana banyak dari kalangan pelajar maupun mahasiswa membencinya. Aku sendiri tidak tau alasannya seperti apa, namun aku juga termasuk di dalamnya. Senin pagi seperti aktivitas biasanya, berangkat sekolah untuk mengikuti kegiatan upacara. Sangat membosankan memang, terlebih lagi aku sebagai wakil ketua murid harus memimpin teman kelas ku untuk berbaris paling depan.Tapi, selama ku mengikuti upacara, bisa - bisanya aku tidak memerhatikan si Fany. Tidak mencari-cari dia, tidak memikirkan tentangnya. Seketika, langsung lupa ajah. Mungkin terlalu fokus untuk menertibkan atau memimpin teman-teman ku untuk berbaris. Kali ini berbeda, semenjak aku putus dengan Dila sepertinya aku mulai curi-curi untuk mengagumi Fany.


..." Ndre, si Fany kok ngga keliatan? " Tanyaku....


..." hahahaha.. Selama ini lu kemana aja bro? Lu kan paling depan masa lu ngga liat? " Jawab andre....


..." hahaha.. Parah lu boy. " Saut Evi....


..." Derry, kamu bener-bener yah. Malu-maluin aku. " Saut Ranti....


..." Lah? Emang selama ini kemana? " Jawabku....


..." Udah, tar gua kasih tau. Sini masuk barisan aja dulu. " Jawab andre....


Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke dalam barisan. Dalam berdiri aku sempat terfikir, emang selama ini Fany kemana kalau hari senin?


Upacara pun di mulai, aku berdoa semoga hujan turun supaya tidak melanjutkan upacara ini. Suasana mendung pagi-pagi membuat ku sangat benar-benar malas, ingin rasanya pulang lagi ke rumah dan melanjutkan mimpi tentang Cinderella.


Pengibaran bendera, adalah momen paling haru diantara langkah-langkah upacara lainnya. Dengan gigihnya pahlawan terdahulu, kami selaku anak cucunya dapat menikmati masa-masa yang aman, tentram, damai dan sejahtera seperti sekarang.


..." Sssttt.. Ssstt.. Derry tuh liat " Bisik andre....


..." Apa ndre? " Jawab ku dengan suara pelan....


Aku terkaget-kaget, tak mengira dan tak menyangka. Setiap senin aku baris paling depannya, setiap senin aku baris paling ujungnya. Diantara barisan paskibra pembawa bendera, ternyata Fany salah satunya. Ah yang benar saja? Pantas saja aku tidak mengenalinya, dengan anggunnya seragam yang dikenakannya, ia hanya memakai topi dan tidak mengenakan hijabnya. Alunan angin bergantian meniup rambut indahnya, berebut untuk membuatnya nyaman. Ku perhatikan ada satu helaian rambutnya sampai nyangkut di bibirnya, segerombolan burung gereja berkicau mengisyaratkan untuk ku segera merapihkan rambutnya, namun yang benar saja sepertinya aku setelah itu disuruh hormat depan tiang bendera.


..." Woy, fokus napa bisa ngga? hihihi.. " Berkata andre dengan suara pelannya....


Aku pun hanya tersenyum, mungkin orang bilang ini yang namanya salting ya, apapun itu ya aku anggap ini hal yang biasa, hal yang wajar. Dan, aku memutuskan hari ini, pagi ini, adalah hari senin pertama yang benar-benar membuatku tidak membencinya lagi.


Selepas upacara, aku bergegas menuju kantin sebelum pelajaran selanjutnya dimulai. Ternyata mencintai, menyukai, mengagumi juga butuh makan dan minum.


..." Cieeee.. ada yang lagi berbungah-bungah nih " Berkata andre....


..." Huuuu.. Iya nih. " Saut Evi dan Tio....


Aku hanya bisa tersenyum, menahan diri untuk tidak ikut tertawa. Hanya ingin merasakan betapa nikmatnya mengagumi, betapa hebohnya jantung berdetak. Sudah ku putuskan, demi ombak samudra beserta terumbu karangnya, Fany adalah wanita kedua yang membuatku jatuh cinta.


..." Wah iya nih, belum gua tanyain yo, masalahnya kalo emang bener kenyataan nya kaya gitu, ya udah deh kayanya gua mundur, gua ga mau ngerebut punya orang. Gua juga masih punya hati, toleransi, dan gua juga laki-laki, gua tau apa yang bakal dirasain. " Jawabku....


.


..." Tapi yang gua tau, dia sama Fandi tuh cuma temenan my bro. Ya, deket tapi ga pacaran. Gua kan mantan OSIS. " Jawab Evi....


..." Hah? Lu pernah ikut OSIS? " Jawabku sambil terheran-heran....


..." Yah, gua mah kerjanya di balik layar lah bro, ngga mau caper ke guru. " Jawab Evi....


Aku ternyata baru tau, ternyata Evi ialah mantan OSIS. Aku baru tau ternyata Fany juga termasuk anggota OSIS. Dan ia sebenarnya tau kedekatan Fany dengan Fandi. Aku gak ngerti kenapa Evi nggak ngasih tau aku sebelumnya, tapi malah mendukung ku untuk mendekati Fany.


Belum sempat ku tanyakan alasan kenapa, bel pembelajaran pun sudah berbunyi. Ya sudahlah, mungkin kutanya kan lain kali.


Hujan malam-malam mengantarkan rasa yang bergelimpungan, bergerombol, berlarian saling memeluk satu sama lain. Mungkin ini saatnya, ini waktunya untuk ku tanyakan ke Fany. Dengan hawa yang sejuk nan dingin, dengan suara gerimis yang jatuh di atas genting, semoga dapat menjawab harap yang penting.


..." Fan, boleh ku tanya satu hal? " Tulis ku via SMS....


..." Buat besok tugasnya matematika halaman 72 nomor 1 sampai 10. " Balasnya....


..." Maksud ku, bukan nanya soal tugas buat besok Fan hehehe.. "...


..." Lalu? "...


..." Fan, apa benar kamu lagi dekat dengan Fandi? "...


Selepas menulis SMS terakhir ku ini, tiba-tiba Fany slow respon. Aku gak tau, apa aku salah menanyakan seperti ini? Harusnya aku harus sabar terlebih dulu sepertinya, gak usah terburu-buru. Tapi, hati gak bisa lagi menahan, lagi butuh kepastian. Apa mungkin Fany lagi mengerjakan tugas buat besok ya? Atau lagi makan? Mungkin dia sudah tidur kah? Semesta, semoga risau ku hanyut dalam hujan yang terbentuk dari gerimis melebat tiba-tiba.


.......


.......


.......


.......


Bagaimana kah jawaban dari Fany tentang kedekatan nya dengan Fandi?


Mampu kah Derry mendapatkan cintanya Fany?


Sampai Ketemu Di Next Episode Yaa.


...Happy Reading...