My Diary Is Our Diary

My Diary Is Our Diary
Aku dan bunga mawar ditanganmu 4



..." Berbicara soal hati pasti menyangkut rasa, rasa yang pernah tumbuh, rasa yang pernah sungguh. Setelah tau, malah jadi ragu-ragu. Selalu seperti itu. Mengapa yah bisa begitu? Sekiranya seperti itu, semoga tidak terjadi di kamu dan aku. " ( Prolog )...


[FLASHBACK]


Oh malam, tolonglah tanyakan pada bintang, ada apa gerangan hari ini? Oh rembulan, tolonglah tanyakan pada bintang, apa aku harus memaksanya untuk berbicara? Apalah aku yang tidak mampu menggerakkan hati seseorang yang bukan dari bumi.


Sepertinya malam ini tidak setentram malam kemarin, tidak setenang malam yang lalu. Aku bercengkrama hingga larut, kantuk jadi perajut, mimpi sampai terkentut-kentut. Hingga pagi menyambut, menjemput, dan membalut dingin yang kemarin tak berselimut. Indah yah? memang indah. Tentram yah? memang tentram. Seindah-indahnya, setentram-tentramnya. Menggedor hati, memaksa diri. Menempa harap, menyiram sikap. Tumbuh rasa, tumbuh makna. Selalu ada, dan selalu bercahaya.


Mentari pagi membangunkan ku lewat hangat sinarnya, ku siapkan buku-buku dan ku tali sepatu ku. Beranjak pergi ke sekolah dengan tanpa ponselku. Hari-hari seperti sama kayak kemarin, penuh dengan pikiran dan harap yang terganjal. Masih memikirkan untuk ku mundur saja atau maju terus? Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur basah dan terjun dalam perasaan ini.


..." Fan, kamu lagi dekat sama Fandi kan? Ngaku loh, hehehe " Tanya Tio....


..." Apaan sih, dia cuma temen kok. " Jawab Fany....


..." Tuh bro, dia cuma temen, jangan pesimis gitu lah. " Jawab Tio sambil menepuk bahu ku....


..." Lah kok jadi ke gua yo. " Jawabku....


Emang bener-bener nih Tio, tapi dengan begini aku jadi tau kebenarannya. Tapi aku merasa malu, merasa tidak percaya diri. Aku merasa cukup rendah dibandingkan dengan Fandi. Aku merasa diri ini tidak ada hal yang harus dibanggain. Lalu aku harus bagaimana?


Setelah ku pulang ke rumah, aku langsung mengambil ponselku. Setelah ku lihat ada pesan balasan dari Fany semalam, dia membalas sesuai apa yang dikatakan kepada Tio. Aku pun sedikit lega, sedikit senang, walaupun masih sama rasanya.


Bergulirnya hari sampai menuju ujian praktek sekolah. Tak kerasa aku menjalani ini semua tanpa kejelasan, tanpa status hubungan, tanpa apapun itu yang disebut anak jaman sekarang ialah pacaran. Kala itu ujian praktek seni budaya dimana ditugaskan untuk memperagakan suatu drama teater. Dibentuk beberapa kelompok dan mulai mendiskusikan nya. Aku pun bingung siapa yang mau sekelompok sama aku, lagian sebuah drama itu tidak asik jika diperankan oleh laki-laki saja. Tanpa lama menunggu, Evi langsung menarik ku untuk memintaku bergabung sekelompok dengannya.


..." Derry, sini lu ikut gua aja yah, pokoknya tenang gua bikin konsepnya, gua kan anak Teater nih. Tapi lu harus nurut sama gua ya. " Berkata Evi....


..." Yaudah deh, gua bebas kemana aja. Terus ceritanya apa nih? " Jawabku....


..." Judulnya Cinderella, kamu jadi pangeran nya yah, soalnya disini gak ada yang cocok selain lu. "...


..."Lah terus Cinderella nya siapa? "...


..." Siapa lagi kalo bukan Fany. "...


..." Hah?? " Terkejut ku....


Aku tau alasan kenapa Evi menjadikan ku sebagai Pangeran, karena dia ingin memerankan Fany sebagai Cinderella nya. Lalu, apa Fany mau memerankannya? Semoga saja tidak ada adegan yang membuat ku gugup.


Sampai rumah aku bingung harus sedih atau senang, aku merasa sering sekali merasakan di tengah-tengah perasaan seperti ini. Rasa gugup dan kekaguman ini membuat ku gagap dan tidak percaya diri. Aku takut lupa naskah dialog saat menatap matanya.


..." Fany, emang kamu mau menjadi Cinderella dan bermain lawan peran denganku? " Tulis ku via SMS....


..." Ya mau bagaimana lagi, Aku dipaksa Evi. " Balasnya....


Wah ternyata Fany hanya terpaksa menjalani peran Cinderella ini, berbeda dengan ku yang sebetulnya aku ingin bermain peran dengannya namun Evi kebetulan memaksa ku juga menjalani peran ini. Sepertinya yang satu terpaksa sungguhan, yang satu lagi terpaksa kebetulan. Indah yah kisah kita seandainya kamu tau, aku ingin kita tepuk tangan tapi kamu malah mengabaikan.


..." Woy, jangan lupa besok kan libur nih, lu cari bunga mawar sono, soalnya gua butuh properti bunga. " Tulis Evi via SMS....


..." Bunga mawar? Jangan-jangan lu mau bikin adegan gua nembak Fany nih? " Balas ku....


..." Udah pokoknya harus ada, gua ga mau tau. "...


Apa sih si Evi nih, kadang nyebelin juga. Aku takut setelah ini malah Fany menjauhi ku, aku takut setelah ini malah Fany tidak merespon ku. Aku takut.


Perjalanan pulang ku dihadang gerimis sepanjang jalan, mau gak mau aku harus memasukkan bunga ini ke dalam jaket ku. Gerimis mereda, aku mulai menggigil tergigit angin dingin. Sedikit basah kuyup karena ku memaksakan menerobos gerombolan gerimis itu. Aku coba keluarkan kembali dari jaket ku, ternyata ada satu batang yang lusuh, rusak, dan kusam. Hanya ada satu lagi yang utuh, yang masih bagus, yang masih segar. Aku bingung harus digimanakan supaya bisa bertahan sampai hari esok. Lalu terlintas terfikir aku mengambil gelas dan ku isi air dengan cukup. Ku taruh batang mawar kedalamnya, berharap dengan ini bisa mampu menahan sampai hari esok.


Hujan malam seharusnya membuat ku cepat terlelap. Namun saat ini tidak, mungkin karena perasaan ku yang campur aduk ini membuat ku resah. Bunyi detik jam dinding mengusik ku untuk berpikir jernih. Ku pandangi mawar yang aku letakan dalam gelas itu, terlihat indah dan anggun. Ingin ku memiliki nya, namun siapa sangka dia bisa saja melukai ku dengan durinya. Akhirnya, aku terlelap dengan bising nya pikiran ku.


..." Udah siap kan? Mawar nya bawa ngga? " Bertanya Evi....


..." Udah ada kok, terus ini buat adegan yang mana? " Tanyaku....


..." Bagian paragraf akhir yah, tapi lu harus umpetin dulu di dalam jaket lu. Pas tiba waktunya barulah lu ambil dan kasihin ke dia. "...


Ah semoga saja ujian praktek kali ini lancar semua, tanpa ada masalah lupa teks semacam nya. Toh ini juga cuma drama kok. Harus profesional, jangan sangkut-pautkan dengan masalah pribadi.


Drama pun dimulai, aku sebagai Pangeran, Fany sebagai Cinderella, Evi sebagai pelayan kerajaan, Ranti sebagai ibu peri, Tio dan andre menjadi pengawal. Puji Tuhan drama berjalan sesuai ekspetasi kita, sampai tiba dimana Cinderella meninggalkan sepatu kacanya setelah menaiki kereta kencana dan keesokan harinya Pangeran mencari keberadaan pemilik sepatu tersebut di penjuru desa.


..." Derry, sekarang giliran mu masuk, awas kalo gagal yah. " Bisik Evi di belakang panggung....


Aku pun langsung masuk, mengambil sepatu Cinderella yang kemarin ia jatuhkan.


..." Wahai rakyatku, aku ingin kamu mencoba sepatu ini, jika ini cocok denganmu berarti kamu adalah pemilik dari sepatu ini. " Dialog ku....


..." Maaf Pangeran, apakah kamu yakin mencari seorang perempuan yang menurutmu indah ada di sekitar sini? " Dialog Cinderella....


..." Aku hanya ingin semua yang ada disini mencobanya, dan ini adalah rumah terakhir yang aku kunjungi. "...


Setelah Cinderella mencobanya, akhirnya sepatu itu pas dan Pangeran pun melamar Cinderella.


..." Jangan grogi woy, hihihi " Bisik Evi dari belakang panggung....


..." Cinderella, maukah kau menikah denganku? " Dialog ku sambil memegang tangan dan memberinya bunga mawar itu....


Aku sangat tidak percaya, walaupun ini hanya drama tapi aku terasa berat, terasa malu, terasa bahwa seharusnya bukan aku yang disini. Tanganku mulai bergetar, keringat pun mulai menetes. Dengan bunga mawar ku yang sudah ku jaga semalaman akhirnya aku bisa meluapkan rasa yang telah lama aku pendam. Maaf yah, aku kurang jantan untuk menyampaikan kebenaran yang ada pada diriku ini. Aku sudah selipkan pada drama ini. Semoga saja kau suka dengan bunga mawar yang ada pada tanganmu sekarang ini.


Setelah ujian praktek selesai, aku langsung pulang dan berbaring di kasur ku. Akhirnya aku telah menyelesaikan persoalan hati yang sering mengancam malam ku akhir-akhir ini. Aku puas, aku sangat lega.


..." Derry, makasih yah buat mawar nya, aku sangat menyukainya. Tapi ini bukannya tidak ada di naskah drama yah? " Tulis Fany via SMS....


Seketika aku langsung terdiam sejenak, lalu habis ini aku harus jawab seperti apa, aku harus jujur atau aku harus bohong? Aku harus berkata sebenarnya atau pura-pura saja? Ah, semesta.. kamu hanya diam diri dan menonton film favorit terbarumu.


.......


.......


.......


.......


Apakah Derry dapat mengungkapkan hal sebenarnya? Bagaimana sikap Fany seandainya dia tau kebenarannya?


Sampai Jumpa Di Next Episode Yaa.


...Happy Reading...