My Diary Is Our Diary

My Diary Is Our Diary
Karena kamu 4



..." Kamu itu seperti matahari pagi, dilain hujan menabrak lari, kamu tetap menyelimuti. Kamu itu seperti matahari pagi, dilain patah dini, kamu tetap semangati, kamu cocok seperti matahari pagi. " (Prolog)...


Di atas langit sana, konon katanya terdapat sebuah negeri yang dimana penduduknya diisi dengan para bidadari. Seperti cerita majalah dongeng, mereka jatuh ke bumi untuk ditemukan dengan seorang laki-laki. Mungkin saja kalau kamu memang bidadari yang jatuh ke bumi, berarti aku mendapatkan 2 bidadari. Beruntung sekali aku ini, tapi disisi lain aku harus memilih salah satu diantaranya yang pantas menjadi kekasih. Baru saja merasakan beruntung, tapi rugi lagi, sayang sekali.


Dua-duanya memang memiliki paras yang rupawan, dua-duanya memiliki sifat penyejuk. Emang aku ini siapa? Bisa-bisanya semesta menjatuhkan ku 2 bidadari. Ah sudahlah, aku sudah muak dengan permainan nya.


..." Fris,.. " Panggil ku dengan memegang tangannya....


Aku reflek memegang tangannya, aku rasakan betapa lembut telapak tangannya. Aku tidak berani melihat matanya, aku takut dengan konsekuensi yang akan aku hadapi setelahnya, yaitu jatuh.. cinta.


Ketika aku mulai melihat sedikit demi sedikit ke arah matanya, dengan perlahan, pelan, dan aku menikmatinya, sampai..


" Prakkkkk... " (Suara botol minum jatuh)


Secara reflek kami berdua mengambil botol minum yang jatuh ke lantai, kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi, aku disini memiliki 3 kesalahan. Yang pertama, aku seharusnya mengambil botolnya tapi malah memegang punggung tangan Frisia yang duluan memegang botol. Yang kedua, aku gak sengaja menatap matanya. Yang ketiga..., Persetan dengan semua apa yang ada di bumi, fix aku jatuh cinta padanya. Ini kan yang kau mau semesta? Hah? Mau apa lagi kau? Puas kan? Aku sekarang jatuh cinta padanya, ahhhhhhhhh. Apa sih botol ini, pake acara jatuh segala, basi banget, kesannya jadi mirip sinetron.


..." Fris.., Sorry ya. " Berkata ku dengan nada rendah....


..." Eh iya kak, gapapa kok, ini botolnya kakak bawa dulu aja gapapa ya. " Jawabnya dengan memberikan kembali botol minum....


..." Okeh deh, makasih banyak ya. " Jawab ku....


..." Fris.., Sejujurnya aku.. "...


Belum selesai aku berbicara, tiba-tiba Mona, Teh Laura dan Zahra memotong pembicaraan ku.


..." Cieeee.. " Berkata Mona, Teh Laura dan Zahra bersamaan....


..." Bisa aja lu moy. " Tambah Teh Laura....


..." Nyari kesempatan mulu lu moy. " Tambah Mona....


..." Sweet banget Kak Gemoy. " Tambah Zahra....


Tak lama setelah itu, Frisia pamit untuk segera pulang.


..." Kak, aku duluan pulang yah, ayah takutnya sudah nunggu di rumah. Simpan dulu aja yah. " Berkata Frisia....


..." Emm, iya deh, makasih ya. " Jawab ku....


..." Kalian.. aku duluan pulang yah. Dahh.. " Tambahnya....


..." Iya Kak Frisia, hati-hati di jalan ya. " Sahut Zahra....


Frisia pun pergi meninggalkan kami berempat, dan juga ia meninggalkan harum parfumnya beserta botol minum yang sekarang aku genggam. Aku masih berdiri di tempat sambil memandangi botol minum ini, aku pun melihat ke arah mereka bertiga yang sedang menatap ke arah ku.


..." Pada kenapa nih liatin gua? Haruskah kita menuju ruangan masing-masing? " Tanya ku....


..." Cieeeee Gemoy. " Balas mereka dengan tertawa renyah....


..." Yang di sana gimana nih moy, parah.. " Berkata Teh Laura....


Aku pun hanya tertawa, aku masih terbawa suasana dengan adegan tadi. Hari-hari ku indah saat-saat ini. Aku yakin, cinta yang tumbuh bertunas itu memunculkan sesuatu kebahagiaan baru. Aku tahu itu. Tapi aku masih belum benar-benar yakin, ini hal baik untuk sesuatu yang akan datang. Semoga saja pikiran ku salah kali ini.


Hari ini ku sebut adalah hari senyum, akan ku ajukan pada pemerintah untuk menjadikan nya status hari libur. Karena aku ingin semua orang tau, betapa bahagianya hati ini yang mulai terbuka bebas setelah penuh sarang laba dan kecoa, sudah lama tak bergejolak.


Di suasana kantor yang ramai suara deru mesin, aku dan Teh Laura sedang duduk berdua menyelesaikan kewajiban yang biasa kita kerjakan. Alih-alih aku bertanya padanya.


..." Teh Laura, gua lagi bingung sumpah. " Kata ku....


..." Kenapa lu? Berantem ama cewe lu? " Jawab nya....


..." Ngga juga sih, cewe gua mah ga mau berantem Teh, dia tuh vibes nya positif banget sumpah, jadi ya kalo ada apa-apa malah dia yang sering mau ngalah gitu. "...


..." Hahaha, baik juga cewe lu. Kenalin kek sama gue, siapa tau bisa main bareng kan. "...


..." Hahaha iya dah tar ya, gua masih gak enak soalnya, dia kan masih rutin kuliah juga. "...


..." Lah terus lu sekarang kenapa bingung? "...


..." Sumpah euy, gua ketemu sama si Firda telat banget ya Teh Laura. "...


..." Hahaha... anjirr lu beneran suka sama dia? Hahaha.. " Tambahnya....


..." Ssssttttt... ah... Hahahaha, dah lah jangan kasih tau yang lain, tar ribut nih. " Jawab ku....


Tak lama kemudian, si Zahra dan Mona datang dengan membawa pesanan titipan kami.


..." Ihhh... Ngobrolin apa nih, keliatannya rame, ikut dong. " Berkata Zahra sambil merangkul Teh Laura dari belakang....


..." Ini nih si Gemoy, hahahaha. " Jawabnya....


..." Apa ih Kak Gemoy, biasa, Zahra kalo ada apa-apa kelewat terus, males ah. " Keluhnya....


..." Hahaha, ya gimana ya. "Jawab ku sambil menggaruk kepala....


..." Eh sorry ya, gua mau keluar dulu mau angkat telfon dari bokap nih. " Berkata Mona....


..." Iya Mona, yang lama ajah, hihihi. " Jawab ku....


Setelah Mona meninggalkan kami bertiga, aku berencana mengganti topik ke arah perpisahan Mona. Aku gak mau Zahra ataupun Mona sekalipun tau tentang perasaan aku dengan Frisia. Untuk saat ini, hanya Teh Laura saja yang sudah tau.


..." Eh, 2 hari lagi kan Mona abis kontrak nih, mau kita apa kan dia ya? " Tanya ku....


..." Ih.. aku bakal sedih gak ada Kak Mona lagi, tar aku sendiri dong. " Keluh Zahra....


..." Lah gimana sih? kan masih ada gua sama Gemoy Zahra. " Sahut Teh Laura....


Perbincangan pun berlangsung lama, sampai mona selesai dengan urusannya. Kami pun langsung makan bersama di dalam ruangan kantor, sampai jam pulang pun tiba.


Apa kata ku tadi? Benar kan? Hari ini adalah hari senyum. Sepertinya aku harus mencari tau bagaimana mengusulkan ini ke pihak negara. Aku ingin semua tau bahwa hari ini aku sangat-sangat full senyum.


Sesampainya di rumah, bermaksud langsung membersihkan diri. Aku datang ke kosan, membuka sepatu, melepas pakaian dinas ku, langsung ku menuju kamar mandi. Dan..


..."Wanjinggg... Hendraaaa, kampretttt, ayolah kawan, lu kasih kode kalau sedang ada di sini, siram air kek, nyalain kran kek, atau bersuara sedikit aja gitu. Ini.. sum..pah.. Hahahaha.. "...


Ternyata setelah ku masuk ke dalam ke kamar mandi, ada Hendra yang sedang asik dengan buang hajatnya. Sialan nih Hendra, mana keliatan lagi bayi monyet nya ampun.


..." Hahaha, sorry bro, gua lagi fokus nih. "...


Beginilah kalau satu kosan dengan kawan mu, aku gak menyebutnya ini seru, rame, sebel, atau apalah, tapi ya kalian coba saja dulu, kalian pasti merasakan hangatnya pertemanan dalam satu kontrakan.


Sambil menunggu Hendra selesai dengan persoalan perutnya, aku duduk depan kosan, menghirup udara di penghujung sore yang sedang tegapnya hormat kepada bulan. Aku sangat menikmatinya.


Ping.. Ping.. (Suara notif HP)


Ternyata pesan dari Teh Laura.


..." Moy, besok kita lanjut buat rencanain perpisahan mona, bisa kan? " Tulisnya....


..." Siap komandan, bisa diatur. "...


Aku jadi ga tega sama Mona, dia yang mengajariku cara bagaimana mengerjakan sesuatu hal. Walaupun bukan dengan cara paling terbaik, aku tiap kali gagal pasti kena omel dia. Tapi ia sebenarnya peduli, aku suka cara pedulinya.


.......


.......


.......


.......


Rencana apakah yang akan dilakukan untuk perpisahan Mona?


Lalu bagaimana perasaan Mona meninggalkan Derry, Teh Laura dan Zahra?


Sampai Jumpa Di Next Episode Ya.


Jangan lupa tetap support karya-karya indah ini, supaya author nya rajin upload guys.


...Happy Reading...