My Destiny is Third

My Destiny is Third
Saved from slander.



These few days I feel like I have a heart disease, because every time I look at Adam's sister and remember I kissed her cheek that night without hesitation makes me even more in a romantic hangover, but why Adam's brother is ordinary is he used to being kissed by women who admire him, ah have continued to think like this will only make my heart not calm.


"Today there's a lecture I have to focus on I can't keep thinking about Adam's brother"


I walked towards the hall but there was sarah and her friends were there, did I just mutter ya?.


"Where are you going?"


"You go to the toilet, yes"


"You don't fear that, why you sold yourself to Adam" while bumping into me.


So hurtful were the words that Sarah said to me, I just kept quiet hearing the chatter, because she brought a lot of friends and I was also lazy to look for trouble on campus.


I immediately ran to class feeling uncertain, when I arrived at class I went straight to my desk while looking down crying considering what Sarah said to me.


"Well you why Citra?"


"Song"


I hugged Anisa while crying.


"You why baby, try to calm down first if it's calm then the same story I yes"


After being quiet enough I told Anisa everything that the cruel woman had said.


"Kok you can be put on the pierced like that, do I samperin aja Sarah the master of the campus"


Anisa immediately wiped my tears while harboring emotions that were quite burning because of hearing my story, I so feel lucky that I have a friend who helped feel what I feel.


"No, I don't want us to be their fishing rod, thank you for knowing me"


"Yes, dear image is what friends are for"


We hugged each other.


"Eh lecturer and Dateng woi"


I continued the class feeling quite calm because Anisa has won me, if there is no Nisa my feeling may still be bad because of sarah's talk.


Elsewhere Sarah devises a plan to trap Citra.


"Hey guys, you have an idea to use that image?"


"You get a lot of ideas, just choose which one"


"Surely, you whisper the same way I'm here"


"It's crazy that I'm this one, so you've entered your bracelet in your bag the image is fitting I say he earlier, the best of you Nadia"


"Well, we hit him now"


Akhirnya kelas hari ini selesai juga aku rasanya ingin langsung pulang dan rebahan di kasur.


"Eh kok si Sarah sama gengnya ke kelas kita cit"


"Ngak tau nis"


"Heh Citra dasar maling kamu"


"Hah maling, aku ngak pernah maling kak"


Aku kebingungan karena mereka bilang kalo aku maling.


"Hei Citra kamu ngak usah sok polos deh kamukan yang ngambil gelang emas aku"


"Sumpah demi tuhan aku ngak pernah ngambil gelang kak Nadia"


"Iya, citra ngak mungkin kayak gitu"


"Kamu diem ngak usah ikut campur" sambil melotot kepada Anisa.


"Geledah aja tasnya nad"


Mereka lansung mengambil tasku dan meneluarkan semua isinya.


"ini apa?"


Aku tidak menyangka kenapa gelang Nadia itu berada dalam tasku.


"Aku bener-bener ngak tau kak"


"Kamu jangan ngelak lagi deh"sambil menjambak kepalaku.


"Jangan gitu dong ini namanya kekerasan"


"guys bawa si berisik ini keluar"


"Ngak jangan tarik aku, ngak akan aku biarin kalian nyakitin Citra"


"Yayaya.... terserah deh"


Mereka menyeret Anisa keluar dan mengunci pintu, sehingga hanya aku yang berada dalam ruang kelas, mereka terus menyuruhku mengaku sambil menyiksaku, aku tidak bisa berbuat banyak karena ketakutan di keroyok seperti itu.


"Huhu, udah kak aku beneran bukan maling" sambil menangis.


Beberapa saat kemudian.


"Buka pintunya"teriak kak Adam.


"Eh Sarah itu kayaknya suara Adam deh, gimana nih?"


"Udah kalian tenang aja serahin sama aku"


"Kalian mau buka pintunya atau aku dobrak"


"Udah buka aja"


Mereka pun langsung membuka pintu kelas dengan tergesa-gesa.


Kak Adam lansung masuk dan menghampiri aku.


"Kalian apain citra, kamu Sarah ngapain kamu nyiksa Citra, ini udah masuk tindak kriminal kalo citra ngak bersalah awas aja kalian.


"Aku bisa jelasin sayang"


"Aku udah denger semuanya dari Nisa, lagian semua tuduhan kalian ngak masuk akal, aku akan selidiki kasus ini"


Kak Adam menggendongku yang sudah acak-acakan karena mereka siksa pergi menjauh dari mereka menuju UKS.


"Kamu istirahat aja disini aku mau ngambil kompresan dulu"


Aku tidak menjawab kak Adam.


Dia mengkompreskan wakahku dengan hati-hati, akupun mengeluarkan air mata.


"Kamu kenapa nangis, sakit ya aku konpres"


"Ngak kak, aku takut mereka nyiksa aku lagi"


"Maaf ya aku dateng terlambat"


Diapun menenangkan aku dengan memelukku erat, begitu nyamannya rasanya di berada di pelukan kak Adam.


Hari itu dia lansung mengantar aku pulang dan menyuruh ku untuk menghubunginya ketika ada yang mengangguku, aku jadi lebih tenang karena ada kak Adam di sisiku.


"aku anterin kamu pulang ya" sambil mengelus kepalaku.


"iya kak tapi aku berantakan gini nanti anak-anak pada liat aku ngak mau reputasi kakak di kampus jadi jelek gara-gara aku"


"dengerin ya Citra scholastika reputasi aku di kampus ini ngak jauh lebih penting dari pada kamu ngerti" menatapku dalam.


"makasih banyak kak Adam"


akupun memeluk kak Adam erat begitupun dengannya.


"sekarang kamu naik atas punggung biar aku gendong"


aduh malu banget tapi mau jalan juga sakit ini badan.


akupun manaiki punggungnya yang kokoh itu.


"eh liatin tuh si mahasiswa baru berani banget di gendong kak Adam apa ngak takut sama sarah dia" suara anak kampus yang sedang bergunjing sambil menatap tajam ke arahku dan kak Adam.


"udah ngak usah peduliin omongan mereka"


"eh Sarah liat tuh si Adam lagi gendong mahasiswi baru ngak tahu diri itu"


"mana?"


awas aja kamu Citra kali ini boleh aja kamu lepas dari aku tapi aku ngak akan ngebiarin kamu hidup tenang.


"itu dia ke parkiran tuh kayaknya masukin tuh anak ke mobilnya"


"udah biarin aja sekarang dia bisa di selamatkan Adam tapi untuk yang berikutnya jangan mimpi dia"


"iya aku setuju tu cewek gatel harus di kasih banyak pelajaran dari kita"


kak Adam mengantarku ke kosan.


"akhirnya sampe juga"


"diapun mengangkat aku turun dari mobil"


"ini kuncinya kak"


dia membaringkan aku di tempat tidur dengan perlahan.


"aku mau ke kampus lagi ya soalnya ada kelas terakhir lima belas menit lagi kamu kalo masih sakit nanti telpon aku ya" sambil mengelus kepalaku.


"iya kak hati-hati di jalan yah"


"iya semoga cepat pulih ya dan masalah tadi jangan di fikirin lagi biar aku yang cari tahu semuanya"


dia mengecup keningku dan kembali lagi menuju kampus, sungguh pria yang berhasil membuatku merasa aman ketika berada di dekatnya.


Bersambung.....