My Destiny is Third

My Destiny is Third
The Jahili Sarah



After the incident I kissed with Adam's brother accidentally so I always avoid him, I don't want to love him more while he already has sarah as a couple, every time he glanced at me I tried like I didn't see him, not because I was arrogant but I didn't want to be a thorn in the relationship of Adam and Sarah, but unfortunately, this feeling is always directed at Adam's brother.


"Citra scholastika" There's a call to my name.


I turned too.


"This is the book you fell, from earlier I yelled you ng denger even dumbfounded"


"Hehe. I'm sorry I'm not focusing on that"


"Next time be careful"


I guess who, it turns out my classmate Beni, she kindly also wanted to deliver my fallen novel book.


I better read a novel because the class is still a long time to start, I also sit under a shade tree and open a novel book while enjoying what I read.


A few moments later.


"Hi" with a sweet smile


"Can I sit here?"


"Em. just sit down"


Why Adam's brother again.


"What did you read again?"


"Novel who was "my answer was flat.


"I want it to be with you, I feel your attitude changed after the incident on the bus, I'm sorry if it makes us so awkward"


Why did Adam's sister apologize, as if the kiss was planned when it was unintentional.


"So no apologies, it's not wrong that also ngak in deliberately so santay aja"


"Ciee santay aja" while stroking my head.


"What the hell brother"


"Did you do anything at the time of the incident?"


Why Adam's brother was that, did he feel his heart pounding as well when it happened.


"Not really ordinary, anyways it's not on purpose"elak me.


"Hem, if you're ordinary, don't shy away from your sister"


It turns out that Adam realized that I avoided him these few days when I thought he was unconscious.


"Yes, brother, but don't talk about it anymore sister" I said


"Iya, aku juga ngebahas ini karna takut kita saling canggung kalo ketemu"


Seolah dia tidak ingin berjarak denganku.


"Iya kak, lagian aku juga ngak nyaman menghindar terus"sambil tersenyum malu.


"Haha..."kak Adam tertawa.


"kamu lucuu banget"


"Apaansih kak"


"Ya udah aku duluan ya ada kelas soalnya"


"Iya kak pergi aja sana"


"Malah di usir, ya udah aku pergi nih"sambil tersenyum.


Setelah kak Adam masuk kelas aku juga pergi dari taman dan menuju kelasku.


"Hei"sapa nisa


"Hei nis,kamu udah ngerjain tugas makalah?"


"Udah dong,nisa gituloh"sambil tertawa.


"Hehe, iya-iya yang rajin"


"Eh kok perut aku sakit ya ?"


"Kamu sakit "


"Ngak tau nih, aku ke kamar mandi dulu ya nis "


"Iya, tapi jangan lama-lama cit bentar lagi dosen kita masuk"


"Iya Nis"


Aduh kenapa pakai sakit perut segala sih tapi aku harus buru-buru biar cepet masuk kelas lagi.


Tapi di saat menuju kamar mandi kenapa perasaan aku nggak enak ya?.


"Eh Sarah tuh ada si Citra kita kerjain aja yuk, dia kan sering bikin kamu kesel" ucap teman Sarah.


"Iya juga ya Ya udah yuk kita kerjain aja, kamu punya ide nggak?"


"Jangan panggil aku Nadia kalau nggak punya ide Sar, sini aku bisikin"


Setelah beberapa saat berada di kamar mandi.


"Eh kok pintunya nggak bisa kebuka sih, padahal tadi gampang aja dibuka"


Aku pun berusaha membuka pintu kunci kamar mandi yang sepertinya dikunci dari luar.


"Hai Citra makanya jangan main-main sama aku ini belum seberapa ya"


Aku pun mendengar suara yang tidak asing apakah itu suara Sarah?.


"Kamu siapa Jangan main-main kayak gini, tolong buka pintunya"


"Mimpi kamu ya rasain tuh nikmati kesendirianmu di dalam WC "sambil tertawa.


"Tolong tolong aku nggak bisa di tempat sempit kayak gini tolong aku bisa sesak nafas"


Mungkin mereka merasa kurang mengerjaiku setelah mengunciku mereka malah menyiramku dengan air dari atas ventilasi.


"Udah beres Yuk kita pergi"


"Tolong tolong jangan pergi tolong buka ini aku nggak bisa di tempat sempit kayak gini tolong"


Mereka pun sepertinya sudah pergi meninggalkan aku sendiri di dalam kamar mandi.


Aku pun terus berteriak sambil minta tolong.


"Kok Citra belum masuk kelas juga ya padahal dosen udah mau selesai ngajar, perasaan aku jadi nggak enak, nanti aku susulin aja deh dia ke kamar mandi"


Aku pun mulai kehabisan suara karena terus berteriak di kamar mandi dan nafasku semakin sesak.


"Siapapun bantu aku"dengan suara pelan.


Beberapa saat kemudian setelah aku berkali-kali berteriak hingga suaraku serak.


"Citra"teriak Anisa.


"Kamu masih di dalem cit ?"


"Iya tolong aku Nisa, aku di kunciin di sini, aku sesak banget di sini"


"Iya-iya kamu tunggu bentar ya aku nyari bantuan dulu"dengan panik.


"Eh ada kak Adam di aula, aku minta tolong dia aja deh "


"Kak Adam, tolongin citra kak"


"Ha citra kenapa?"


"Dia di kunciin di kamar mandi kak dia punya gangguan pernafasan,aku takut dia kenapa-napa kak"


"Iya ayuk kita ke sana " langsung berlari Dengan kepanikan.


"Citra"teriak kak Adam.


Aku tak bisa lagi menjawab panggilannya karena rasanya aku benar-benar merasa sesak.


Kak Adam langsung mendobrak pintu kamar mandi.


"Citra bangun"


"Gimana ni kak?"


"Aku bawa citra ke rumah, kamu di kampus aja nanti aku kabarin kalo ada apa-apa"


"Iya kak hati-hati ya kak bawa Citra"


"Iya''


Kak Adam menggendongku di pelukannya.


Dua jam kemudian, aku membuka mataku perlahan, aku melihat kak Adam di sampingku duduk sambil tertidur, ya ampun dia manis banget apalagi kalo tidur gini.


"Aku bangunin ngak ya?"


Diapun terbangun.


"Kamu udah sadar ternyata"


"Eh iya kak, maaf jadi kebangun gara-gara aku"


"Ngak papa kok, kamu udah agak enakan"


" iya kak udah enakan makasih banyak ya kak udah nolongin aku"


" iya nggak papa kamu harus jujur sama aku siapa yang ngelakuin ini sama kamu"


Aduh gimana nih kalau aku jujur kak sarah yang ngelakuin semua ini aku takut hubungan mereka hancur gara-gara aku.


"Em.... aku juga nggak tahu kak aku nggak kenal sama suaranya"


" kamu beneran gak kenal sama suaranya, kamu gak usah takut jujur aja sama aku"


Sambil menatap mataku.


Aku tidak mungkin jujur pada kak Adam kalau sarah yang mengunci aku di kamar mandi dan bersekongkol-kol dengan temannya dengan temannya, aku berusaha mengelak dan bilang tidak mengenali suara itu mungkin ini lebih baik.


"Ya udah kalau kamu benar-benar enggak mengenali suaranya, kamu harus makan dulu biar ada tenaga, sini aku bantuin duduk"


Dia pun membantuku duduk dan menyuapiku bubur, rasanya aku semakin ingin memiliki kak Adam walaupun aku tahu ini tidak mungkin.


"Eh kok baju aku beda ya?"


"Jangan-jangan kak Adam"aku langsung melotot pada kak Adam.


"Hahaha...."dia tertawa.


"Fikiran kamu jangan kemana-mana Citra, bibi yang gantiin baju kamu pake baju aku,soalnya dirumah ini ngak ada cewek selain bibi, itu juga bibi ngak nginap"


"Gitu ya kak syukurlah"


"Kamu berharap aku yang gantiin baju kamu"sambil tersenyum.


"Apaansih kak, ngaklah"


"Haha iya-iya, kamu istirahat aja dulu di sini nanti aku anter pulang"


"Aku mau langsung pulang aja kak, aku pulang sendiri aja kak nggak papa kok, aku juga harus masuk kerja hari ini jadi harus siap-siap dulu"


"Ya udah aku anterin ya"


"Nggak papa kak aku nggak mau kakak repot"


"Nggak repot kok santai aja, kamu turun aja dulu aku mau ngambil jaket dulu ya"


"Iya kak"


Aku pun sampai di ruang tamu dan melihat-lihat rumah kak Adam, ternyata dia orang kaya, rumah sebesar ini tapi cuman kak Adam yang tinggal jadi pas aku lihat dia di cafe malam itu ternyata dia lagi kesepian mungkin karena dia sendirian


kasihan dia.


Bersambung....