
In the morning Adam did not wake up yet, I looked at him who looked exhausted, whether the burden of what Adam's brother shouldered until he went to the bar.
"I have breakfast first ah"
I went back to prepare breakfast.
"Oh, my head hurts a lot" while slowly opening my eyes.
I'm where I am, the feeling I remember the last time I was at the bar.
"So Adam was awake, it turns out, brother breakfast first sorry if so"
"Can I be at your boarding house?"
It turns out that Brother Adam does not remember the incident last night, yes I did not need to discuss about him kissing my lips and then falling asleep.
I also told Adam about the incident last night except for the kiss.
"So that, I'm sorry to have taken care of you"
"No papa sis, next time Adam's brother has a story problem with me, I'm ready to be a good listener for brother hehe"
"Yes, thank you for Care as a sister"
"Yes brother together, yuk eaten first sister breakfast"
"You're good at cooking apparently"
"Hehe I'm used to cooking myself, brother, but ngak jago very much anyway"
"do you have another show today?"
"No thanks, why?"
"We go yuk, to a place of peace to keep your mind"
I wondered where Adam wanted to take me.
"Yes, my sister came out first, yes, I want to be ready because she has not taken a shower"
"No need to take a shower, you are beautiful"
"Hehe, just have to take a shower or bath"
"Yes, I've changed your shirt here" with his naughty smile.
"I don't want to"
I grabbed Adam's hand and pulled him out.
"Wait outside ya pervert" I laugh.
"You have the courage, watch out"
Akupun bersiap-siap dengan berdandan yang rapih dan memakai celana pendek jeans dan kaos oblong polos, aku lagi malas juga berdandan feminim hari ini.
"Ayok kak jalan kita hehe"
"Aku ngak salah lihat kan"
Dia imut banget pake celana pendek gitu.
"Kak Adam kenapa aku salah kostum ya kak"
"Ngak kok, yuk berangkat"
Kamipun pergi menaiki motor kak Adam yang sudah diantar karyawan bar tadi pagi.
"Kamu pegangan yang erat ya"
Aku hanya memegang jaket kak Adam, tapi dia sangat ngebut, sehingga aku tidak bisa jika tidak memeluknya.
"Pelan-pelan kak"berteriak.
"Haha apa lebih kenceng"
"ih takut tau"
Aku sampai tidak berani membuka mata sambil memeluk kak Adam.
Imut banget dia kalo lagi ketakutan gitu .
Satu jam kemudian akhirnya kami sampai di tempat tujuan.
"Inilah tempatnya"sambil tersenyum kepadaku.
"Kita mau nanam padi ya kak?"
Aku kebingungan, aku kira kak Adam mengajak aku ke gunung atau kebun teh untuk menenangkan fikiran ternyata ke sawah tapi tak apalah yang penting sama dia.
"Hahaha, nanam padi! Iya boleh-boleh aja kalo kamu mau bantu mang Ujang nanam padi"
"Ha kok malah ketawasih, lagian mang Ujang siapa kak?"
"Itu anak buah Papah aku dia yang ngurus sawah di sini tapi aku udah nggap keluarga"
"Jadi semua lahan sawah di sini punya kakak dong"
"Iya punya papah bukan punya kakak"sambil mengucek kepala ku.
"Ya udah kita ke situ yuk"
"Ayok kak"
Kamipun melihat ada ibu-ibu yang sedang menanam padi dan menghampiriNya.
"Eh mas Adam, bawa siapa itu pacarnya ya cantik banget"
"Iya buk calon istri haha"
Apaansih kak Adam aku jadi malu tau di bilang calon istri lagi emangnya dia ngak pernah bawa sarah kesini.
"Iya-iya emang pinter mas Adam cari calon istri ya, sini neng cantik belajar nanam padi sini"
"Iya buk, kak Adam ngak ikut?"
"Aku mau cari mang Ujang bentar, kamu main aja dulu sama ibu-ibu sambil nanam padi"
"Iya kak"
Akupun mencoba menanam bibit padi dengan ibu-ibu di sawah kak Adam ternyata menyenangkan juga walaupun kaki jadi penuh lumpur tapi tak apa.
"Ah..... uler buk" aku berteriak.
"Dimana neng"
"Itu itu buk" aku menunjuk ke arah ular.
"Haha... Ini bukan ular, cantik"
"Terus apaan dong buk"
"Ini belut namanya sejenis ikan tapi memang bentuknya kayak ular"
"Gitu ya buk, maaf ya buk aku ngak tau"
"Iya neng cantik ngak papa mamanya juga orang kota wajar kalo ngak tahu"
Aku jadi tidak enak telah mengagetkan ibu-ibu yang sedang bekerja tapi aku memang tidak tau kalo itu bukan ular.
"Ada apa ini kok barusan mamang dengar ada yang teriak?"
"Eh engak mang Ujang, ini si Eneng ngiranya kalo belut ini ular jadi teriak"
"Hahaha ada-ada aja kamu"
"Akukan memang ngak tau kak"
"Iya-iya yang anak kota pasti ngak tau belut"
Kak Adam mengejekku sambil tertawa.
"Yaudah sekarang kita makan bareng yuk ibu-ibu, mamang udah bawa lauk sama nasi yang banyak untuk hari ini karena tau Mas Adam mau main ke sawah.
"Ayok-ayok makan dulu, ayok neng"
"Iya mang"
"Kamu mau makan apa tetep nanam padi sendirian?"
"ih dari tadi bikin orang emosi mulu ya, rasain nih kak"
Aku mengambi lumpur dan mengoleskannya ke muka kak Adam.
"Hahaha Wek, rasain " aku langsung berlari.
"Awas ya kamu Citra scholastika"
Kamipun bermain kejar-kejaran sambil bermain lumpur, rasanya menyenangkan bisa melihat kak Adam tidak sedih lagi.
"Aduh senengnya jadi muda ya ibu-ibu"
"Iya mang, tapi masa yang kita udah lewat"
"ha-ha-ha iya juga ya sekarang mah udah bukan masanya kita lagi ya"
"udah sini makan dulu mas Adam, neng Citra"
"ya udah yuk kita bersih-bersih dulu di pancuran air"
kamipun membersihkan badan dahulu di pancuran mata air dari gunung yang mengalir ke sawah kak Adam.
"Yee makan di pingir sawah"
"bahagia banget kayaknya yang bisa makan dipinggir sawah"
"iya dong kak soalnya kan jarang hehee"
"ya udah kita samperin mamang sama ibu-ibu di sana biar bisa cepet makannya.
"sini neng duduk sini"
"iya Bu makasih"
"wah enak-enak banget lauknya"
"iya dong kan untuk tamu spesial lauknya juga harus spesial iyakan mas Adam"
tiba-tiba kak Adam tersedak.
"eh iya dong mang harus"
"ciee-ciee mas Adam" goda ibu-ibu.
kami makan bersama dengan makanan yang terasa sangat nikmat sambil melihat pemandangan persawahan yang hijau dan juga damai membuat aku ingin berlama-lama di sini.
Hari ini rasanya aku sangat bahagia karena bisa bersama kak Adam pergi ke sawah sambil menanam padi dan bermain lumpur juga kenal dengan ibu-ibu dan mang Ujang yang begitu ramah.
Bersambung...