My Destiny is Third

My Destiny is Third
The road with Rama



Little boy selling donuts and buskers who are singing.I think I should be much more grateful because my life was not that difficult I should not collapse just because of the talk of aunty, I should be even stronger.


On the way suddenly I saw there was an old grandmother of pecel traders who seemed to be overwhelmed serving the customers who were quite crowded.


I went straight to the grandmother.


"Grandma can I help you?"


"Nerepotin what a sweet neng" while smiling sweetly.


"No grandma"


"Yes, please put it in plastic"


I also help grandma turned out to serve buyers who are quite a lot of draining energy, let alone an old grandmother like this. Makes me remember my grandmother who also always taught me about this hard life.


that's like Citra is really Citra.


"Hai Citra" Rama smiled approaching.


"eh Rama by chance, come with me to help grandma"


"May I help you here"


"You wrapped that up yeah"


"Any commander hahaha"


We also work together to help grandma trade pecel.


I would have been more amazed by Citra if this feeling had been avenged, but I knew that she already loved someone else.


"Rama is dumb"


"Eh ngak"


"Thank God today granny's trading already abis ya nek"


"this is all thanks to the same sweet already help grandma, thank you so much so grandma can go home to play with grandchildren"


grandma smiles happily.


"Where is Grandma's house?"


"Not far neng pasuk alley front here turn right there is a green house, want to play to grandma's house ngak?"


"Em really want to be nice but Citra wants to work, sometimes we must play with Rama"


"Yes already Mas Rama keep neng Citra yes grandma pay back first"


"Yes Grandma" We saluted grandma.


"Aku anterin kamu ke kosan ya?"


"Em ayok aku juga butuh tumpangan ngatis hehe"


Tiba-tiba saat mau menaiki motor Rama.


"Ah..." Aku berteriak.


Aku hampir terjatuh tapi Rama dengan sigap menangkap ku, kami saling bertatapan.


"Hati-hati lain kali Citra"


"Iya-iya maaf deh hehehe"


"Makasih ya udah nolongin"


Aku memeluk bahunya Rama.


Kenapa jantungku berdegup kencang kayak gini ya, apa karena Citra. Aku ngak boleh ngasih tau dia nanti dia ngejauh jadi aku harus tetap menyimpannya perasaan ini sendiri.


kamipun sampai di kosan.


"aku tunggu di sini ya"


"hah emang kamu mau anterin aku ke tempat kerja, emang ngak ngerepotin kamu ?"


"hahaha santay aja kali yaudah sana siap-siap aku tunggu di sini mumpung aku lagi baikkan"


"iya deh tapikan kamu selalu baik juga sama aku"


"iya juga ya"


"tunggu bentar ya Rama"


"iya"


akupun bersiap-siap karena Rama telah menungguku.


beberapa menit kemudian.


"hai...aku udah siap nih" sambil menepuk bahu Rama.


Citra cantik banget pake seragam kayak gitu aku jadi hampir ngak bisa ngontrol diri pas liat dia cantik banget gini.


"woi... lagi mikirin apa kok bengong?"


"hehe...lagi mikirin dosen"


"hah mikirin dosen? ada-ada aja ya kamu, jangan coba-coba deketin buk silvi dia udah punya suami tau"


"hahaha... ya engaklah dia juga bukan tipe aku kali"


"terus tipe kamu kayak siapa?"


"Hem...ada deh, ya udah yuk aku anterin kamu kerja dulu"


"tapi...?"


"tapi apa?"


"masih ada satu jam lagi sebelum masuk kerja"


"kita jalan-jalan aja gimana ke kota tua, kan ngak terlalu jauh juga dari sini untuk ngisi satu jam sebelum kamu kerja"


"beneran nih emang kamu ngak repot?"


"dari tadi bilang repot mulu aku ngak repot sama sekali kalo sama kamu"


apa ya maksud Rama.


"ya udah ayok berangkat"


kamipun berangkat menuju kota tua yang ramai sekali orang-orang yang sedang berkunjung karena sudah sore juga jadi mereka inging menikmati pemandangan museum dan ada juga yang berfoto-foto ria bersama keluarga.


"Rama liat ada manusia silver di situ kita foto yuk"


"kamu aja yang foto aku fotoin sini"


aku menarik tangan Rama mengajak dia berfoto bersama manusia silver.


"eh mbak bisa tolong fotoin kita ngak?"


"oh boleh-boleh"


kamipun berpose dengan di foto oleh pengunjung yang berada di kota tua.


"coba lebih deket lagi mbak sama masnya biar hasilnya bagus"


"gini mbak?"


Rama merangkul bahuku.


"nah ini baru bagus, ini mbak mas saya mau pergi dulu"


"makasih banyak ya mbak udah di fotoin"


"wah bagus banget hasilnya"


"mana liat, lumayan juga jepretan mbaknya kayaknya dia memang fotografer"


"iya kayaknya"


"kirim dong"


"ngak sabaran banget ni anak, nih udah aku kirimin tu"


"makasih Citra cantik ha-ha-ha"


"emang cantik Wek.."


"ih PD ya"


"emang harus PD dong, ayok ke sana lagi yuk jajan"


kamipun melihat begitu banyak jajanan yang di jajakan di sekitar sana.


"kita jajan kerak telor yok, tapi aku penasaran loh pengen buat kerak telor sendiri"


"bilang aja sama bapaknya"


"bilangin dong ma hehe"


"kenapa takut?"


"Hem.. ngak sih tapi muka bapaknya agak sangar gitu"


"yaudah aku bilang ya sama bapaknya, Pak temen saya boleh ikutan buat kerak telornya"


"oh boleh-boleh sini neng"


akupun duduk berdampingan bersama Bapak pembuat kerak telor.


"gini neng cara, mas mau tolongin mbaknya ngak"


"mau pak sini apa aja yang harus di bantu?"


"mas balikin adonannya nanti mbaknya yang masukin bumbu ya"


aku dan Rama bekerja sama membuat kerak telor karena bapaknya juga sedang sibuk melayani pembeli lainnya.


"aduh panas"


"kamu ngak papa" sambil memegang tanganku.


"ini kena api sedikit tapi ngak papa kok ram"


"sini aku tiupin dulu"


Rama meniup tanganku dengan pelan dan penuh wajah kawatir sebenarnya dia memang pria yang baik dan terlihat tulus juga.


"kenapa neng?"


"eh ngak papa pak cuman kena api sedikit"


"ya ampun sini biar bapak lanjutin buatnya nanti apinya kena neng lagi gimana"


"ya udah pak makasih ya"


bapak itupun melanjutkan membuat kerak telor yang aku buat dengan rama"


"nah ini udah jadi kerak telornya neng"


"sini biar aku aja yang bayarin"


"kita makan di situ yuk Ram"


"ya udah aku temenin kamu makan aja soalnya aku ngak berani nyoba kerak telornya"


"kenapa padahal enak banget loh ini cobain dulu deh a...pesawat datang"


Rama membuka mulut sambil menerima suapanku.


"gimana enak kan?"


"enak juga ternyata ya rasanya"


"enakkan pasti kamu ketagihan deh kalo udah nyoba gini"


"iya sini semuanya buat aku aja hahaha"


"eh ngak mau lah"


kamipunmemperebutkan kerak telor itu.


"aduh"lagi-lagi Rama menangkapku dari terkatuh kami saling bertatapan cukup lama.


"eh udah jam segini aku harus ke tempat kerja ram"


"ya udah aku anterin ya"


Ramapun mengantar aku ke cafe shop.


"Makasih ya Rama udah ngajak aku jalan-jalan tadi"


"iya lain kali kalo mau jalan lagi hubungin aku aja kalo aku bisa langsung gas buat kamu"


"hahaha...siap deh yaudah hati-hati ya"


"iya aku pulang ya"


Rasanya aku masih ingin bersama dengan Citra, jujur dia benar-benar membuat aku jatuh cinta.


Bersambung....