My Destiny is Third

My Destiny is Third
Meet aunt after a long time.



Yesterday he made me flower, today even the flowers withered not in watery. That's how I feel now I see Brother Adam making out with Sarah on campus when yesterday he kissed me lustfully but I can't blame him completely because I didn't either refused that kiss.


"Partner"


"eh Rama"


"Why are you dumb?"


"No papa, oh yes I want it about the task that was loved by the lecturer yesterday you understand"


"Yes later we will discuss in the canteen while copying how"


"Yes yuk"


We also discussed the duties in the canteen while eating santay coffee.


I saw Brother Adam glancing at us but it turned out that there was Sarah behind him making me even more uncomfortable looking at them.


"Our Rama Go yuk"


"But it's not finished yet"


"We continue tomorrow I also want to get ready to work at the cafe"


"When do you want to ask or need something to come with me" Rama smiled.


"Yes, thank you"


I left the cafeteria in a hurry.


"Partner where?"


"Why do you have Citra"


"Jawab is very difficult, want to find your storm"


Adam pulls Rama's collar.


"Dear what are you guys?"


"No papa" while leaving Rama and Sarah in the cafeteria.


"Heh, your new son said what Adam said just now, until he got angry like that"


"Ask yourself your boyfriend" with a flat face.


"Well if you fuck with Adam"


"Yes there susulin your boyfriend will disturb other girls again"


Sarah pergi menyusul Adam.


Aku berjalan menuju kosan karena masih sore juga.


"Kok mendung ya mana ngak bawa payung lagi"


Tiba-tiba aku melihat ada seorang ibu yang memperhatikan aku dari kejauhan lalu mencoba menghampiri.


"Citra" suara yang familiar ku dengar.


Aku lihat baik-baik siapa yang memanggil namaku.


"Bibi"


"Iya masih inget juga kamu sama bibi"


"Kamu ada uang saya butuh uang ganti rugi karena saya pernah ngerawat kamu"


Aku tidak menyangka kata-kata kasar itu keluar dari mulutnya.


"Maaf bi aku ngak ada uang sekarang nanti kalo aku ada aku kasih kok"


"Alah jangan bohong kamu sama saya, sini tas kamu"


Dia menarik tasku.


"ini apa Citra daun ya hahaha, nih tas kamu"


Dia melempar tasku dan mengambil semua uang di dalam dompet.aku terdiam melihat kelakuannya sambil meneteskan air mata.


"Kenapa bibi tega sama Citra bi?"


Dia menghentikan taksi dan pergi meninggalkan aku. Tiba-tiba hujanpun turun dengan derasnya.


Aku menangis di bawah hujan sambil meratapi apa yang terjadi padaku.


"Citra kamu ngapain ujan-ujanan kayak gini?"


Ternyata kak Adam. Entah kenapa aku tidak bisa menjawabnya dan masih terdiam sambil berjalan.


"Citra berhenti dulu"dia menghentikan langkahku.


"Kamu kenapa kalo ada masalah cerita sama aku"


Sambil memegang tangan ku.


"Inget ya Citra, kamu itu spesial dan aku juga yakin wanita kayak kamu pasti kuat dalam menjalani hidup yang terasa pahit sekalipun"


Lalu dia mengecup keningku.


Aku sudah tidak tau lagi akan berkata apa karena dia langsung membuat hatiku bersemangat lagi.


"Makasih ya kak" akupun balas dengan mencium tangannya.


Aku tidak tau jika tidak ada kak Adam yang menguatkan aku yang sebatang kara ini.


"Kita pulang ya aku anter"


"Aku masih mau di bawah hujan kak"


"Nanti kalo kamu sakit gimana?"


"Ngak papa kak toh aku kan kebal hehe"


"Kebal? Ada-ada aja ya kamu kalo sakit awas aja"


Akupun berlarian di bawah hujan di temani kak Adam.


Dia kayak anak kecil banget mandi ujan-ujanan kayak gini tapi lucu.


Hampir satu jam bermain di bawah hujan tiba-tiba.


"Aduh au.. sakit banget"


Aku terpeleset dan membuat kak Adam lagi-lagi khawatir kepadaku.


"Kita pulang ya, sini aku gendong aja"


Dia mengendongku karena kakiku terasa sakit.


"Kita kerumah aku aja ya kan deket"


"Ya udah kak tapi kalo kita masuk mobil nanti mobil kak Adam basah dong"


"Hahaha....kamu ada-ada aja nantikan bisa di cuci"


"Iya ya kak kan bukan aku juga yang nyuci"


"Hahaha...dasar ya kamu"


Kak Adam pun mengendongku sampai mobil.


Kamipun melanjutkan perjalanan kerumah kak Adam.


Beberapa menit kemudian kamipun sampai di rumah kak Adam.


"Hati-hati jalannya" kak Adam memapahku.


"Nih kamu pake pakaian aku dulu ngak papa kan"


"Iya kak ngak papa"


"Aku tinggal dulu ya, kamu bisa ganti baju sendiri kan apa mau aku bantuin"


"ih kak Adam keluar dulu sana"


"Ya udah aku keluar ya"


Akupun menganti pakaian dengan pakaian kak Adam yang agak kebesaran.


"Tapi nyaman juga pakaiannya kak Adam"


Akupun keluar dari kamar dengan kaki yang masih pincang.


"Udah selesai ganti bajunya, bagus juga bajuku di kamu, sini duduk dulu"


Akupun duduk di ruang tamu rumah kak Adam.


"Aku kompres dulu kaki kamu biar cepet sembuh"


Kak Adam mengompreskan kakiku dengan air hangat dengan lembutnya.


"Ngak papa kak aku aja sini"


"Aku aja yang kompres kamu duduk manis aja di sini"


"Abis ini kamu mau baca novel ngak? Kebetulan di rumah aku ada perpustakaan"


"Wah beneran kak?"


" Iya kamu mau liat, sini aku bantu berdiri"


Kak Adam pun memopong ku menuju perpustakaan.


"Wah banyak banget kak bukunya"


"Aku tau kamu pasti suka di sini"


"Suka banget kak aku boleh baca semua buku di sini kak?"


"Emang kamu bisa baca semua buku di sini selama semalem"


"Hehe...ngaksih kak"


"Nih novelnya bagus banget kamu udah baca belum?"


"Yang itu belum kak aku udah baca yang season satu yang dua belum"


Akupun mendekati kak Adam.


"Jadi ini itu persi lengkapnya"


"Wah aku mau pinjem dong kak"


"Mau minjem boleh tapi ada syaratnya"


"Apa kak syaratnya?"


"Kiss dulu dong" sambil tersenyum nakal.


Akupun tanpa pikir panjang lansung mencium pipi kak Adam.


"Kok diem kak sini novelnya"


Kak Adam terdiam setelah aku mencium pipinya tapi aku tak menghiraukan salah tingkahnya itu dan mengambil buku yang dia pegang.


"Udah berani ya sekarang"


Kak Adam balik mencium pipiku lalu menutupi wajahnya Dengan novel.


"ih apaan sih kak Adam tiba-tiba"


"Kamu juga tiba-tiba"


Kamipun membaca novel dengan tenang tapi dengan perasaan yang kasmaran.


"kamu mau minum kopi ngak, apa susu?"


"boleh kak"


"aku buatin dulu ya kamu tunggu di sini dulu"


"siap kak aku bantu doa ya biar cepet jadi kopinya"


"ada-ada aja kamu" sambil mengelus kepalaku.


beberapa menit kemudian.


"Hem...malah tidur ni anak"


"selamat tidur sayang ku"


malam itu ternyata dia mengendong aku yang sudah tertidur pulas ke kamar tamu


Bersambung....