My Destiny is Third

My Destiny is Third
Learn to bring a motor tipped into the got.



Today I did not work but back to college quickly, if I diem dikosan aja bosen really feels if I asked Anisa aja yes who knows she is empty so we can play together.


"Hello Nisa where are you?"


"I'm in the school cafeteria, why cit?"


"Yes, I've been there"


"No need, I'm the only one who went there already want to finish also know"


"Yes, I'm waiting for class"


I sat on the porch of my class.


"Eh hai gorgeous has long ago brother Jorgi ngak see you, anywhere"


Well why even meet Jorgi sak males really males in gombalin mulu make a difference.


"not anywhere, brother, uh it's my friend already come me go first yes brother"


I immediately left with the hand of Anisa who just arrived in front of the class.


"Hurry up Citra scholastika?"


"I'll make it clear we'll get out of here"


A few minutes later.


"Hahaha so you are often seduced by the Jorgi crocodile, where the appeal is not really making ilfil tau ngak"


"Yes, eat it but beyond his great appeal he's pretty good"


"Cie's already starting to get fascinated"


"No"


"We did it coming home from college, I'm really lazy to go home cosy"


"Why if I teach you to take a motorbike"


"Ha ngak papa Nisa, if your motorbike is damaged because of me"


"Udah ngak papa as long as you don't just why haha"


Actually I was a little hesitant to learn to take the same bike Anisa but this is also my chance to learn, until when I was always a passenger.


"Yes, but we learn where we are"


"I know a quiet road around here"


We went to the place Anisa said we were.


Anisa immediately told me what to do, I listened carefully.


"Nah kamu gasnya pelan-pelan aja"


"Ya udah aku coba ya" dengan ekspresi tegang.


Aku mulai mencoba mengegas motor.


"Tapi kok motornya jadi ling-lung gini nisa"


Aku langsung panik dan menaikkan gas motor.


"Awas Citra..."Anisa berteriak.


"Anisa tolong"


Aku sudah tidak bisa mengendalikan keseimbangan motor.


"Tekan remnya"


"Rem yang mana?"


Aku tekan saja kedua rem ini secara bersamaan biar cepat berhenti tapi yang terjadi malah.


"Dubrak" aku masuk ke dalam got.


"Ya ampun Citra, tolong-tolong" Anisa berteriak minta tolong pada warga sekitar.


Warga di sekitar langsung menghampiri dan menolong aku yang tertindih oleh motor.


"Kok bisa gini neng?"


"Temen saya belajar bawa motor pak"


"Ya ampun, sekarang kita bawa temennya eneng ke rumah sakit deket sini, nanti motor eneng biar dititipkan di warung saya aja"


"Makasih banyak ya pak"


Untung ada orang baik yang menolong kami kalo tidak aku tidak bisa membayangkan tertindas motor di dalam got cukup lama.


Sesampainya di rumah sakit aku langsung di obati dan dokter bilang kaki kananku harus di Gips, jadi aku harus mengunakan tongkat kalo mau beraktivitas selama dua atau tiga minggu ini.


"Citra maafin aku ya gara-gara aku kamu jadi begini"


"Ngak usah minta maaf Nisa, ini bukan salah kamu tau aku aja yang panik terus nekan gas kekencengan"


"Oh iya aku udah ngasih tau kak Adam kalo kamu masuk UGD"


"Hahaha dia udah tau kali, aku udah cerita semuanya di telpon tadi"


Ya ampun si Anisa kenapa pake nelpon kak Adam segala sih.


"Toktok..."suara ketukan pintu.


"Itu pasti kak Adam, aku bukain pintu dulu ya"


"Eh beneran kak Adam"


"Makasih ya udah ngasih tau aku kalo citra masuk rumah sakit"


"Iya kak santay aja kok, berhubung di sini udah ada kak Adam aku pamit pergi dulu ya citraku, aku sekalian mau ngurus motor dulu ke bengkel"


"Aku gimana Nisa" muka memelas.


"Kan ada kak Adam" sambil tersenyum pergi meninggalkan aku dengan kak Adam.


"Aku bawa bubur, kamu belum makan kan aku suapin ya"


Diapun menyuapiku.


"Makannya kalo mau belajar bawa motor di lapangan bukan langsung ke jalan raya"


Dia mengomeliku selama setengah jam.


"Kata dokter kamu udah boleh pulang aku anterin kamu"


Dia mengendongku menaiki kursi roda dengan pelan dan hati-hati.


"Ah..."


"Kenapa sakit ya" dengan muka cemas.


"ah ngak papa, cuman masih nyeri banget"


Kak Adam lansung mengantar aku ke kosan dengan mobilnya, sebenarnya dia bilang untuk tinggal di rumahnya saja untuk sementara tapi aku tidak enak menerimanya.


"nanti kamu di kosan ngak ada yang ngerawat kalo kerumah aku nanti ada bibi sama aku yang bisa bantu kamu"


"em gimana ya kak"


memang benar kata kak Adam kalo aku lansung pulang ke kosan siapa yang ngerawat aku, akukan sendirian.


"Sekarang kita ke kosan kamu dulu untuk bawa pakaian kamu terus lansung ke rumah kakak ya"


"Hem.... ya udah kak tapi aku ngak ngerepotin kakak kan?"


"ngaklah masa gini aja repot, udah jangan banyak mikir nanti tambah sakit"


kak Adam membantu menyiapkan pakaian ku sebenarnya aku tidak enak menerima ajakannya untuk menginap di rumahnya tapi melihat kondisiku sekarang aku juga tidak bisa menolaknya.


"bibi...bi"


" eh iya den"


"tolong bantu Citra ganti pakaian ya bi soalnya dia lagi sakit"


"ya ampun kasian banget neng, iya den bibi anter neng Citra ganti baju dulu yah"


bibi mendorong kursi rodaku dengan hati-hati.


"BI maaf ya jadi ngerepotin bibi jadinya"


"eh ngak papa atuh neng cantik eh kalo bibi lihat-lihat ya neng Citra cocok banget sama den Adam daripada si Sarah itu"


"Loh bibi apaan kok bahas itu nanti kalo tiba-tiba orangnya muncul gimana hayo"


"hahaha biarin atuh neng bibi mah ngak takut sama dia lagian dia suka semena-mena kalo nyutuh-nyuruh bibi ngak kayak neng Citra yang baik juga sopan sama bibi walaupun bibi cuman asisten rumah tangga"


"ih bibi ngomong apaansih kita itu semuanya sama di mata tuhan jadi bibi jangan pernah ngerasa rendah diri gitu ya"


"iya neng makasih ya"


kamipun saling memeluk satu sama lain.


"Citra bener-bener wanita yang baik juga tulus andai aku bisa sama kamu aja Citra scholastika"


"eh den Adam kok di depan pintu kenapa ngak masuk aja, neng Citra udah ganti baju dia lagi rebahan di kasur"


"bener bi yaudah Adam masuk dulu ya"


"iya den tapi inget jangan macem-macem ya"


"iya bi siap"


ternyata dia udah tidur dia imut banget kalau lagi tidur gitu.


"selamat istirahat Citra scholastika ku"


dia mengecup keningku.


makasih udah ngirim kak Adam di hidupku Tuhan.


Bersambung...