
Setelah beberapa hari tinggal di rumahnya sendiri, Wendy kembali pergi ke rantaunya. Wendy sudah tiga hari berada di sini tapi Wendy belum sama sekali pergi ke kampus ataupun pulang ke rumah Jimin. Wendy pulang ke rumah ibunya. Tanpa Jimin dan Seulgi ketahui rupanya ibu Wendy sudah sejak lama pindah dan memiliki rumah kecil tapi terkesan mewah di kotanya. Tanpa Seulgi sadari bahwa sebenarnya Wendy tidaklah kekurangan uang, bahkan Wendy memiliki banyak uang walaupun tak sebanyak dan sekaya Seulgi.
"Bagaimana lagi cara untuk memisahkan Daddy Jimin dan Seulgi?" Tanya Wendy pada sang ibu yang duduk santai di seberangnya dengan menyeruput secangkir kopi beserta tatapannya tak sedikitpun ia alihkan kepada Wendy saat menjawab pertanyaannya. "Sebentar, Daddy Jimin?" Ibunya heran kenapa Wendy memanggil Jimin dengan sebutan untuk seorang ayah. "Aku diangkat anak oleh Daddy bu"
Tuturan Wendy membuat Jirae tersenyum tipis. Perasaan senang menghampirinya, jika Jirae tak dianggap sedikitpun keberadaannya di sisi Jimin, tetapi kenapa Wendy anaknya ini sangat mudah mendapatkan gelar sebagai anak dari Ryu Jimin itu?. Jirae jadi heran atas kepintaran anaknya. Ntah apa saja isi otak Wendy ini.
"Hahaha, kau ibu suruh untuk berusaha tinggal di rumah mereka, dan kau dengan pintarnya menjadi anaknya"
Setelah lama berbincang soal apa yang ia harus lakukan untuk merenggang hubungan Jimin dan Seulgi. Setelah ceramah panjang kali lebar untuk menggapai luas yang banyak dalam pembicaraan mampu membuat telinga Wendy panas, untung saja pembicaraan ini tidak dikalikan dengan tinggi untuk mencapai volume. Akhirnya Jirae menarik kesimpulan dari rumus-rumus yang ia buat tadi. "Mereka harus sejatuh-jatuhnya ke dalam palung asmara".
Pagi hari Jimin bangun lebih awal niat untuk menyiapkan masakan untuk mereka berdua sarapan, tapi Jimin terkejut kenapa sudah banyak makanan tertata rapi di atas meja. Jimin berjalan mendekati gadis yang mengikat rambutnya asal dengan posisi membelakanginya. Hanya dengan melihat beberapa inci kulit milik gadis sosok yang sedang membersihkan beberapa wadah kotor itu membuatnya mudah menebak siapa dia. Kulit putih pucat yang bersih itu hanya dimiliki olehnya di rumah ini.
"Kau sudah pulang? Kenapa tidak memintaku untuk menjemput?" Wendy hanya terkekeh tak menjawab lontaran Jimin sedikitpun. Wendy sudah pulang sejak pukul 4 dini hari, kepercayaan yang diberikan pada Wendy ialah memegang kunci rumah, dengan itu sangat memudahkan untuk Wendy masuk tanpa harus mengetuk bahkan menganggu tidur nyenyak sang pemilik rumah.
Jimin dengan teliti menggarap habis pekerjaannya, berkas-berkas yang tadinya tertumpuk tinggi sekerang sudah tinggal setelah. Jimin harus bekerja dengan gigih. Pintu ruangan kerjanya sedikit terdorong, memunculkan kepala Wendy dari sebelah dinding. "Boleh aku masuk?" Jimin hanya mengangguk dan kembali melihat pada tumpukan kertas yang nyaman bertengger di jemarinya. Terlihat Wendy membawa beberapa kotak makan. Meletakkannya di atas salah satu meja yang ada di ruang itu. Wendy meregangkan tubuhnya di sofa setelah menghidangkan makanan yang ia bawa.
"Berhenti sebentar untuk makan siang, Seulgi yang membuatnya untukmu. Tapi dia menyuruhku untuk mengantarnya kemari" mendengar nama Seulgi Jimin langsung beranjak dari kursi itu dan duduk di sofa. Menatap lapar makanan-makanan yang tertata di meja. Mulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. "Tumben sekali Seulgi membuatkan makan siang untukku" tanya Jimin dengan mulut penuh makanan.
"Kau pergi bersama siapa?" Seulgi bertanya dengan gelisah kepada Wendy yang duduk dengan tenang di sofa sembari menonton televisi. "Kekasihku mungkin" Seulgi melomcat-lomcat tak jelas seperti kesetanan. Membuat Jimin yang baru bergabung dengan mereka merasa bingung dengan tingkah Seulgi.
Jimin menatap Wendy meminta penjelasan atas sikap aneh itu. Wendy hanya acuh tak ingin memberi tahu Jimin. "Oh ayolah Wendy bagaimana ini? Mana mungkin aku ke prom night tanpa seorang pria menggandeng lenganku?" Kesah Seulgi. "Kau bisa menggandeng tangan perempuan Seulgi!"
Wendy menarik dalam nafasnya, membuangnya dengan hembusan kuat hingga deruan nafas itu terdengar memasuki gendang telinga Jimin yang duduk di sampingnya.
"Hanya prom night, kau itu undangan sebagai adik tingkat. Dan yang pastinya kau tidak diwajibkan membawa itu karena kau bukan penyelenggara ataupun mahasiswa yang akan wisuda itu". Jelas Wendy yang sudah merasa jengah dengan apa yang Seulgi perbuat, hal itu membuat Seulgi seperti sedang dirasuki setan hingga tak ingin diam. Bukannya Seulgi mendapat penerangan dan Wendy mendapat kedamaian Seulgi semakin menjadi-jadi melompat bahkan berbicara sendiri. "Semua orang akan membawa kekasih".
"Kau bawa saja Daddy, kau lihat Daddy masih memiki kulit yang kencang seperti umur 30 tahun" Jimin menyeringai ada-ada saja pemikiran Wendy untuk menjadikan dirinya sebagai pasangan Seulgi untuk menghadiri prom night itu.
"Tidak, aku tidak ingin dicap sebagai ayah yang lupa umur. Ya walaupun sebenarnya aku sangat tampan" ujaran akhir Jimin mampu membuat bibir dua wanita itu kesamping, merasa sedikit aneh untuk mereka mendengar pria berumur 39 tahun sedang membanggakan dirinya.
"Hanya sebentar, kau tau Dad? Di prom night itu akan banyak gadis bahkan wanita cantik seumuran denganmu dad" Wendy berusaha membujuk Jimin supaya ia ikut ke prom night itu. "Aku bukan pria yang suka melirik wanita" Wendy memberi tatapan tidak yakin untuk hal itu, Jimin terlalu memendam perasaanya. "Terus apakah Daddy suka melirik pria begitu?" Jimin acuh meninggalkan tempat sialan itu, Wendy terlalu pintar untuk menjawab dan menyudutkan orang lain dengan lidah lembutnya. Jimin menagiki anak tangga dengan mengucapkan beberapa kata. "Baiklah, aku akan pergi agar kalian tidak mengira aku yang tidak-tidak"