My Daddy Or My Baby

My Daddy Or My Baby
Love



Seulgi mengusap surai hitam itu, terkadang bibir Jimin mengeluarkan dengkuran halus dan nafas yang ditarik dalam.


Jimin memeluk pinggang Seulgi yang sedang duduk di sampingnya, bau alkohol menyeruak mengelilingi indah penciuman Seulgi. "Tidur di pelukanku" minta Jimin tanpa membuka matanya, kepalanya kepalang berat sebab meminum banyak alkohol.


Seulgi tak banyak bicara, membaringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Jimin. Kepalanya ia hanturkan pada bahu tegak pria itu, manik monolid itu menatap langit-langit apartemen Irene. "Aku gila tanpamu" lagi, Jimin berujar tanpa membuka matanya, suaranya terdengar begitu lirih seakan hal yang baru terjadi sangatlah menyiksa dirinya.


Panas, pipi Seulgi terasa menghangat ketika cairan bening dari mata Jimin jatuh mengenai wajahnya yang berada di bahu pria itu. Mengusap pipi mulus Jimin membuat bibir itu kembali berbicara, ntah ia sadar atau tidak kalau ia sedang membicarakan hal yang tidak senonoh. "Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku" ucapannya semakin aneh, bagaimana ia bisa tidak gugup? Bahkan sekarang jantung Seulgi merasa akan meloncat dari rongganya.


"Mari berkencan" sekarang siapa yang mabuk? Jimin atau Seulgi? Bagaimana dengan mudahnya bibir kecil itu mengajak kencan seorang pria lebih dulu? Dan lebih parahnya pria itu ayahnya sendiri, orang yang mengalirkan darahnya sendiri ke dalam tubuh Seulgi. Mereka berdua sudah gila.


Mendengar kata kencan membuat Jimin sedikit bukan sedikit sangat senang dan terkejut. Seulgi memejamkan matanya ketika wajah Jimin semakin mendekat ke wajahnya. Lebih-lebih pria itu memiringkan kepalanya siap menggapai bibir Seulgi untuk dilumat, membawa Seulgi melayang di dalam nikmatnya lum*atan basah. Seulgi sudah siap, bahkan rasanya Seulgi sangat ingin menarik tengkuk pria itu untuk mempercepatnya, Seulgi menginginkan Jimin.


Huwek


"Sialan kau Ryu Jimin" Seulgi yang terkena muntahan itu, langsung menendang tubuh Jimin hingga jatuh dari kasur. Pria itu meringis tapi tidak sama sekali Seulgi tanggapi, muntahan itu sangat menyengat. Tubuhnya sudah membentur keras lantai itu tetapi pria itu malah tertidur di sana. "Aku tidak peduli padamu sekarang" Murka Seulgi sendirinya segera ingin membersihkan tubuhnya. "Yang penting aku mencintaimu sayang" Seulgi sepertinya sudah sangat gila.


"Aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri" ungkap Wendy. Suga tak menjawab hanya memberikan usapan lembut di puncak kepala gadisnya, mengeratkan pelukan itu hingga jarak di antara mereka terhapus tak menyisihkan jarak itu sedikitpun.


"Aku juga mencintai Seulgi dari diriku sendiri" kata-kata itu hanya sampai di tenggorokan, hatinya berteriak kencang mengungkapkan betapa cintanya ia pada Seulgi, tetapi mulutnya terasa kelu, gadis yang berada di pelukannya saat ini harus dihormati yang mana gadis itu sudah menemani Suga dari keterpurukan dengan banyak tentangan penuh diselimuti cinta yang tulus. Dan bagaimana mulut Suga bisa setega itu untuk menyakiti hati wanitanya? Suga pasti akan mencintai Wendy lebih dari apapun nanti.


Semuanya sedang memadu kasih, Yeri hanya tersenyum ketika bibir kecil suaminya terus merancau ketika mabuk melanda jiwanya. Tubuh besar itu sudah terbaring dengan mata tertutup di ranjang mereka tetapi mulutnya tidak bisa tertutup untuk mengeluarkan suara. "Kenapa aku begitu mencintaimu?" Yeri menghembuskan nafasnya, pria itu telihat sangat lucu ketika mabuk. "Eunwoo kau sudah tua tidak perlu sepeti itu. Anak kita sudah berumur 19 tahun"


"Istriku sangat cantik. Kemari peluk aku" matanya terpejam dengan merentangkan kedua tangannya. Yeri mau tak mau merelakan tubuhnya untuk dipeluk dan diusap-usap Eunwoo malam ini. "Aku mencintaimu" Eunwoo bisa mengatakan itu beribu-ribu kalau dalam satu hari kepada Yeri, kalian bisa mengira bukan seberapa besar cinta yang Eunwo miliki.


"Apakah kau akan langsung menceraikan diriku jika kau tau aku masih mengingatnya?" Yeri berucap pelan bahkan Eunwoo tak mendengarkan suara itu, sudah 19 tahun perasaan cinta untuk Eunwoo sudah hadir bahkan perasaan cinta itu melebihi cinta kepada dirinya sendiri. Tapi kenapa kejadian dengan pria lama itu selalu melekat dan sering terputar kembali di dalam otak Yeri.


Isakan tangis terdengar bergema di balkon rumahnya. Jirae memeluk tubuhnya sendiri, menahan rasa sakit yang menusuk seluruh tubuhnya bagai panah yang datang dari seluruh arah. Haruskan Jirae menangisi pria yang sama sekali tidak mencintainya itu? Hampir disetiap malamnya Jirae selalu mengingat Jimin, hampir di seluruh doanya kepada Tuhan ia panjatkan untuk kebaikan Jimin. Tapi kenapa tuhan tidak memberikan pria itu untuk menjadi pendamping hidupnya, Jirae ingin sekali bisa memeluk Jimin dengan kurung waktu yang lama sebelum ia meninggalkan dunia menuju kehidupan yang tenang di alam lainnya.


Terkadang orang-orang kurang bersyukur atas cinta yang didapatinya. Semua orang berhak jatuh cinta tanpa memandang siapa yang mereka cintainya. Semua nya memiliki cinta yang tulus serta bersih seperti kain canvas yang belum memiliki bercak sedikitpun.