My Daddy Or My Baby

My Daddy Or My Baby
Truth or lies



Malam ini hanya ada ketenangan, Eunwoo maupun Jimin hanya diam dengan memasukan makanan itu ke dalam mulutnya. Mungkin mereka sudah lelah bertengkar lebih lama. Terdengar suara mesin mobil berhenti di garase rumah mewah itu. Yeri tersenyum, rasa rindu ini sudah membucah di dalam dadanya. Yeri yakin itu adalah suara mobil anaknya. "Ji, anakku datang" Jimin hanya berdehem dan anggukan untuk tanggapannya. Suara langkah kaki semakin dekat, hantaman pada lantai itu semakin berdegup kencang.


"Ayaaah!" Irene merangkul leher Eunwoo dari belakang kursi itu, mengecup pipi Eunwoo dari samping. "Kau tidak memelukku di pelukan pertama" Yeri memajukan sedikit bibirnya. "Aku sudah hampir tidak bertemu raja tampan ini selama satu bulan" Eunwoo berdiri untuk mengusap surai Irene yang cantik itu, mengecup seluruh bagian wajah gadisnya terkecuali bibirnya, sejak Irene menginjak umur 9 tahun Yeri sudah melarang Eunwoo untuk mengecup bibirnya. Eunwoo menggapai tubuh kecil itu dan membawanya ke dalam dekapannya. "Ayah juga merindukan princess cantik ini".


Jimin jadi teringat Seulgi yang sedang duduk di rumah dengan sendirian. Apa kabar dengan gadis kecilnya itu? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia kesepian? Jika Yeri tidak memaksanya untuk menunggu Irene pulang maka Jimin sudah berlari dan memeluk Seulgi seperti yang di lakukan Eunwoo sekarang pada anaknya. Eunwoo dan Jimin seperti nya adalah jenis spesies ayah yang super aktif dan memanjakan anaknya melebihi dirinya sendiri. Yeri tidak salah memilih ayah untuk anak-anaknya. Anaknya yang lain ada bersama Jimin, dan Irene memiliki Eunwoo. Bukankah Yeri sangat cerdas memilih pasangan? Atau hidup Yeri memiliki keberuntungan yang sangat tinggi.


"Paman Jimin?" Sapa Irene baru menyadari pria yang duduk di seberang meja sana adalah Jimin, gadis itu tadinya tak terlalu memperhatikan ia kira Jimin adalah rekan kerja Eunwoo yang sedang sengaja bertamu. "Aku baru tau kau anak dari Eunwoo dan Yeri" Irene tertawa kekeh. "Hm, Seulgi tidak ikut paman?" Sial, Irene adalah bajingan kecil sekarang di mata Jimin. Pria itu sudah susah payah menyembunyikan keberadaan Seulgi tetapi bajingan kecil itu malah menanyakannya.


"Seulgi?" Irene mengangguk. "Ibu tidak tau bahwa Seulgi anak paman Jimin?". Jimin mengutuk Irene di dalam hatinya. Yeri hanya tersenyum mengarah Irene dan Eunwoo dan berbalik menghadap Jimin dengan tatapan tajam. Makan malam yang penuh petaka ini selesai, Jimin sebentar lagi akan segera pulang. "Eunwoo? Aku akan pergi sebentar ke rumah temanku".


"Hm mari kuantar. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri di malam hari" Eunwoo sudah berdiri dan berjalan menuju lantai atas untuk mengambil kunci mobil beserta ponselnya. Tetapi ucapan Yeri menghentikan langkah Eunwoo untuk melanjutkan langkahnya. "Eunwoo~aa, tidak perlu aku akan menumpang dengan Jimin saja" Yeri sedikit bergetar memanjatkan doa pada tuhan semoga Eunwoo memperbolehkannya pergi. "Jangan menyusahkan orang lain kalau suamimu ada di sini dan aku selalu siap kapan saja dan dalam keadaan apa saja untuk mengantarmu" tatapan Eunwoo begitu datar membuat Yeri sedikit ketakutan.


"Sebentar saja aku hanya pergi beberapa menit. Ayolah Eunwoo aku butuh waktu bersama temanku" Yeri tidak menyerah untuk membujuk Eunwoo. "Jika kau pulang di atas pukul 10 malam jangan harap kau bisa keluar rumah sendirian".


Yeri berlari kecil berdiri di depan Eunwoo, menatap penuh senyum wajah datar suaminya. Sedikit berjinjit dan mengecup singkat pipi suaminya. Kaki kecil itu berlari kecil kembali ke arah pintu rumah. Sebelum ia keluar, wanita itu kembali berbalik tubuh dan tersenyum. "Terima kasih sayang".


Yeri memandang interior mahal yang lekat di rumah Jimin. Jimin menghidupkan lampu dan memandang sekeliling, tak menimbulkan sedikitpun keberadaan seseorang di rumah ini. Apa Seulgi sedang keluar? Kemungkinan besar iya. "Beraninya kau berbohong bahwa anak kita ada di luar negri"


"Sekarang panggil dia aku sudah merindukannya" suruh Yeri duduk di salah satu sofa. "Sepertinya dia sedang di luar. Aku tidak melihat keberadaan Seulgi" Yeri memutar bola matanya malas, berdiri tegak dengan tangan melipat di sengger di dadanya. "Ada mobil dengan tulisan nama Seulgi di garasemu Ryu Jimin"


"Dia bisa membawa motor ataupun mobil yang lain"


Yeri melompat memeluk Jimin ketika sebuah vas bunga melayang dari lantai atas. Yeri menstabilkan nafasnya yang memburu karena ketakutan. Sepasang mata memandang heran kepada sejoli yang sedang berpelukan itu. Gadis kecil itu turun dengan santainya dari lantai atas dengan pakaian santai. "Maaf aku tidak sengaja menyenggolnya tadi".


"Akh Bibi Yeri? Sedang apa di sini? Kalian terlihat akrab?" Seulgi bertanya tetapi tidak ada satupun sahutan seura yang ingin membalas ucapannya. Jimin mendorong kecil tubuh Yeri dari tubuhnya segera saja laki-laki dewasa itu berjalan menuju lantai atas. Seulgi menyeringit menyaksikan Jimin naik ke lantai tiga, lantai tiga di rumahnya hampir tidak terinjak. Tapi mengapa sekarang pria itu ke sana? Bukankah kamarnya tepat di samping kamar Seulgi yang berada di lantai dua?. "Untuk apa Daddy ke lantai tiga? Di sana hanya ruang-ruang dengan benda-benda berdebu".


"Aku ingin mengambil sesuatu penting". Yeri menarik Seulgi untuk duduk, menyentuh pipi mulus gadisnya. Yeri sudah pernah bertemu Seulgi tetapi ia tidak tau bahwa gadis itu ada darah dagingnya, seonggok daging yang ia kandung dan ia lahirkan, selama ini Yeri tidak menyadarinya sedikitpun. 19 tahun mereka terpisah dan barulah sekarang waktunya mereka bertemu kembali. Tidak tersadari cairan bening itu keluar dari pelupuk mata Yeri. "Kenapa bibi menangis? Ibu kenapa? Kenapa kalian berdua begitu aneh?"


Jimin datang membawa sebuah benda yang sudah berdebu, Seulgi tau itu adalah album foto yang sudah tua hampir di makan rayap. Jimin duduk, membuka lembar-lembar album foto itu. Di dalamnya hanya ada foto Yeri dengan menggendong seorang bayi. Seulgi tau pasti bayi yang digendong oleh Yeri adalah dirinya. Jimin diam memandangi kerut bingung yang ada di wajah cantik kekasihnya itu. Pria Ryu itu tau di dalam benak Seulgi banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan sebentar lagi keluar dari bibirnya. "Apa maksud dari semua ini?"


"Seulgi~aaa aku ibumu, ibu kandungmu" ujar Yeri dengan lirih. Seulgi berbalik memandang Jimin dengan intens. Jimin mengangguk membuat Seulgi semakin bingung. "Bagaimana dengan ibu Jirae?"


"Jirae hanyalah mantan istriku yang selalu menganggu hidupku"


"Lalu siapa ayahku? Apa kau bukan ayah kandungku?"


Yeri menggapai tubuh Seulgi dan memeluknya. Menangis derai di bahu gadis itu. Seulgi dengan sedikit ragu membalas pelukan itu dan menepuk pelan punggung Yeri. Terdengar jelas bahwa Yeri terisak begitu pilu di dalam pelukannya.


"Ayahmu tetaplah Ryu Jimin"


Suara pintu terbuka dengan kasar mengalihkan semua pandangan ke arahnya. Pintu itu terbuka selebar apa yang ia bisa. Menampilkan atensi Eunwoo yang berdiri tegang dengan raut datar. Seulgi semakin bingung, siapa pria yang menangis di ambang pintu itu? Akh Seulgi sekarang teringat pria itu adalah laki-laki yang ia peluk di saat prom night di kampusnya. Tapi mengapa dia menangis?. Eunwoo berjalan cepat menyentak sedikit kasar tangan Yeri, bahkan wanita itu meringis. "Sumpallah otak gadis itu dengan kebenaran. Berhenti bebohong. Kau menyakiti hati, pikiran, tubuh, semuanya kau menyakiti diriku dari segi manapun Yeri~aa"