My Daddy Or My Baby

My Daddy Or My Baby
Return?



Wendy sudah pulang ke rumah sejak satu hari yang lalu. Lagi-lagi Wendy membahas pernikahan Jimin dan Jirae, mereka menetapkan akan menikah tiga hari ke depan. Tidak ada pesta yang besar cukup menikah saja. Begitu pula dengan pernikahan Suga dan Wendy yang akan diselenggarakan di hari yang sama. Wendy tidak sabar memiliki keluarga yang utuh dan pendamping yang sangat mencintainya.


Jimin terlihat diam melamun dengan kaki diceburkan di dalam kolam. Menikmati dingin air itu merendam kakinya, hari sudah mulai menggelap Jimin masih senantiasa berada di sana, Jirae yang sedang berkunjung menemui Wendy ikuj bergabung bersama Jimin.


"Ji, bisakah kita kembali menjalin rumah tangga setelah kita gagal?"


"Ntahlah"


"Hubungan kita kembali atas tiada dasar cinta. Tapi aku mohon perlakukan aku selayaknya manusia"


"Apa dulu aku memperlakukanmu seperti binatang?"


"Tidak, aku takut kau berlaku kasar dan terus menyalahkanku. Aku tidak bisa melupakan bagaimana bringasnya kau saat berteriak padaku"


"Ada Wendy tidak mungkin aku membentakmu"


"Kita berjanji tidak bercerai, setelah Wendy pergi kau akan kembali melakukan hal yang dulu terjadi?"


"Mungkin tidak, tapi aku tidak akan pernah mencintaimu"


"Itu tidak masalah. Kau tau aku masih sangat mencintaimu dan keegoisanku lah yang membawa cerita panjang ini. Tapi aku menikah lagi denganmu bukan atas cinta"


"Terserah aku tidak peduli"


Jirae tak bertanya ketika Jimin pergi dengan pakaian yang rapi dan wangi. Terlihat tampan tapi Jirae tidak ingin ambil tau apa yang Jimin lakukan. Mendapatkan maaf dari Jimin, Seulgi, Yeri, dan Wendy membuat Jirae sadar dan tidak akan terperdaya hanya karena obsesinya. Jirae bisa sedikit meramal bahwa janji mereka berempat untuk hidup bersama hingga maut akan segera tercapai. Nyatanya Jiminlah yang selama ini menjauhkan diri dari semuanya.


Jimin membaringkan tubuh di sofa ruang karaoke, tidak beryanyi hanya diam dan diam. Jimin sudah berada di sini sejak 4 jam yang lalu. Akhirnya seseorang yang Jimin telpon untuk menemaninya datang juga, Yeri meletakan tasnya menyeringit ketika bau alkohol dosis tinggi itu menyeruak ke dalam penciumannya. Ada 10 botol di meja sudah ada 5 botol yang kosong pantas saja Jimin hanya diam, bukan diam biasa rupanya melainkan diam mabuk. Yeri heran kenapa Jimin bisa sekuat ini ketika minum? Sejak dulu apa pun masalahnya alkohol adalah sosusi bagi Jimin.


"Hei ini sudah malam ayo pulang"


"Kepalaku pusing Yeri"


"Aku akan menyetir mobil"


"Yeri akh kenapa tidak ada satupun wanita yang kucintai menjadi milikku"


"Berhenti meneguk alkohol" Yeri merampas botol minuman yang sudah dihabiskan Jimin sebagian. Jimin itu sudah mabuk masih saja ingin menambah.


"Bawa aku pergi Yeri, jujur jika cintaku memang sudah tidak padamu tapi rasa sayangku tidak akan pernah pudar sampai kapan pun"


"Aku sudah bersuami"


"Nikahkan suamimu dengan Jirae, bukankah Jirae dulu menyukai Eunwoo? Seharusnya kau dan Eunwoo itu tidak menikah"


"Pulang, kau sudah mabuk"


"Aku malas untuk pulang"


"Kau mau menginap di rumahku? Eunwoo sempat menawarkan"


"Aku muak melihat muka Jirae, bukankah Jirae tinggal bersama kalian?"


"Baiklah mari ke hotel, aku antar ke sana"


"Antar? Kau akan pergi setelahnya?"


"Tentu"


Yeri itu bodoh atau benar-benar bodoh membiarkan Jimin menyetir mobil dalam keadaan mabuk berat. Malam sudah menunjukan pukul 1 dan beruntung lah Yeri jalanan sekarang menjadi lebih sepi. Jimin memaksa untuk menyetir sebenarnya, Yeri sangat menyesal. Lihatlah sekarang mobil itu melaju dengan kencang, beberapa kali Yeri berteriak menarik dan menghembuskan nafasnya kasar. Berpegangan erat pada apapun yang bisa Yeri jadikan sebagai pegangan tak kala Jimin sering merem mobil dengan mendadak. Yeri sudah menghubungi Eunwoo untuk segera menolongnya sebelum mereka berdua meninggal.


"Ryu Jimin, pelan-pelan kau berniat membunuhku?"


"Iya, kau dan Seulgi hanya kalian wanita yang aku cintai. Aku tidak bisa ikhlas untuk kedua kalinya. Akan ku bawa salah satu dari kalian hidup abadi bersamaku"


"Jangan gila Jimin. Aku dan kau memang saling mencintai tapi kumohon jangan bertidak gila"


"Aku akan kehilangan jantung hidupku untuk ke dua kalinya. Sekarang tidak akan kubiarkan, jika bukan Seulgi maka kau yang akan aku bawa"


Nafas Yeri terengah-engah setelah Jimin bantings stir dengan mendadak ke arah kanan. Yeri tak hentinya memanggil nama Eunwoo di dalam hatinya, kapan pria itu akan sampai? Apakah dia akan menunggu Yeri mati? Yeri meilirik Jimin sekilas, tangannya ia ulurkan untuk mematikan mesin mobil. Jika dibiarkan begitu saja ajal memang akan menjemput mereka berdua sebentar lagi.


"Kembalikan kuncinya Yeri" Jimin berusaha merebut kunci itu tapi Yeri lebih cepat membuang kunci ke jok belakang. Mobil masih dalam keadaan melaju kencang mungkin beberapa saat lagi akan berhenti, akhirnya Yeri akan selamat.


"Kau menantangku Ryu Yeri? Baiklah akan aku tunjukan apa itu kematian" Jimin menyeringai memperhatikan pembatas jalan, Yeri memejamkan matanya ketika mobil itu masih melaju ke arah pembatas jalan.


"AAARG"


Cap mobil itu hancur mengenai pembatas jalan, beruntunglah Yeri yang masih memakai sabuk pengaman hanya mengalami benturan di keningnya. Yeri bergegas keluar melihat bagian depan mobil mulai berasap. Sebuah motor sport yang diyakini itu adalah milik Seulgi berhenti tepat di dekatnya. Eunwoo membuka pintu mobil pengemudi menarik Jimin yang masih merancau tidak jelas. Beberapa menit setelah mereka keluar mobil itu meledak.


"Mobil itu baru kubeli bulan lalu Yeri~aaa. Kenapa kau tidak mengantarnya dengan mobilnya saja" sedih Eunwoo menatap mobilnya yang sudah hancur remuk.


Apa peduli Yeri dengan mobil Eunwoo? Yeri lebih memilih mendudukkan Jimin di jalan mengusap darah yang mengucur dari pelipisnya sebab benturan keras dengan setir. Untunglah Yeri selalu membawa tisue. "Eunwoo bantulah Jimin dulu"


"Aku hanya bawa motor Yeri"


"Itu ada hotel bawa ke sana saja"


"Kaparat kau Jimin" Eunwoo mengupat ketika tubuhnya ikut terhuyung kes sana ke mari karena membopong tubuhnya.


Tangan kiri Jimin menggandeng pundak Yeri dan tangan kanannya menggandeng pundak Eunwoo. Sering kali Eunwoo dan Yeri mengupat ketika Jimin merancu sendirinya disertai gerakan-gerakan yang tak terduga. Pintu kamar itu Eunwoo tendang manarik Jimin untuk masuk, tepat di depan kasur mereka berdua membanting tubuh Jimin hingga menimbulkan suara dentuman.


"Hufs haafs husf berat" keluh Yeri.


"Sayang ayo pulang"


"Aku takut dia nekat bunuh diri"


Eunwoo frustasi membanting tubuhnya di sofa, menghembuskan nafasnya sekasar yang iya bisa. Apakah mereka berdua akan menunggu Jimin hingga pria itu sadar dari mabuknya?


"Sayang! Mari kita pesan satu kamar lagi untuk kota berdua"


Ekor mata istrinya terlihat tajam meliriknya tanpa mengalihkan pandangannya. Pria itu sepertinya ingin di cincang sekarang juga menjadi banyak kepingan.


"Tutup otak kotormu, aku akan ke bawah membeli makanan"


"Ayo aku temani"


"Tunggui saja dia"


"Aku saja yang beli ini sudah malam"


"Kau rela jika aku tiba-tiba di bawa pergi oleh Jimin? Kalau aku sendiri mau-mau saja" goda Yeri.


"Pergilah"


Eunwoo menatap malas pada Jimin yang berjalan ke arahnya. Pria itu mungkin sudah gila karena tiba-tiba mengcengkram kerah baju Eunwoo. Eunwoo masih punya otak untuk tidak melawan karena sangat paham cobaan sedang dilewati sahabatnya. Memang Eunwoo terlihat tidak peduli dan benci pada Jimin, tapi beberapa hari yang lalu rasa saling menjaga seperti dulu tumbuh kembali di hatinya, Eunwoo tidak akan pernah melupakan kenangan bahagia apa yang dulu lewati secara bersama.


"Kenapa Tuhan selalu memberikanmu nasib baik. Semua hal yang seharusnya jadi milikku selalu berbalik arah menjadi milikmu" Eunwoo tak berani menyangkal sedikitpun apa yang diucapkan Jimin. Temannya sedang butuh tempat melimpahkan semua hal yang sudah ia kubur selama ini di dalam hatinya. Sekarang mungkin sudah waktunya Jimin membiarkan semuanya keluar kala tak kuat lagi membendungnya sendirian.


"Aku selalu ada untuk Yeri, aku yang membuatnya bangkit dari kesedihannya tapi nyatanya gadis itu menjadi milikmu. Aku yang menimang, aku yang memandikan, aku yang mengajarkan, aku yang merawat Seulgi dari tubuhnya memerah hingga saat itu tapi kenapa gadis itu juga menjadi milikmu? Kenapa tuhan tidak membiarkan aku memiliki salah satu dari mereka? Sesial itukah hidupku Song Eunwoo?"


Eunwoo menarik Jimin menuju lift pria itu mulai menangis baru sekali ini Eunwoo melihat temannya serapuh ini. Bukan pertama kali, ini yang kedua kalinya setelah Jimin menangisi Yeri. Eunwoo menceburkan Jimin setelah mereka sampai di kolam berenang hotel tersebut. Pria Ryu itu selalu mencoba untuk naik ke murkaan tapi Eunwoo terus menahan kepalanya, membenam tubuh Jimin di sana.


"Lepaskan tangan sialanmu itu Eunwoo" teriak Jimin menangkis lengan Eunwoo yang berada di kepalanya. Eunwoo tersenyum mendengar teriakn Jimin, itu tandanya Jimin sudah sadar dari mabuknya. Faktanya Jimin adalah orang yang selalu berteriak ketika memanggil Eunwoo ataupun berbicara. Lama tidak bersama tidak membuktikan bahwa Eunwoo melupakan semua kebiasaan Jimin.


Drt drt


Eunwoo meninggalkan Jimin yang mengaduh kedinginan untuk menerima panggilan dari Irene. Kenapa gadis itu belum tidur sampai saat ini? Bukankah ini sudah malam? Eunwoo hampir menjatuhkan ponselnya mendengar decitan Irene yang mengadu perihal Seulgi yang belum pulang, jadi Irene menyuruh Eunwoo untuk menjemput Seulgi di sebuah roftof. Irene memberikan sebuah foto yang dikimkan teman Seulgi yang menunjukan Seulgi sedang bersama tiga orang temannya, mereka sedang asik merokok disertai alkohol. Sehancur itukah Seulgi? Eunwoo melirik ke arah Jimin yang sudah berganti pakaian dengan pakaian yang disediakan pemilik hotel. Apakah Jimin adalah solusi untuk Seulgi? Apakah Seulgi adalah solusi untuk Jimin?


Eunwoo kembali mendekati Jimin yang duduk memandangi pemandangan dari lantai paling atas ini. Pemandangan kota malam dengan semilir angin yang berhembus menerpa indra kulit yang menyejukkan. "Ji, kau serius mencintai Seulgi?" Jimin mengangguk tanpa menatap Eunwoo.


"Bawa Seulgi pergi, nikahi dia di mana pun yang kau mau. Itu terserah padamu kau mau menikahinya atau menggap anaknya saja. Kumohon bawa dia pergi bersamamu"


"Kenapa tiba-tiba sekali?" Eunwoo menunjukan foto yang dikirimlan oleh Irene. Jimin menarik nafasnya dalam, kembali menatap pemandangan indah yang berada di depan matanya.


"Tanpa kau ucapkan aku akan membawa pergi Seulgi sejak lama. Tapi tanggung jawabku sebagai ayah akan hilang. Wendy, gadis itu sangat rapuh aku tidak bisa lagi membawanya kemana-mana" Eunwoo mengangguk mengerti.


"Ayo jemput Seulgi"


"Lihatlah pakaianmu. Jika talinya terlepas?"


"Ya aku akan menjadi trending topik besoknya"


"Dasar gila"


Seulgi menyeringit melihat kedua ayahnya datang untuk menjemputnya. Bukan karena itu, tapi pakaian Jimin yang hanya memakai pakaian selesai mandi. Apa pria itu masih punya akal? Jimin yang menggunakannya tapi Seulgi yang malu.


"Pulang kau Ryu Jimin. Apa maksudmu memakai pakaian seperti itu?"


"Floryn kau ikut pulang. Kami mencemaskan mu sehingga lupa mengganti baju" ujar Eunwoo. Teman Seulgi mengulum senyumnya, selain lucu kedua ayah Seulgi ini begitu penuh rasa kasih sayang, bahkan pria yang dipanggil Ryu Jimin oleh Seulgi masih memiliki rambut basah. Semanis itukah perhatian mereka?