
Tangan kanannya Jimin genggam dan tangan kirinya di genggam erat oleh Jirae. Tangan putih pucat itu sudah basah oleh air mata keduanya. Tak jarang kedua orang tuanya itu mengecup berkali-kali punggung tangan putrinya. Wendy adalah anak semata wayang, hanya Wendy yang Jirae punya. Tidak ada satupun keluarga yang Jirae ketahui selain Wendy sang tempat berteduh.
"Dad aku sudah menghubungi kakek dan nenek katanya mereka akan segera terbang malam ini juga" ujar Seulgi. Sudah dua jam lamanya mereka dalam ruangan itu, bahkan Eunwoo sudah pulang dari membeli makanan dan minuman. Tapi kenapa Wendy belum juga terjaga? Apa tuhan lebih menyayangi Wendy?
Kelompak mata ganda itu terbuka, Wendy tidak heran jika ia terbangun selalu di rumah sakit. Wendy sudah pulang ke rumahnya sejak beberapa hari yang lalu dan Wendy terpaksa harus kembali terikat dengan benda-benda rumah sakit. Selama hidup bersama Jimin keseharian Wendy hanya rumah sakit, selalu rumah sakit. Wendy menoloh melihat 5 atensi yang sudah tertidur. Wendy sedikit lebih nyaman ketika tangannya digenggam erat oleh kedua orang tuanya. Ini kah rasanya memiliki orang tua yang akur? Tapi tunggu, kenapa Eunwoo, Yeri, Irene, dan Seulgi ikut ke mari? Padahal Wendy sangat tidak ingin membeberkan penyakitnya pada siapapun.
Ckelek
Pintu itu terbuka pelan menampakan atensi Suga yang membawa sebuah bingkisan bunga tulip. Suga memang sudah berjanji sejak beberapa hari yang lalu untuk menjenguk dan mendatangi Wendy ke Amerika. Wendy berusaha untuk duduk melepas secara perlahan kedua tangannya, mungkin Jimin dan Jirae sangat kewalahan hingga tak terasa Wendy sudah turun dari brangkar rumah sakit dan duduk di kursi roda.
"Bawa aku keluar" bisik Wendy, Suga yang mengerti pun meletakan bunganya di pangkuan Wendy. Mendorong kuris roda gadisnya dengan Wendy memegangi tiang infusnya. Wendy meminta berhenti ketika sampai di dinding kaca besar rumah sakit yang bisa menampakan keindahan kota malam di Amerika dari gedung bertingkat ini. Wendy menjadi sedikit lebih tenang ketika Suga membuka satu jendela yang berukuran kecil. Udara angin malam menerpa begitu sopan permukaan wajah Wendy. Mungkin Suga adalah orang kedua yang tau semuanya. Wendy tidak bisa menyembunyikan apapun karena Suga tau gelagat Wendy ketika berbohong.
"Cincin apa ini?" Tanya Wendy bingung melihat sebuah cincin di dalan bunga itu. Suga berdiri dengan lututnya di hadapan Wendy yang duduk di kursi roda. Suga tersenyum menggapai cincin itu dan memegangnya di depan Wendy.
"Menikah denganku" Suga tidak mendengarkan apa yang akan dijawab oleh Wendy langsung saja memasangkan cincin berlian itu di jari manis gadisnya. "Aku belum menerimamu Suga" protes Wendy.
"Aku tau kau tidak bisa menolak"
"Kau masih menerimaku dikala aku sakit? Aku tidak pantas aku rasa kau berhak bersama gadis yang lain yang bisa merawatmu dan bukan membebanimu"
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Aku akan bersamamu kapanpun itu dalam keadaan apapun"
Wendy memegangi kepalanya yang terasa sakit. Sesekali mata ganda itu terpejam dan terbuka menahan sakit yang ada di kepalanya. Dada itu kembang kempis demi meraih pasokan oksigen yang sangat susah untuk masuk dan keluar. Suga dengan sigap tanpa bertanya mendorong kursi roda itu kembali ke kamar. Sampainya di kamar bahkan Suga belum menurunkan Wendy dari kurisnya langsung saja ia menekan tombol yang berada di sisi brangkar. Dokter sialan itu jika terlambat beberapa menit saja Suga bersumpah akan membedah isi kepalanya.
Mendengar nafas Wendy yang sedikit berisik mengusik tidur seluruh yang ada di sana. Nyatanya Eunwoolah yang bangun lebih dulu karena Wendy berada di dekatnya. Pria yang berganti nama dengan Cha Eunwoo itu segera menggendong Wendy untuk dibaringkan kembali di kasur rumah sakit. Eunwoo mencari alat bantu bernafas dan memakaikannya untuk Wendy.
"Pelan pelan pelan" instruktur Eunwoo.
Jimin sudah terbangun hanya melihat Eunwoo yang sedang membantu putrinya. Hingga nafas Wendy kembali stabil. Dan sialnya dokter kaparat itu baru sampai sekarang membuat Suga berceloteh.
Tubuh Wendy terbaring lemah ketika mendengar penuturan Jimin yang menyampaikan bahwa umurnya bersisa satu bulan. Wendy menangis, matanya melirik jarinya yang dilingkari cincin. Melepas cincin itu sepertinya adalah hal yang lebih baik Wendy lakukan. "Aku tidak bisa menikah denganmu Suga"
"Satu bulan ataupun satu hari kita menikah setelah kau keluar dari sini. Biarkan aku merawatmu"
"Aku tidak boleh egois kau butuh pendamping yang hebat bukan yang akan segera mati"
"Segera mati ataupun sudah mati jika itu dirimu aku tidak masalah" beruntunglah Wendy yang sempat bertemu dengan Suga yang sangat mencintainya. Pria Min itu memasangkan kembali cincin itu di jadi manis Wendy, mengecup singkat kening Wendy dan beralih mengecup singkat bibirnya. Belum menempel Jimin lebih dulu menarik kera baju Suga dari belakang dan menatap nyalang ke arahnya. Suga jadi bergelidik ngeri.
Beberapa saat ruangan itu penuh diam sehingga Wendy memanggil ibu dan ayahnya untuk mendekat padanya.
"Apa ibu punya kekasih?" Jirae menggeleng.
"Kalau Daddy?" Jimin mengangguk bertanda punya, beruntunglah Seulgi yang masih dianggap.
"Apa Daddy tidak memiliki niat untuk menikahinya?"
"Berniat, tapi tidak ada restu untukku"
"Ini permintaan terakhirku, aku selalu bermimpi memiliki orang tua yang akur. Detik Kematian ini sangat ingin aku isi dengan Kalian berdua merawatku sebagai suami istri. Sejak aku lahir aku tidak pernah memiliki keluarga yang utuh. Kumohon ini yang terakhir ku minta dari kalian berdua" Wendy bahkan menangis mengutarakan apa yang ia kehendaki, jika salah satunya memiliki kekasih maka Wendy tidak akan meminta hal ini. Jimin memang punya tapi tidak punya restu sama saja dengan tidak punya.
"Tapi Wen...." Ucapan Jimin terpotong ketika tangannya digandeng erat oleh Jirae dari samping.
"Kami akan menikah"
"Kalian jangan berpikir setelah aku mati kalian akan bercerai"
Jirae menatap mata Jimin dengan pandangan memohon, sungguh ini adalah permintaan terakhir Wendy. Jirae tidak memikirkan cintanya saat ini ia hanya memikirkan apa yang Wendy inginkan semua yang diucapkan oleh Wendy itu fakta adanya. Mereka berdua sudah gagal untuk menjadi orang tua dan jangan sampai mereka menyesal ketika Wendy sudah pergi nantinya.
"Baiklah setelah kau keluar dari rumah sakit. Dan jika benar Suga akan menikahimu segeralah laksanakan" jawab Jimin dengan datar, ini adalah hal yang berat.
Seulgi melangkahkan kakinya ingin menerjang kepala Jimin. Setetes air bening sudah Seulgi keluarkan dari matanya. Baru satu langkah dan untunglah pergelangan tangannya digengang erat oleh Eunwoo. Pria itu menggeleng kepala Seulgi. Eunwoo yang mengerti Seulgi ingin menangis menarik Seulgi keluar dari sana.
"Apa dia patah hati karena Suga?" Ujar Irene merasa aneh akan Seulgi. Jimin yang paham melepas tangan Jirae dan mengecup singkat kening Wendy.
"Daddy ingin mengejar Seulgi"
"Dad, dia sudah ada paman Eunwoo. Aku di sini sendiri"
"Sebentar saja" Jimin tanpa izin akan tetap mengejar Seulgi.
Seulgi menangis di dekapan Eunwoo, mereka berada di kaca tembus pandang tempat Wendy dan Suga tadinnya. Gadis itu tersedu-sedu memukul dadanya sendiri, memberontak ketika Eunwoo ingin menggapai tangannya. Seulgi terlihat begitu frustasi mendengar bahwa kekasihnya akan menikah dan itu bukan dengan dirinya. Apa Seulgi akan bisa rela?
Eunwoo sakit melihat Seulgi menangis seperti ini, apakah ini karma dari tuhan untuk Eunwoo? Dulu ia membuat Yeri dan Jimin menangis karena keegoisan cintanya. Dan sekarang Jimin yang membuat Seulgi manangis. Apakah benar ini adalah sebuah balasan yang setimpal?
Ditariknya tangan Seulgi dan dipeluk erat, walaupun Seulgi memberontak dengan begitu kuat tapi Jimin masih mampu menahan rasa sakit di tubuhnya setelah Seulgi memukulnya.
Pelukan itu terlpas, terdengar dentuman-dentuman pukulan yang mengenai dada Jimin. Tinju itu melayang sendiri ntah Seulgi sadar atau tidak.
"Maafkan aku Seulgi"
"Hiks Aaargh menjauh dariku sialan, kau brengsek"
"Siapapun yang memulai hal ini, kumohon hentikan cinta terlarang kalian" Eunwoo pergi dari sana berniat memanggil Yeri dan Irene untuk pulang.
"Ini salahku, aku berani jatuh cinta padamu"
"Salahku yang mengajakmu berkencan"
Tak ada yang bisa dipersalahkan. Jimin memeluk Seulgi dengan erat menyalurkan segala rasa sedih di sana. Biarkan saja hanya suara mereka yang bersaut-sautan di ruang sepi itu sekarang. Demi apapun rasa sakit ini menjalar seperti ditusuk anak panah dari arah mana saja. Sudah setengah jam lamanya mereka duduk menghadap pemandangan kota malam hingga Seulgi tertidur di bahu Jimin. Menggendong tubuh gadisny menuju kamar Wendy lagi, Jimin sangat tau diri Seulgi yang akan tidur setelah menangis kencang.
Pintu kamar itu baru terbuka menampakan atensi Eunwoo yang menatap nyalang ke arah Jimin. Eunwoo merebut paksa tubuh Seulgi dan segera melangkah untuk pulang diikuti Yeri dan Irene. Hari sudah mulai sedikit terang mengharuskan mereka semua melaksanakan rutinitas bekerja demi menghidupi kehidupannya. Tidak terkecual Jimin, tapi untuk hari ini ia akan pergi dari rumah sakit tidak untuk bekerja. Jimin butuh penenang yang baik untuk otaknya yang sudah tidak bekerja dengan baik.