
"Jujurlah sekarang, sudah sejak kapan kau menderita penyakit ini?" Jimin berkata sedikit tegas pada Wendy yang terbaring di brangkar rumah sakit dengan banyak alat-alat medis yang tercancang di tubuhnya. Gadis itu menangis enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah Wendy sendiri yang tidak jujur dulunya.
"Sudah sejak aku kelas 11" Jimin menggusar rambutnya kasar. Sudah lima tahun anaknnya mengidam penyakit ganas seperti itu dan Wendy selama ini hanya berkata penyakitnya sejak pindah ke Canada. Yang Jimin tau hanya itu bahwa Wendy terkena penyakit saat sudah tinggal di Canada.
"Ibumu sudah tau?" Wendy menggeleng begitu saja menjawab ucapan Jimin. Wendy bingung harus berkata jujur atau tidak bahwa saat ini ia sangat membutuhkan Jirae di sisinya. "Kenapa kau tidak memberi tau ini semua? Penyakitmu sudah sejak lama dan ibumu belum mengetahui nya."
"Aku tidak ingin pikiran ibu melayang kepada penyakitku saja bisa-bisa ibu tidak memikirkan hidupnya lagi untuk mencari uang sebagai biaya pengobatanku"
"Kami tidak hidup di timbunan uang. Aku yakin ibu akan bekerja dan tidak memikirkan kesehatannya. Aku terlalu takut, setelah bertemu denganmu aku sedikit memiliki kesempatan untuk hidup sebab Daddy memiliki uang untuk pengobatanku" jelas Wendy begitu lirih.
"Kanker darahmu sekarang naik ke stadium 3, sekian tahun kau terkena penyakit kanker darah membuat jantungmu meradang. Maaf aku harus menyampaikan ini, selama 3 tahun sebelum kau bertemu denganku kau selalu meminum obat yang tidak berkualitas memungkinkan di waktu dekat atau jauh menimbulkan efek samping penyakit ginjal"
"Aku harus apa Dad? Kumohon pertemukan aku dengan ibu sebelum aku meninggal"
"Aku membawamu dalam keadaan sehat di mata ibumu aku akan memperlihatkan kau lagi kepadanya dalam keadaan sehat juga Wendy"
"Kau selalu berkata aku akan sembuh dan faktanya selama dua tahun aku melalui semua tahapan medis yang mahal dan berkualitas, hasilnya belum terlihat sama sekali" Wendy terlihat putus asa.
"Selama 2 tahun ini darah dan sumsum tulang selalu aku donorkan padamu. Apa yang bisa membuatmu sembuh Wendy? Akan kulakukan apapun itu" Jimin menangis, sudah hampir setiap saat Jimin menangis memikirkan kesehatan Wendy yang kian hari kian memburuk. Jimin menarik selimut itu dan mengecup singkat keningnya. "Istirahatlah aku akan kembali nanti"
Jimin berdiri menatap perairan lepas, membiarkan angin malam menyentuh tubuhnya demi menetralkan pikiran. Sudah hampir dua jam Jimin berada di sana menumpahkan rasa sedihnya di sana, sudah banyak air mata yang mengucur sia-sia di malam itu. Tangisan itu semakin deras tak kala pikirannya begitu kelut memutar satu rekaman yang membuat dirinya hancur.
"Putrimu hanya memiliki persentase 3% untuk sembuh total, dan memiliki persentase 10% untuk bisa bertahan hidup selama satu tahun. Kecil kemungkinan kami bisa menyembuhkan dan menjamin kelangsungan hidupnya tuan Hanzo"
Tubuh Jimin merosot tersandar pada pagar perairan itu. Pria itu memeluk lututnya sendiri beruntunglah Jimin di tempat ini lumayan sepi untuk tempatnya mencurahkan semua air matanya. Hingga sebuah tangan menyentuh pundaknya. Jimin mendoak menatap atensi cantik yang sangat menakutkan, rasanya Jimin ingin melompat masuk ke air dalam dan membunuh dirinya di sana sekarang juga.
"Kita bertemu lagi, kenapa kau menangis tersedu-sedu seperti ini Ji?"
Jimin menarik tangan wanita itu memeluknya erat membasahi pundaknya. Jirae semakin bingung kenapa Jimin terlihat begitu putus asa, selama mengenal Jimin Jirae tidak pernah melihat Jimin seperti ini sebelumnya. "Kau kenapa?"
"Joyi hiks Joy hiks .." Joyi? Jika Jimin memanggilnya dengan nama Joyi itu artinya Jimin tidak dalam fase membencinya, Jimin yang berada di depannya saat ini bukanlah Jimin sang mantan suami melainkan seorang sahabat yang membutuhkan sebuah sandaran. "Hentikan tangisanmu dulu" susah jangankan mengehentikan tangis bernafas pun Jimin sulit.
Dua jam mereka berbicara di sana dan selama itu pula air mata keduanya luruh. "Aku pikir kulit Wendy itu putih bersih seperti pangsit rebus, aku tidak sadar anakku terkena kanker darah bagian liukimia"
"Ji apa aku gagal menjaga dirinya? Aku ibu yang jahat? Aku ibu yang gagal?"
Jirae mengusap sayang surai hitam Wendy yang tertidur pulas di bawah kuasa obat tidur. Jirae tidak bisa menahan tangisnya ketika melihat wajah putri kecil yang selama ini ia rindukan, Jirae memang ingin bertemu dengannya tapi bukan dengan cara seperti ini, jika Tuhan mengizinkan biarkan dirinya saja menggantikan Wendy, Jirae rela menerima semua rasa sakitnya asalkan tidak melihat Wendy yang kesakitan. "Alat-alat sialan ini melukai anakku Ji!"
Jimin menarik Jirae yang mulai memukul-mukul alat medis hingga terduduk di sampingnya. Jimin mengusap pundak Jirae dengan sabarnya. "Tidurlah, aku yang akan melihatnya" Jimin berusaha berbaik hati jujur saat ini mereka berdua tidak memiliki waktu untuk bertengkar, lebih baik Jimin curi start untuk memulai hal yang baik.
Wendy mengusap matanya sedikit kasar merasa tak percaya apa yang sedang ia lihat, Wendy senang melihat Jirae ada di depannya. Pasti Jimin yang memanggil Jirae untuk datang pikir Wendy. Wendy lebih menghangat melihat Jirae tidur tersandar di pundak tegap itu apalagi melihat tangan Jimin yang melingkar untuk berjaga-jaga mana tau Jirae jatuh atau bergerak. Apakah ini saatnya Wendy memiliki keluarga yang utuh? Memiliki ayah dan ibu yang hidup bersama adalah impian Wendy yang sudah ia wanti-wanti sejak lama.
"Ibu?" Jirae mendengar sautan dari Wendy lekas bangun dari tidurnya dan memeluk Wendy. "Wendy rindu ibu" senyum Wendy mengembang dengan semu-semu indah. Jirae sedikit lebih tenang melihat wajah penuh senyum anaknya. "Wendy~aa lihatlah sekarang di sini sudah ada Daddy dan sudah ada ibu. Janji pada kamu kau akan sembuh"
"JANJI DAD, hahaha"