My Daddy Or My Baby

My Daddy Or My Baby
Meet and get drunk



Jimin tidak menemukan atensi Irene setelah pulang bekerja hari ini. Dan Jimin tau Irene pergi ke rumah orang tuanya untuk menginap di sana sebab ia merindukan ibu dan ayahnya. Jimin tinggal sendiri di apartemen Irene sekarang. Jimin merasa hidupnya sepi tak bertemu selama satu Minggu dengan Seulgi membuatnya tidak merasakan nikmatnya kehidupan lagi. Terkadang pikiran Jimin terputar apakah Seulgi juga merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan? Atau malah sebaliknya, Seulgi akan tertawa dan tersenyum lebar berada di pelukan ibunya. Pikiran gelap itu menghasilkan senyum sendu dari lekukan bibir pria yang sedang menatap langit itu.


Kembali pada Irene yang sekarang sedang tersenyum kikuk serta tubuh yang kaku. Baru memasuki rumahnya dan siap melompat masuk ke dalam pelukan ibunya, Irene harus dikejutkan oleh atensi Seulgi yang sedang duduk bersanding sebelah Yeri sembari menonton televisi. Yeri sudah mengerti kan semuanya, bagaimana ia bisa bertemu Seulgi di jalan itu semua sudah Irene ketahui. Kenapa dunia ini sangatlah amat sempit, Jimin bertemu dirinya dan Seulgi bertemu dengan ibunya. Irene semakin bingung melihat keadaan terlunta-lunta Jimin yang ada di apertemannya ditimpal dengan keadaan terlunta-lunta sahabatnya itu membuat Irene sangat ingin memberitahu dan mempertemukan mereka kembali.


Seulgi akhirnya memutuskan untuk tidur satu kamar dengan Irene. Gadis itu sebenarnya ingin pulang sejak beberapa hari yang lalu akan tetapi Yeri melarang dan membujuk agar menemaninya saja. Selama beberapa hari itu Seulgi hanya mendapat kabar bahwa Jirae pergi keluar kota untuk beberapa hari ke depan, dan itulah hal yang membuat Seulgi bertahan di rumah Yeri, sebab tidak ada lagi yang akan Seulgi cari di rumah itu, ayahnya pergi ibunya pergi serta Wendypun ikut pergi sebab merasa tak enak jika selalu membebani Seulgi yang sekarang sedang dilanda masalah.


Irene terlihat mengobrak-abrik tasnya, mencari satu benda kecil yang seharusnya ikut terbawa ke rumah. "Sepertinya ponselku tertinggal di apartemen, aku akan ke sana sebentar" ujar Irene memberitahu kemana ia akan pergi kepada Seulgi. "Ini sudah malam, mari kutemani" Irene menggeleng bermaksud menolak penawaran Seulgi padanya. "Tidak perlu Seul" setelah berucap demikian Irene segera saja berlari menutup pintu kamarnya, jika di perpanjang pmmaka Irene tidak bisa lagi mengelak dari Seulgi.


Satu yang bisa Irene ucapkan dari bibirnya setelah membuka pintu apartemennya. "Oh, God" erang frustasi Irene melangkah menatap kamarnya yang sudah tak berbentuk. Kasurnya begitu berantakan dengan selimut dan sprei yang sudah tak berada pada tempatnya. Irene melihat Jimin yang tertidur di sofa, banyak botol minimal beralkohol dosis tinggi berserakan mengelilinginya. Cairan di botol itu habis tak serisisa. Dalam artianya Jiminlah yang menghabiskan kurang lebih 7 botol sendirian.


Irene menepuk pipi pria yang terbaring di sofa, semakin lama mata itu pun mulai terbuka. Jimin berdiri dengan sepoyongan yang ia lihat hanyalah atensi Seulgi sedang berdiri di depannya dengan ekspresi mengkhawatirkan dirinya. Jimin membenturkan tubuhnya pada tubuh Irene, hampir saja tubuh Irene jatuh terhempas karena tak kuat menahan beban tubuh pria itu yang mana memang menghabiskan seluruh beban tubuhnya pada tubuh Irene. "Seulgi~aa, bawa aku pulang"


Ucapan itu bernada lirih, Irene sangat tau Jimin sedang mabuk. Suara itu begitu rendah nyaris tak terdengar menguar di Indra pendengarannya. Irene sedikit memapah tubuh Jimin dan menghempaskannya di atas kasur. Tubuh nya tak berdaya tergeletak begitu saja dengan bibir yang terkadang melirihkan nama Seulgi. Irene menjadi bingung haruskah ia menelfon Seulgi untuk segera datang dan memberi sedikit jiwa tenang di dalam jiwa Jimin. Irene terperanjat kejut ketika Jimin tiba-tiba berteriak seperti orang kesakitan dan ingin segera meninggalkan dunia.


Ketika mendengar suara Jimin yang kembali berteriak melalui sambungan telepon seluler itu, jantung Seulgi berpacu cepat. Akhirnya Seulgi kembali menemukan semangat untuk kembali. Jimin bak sebuah bahan bakar minyak untuk kendaraan bagi Seulgi. Tiada Jimin hidup Seulgi tidaklah berguna sedikitpun. Seulgi segera bergegas berlari menggapai motornya dan melupakan izin pada Yeri.


Kecepatan kendaraan yang dipacu gadis itu benar-benar sudah gila, di atas rata-rata dengan menyalip banyak pengendara lain. Seulgi tidak memiliki pikira bahwa dirinya bisa mati sekarang sebab kecerobohan dirinya sendiri, yang ada hanyalah Jimin Jimin dan Jimin. Sampailah ia di tempat yang ia tuju, berlarian di mana terletak ya apartemen Irene.


Tak mengetok tak memberi salam Seulgi membanting pintu apartemen itu dan menyaksikan atensi Jimin yang menyedihkan dengan mengacuhkan keberadaan Irene yang duduk termenung menatap Jimin sedari tadi.


Irene kini sudah merasa sedikit tenang ketika Seulgi datang dan menghampiri Jimin. Irene yakin dua insan ini adalah insan yang saling merindu, dan menyimpan renjana cinta yang membuncah di dalam dadanya masing-masing. Irene tak ingin menganggu bahkan membuat Seulgi dan Jimin merasa tidak nyaman dalam memperbaiki hubungannya sekarang jika ia masih berada di dalam apartemennya ini. "Seul, tidurlah di sini aku pulang dulu" tak menunggu jawaban Seulgi, Irene langsung melesat begitu saja setelah memberi tau code apartemennya.


Seulgi menyibakkan rambut Jimin yang sedikit menghalangi penglihatannya untuk menatap rupawan ayahnya itu. Seulgi tau Jimin tidak pinsan dia hanya sedang memejamkan matanya menahan kadar alkohol tinggi yang berada di dalam tubuhnya sekarang. Apakah Jimin mabuk hanya karena memikirkannya? Pikiran Seulgi benar 100% bahwa Jimin benar-benar kehilangan akal sehatnya ketika Seulgi pergi dari dirinya untuk beberapa hari bahkan mencapai hitungan Minggu.


Mata itu mengerjap, bola mata hitam pekat itu menatap manik monolid Seulgi dengan begitu lirihnya. Telapak tangannya bergerak untuk menyentuh pipi mulus Seulgi, tetapi tenaganya bahkan tidak ada walaupun sekedar mengangkat tangannya saja. Nafas pria itu besahut-sahutan dengan begitu beratnya. Kepalanya pusing dan suhu tubuhnya terasa meningkat. "Tidurlah aku akan di sampingmu sampai pagi tiba"