My Daddy Or My Baby

My Daddy Or My Baby
Sensitive



Jimin sekarang dibuat pusing sendiri, dirinya berkencan dengan Seulgi. Seulgi selalu mengekorinya kemana saja. Sampai saatnya Seulgi mengikuti Jimin sampai ke tempat bekerja. "Ais, kenapa kau selalu mengukutiku?" Mendengar penuturan kesal dari ayahnya itu membuat Seulgi mendengus. Apa dia tidak tau apa yang diinginkan Seulgi?. "Ck, biasanya Daddy selalu tau apa maumu tanpa aku menyebutkannya"


"Ini bukan teka-teki ucapkan saja" Jimin tidak ingin terlalu mengurus ucapan gadis itu, Jimin hanya menyibukkan diri dengan beberapa berkas-berkas yang harus segera ia beri sentuhan. Seulgi tidak menjawab, pembicaraan mereka sudah putus sejak dua menit yang lalu tetapi torso Seulgi masih berdiri tegak di depan Jimin dengan mencabikan bibirnya lucu. Jimin menarik menghembuskan nafasnya sebelum kembali membuka pembicaraan. "Kau ingin apa?"


"Dasar Ryu Jimin bodoh" Seulgi semakin kesal kenapa Jimin belum juga paham apa yang diinginkan Seulgi. Seulgi terlalu kesal dan malas melihat wajah tampan itu. Seulgi membaringkan tubuhnya di sofa panjang dengan membelakangi Jimin, ia berniat untuk meregangkan otot-otot yang sudah ia gunakan udah menahan emosi, rasanya otot-otot itu ingin putus sebab Jimin tidak membujuknya Sedikitpun. Seulgi menendang ujung sofa ketika mendengar pintu suara pintu terbuka dan kembali tetutup, sudah jelas pria kejam itu meninggalkannya sendiri di ruang kerjanya. "Sialan kau Ryu Jimin"


Jimin sangat malas meninggalkan Seulgi sendiri demi menemui Jirae yang mengajaknya makan siang bersama. Wanita itu tidak membawanya tetapi memaksa dengan cara apapun untuk mkan bersama. "Menjauh dari tubuhku" Jirae tak memikirkan apa yang diucapkan Jimin, Jirae malah semakin menempeli dengan mendarkan kepalanya di bahu tegak prianya. Cinta Jirae itu bukan sebuah obsesi tetapi itulah faktanya cintanya itu tulus dari seluruh sisi tubuhnya, ia mencintai Jimin tanpa melihat kekurangan bahkan tidak melihat kekasaran yang dilakukan pria itu.


"Hei, Ryu Jimin. Inikah yang kau sebut tidak mau?" Suara sialan itu, ingin Jimin menyentak tubuh pria yang tiba-tiba duduk di depan mereka dan menyambar begitu saja minuman Jimin. Pria itu sedikit bergelidik melihat tatapan tajam dari mati pria Ryu itu. "Kau tidak punya uang untuk memberi minum?" Urat-urat Jimin bahkan menonjol disaat menyebutkan kata-kata yang melontar tekan padanya.


"Biasanya juga begitu, bahkan kita pernah menghisap rokok satu berdua"


"Jirae, kau memiliki sejuta pesona hingga Jimin yang dulu sangat tidak ingin menikah denganmu ini menjadi sangat mesra denganmu" Jimin yang tersadar menarik tangannya secara paksa dari gandengan Jirae.


"Aku sama sekali tidak menginginkan benda tak berguna" Eunwoo menarik tangan Jirae untuk berada di belakangnya, terlihat mulut tong sampah Jimin akan mengeluarkan sampah-sampahnya itu untuk dilemparkan pada telinga Jirae. "Dia wanita, sejak kapan kau jadi seorang mengecut?" Jirae sepertinya sakit hati, terbukti dengan cairan bening itu jatuh, Jirae memeluk tubuh pria yang lebih membelanya, menangis tersedu di punggungnya. "Kenapa tidak ada yang mencintaiku sejak dulu Eunwoo akh?" Erang Jirae prustasi.


"Sayang kau...." Istri Eunwoo menarik paksa Wanita yang dengan beraninya bergelayut di punggung miliknya. Yeri terkejut melihat siapa wanita yang bergelayut itu, Jirae menghanturkan banyak pertanyaan ketika mendekap tubuh Yeri, tetapi atensi seorang pria yang berada tak jauh dari tempat Suaminya duduk adalah tempat pemandangannya singgah. Bukan hanya manik Yeri yang menatap Jimin, tetapi Jimin ikut menatap Yeri tanpa sedikitpun jeda. "Ingatlah dia istriku Ryu" ucap Eunwoo tidak ikhlas ketika sadar istrinya ditatap lekat oleh pria lain.


Tawa empat remaja yang masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas itu menggema disaat mereka berempat harus berlari menghindari rintik hujan yang mukai membasahi mereka. Mereka masih terlalu muda di umur 17 tahun untuk mencoba beberapa kenakalan. Ini semua muncul ketika Jimin dan Eunwoo tidak sengaja melihat dua sejoli yang sedang berciuman. Eunwoo awalnya keberatan ketika Jimin mengajaknya untuk mencoba apa itu rasa dari sebuah ciuman. Jelas Eunwoo tidak setuju dengan hal itu, sebab ia belum memiliki kekasih untuk dicium. "Kau pasti akan bersama Yeri dan aku?" Eunwoo sedikit meratapinya. "Untuk apa kau pajang Son Jirae itu? Selama kita berempat berteman sejak 6 tahun yang lalu kulihat kau dan Jirae sangatlah dekat. Apa salahnya kau menjadikan temanmu itu sebagai kekasih seperti diriku dan Yeri?"


"Dan sayangnya aku mencintai Yeri, dan Jirae mencintaimu" kata-kata itu tidak akan pernah keluar dari bibir Eunwoo, perasan ini cukup ia dan Jirae yang tau. Semuanya hancur, empat sahabat itu hancur karena cinta. Mereka selalu memiliki mimpi untuk hidup bersama dengan aman di hari tua, tetapi sampai detik ini hanya Yeri dan Eunwoo yang masih hidup bersama. Bagaimana dengan persahabatan Eunwoo dan Jimin yang sudah terjalin sejak kecil? Tidak ada kata sahabat, hanya ada rasa benci yang menyelimuti hati masing-masing. Dan bagaimana dengan Jirae dan Yeri? Tetap saja mereka diselimuti rasa benci, tetapi dua wanita itu memilih berbaikan secara palsu di depan semua orang, jika di dalam hati tidak ada satupun kata maaf yang bisa mereka terima. Berbeda sekali dengan Jimin dan Eunwoo yang memperlihatkan terang-terangan bahwa mereka adalah dua orang yang saling memebenci.


Tidak hanya satu orang, mereka berempat seketika memutar rekaman lama bagaimana dekatnya mereka di hari dulu. "Jimin, bisakah kau menemaniku minum nanti?" Jimin mengedipkan bahunya, menegakan tubuhnya ingin segera pergi dari tiga neraka yang selama ini membakarnya. "Baiklah aku tunggu di tempat"


Jimin membuka pintu mobilnya, tiba-tiba seseorang mendorong tubuhnya masuk secara paksa dan tidak melupakan orang itu untuk ikut masuk. "Jimin" mata wanita itu berkaca-kaca memanggil namanya, Jimin tidak pernah bisa untuk tidak merasa bersalah atas semua yang menimpa mereka. Jimin menyentuh pipi tirus itu, mengusap lembut air mata yang jatuh sia-sia. "Jangan menangis, itu membuatku sakit" Yeri ikut tertusuk ketika melihat air mata Jimin jatuh begitu saja sekarang, pria yang dulu menjadi tumpuan kokoh untuknya sekarang menangis. "Kita masih sepasang kekasih bukan Ji?" Jimin mengangguk melepas empat kancing kemejanya, menyeka agar tubuh bagian dadanya terlihat jelas oleh Yeri.


Yeri menunduk, menempelkan bibirnya secara lama dada bidang Jimin. Di dada bidang itu terdapat sebuah ukiran cantik yang sudah berusia 20 tahun. "Kenapa kau belum menghapusnya?" Setelah berkata Yeri kembali mengecup ukiran yang menggabungkan huruf J dan Y. Terlihat tidak seperti J dan Y sebab Jimin meminta agar pembuat ukiran itu untuk tidak terlalu memperlihatkan dua huruf yang tergabung. Hanya Yeri lah yang tau apa makna dari gambar yang Jimin cetak secara permanen di tubuhnya. "Bagaimana perasaan istrimu jika dia tau arti dari tatto ini?" Yeri sudah tidak mengecupnya mengalihkan dengan usapan-usapan lembut. "Aku tidak peduli, dan yang pastinya aku tidak memiliki istri"


"Kenapa tidak mencari istri?"


"Aku terlalu sibuk mencintaimu, sehingga sangat tidak sempat untuk mencari wanita lain. Di dalam dada ini hanya ada namamu"


"Hm Ji, dimana anak kita?"